Belajar Tetap Semangat
Walau Kabut Asap Masih Pekat
Berbagi Pengalaman
melaksanakan KBM di tengah libur akibat Bencana Asap (Karhutla)
Oleh : Elita, S.Pd
Guru SD Islam Al Falah
Jambi (Alumni VCT Batch 5 VCI 94 Wilayah Sumatera)
Link Video "Kelas Asap"
Bismillahirrahmanirrahiim
Ini contoh Flyer (poster) Kegiatan
Ikan
sepat berenang di rawa
Dibawa
ke pasar oleh nelayan
Meski
asap masih di udara
Belajar
tetaplah kita lanjutkan
“Agenda rutin”
tahunan kembali datang. Apakah itu? Bencana kabut asap. Sempat mereda dalam
beberapa tahun terakhir, tahun ini bencana asap akibat kebakaran hutan dan
lahan (karhutla) kembali menyerang banyak daerah di Sumatera dan Kalimantan. Jambi salah satu daerah yang terkena dampak
bencana asap akibat karhutla ini.
Bencana kabut asap
ini mengakibatkan banyak aspek kehidupan kita sebagai manusia, maupun lingkungan menjadi terganggu.Kerusakan
lingkungan mencakup hilangnya beberapa spesies hewan maupun tumbuhan, dan
lainnya. Sementara akibat bagi manusia sungguh banyak: ekonomi, kesehatan,
transportasi, termasuk di dalamnya yang ikut terkena dampak adalah bidang pendidikan.
Karena sangat berdampak buruk bagi kesehatan manusia, khususnya terkait
penyakit ISPA (Infeksi saluran Pernafasan Akut) maka Pemerintah mengambil
keputusan untuk mengurangi jam belajar, bahkan meliburkan siswa. Dengan demikian
bencana kabut asap akibat karhutla ini menimbulkan masalah yang membuat program
kegiatan sekolah tidak dapat berjalan baik. Dapat dibayangkan, berapa ribu
siswa,dari jenjang TK hingga perguruan tinggi yang terganggu proses belajar di
sekolah atau kampusnya sebagai akibat bencana asap ini. Sampai saat penulis
menulis tulisan ini, setidaknya di Kota Jambi sudah dua kali sekolah diliburkan
demi keselamatan dan kesehatan siswa. Belum lagi jika dihitung di wilayah
lainnya, baik di Provinsi Jambi, di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Hampir semua
jenjang pendidikan, baik TK, SD, SMP, dan SMA bahkan perguruan tinggi yang
diliburkan.
Bagi siswa, libur sekolah
tentu sebagian ada yang senang, namun juga memunculkan kekhawatiran karena
tidak semua siswa benar-benar berada di rumah selama kabut asap menyerang. Mereka kadang kita temukan tengah bermain di
lapangan, di tepi jalan dan sebagainya yang pasti tetap akan terkena dampak
negatif kabut asap tersebut.
Apalagi bagi
kepentingan pelaksanaan kurikulum di sekolah, libur yang tidak terjdwal dalam Kalender
Pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya akan mengurangi hari efektif
belajar di sekolah, dan akhirnya juga akan berpengaruh terhadap pencapaian
kompetensi siswa. Sudah jamak kita simak penjelasan pemerintah melaui otoritas
setempat (Dinas Pendidikan Kabupaten Kota dan provinsi maupun Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan) agar selama libur siswa tetap diberikan tugas belajar, dengan
maksud agar pencapaian kurikulum tidak terhambat. Namun tentang bagaimana
teknis pemberian tugas dan manajemen penugasan siswa belum dijelaskan secara
sistematis dan rinci yang dapat menjadi pedoman Bersama bagi sekolah terdampak
bencana asap. Di sisi lain, hal tersebut tentu menjadi tantangan dan peluang
bagi guru untuk secara kreatif dan inovatif mengatasi measalah serta tetap dapat melaksanakan kegiatan belajar
mengajar walaupun situasi sekolah diliburkan. Untuk dapat melaksanakan hal
tersebut, diperlukan daya kreativitas
dan ikhtiar sungguh-sungguh dari guru untuk dapat melaksanakan pembelajaran di
tengah bencana kabut asap tersebut.
Secara kelembagaan,
dalam menghadapi problema tersebut, kabarnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(kemedikbud) memiliki rencanakan membuat ruang belajar bebas dari asap sehingga
aktivitas pembelajaran bisa terus berlangsung. Hal tersebut sebagaimana
disampaikan Mendikbud Muhajir Efendi yang dikutip media kompas pada 17 September
2019 lalu. Berangkat dari sinilah, penulis memiliki inisiatif untuk merencakan
program belajar di mana saja secara online.
Penulis yang
sebelumnya menerima pembekalan dari Virtual
Coordinator Training (VCT Batch 5 VCI 94
Wilayah Sumatera. VCT Batch 5 adalah
pelatihan berbasis daring dengan tujuan agar peserta dapat mengelola seminar
online baik sebagai presenter, host, maupun
moderator. Kegiatan ini difasilitasi oleh SEAMOLEC, SEAMEO dan Kemendikbud RI
melalui jaringan webex.com.
Dari pelatihan inilah
penulis mulai merancang proses pembelajaran secara online dengan peserta didik
yang tengah diliburkan karena kabut asap. Proses pembelajaran harus tetap dilaksanakan mengingat sebentar lagi
siswa akan menghadapi Ulangan Tengah Semester. Untuk itu penulis tidak ingin
peserta didik tertinggal lama dalam belajar. Mengingat dalam kurikulum 2013 SD
menggunakan model pembelajaran tematik terpadu, yang setiap pembelajarannya
dalam tema. Setiap tema dibagi ke dalam 4 sub tema yang masing-masing sub tema
terdiri dari 6 pembelajaran dan memakan
waktu 1 hari sekolah. Maka alokasi yang diperlukan untuk menyelesaikan 1 tema
ialah 1 bulan sekolah. Apalagi sekolah
yang penyelenggaraan pembelajarannya hanya 5 hari seperti sekolah di mana Penulis
mengajar. Dengan demikian salah satu solusi yang terbaik adalah siswa tetap
belajar, bukan hanya sekedar guru memberikan
tugas saja, hal ini dikarenakan menurut hemat Penulis, hanya memberikan tugas
saja tidak efektif terhadap pencapaian
tujuan pembelajaran.
Penulis berinisiatif untuk membuat kelas online
yang Penulis sebut dengan istilah “Kelas Asap” . Teknisnya Penulis
menyampaikan hal ini kepada orangtua siswa yang merupakan pihak yang diharapkan
dukungan dan kerjasamanya agar terlaksananya “Kelas Asap” ini. Penulis meminta
agar setiap siswa yang memiliki perangkat lunak dan perangkat keras untuk dapat menginstal
aplikasi webex.com melalui Google Playstore dan Penulis membagikan tutorial
cara registrasi di aplikasi tersebut. Selanjutnya penulis membuat flyer (poster) yang mana
teknik pembuatannya juga penulis dapat dari pembekalan pelatiahn VCT Batch 5
untuk menginfokan tentang pelaksanaan “Kelas Asap” kepada peserta didik melalui
WA grup Paguyuban kelas sehari sebelum pelaksanaan. Flyer yang dibagikan berisi
info tentang waktu pelaksanaan, kegiatan kelas asap, dan nomor meeting (url) di
webex meet beserta password lengkap dengan QR Codenya. Nomor Meetting dan password didapat dari membuat schedule
meeting di webex meet terlebih dahulu. Data yang harus dilengkapi ketika
membuat schedule meeting adalah waktu pelaksanaan dan penyelenggara
kegiatan. Penulis harus membuat schedule tersebut sebelum membuat flyer
kegiatan “Kelas Asap”. Selain mengingatkan akan hal-hal di atas, Penulis juga
mengingatkan kepada orangtua untuk mengimbau kepada siswa
agar menyiapkan diri untuk mengikuti kelas online dengan mandi terlebih dahulu,
berpakaian yang sopan dan sarapan sehinga siswa dapat mengikuti kegiatan
belajar online dalam kondisi yang
sudah siap dan tetap berpenampilan sopan di mana belajar online ini membuat siswa dapat belajar di mana saja misalnya di
ruang belajar, di ruang makan, di ruang keluarga, bahkan di ruang tidur dan
mereka dapat mengaktifkan audio dan visual melalui webcam..
Pelaksanaan “Kelas Asap” ini dimulai untuk pertama kali
pada hari Selasa, yang mana siswa sudah diliburkan sehari sebelumnya. Untuk
masuk ke kelas asap atau kelas online dengan jaringan Webex ini siswa harus
mmbuka aplikasi Webex atau dengan membuka Webex Meet di laman Google Crome,.kemudian
masuk ke room atau “Kelas Asap” dengan mamasukkan nomor meeting (url) beserta
password yang sudah diberikan dalam info pada flyer. Berdasarkan rencana
Penulis, kelas asap ini untuk pertama kalinya dilaksanakan hanya untuk
mengoreksi tugas-tugas yang telah diberikan pada hari sebelumnya berdasarkan
instruksi dari pemerintah daerah dan juga berencana untuk menyampaikan aturan
dalam kelas asap melalui jaringan Webex Meet. Diluar dugaan ternyata siswa sangat antusias dan cepat sekali memahami
aturan yang ada. Sehingga waktu satu jam yang direncanakan bersisa banyak, Oleh
karena itu selanjutnya guru memanfaatkan sisa waktu untuk menjelaskan materi
dan peserta didik mengikuti dengan seksama. Tak terasa satu jam berlalu.
Kemudian Penulis membagikan link absensi (daftar hadir) online ke dalam
kelas asap tersebut untuk diisi oleh siswa yang hadir pada kegiatan belajar di.
Melihat dan mengisi absen online tersebut merupakan pengalaman baru bagi mereka
dan mereka sangat antusias mengikutinya.
Kegiatan ini bagi Penulis dinilai sukses
membangkitkan semangat siswa untuk belajar dilihatdari antusis siswa dalam
mengikutinya dan tanggapan positif dari siswa dan orangtua siswa melalui WA
grup Paguyuban.. Atas kemauan Penulis,
permintaan orang tua, dan siswa itu sendiri, Penulis mencoba merencanakan “Kelas
Asap Dua”. Malam harinya Penulis kembali mengedarkan flyer untuk kegiatan “Kelas
Asap Dua”. Siswa semakin bersemangat, karena selain dapat belajar, mereka juga
dapat “bertemu” dan bercengkerama secara real time dengan guru dan
teman-temannya melalui fasilitas ini dilihat dari banyaknya siswa yang join
dalam webex meet di “Kelas Asap Dua” ini. Kegiatan juga semakin
interaktif, aktif, kreatif, dan menyenangkan. Di mana materi pelajaran dikemas
secara apik dengan menggunakan aplikasi power point with animation dan
siswa lebih aktif dalam mengikuti proses KBM online tersebut.
Hal menarik yang
Penulis temukan setelah melaksanakan ”Kelas Asap” untuk pertama kalinya adalah aktivitas siswa setelah “ruang kelas”
dibuka dan sebelum memulai pembelajaran, mereka asyik bercengkerama dengan
teman-temannya dengan membuka webcam. Mereka
bisa melepas rindu karena beberapa hari ini tidak saling ketemu dikarenakan
libur berkali-kali disebabkan kabut asap yang sudah di level berbahaya. Mereka
saling menanyakan kabar dan pengalaman cara mereka membuka webex meet. Hal
menarik lainnya yang disampaikan oleh orangtua bahwa mereka pada hari itu
segera mandi, sarapan dan memakai pakaian yang sopan (tertutup untuk yang
perempuan) dan siap di depan perangkat pendukung.
Alhamdulillah,
dari kegiatan kelas asap yang telah penulis laksanakan, tanggapan orang tua
sangat baik. Berikut salah satu respon orang tua terhadap kegiatan yang telah penulis
laksanakan : “Mengenai belajar kelas asap, kami sebagai orang tua sangat
mendukung dan senang dengan adanya kegiatan ini. Kegiatan belajar dengan model
ini memberikan nilai positif bagi anak, naik dalam menggunakan waktu belajar di
rumah secara disiplin maupun terkait penggunaan teknologi. Anak kami menjadi
tahu bahwa HP tidak hanya digunakan untuk bermain saja, tetapi bias digunakan
untuk belajar, bahkan belajar Bersama teman meskipun dari rumahnya
masing-masing.”Niat awal penulis melaksanakan kegiatan belajar agar siswa
tidak terhambat prose pembelajarannya walaupun di tengah bencana kabut asap
akhirnya tercapai. Meskipun ini baru langkah kecil dan merupakan salah satu
solusi, di tengah banyak solusi lainnya, terbukti kegiatan belajar online
melalui “Kelas Asap’ yang telah penulis laksanakan dapat memberikan manfaat
bagi siswa, tidak hanya terkait substansi materi pembelajarannya, namun juga
pengalaman mereka dalam memanfaatkan perangkat teknologi Komunikasi dan
Informasi (TIK) yang mereka miliki untuk kegiatan selain bermain game.



Mudah-mudahan ikhtiar kecil ini dapat memicu kreativitas penulis pribadi maupun
para guru lainnya untuk terus berinovasi dan berkreasi demi anak negeri,
harapan Ibu Pertiwi di era Revolusi Industri 4.0, Aamiin. Wassalam
Jambi, 26 September 2019







