Penerapan PMRI
Bagaimana Membuat Siswa SD Senang Matematika?
Senin, 17 Februari 2014 17:39 WIB

Elita SPd
Guru SD Islam Al-Falah Jambi
Saya pernah ikut pelatihan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) di Jogyakarta. Di sana saya mewakili guru dari Provinsi Jambi, dan mendapatkan materi tentang penerapan metode pendekatan PMRI dalam belajar matematika untuk siswa kelas awal di sekolah dasar.
Seharusnya materi ini saya share ke rekan-rekan guru lainnya, namun alangkah baiknya materi ini saya praktikkan dulu, dan setelah berhasil baru saya sebarkan. Saat ini metode ini sudah saya sampaikan ke Kelompok Kerja Guru (KKG) di SD gugus Jelutung.
Berikut isi materi PMRI yang saya dapatkan beberapa waktu yang lalu.
PENERAPAN METODE PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIKINDONESIA (PMRI)
DALAM BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS AWAL DI SEKOLAH DASAR
Bagi sebagian siswa menganggap pelajaran matematika itu memusingkan dan membosankan, karena harus menghapal rumus-rumus. Adalagi yang beranggapan bahwa pelajaran matematika itu bikin galau, apalagi yang mengajar guru killer.
Banyak artikel yang menyajikan trik dan cara cepat belajar matematika dan menghapal rumus dengan cepat. Sebenarnya pelajaran matematika itu bisa asyik dan menarik jika disajikan dengan cara yang menyenangkan sehingga dapat dipahami oleh siswa.
Menurut Bruner (dalam Hudojo 1988:56) "belajar matematika adalah belajar mengenai konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari, serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika itu".
Pada teori Bruner, terdapat tiga tahapan belajar, yaitu tahap enaktif, tahap ikonik, dan tahap simbolik. Salah satu tahapnya yaitu tahap enaktif adalah tahap yang dilakukan anak untuk menggunakan atau memanipulasi objek-objek secara langsung.
Pembelajaran di kelas diharapkan bertujuan untuk membuat siswa memiliki pengalaman baru dengan strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
Ini menunjukkan bahwa materi yang mempunyai suatu pola atau struktur tertentu akan lebih mudah dipahami dan diingat peserta didik.
Hal ini sejalan dengan nafas kurikulum 2013 yang baru di-lauching pemerintah yaitu pendidikan yang lebih berpusat pada peserta didik.
Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) adalah suatu pendekatan teoritis terhadap pembelajaran matematika. Teori ini pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda yang dikenal dengan istilah Realistic Mathematic Education (RME). Di Indonesia RME dikenal dengan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI).
Satu di antara prinsip Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) menurut De Lange (1987), sesuai dengan kurikulum 2013 yakni Kemandirian siswa secara intelektual.
Artinya, matematika harus dikaitkan dengan realitas dalam arti real bagi siswa, konteks dunia nyata dipakai sebagai sumber pengembangan konsep dan sebagai lahan aplikasi.
Pada PMRI, pembelajaran matematika dilakukan dengan mengarahkan siswa kepada penggunaan berbagai situasi dan kesempatan, untuk menemukan kembali konsep matematika dengan cara mereka sendiri.
Proses ini diawali dengan pemberian masalah yang sesuai dengan kehidupan siswa (kontekstual) (Hadi, 2005).
Masalah nyata yang dimaksud bukan berarti konkret, tetapi dapat juga sesuatu yang dapat dibayangkan siswa. Penggunaan dunia nyata di awal pembelajaran berfungsi sebagai cara untuk membangun konsep sendiri, merupakan prinsip utama dalam pembelajaran matematika.
Pembelajaran matematika pada siswa kelas 2 sekolah dasar sebaiknya dimulai dengan menerapkan Pendekatan Matematika Realistik Indonesia. Guru tidak dibiasakan memberi tahu konsep/sifat/teorema dan cara menggunakannya, sehingga anak menerimanya secara pasif dan tidak kritis.
Adakalanya siswa menjawab benar, namun mereka tidak dapat mengungkapkan alasan atas jawaban mereka. PMRI juga menekankan untuk matematika pada pengajaran bermakna dengan mengaitkan dalam kehidupan nyata sehari-hari yang bersifat realistik.
Langkah-langkah pengajaran matematika dengan pendekatan PMRI adalah sebagai berikut:
1. Memotivasi siswa bertujuan untuk memfokuskan perhatian siswa serta mengkomunikasikan tujuan pembelajaran.
2. Memulai pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang real sesuai dengan tingkat pengetahuannya. Sehingga siswa segera terlibat dalam pelajaran secara bermakna. Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
3. Menyelesaikan masalah kontekstual. Siswa secara individu maupun kelompok mengembangkan atau menciptakan cara untuk menyelesaikan masalah tersebut. Siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya.
4. Membandingkan dan mendiskusikan jawaban. Siswa yang lain memberikan pendapatnya untuk menyatakan setuju atau tidak setuju, siswa yang tidak setuju akan menjelaskan cara lain dalam menyelesaikan masalah tersebut.
5. Menyimpulkan. Guru bersama-sama siswa melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh.
Salah satu karakteristik PMRI Menurut De Lange dalam Zullkardi, (2005:14) yaitu menggunakan kontribusi siswa dimana siswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan strategi-strategi informal dalam menyelesaikan masalah yang dapat mengerahkan mereka pada pengkontribusi prosedur pemecahan, dengan bimbingan guru diharapkan siswa dapat menemukan.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi teman-teman seprofesi guna menambah varian metode pengajaran kita. Selamat mencoba.
Editor: esotribun
Sumber: Tribun Jambi
+ Share














