HOME

Thursday, September 26, 2019

Asap???? Siapa takut??? Sekolah boleh libur namun belajar ga kasih kendur!


Belajar Tetap Semangat Walau Kabut Asap Masih Pekat
Berbagi Pengalaman melaksanakan KBM di tengah libur akibat Bencana Asap (Karhutla)
Oleh : Elita, S.Pd
Guru SD Islam Al Falah Jambi (Alumni VCT Batch 5 VCI 94 Wilayah Sumatera)
Link Video "Kelas Asap"

Bismillahirrahmanirrahiim

Ini contoh Flyer (poster) Kegiatan

Ikan sepat berenang di rawa
Dibawa ke pasar oleh nelayan
Meski asap masih di udara
Belajar tetaplah kita lanjutkan

“Agenda rutin” tahunan kembali datang. Apakah itu? Bencana kabut asap. Sempat mereda dalam beberapa tahun terakhir, tahun ini bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyerang banyak daerah di Sumatera dan Kalimantan.  Jambi salah satu daerah yang terkena dampak bencana asap akibat karhutla ini.

Bencana kabut asap ini mengakibatkan banyak aspek kehidupan kita sebagai manusia, maupun  lingkungan menjadi terganggu.Kerusakan lingkungan mencakup hilangnya beberapa spesies hewan maupun tumbuhan, dan lainnya. Sementara akibat bagi manusia sungguh banyak: ekonomi, kesehatan, transportasi, termasuk di dalamnya yang ikut terkena dampak adalah bidang pendidikan. Karena sangat berdampak buruk bagi kesehatan manusia, khususnya terkait penyakit ISPA (Infeksi saluran Pernafasan Akut) maka Pemerintah mengambil keputusan untuk mengurangi jam belajar, bahkan meliburkan siswa. Dengan demikian bencana kabut asap akibat karhutla ini menimbulkan masalah yang membuat program kegiatan sekolah tidak dapat berjalan baik. Dapat dibayangkan, berapa ribu siswa,dari jenjang TK hingga perguruan tinggi yang terganggu proses belajar di sekolah atau kampusnya sebagai akibat bencana asap ini. Sampai saat penulis menulis tulisan ini, setidaknya di Kota Jambi sudah dua kali sekolah diliburkan demi keselamatan dan kesehatan siswa. Belum lagi jika dihitung di wilayah lainnya, baik di Provinsi Jambi, di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Hampir semua jenjang pendidikan, baik TK, SD, SMP, dan SMA bahkan perguruan tinggi yang diliburkan.

Bagi siswa, libur sekolah tentu sebagian ada yang senang, namun juga memunculkan kekhawatiran karena tidak semua siswa benar-benar berada di rumah selama kabut asap menyerang.  Mereka kadang kita temukan tengah bermain di lapangan, di tepi jalan dan sebagainya yang pasti tetap akan terkena dampak negatif kabut asap tersebut.

Apalagi bagi kepentingan pelaksanaan kurikulum di sekolah, libur yang tidak terjdwal dalam Kalender Pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya akan mengurangi hari efektif belajar di sekolah, dan akhirnya juga akan berpengaruh terhadap pencapaian kompetensi siswa. Sudah jamak kita simak penjelasan pemerintah melaui otoritas setempat (Dinas Pendidikan Kabupaten Kota dan provinsi maupun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) agar selama libur siswa tetap diberikan tugas belajar, dengan maksud agar pencapaian kurikulum tidak terhambat. Namun tentang bagaimana teknis pemberian tugas dan manajemen penugasan siswa belum dijelaskan secara sistematis dan rinci yang dapat menjadi pedoman Bersama bagi sekolah terdampak bencana asap. Di sisi lain, hal tersebut tentu menjadi tantangan dan peluang bagi guru untuk secara kreatif dan inovatif mengatasi measalah serta  tetap dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar walaupun situasi sekolah diliburkan. Untuk dapat melaksanakan hal tersebut,  diperlukan daya kreativitas dan ikhtiar sungguh-sungguh dari guru untuk dapat melaksanakan pembelajaran di tengah bencana kabut asap tersebut.

Secara kelembagaan, dalam menghadapi problema tersebut, kabarnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemedikbud) memiliki rencanakan membuat ruang belajar bebas dari asap sehingga aktivitas pembelajaran bisa terus berlangsung. Hal tersebut sebagaimana disampaikan Mendikbud Muhajir Efendi yang dikutip media kompas pada 17 September 2019 lalu. Berangkat dari sinilah, penulis memiliki inisiatif untuk merencakan program belajar di mana saja secara online.

Penulis yang sebelumnya menerima pembekalan dari Virtual Coordinator Training (VCT Batch 5 VCI  94 Wilayah Sumatera.  VCT Batch 5 adalah pelatihan berbasis daring dengan tujuan agar peserta dapat mengelola seminar online baik sebagai presenter, host, maupun moderator. Kegiatan ini difasilitasi oleh SEAMOLEC, SEAMEO dan Kemendikbud RI melalui jaringan webex.com.

Dari pelatihan inilah penulis mulai merancang proses pembelajaran secara online dengan peserta didik yang tengah diliburkan karena kabut asap. Proses pembelajaran harus tetap dilaksanakan mengingat sebentar lagi siswa akan menghadapi Ulangan Tengah Semester. Untuk itu penulis tidak ingin peserta didik tertinggal lama dalam belajar. Mengingat dalam kurikulum 2013 SD menggunakan model pembelajaran tematik terpadu, yang setiap pembelajarannya dalam tema. Setiap tema dibagi ke dalam 4 sub tema yang masing-masing sub tema terdiri dari 6 pembelajaran  dan memakan waktu 1 hari sekolah. Maka alokasi yang diperlukan untuk menyelesaikan 1 tema ialah 1 bulan sekolah.  Apalagi sekolah yang penyelenggaraan pembelajarannya hanya 5 hari seperti sekolah di mana Penulis mengajar. Dengan demikian salah satu solusi yang terbaik adalah siswa tetap belajar,  bukan hanya sekedar guru memberikan tugas saja, hal ini dikarenakan menurut hemat Penulis, hanya memberikan tugas saja  tidak efektif terhadap pencapaian tujuan pembelajaran.

Penulis berinisiatif untuk membuat kelas online yang Penulis sebut dengan istilah “Kelas Asap” . Teknisnya Penulis menyampaikan hal ini kepada orangtua siswa yang merupakan pihak yang diharapkan dukungan dan kerjasamanya agar terlaksananya “Kelas Asap” ini. Penulis meminta agar setiap siswa yang memiliki perangkat lunak dan  perangkat keras untuk dapat menginstal aplikasi webex.com melalui Google Playstore dan Penulis membagikan tutorial cara registrasi di aplikasi tersebut. Selanjutnya  penulis membuat flyer (poster) yang mana teknik pembuatannya juga penulis dapat dari pembekalan pelatiahn VCT Batch 5 untuk menginfokan tentang pelaksanaan “Kelas Asap” kepada peserta didik melalui WA grup Paguyuban kelas sehari sebelum pelaksanaan. Flyer yang dibagikan berisi info tentang waktu pelaksanaan, kegiatan kelas asap, dan nomor meeting (url) di webex meet beserta password lengkap dengan QR Codenya. Nomor Meetting  dan password didapat dari membuat schedule meeting di webex meet terlebih dahulu. Data yang harus dilengkapi ketika membuat schedule meeting adalah waktu pelaksanaan dan penyelenggara kegiatan. Penulis harus membuat schedule tersebut sebelum membuat flyer kegiatan “Kelas Asap”. Selain mengingatkan akan hal-hal di atas, Penulis juga mengingatkan kepada orangtua untuk mengimbau kepada siswa agar menyiapkan diri untuk mengikuti kelas online dengan mandi terlebih dahulu, berpakaian yang sopan dan sarapan sehinga siswa dapat mengikuti kegiatan belajar online dalam kondisi yang sudah siap dan tetap berpenampilan sopan di mana belajar online ini membuat siswa dapat belajar di mana saja misalnya di ruang belajar, di ruang makan, di ruang keluarga, bahkan di ruang tidur dan mereka dapat mengaktifkan audio dan visual melalui webcam..

Pelaksanaan “Kelas Asap” ini dimulai untuk pertama kali pada hari Selasa, yang mana siswa sudah diliburkan sehari sebelumnya. Untuk masuk ke kelas asap atau kelas online dengan jaringan Webex ini siswa harus mmbuka aplikasi Webex atau dengan membuka Webex Meet di laman Google Crome,.kemudian masuk ke room atau “Kelas Asap” dengan mamasukkan nomor meeting (url) beserta password yang sudah diberikan dalam info pada flyer. Berdasarkan rencana Penulis, kelas asap ini untuk pertama kalinya dilaksanakan hanya untuk mengoreksi tugas-tugas yang telah diberikan pada hari sebelumnya berdasarkan instruksi dari pemerintah daerah dan juga berencana untuk menyampaikan aturan dalam kelas asap melalui jaringan Webex Meet. Diluar dugaan ternyata  siswa sangat antusias dan cepat sekali memahami aturan yang ada. Sehingga waktu satu jam yang direncanakan bersisa banyak, Oleh karena itu selanjutnya guru memanfaatkan sisa waktu untuk menjelaskan materi dan peserta didik mengikuti dengan seksama. Tak terasa satu jam berlalu. Kemudian Penulis membagikan link absensi (daftar hadir) online ke dalam kelas asap tersebut untuk diisi oleh siswa yang hadir pada kegiatan belajar di. Melihat dan mengisi absen online tersebut merupakan pengalaman baru bagi mereka dan mereka sangat antusias mengikutinya.



Kegiatan ini bagi Penulis dinilai sukses membangkitkan semangat siswa untuk belajar dilihatdari antusis siswa dalam mengikutinya dan tanggapan positif dari siswa dan orangtua siswa melalui WA grup Paguyuban..  Atas kemauan Penulis, permintaan orang tua, dan siswa itu sendiri, Penulis mencoba merencanakan “Kelas Asap Dua”. Malam harinya Penulis kembali mengedarkan flyer untuk kegiatan “Kelas Asap Dua”. Siswa semakin bersemangat, karena selain dapat belajar, mereka juga dapat “bertemu” dan bercengkerama secara real time dengan guru dan teman-temannya melalui fasilitas ini dilihat dari banyaknya siswa yang join dalam webex meet di “Kelas Asap Dua” ini. Kegiatan juga semakin interaktif, aktif, kreatif, dan menyenangkan. Di mana materi pelajaran dikemas secara apik dengan menggunakan aplikasi power point with animation dan siswa lebih aktif dalam mengikuti proses KBM online  tersebut.



Hal menarik yang Penulis temukan setelah melaksanakan ”Kelas Asap” untuk pertama kalinya  adalah aktivitas siswa setelah “ruang kelas” dibuka dan sebelum memulai pembelajaran, mereka asyik bercengkerama dengan teman-temannya dengan membuka webcam. Mereka bisa melepas rindu karena beberapa hari ini tidak saling ketemu dikarenakan libur berkali-kali disebabkan kabut asap yang sudah di level berbahaya. Mereka saling menanyakan kabar dan pengalaman cara mereka membuka webex meet. Hal menarik lainnya yang disampaikan oleh orangtua bahwa mereka pada hari itu segera mandi, sarapan dan memakai pakaian yang sopan (tertutup untuk yang perempuan) dan siap di depan perangkat pendukung.

Alhamdulillah, dari kegiatan kelas asap yang telah penulis laksanakan, tanggapan orang tua sangat baik. Berikut salah satu respon orang tua terhadap kegiatan yang telah penulis laksanakan : “Mengenai belajar kelas asap, kami sebagai orang tua sangat mendukung dan senang dengan adanya kegiatan ini. Kegiatan belajar dengan model ini memberikan nilai positif bagi anak, naik dalam menggunakan waktu belajar di rumah secara disiplin maupun terkait penggunaan teknologi. Anak kami menjadi tahu bahwa HP tidak hanya digunakan untuk bermain saja, tetapi bias digunakan untuk belajar, bahkan belajar Bersama teman meskipun dari rumahnya masing-masing.”Niat awal penulis melaksanakan kegiatan belajar agar siswa tidak terhambat prose pembelajarannya walaupun di tengah bencana kabut asap akhirnya tercapai. Meskipun ini baru langkah kecil dan merupakan salah satu solusi, di tengah banyak solusi lainnya, terbukti kegiatan belajar online melalui “Kelas Asap’ yang telah penulis laksanakan dapat memberikan manfaat bagi siswa, tidak hanya terkait substansi materi pembelajarannya, namun juga pengalaman mereka dalam memanfaatkan perangkat teknologi Komunikasi dan Informasi (TIK) yang mereka miliki untuk kegiatan selain bermain game.


 

Mudah-mudahan ikhtiar kecil ini dapat memicu kreativitas penulis pribadi maupun para guru lainnya untuk terus berinovasi dan berkreasi demi anak negeri, harapan Ibu Pertiwi di era Revolusi Industri 4.0, Aamiin. Wassalam

Jambi, 26 September 2019