HOME

Thursday, April 30, 2020

🌸Menyusun vs Menata🌸

🌸Menyusun vs Menata🌸

#RWCODOP2020
#RWCDay7
#OneDayOnePost
#Ramadhan2020

Pagi ini agak santuy gaeess, setelah sahur biasanya aku beberes, mandi, ibadah pagi, dan menikmati kesantuianku mumpung yang lain pada lelap tidur dan belum ada yang ngerecokin. Aku awali dengan cek cek wa sambil kunyalakan televisi. Sekarang ini menonton TV pagi sudah menjadi keharusan bagiku selama Pandemi ini. Karena aku memberikan tugas kepada murid muridku untuk belajar bersama Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang memang TVRI menayangkan program baru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang bertajuk Belajar dari Rumah. Program tayangan ini menjadi salah satu alternatif pembelajaran bagi siswa, guru, maupun orang tua, selama masa belajar di rumah di tengah wabah Covid-19. Sebenarnya ditujukan bagi siswa yang tidak mendapatkan akses belajar online. Kalau di sekolah kami Alhamdulillah, untuk mengakses pembelajaran online tidak ada ditemukan masalah yang berarti. Namun tidak masalah ikut belajar bersama TVRI ini. Pandemi covid-19 masih terus menjadi primadona untuk dibahas di mana mana, jujur sih, aku semakin kuatir kalau selalu mendengar tentang update berita si covid ini. Lebih baik aku ga tau dan aku bisa lebih relaks. Karenanya, aku suka parno sendiri, pilek dikit aku udah stress, orang di rumah batuk batuk aku semprot suruh tutup mulut. Namun, kata suamiku tidak boleh juga cuek begitu, kita harus tahu agar kita bisa waspada. Yaa, sekedarnya saja.

Tiba tiba aku mendengar notif WA masuk, ada yang chat, aah paling wag fikirku,  memang wagku lumayan banyak, dan itu sudah beberapa wag yang aku masukin arsip, dan tak sedikit yang aku mute notifnya. Tapi ada beberapa grup baru yang belum sempat kumute. Tit.. tit... kulihat di pop up, ada waj. Ooh dari orang tua siswaku yang anaknya sudah tamat sekian tahun lalu, dia punya bisnis kue gitu gaees, jadi lumayan dimudahkan membeli kue selain kuenya emang benar benar enak dan kekinian, harganya juga miring🤭 selain dia melayani pemesanan di rumahnya, kue yang dibuatnya juga dijual di mall dan supermarket ternama di kotaku ini, dan kalau kita beli di sana jangan harap bisa dapat potongan harga😁 (emang lo siapee?).

Kulihat gambar di flyer 'Vika Cookies' yang dikirimkan, aku sudah hapal sebagian dari kue-kue itu karena memang tiap tahun aku pesan kue dari Vika Cookies (sekalian dipromoin nih maa, hmm ditambah ya diskonnya 🤭). Sepertinya ada beberapa kue baru. Tapi belum kupesan sih, aku tanya kapan batas akhir pemesanan, katanya 1 Mei batas pemesanannya. "Hmm... baiklah", fikirku. Aku memang belum pesan dulu karena biasanya uniku juga ikutan pesan dan tahun lalu emakku juga ikutan pesan😭 (Al Fatihah untuk emak) dan biasanya kalau pesan aku sih antar stoples saja ke sana, karena aku emang paling malas menyusun kue ke stoples, apalagi kuenya berbentuk, misal di Vika Cookies ini ada kue skippi itu berbentuk love (❤) nah itu susah sekali menyusunnya, masalah lainnya kalau aku susun sendiri itu godaannya besar sekali, kenapa? Karena banyakkan masuk ke mulutnya ketimbang ke stoples🤤 (hehe.. ga batal ya puasanya karena aku susun kuenya malam malam, gaeess). Aku lebih bisa susun semacam tusuk gigi, kerupuk, dan kacang kacangan ke stoples, tinggal dicempungi aja beres😂 (ada yang samaan ga?). Kalau aku antar stoples ke sana biasanya nanti pas mau dekat lebaran aku tinggal ambil dan bayar pastinya dan didiskon itu sudah jelas🤭. Kalau tahun kemarin sih diskonnya ditukarkan dengan satu stoples kue paltik dan boleh pilih mau kue yang mana, asyik kan? Jangan ngiri rezeki sudah Allah Subhanahu wa Ta'ala atur😉.

Aku wa uni mengabarkan kalau Vika Cookies open order. Dan dari balasan wa uni, dia memesan beberapa macam kue. Kalian tau gaees? Uniku ini domisilinya di Padang, pesan kuenya di Jambi, hidup dibikin ribet ya gaes😁. Tapi ga masalah gaes, karena untuk bayar kuenya dia via transfer dan selalu dilebihkan untuk aku, tak jarang pesananku ikut dibayarinya juga, hmm... jangan ngiriii lagi. Langsung saja kukabari ke Mama Vika macam macam kue dan banyaknya kue yang kami pesan. Tapi kali ini aku ga antar stoples karena fikirku seru juga kalau tahun ini aku coba susun kue bareng Alvaro. Tahun tahun belakang dia masih kecil, pernah kuajak menyusun kue nastar kesukaannya ke stoples yang lebih kecil, ternyata kuenya menjadi banyak gaesss, pecah pecah dan menjadi puing maksudnya🤦‍♀️. Yah, ujung ujungnya ga jadi untuk lebaran. Menyusun kue ke dalam stoples memang tantangan berat bagiku tapi, kalau menata kue di atas meja atau buffet aku demen banget tu. Ya, aku tipe wanita yang suka menata, apalagi menata hati, karena suka baperan juga walau udah tua, semakin tua semakin baper loh, ga percaya cepet aja tuanya, rasakan sensasinya😝.

Program belajar dari rumah bersama TVRI sudah dimulai, aku harus fokus memantau acaranya karena beberapa waktu lalu ada beberapa berita yang up tentang acaranya yang dikritisasi oleh masyarakat mengenai acara keagamaan yang dianggap disisipi ditengah-tengah pembelajaran, namun hal tersebut sudah diklarifikasi oleh pihak stasiunnya langsung. Terlepas dari itu semua memang kita harus terus waspada terhadap tontonan anak anak kita. Ingat sebuah hadist Baginda yang Mulia menyatakan: “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

-stoples kue lebaran-
-lebaran masih jauh-
-lebaran di masa pandemi-
-yang utama ibadahnya-
-kue maah nomor sekian-
-membantu yang terdampak-




Wednesday, April 29, 2020

🌸Pekerjaan Mulia🌸

__________🕌__________

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay6
#Ramadhan2020
@komunitas.odop

Bismillahirrahmanirrahiim
Memasuki Ramadan hari ke enam ini, harapan kita bersama semoga kita senantiasa diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kesehatan sehingga kita dapat menjalankan ibadah dengan baik dan tentunya keimanan kita semakin meningkat serta yang tak kalah penting lagi semoga kita terhindar dari rasa malas, karena tidak ada hambatan untuk kita tetap beraktivitas di bulan Ramadan ini, melainkan hambatan untuk beraktivitas di luar rumah karena pandemi covid-19 ini. Namun, walaupun demikian kita tetap bisa beraktivitas di dalam rumah. Jangan sampai momentum bulan Ramadan ini produktivitas kerja menurun. Seperti kita ketahui bersama, bulan Ramadan ini merupakan bulan jihad umat Islam. Sejarah mencatat pada tanggal 17 Ramadan tahun kedua hijriah, umat Islam mengalami perang Badar. Nah, seharusnya di bulan ini kita dapat berkarya, bekerja, dan belajar dengan baik lagi karena Allah akan mengganjarnya dengan pahala yang setimpal apabila dikerjakan dengan ikhlas dan diniatkan untuk ibadah.

Apapun profesi kita saat ini, apakah seorang supir, guru, dokter, pedagang, bahkan marbut sekalipun jalankanlah dengan baik dan penuh tanggung jawab hindari rasa malas. Aku adalah seorang guru SD, dalam kondisi sekarang, kami diimbau untuk tetap mengajar dari rumah, walaupun atasan tidak melihat apakah aku mengajar online dari rumah atau tidak, memberikan tugas kepada siswa sesuai dengan surat edaran menteri atau tidak, memberikan penilaian atau tidak. Namun, aku berusaha untuk tetap melaksanakan tanggung jawabku tersebut dari rumah. Karena kelak akan aku pertanggungjawabkan di hadapanNya.

Beberapa waktu lalu, aku dan suamiku singgah dan salat di sebuah masjid dekat sekolahan tempat kami mendaftarkan Alvaro. Tak sengaja mataku melihat seorang marbut masjid sedang bekerja. Ia terlihat membersihkan karpet yang baru saja dipakai oleh jamaah yang sedikit itu, jumlahnya boleh dihitung dengan jari sebelah tangan saja itupun sudah termasuk imam, marbut sekaligus muaazin, serta kami berdua. Kulihat dia menggulung karpet itu dengan rapi, menyapu, mengepel. Sayup sayup kudengar dia melantunkan ayat ayat suci Al Qur'an. Fikirku, untuk apa dia melakukan itu semua di kondisi wabah virus ini dia bisa saja mengunci masjid ini dan bermalas malasan. Aku jadi teringat tentang sebuah do'a yang Rasulullah ajarkan, yang artinya adalah “wahai Allah Sungguh Aku Berlindung pada Mu dari Gundah dan Sedih, juga dari Lemah dan Malas, dan dari Kikir dan penakut, dan dari himpitan utang dan penindasan orang lain” (Shahih Bukhari). Aku segera beristighfar.

Sempat, aku membayangkan bagaimana kalau seandainya aku dan suami bekerja di masjid ini sebagai marbut, setiap waktu salat kami harus membuka masjid, menggelar tikar untuk syaf salat, lalu mengisi bak air wudhu, dan menjaga kebersihan masjid. Membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup lalu jangan pernah meremehkan. Tugasnya pasti sangat berat lalu pendapatanpun tak seberapa. Aku saja membersihkan rumah yang ukuran 6m x 6m itupun kelelahan hanya karena rumah berserakan oleh mainan Alvaro saja bukan menggelar dan menggulung karpet setiap hari bahkan setiap waktu salat tiba.

Pekerjaan sebagai marbut adalah pekerjaan yang sangat mulia, selain ia bekerja menjaga kebersihan masjid, rumah ibadah, ia juga bertanggungjawab dengan jalannya ibadah di masjid. Ia bisa menjadi muazin, imam, chatib, walaupun hanya sebagai cadangan. Pernah mendengar atau membaca kisah marbut wanita di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wassalam? Meninggalnya wanita itu membuat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam merasa kehilangan. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam kaget kenapa para sahabatnya tidak memberi tahu perihal kematiannya. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam lalu berdiri di dekat makamnya dan melaksanakan salat gaib untuknya. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam kemudian bersabda “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini telah dipenuhi kegelapan bagi penghuninya. Dan Allah benar-benar akan memberikan mereka cahaya karena salat yang aku lakukan atas mereka.”

Melihat kisah tadi, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam memuliakan orang-orang yang mengurus masjid, seperti kisah di atas. Salatnya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam terhadap marbut wanita itu karena ia dianggap orang baik dan mulia. Ya Allah, berikanlah kami pekerjaan yang mulia di sisiMu, jika Engkau takdirkan kami dengan pekerjaan kami yang sekarang, jadikanlah pekerjaan ini sebagai jalan kami mendapatkan keridhaanMu, dan muliakanlah kami dengan pekerjaan kami ini, Aamiin Yaa Rabbal 'aalaamiin.

-marbut pekerjaan mulia-
-guru pekerjaan yang ditakdirkan kepadaku-
-aku bangga menjadi guru-
-aku ingin dimuliakan seperti Rasul memuliakan seorang marbut wanita di zamannya-

Tuesday, April 28, 2020

🌸Jurus Sakti Emak🌸

--------🌸🌸🌸--------

"Makaaaan aaah... tar ga sahur lagi bisa tidur sampe subuh", kata uni sambil buka tudung saji sepulangnya dari tarawih di langgar yang letaknya tidak jauh dari rumah.

"Cup yaaa, kolak pisangku jangan dimakan, awas loh", teriak uni (sebut saja uni 2), sambil berlari menuju ke kamar mandi, udah ga tahan sepertinya selalu memegang megangi perutnya dari jalan menuju ke rumah tadi.

"Yaaah, es tehku habis ya?, kok ga ada lagi sih, kan tadi aku masukin kulkas", tanya uni (sebut saja uni 3 yaa) sambil membuka pintu kulkas. Tak mau kalah dengan uni, dia juga mengambil piring untuk makan malam, eh maksudnya makan setelah berbuka. Makan sahur? Bukan, tapi makan apa ya? Hmm.. yaa makan malam, makan setelah salat tarawih, ahh sudahlah tidak usah dibahas makan apa mereka. Mereka bertiga adalah saudara perempuanku, kami berempat adalah anak perempuan emak.

"Kalau sudah tadarusannya nanti kalian langsung tidur, supaya bangun sahurnya cepat, ya", kata emak kepada kami berempat dan berlalu ke biliknya. "Iya, mak", jawabku. Aku langsung menuju ke ruang tengah untuk memulai tadarusan, sebentar lagi uni-uni yang masih di dapur juga akan menyusul. Usai tadarusan kami berempat menuju ke kamar. "Eh, uni nanti ga sahur ya, tadi sudah makan, sengaja supaya ga bangun sahur lagi, ingat ya jangan dibangunin", kata uni sambil mengibas ngibas kasur dengan sapu lidi sambil mengucapkan bismillahi Allahu Akbar. Ini sudah kebiasaan kami. Kata emak, sebelum tidur sunnah membersihkan tempat tidur. "Aku juga ga sahur ya, aku ga puasa besok", sambut uni 2, dan begitu juga uni 3 "awas kalo bangunin aku juga". Kata mereka kalau bangun sahur itu waktu tidur menjadi berkurang, lagi pula mengantuk tidak ada selera makan. Mau makan sahurnya boleh dihitung dengan jari, paling paling hanya di malam pertama dan kedua Ramadan, setelah itu ga pernah mau bangun sahur. Tapi uni kuat kok puasa sampai magrib tanpa sahur. Kata emak, bukan soal kuat atau tidak kuatnya, tapi ambil pahala sunnahnya, niatkan sahur untuk mengikuti sunnah Rasul dan juga akan bertenaga kata emak kepadaku ketika aku ikut ikutan tidak mau makan sahur.

"Mi..., Yan..., El..."
"Ta..., bangun", lamat lamat kudengar di telingaku suara emak membangunkan aku sahur. Emak mengelus punggungku lembut "Ayo sahur, berwudhu dan tahajut dulu ya, itu makannanya sudah mak siapkan di meja" kata emak kepadaku yang kebetulan terbangun duluan, itupun entah sudah berapa lama emak membangunkanku. Aku menyeka mataku, lalu aku segera duduk dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.

"Mi..., Yan..., El... bangun, sebentar lagi waktu imsak tiba?", panggil emak membangunkan uni uniku. Dari mulai memanggil dengan suara pelan, dengan sentuhan, nada agak kencang, dan lanjut ke menggoyang goyangkan badan. "Mi ga sahur, mak. Mi tadi sudah makan sebelum tidur ga niat untuk makan sahur, jadi masih kenyaaang", jawab uni dengan mata masih terpejam. "Yan ga sahur mak ga puasa, lagi datang haid pulang dari langgar semalam", tambah uni 2. Dan uni 3 juga menolak untuk bangun makan sahur. Namun, emak tidak menyerah, emak terus dengan jurus saktinya berusaha membangunkan uni untuk sahur kecuali yang besok ga puasa yaa🤭. Emak terus membangunkan mereka sampai sampai aku sudah hampir selesai makan sahurnya, emak masih gigih membangunkan kedua uni sampai mereka bangun walau bangunnya terlihat kayak vampir berjalan dengan mata masih terpejam menuju kamar mandi untuk cuci muka, sambil ngedumel dan biasanya melek kalo sudah kejedut pintu🤭.

"Dek, sudah bangun Alvaro?", tanya suamiku yang tiba tiba muncul ke kamar yang dari tadi menunggu di ruang makan dan mengagetkanku serta membuyarkan kenangan sahur bersama emak dan uni-uniku. "Astaghfirullah, kaget adek bang. Belum, bang", jawabku. "Ayo, sudah mau imsak, tinggalkan saja", sambung suamiku. "Ga ah, kataku, aku coba sekali lagi, kasian kalau dia tidak sahur atau dia tidak puasa karena tidak makan sahur", jelasku. "Ayolah, nanti kamu ga sempat makan lagi", bujuk suamiku. "Ga pa pa, yang penting Alvaro bisa bangun dan makan sahur bareng", kataku. Sebegitu berkesannya cara emak membangunkan kami sahur aku bangunkan Alvaro dengan cara yang sama seperti emak, pantang makan sahur duluan kalau anak-anaknya belum bangun. Emak yang pantang menyerah tidak mudah putus asa walaupun uni uniku menyiapkan seribu alasan menolak dibangunkan sahur, emak justru punya berjuta-juta jurus sakti💪😉

"Miey, Biey, yuk sahuur", kata Alvaro, mengagetkan kami berdua. "Al tadi pura pura tidur aja kok supaya bisa digendong ke dapur", tambah Alvaro membuatku geleng geleng. "Kamuuuu tu yaaaa", gemasku dan menggelitikinya. Dia pun kegelian dan teriak-teriak minta ampuun. Dia punya cara jitu juga ternyataaah pemirsaaah, sayaa punya sejuta jurus, gaesss

Aku selalu terkenang cara emak membangunkan kami khususnya uni uniku itu, cara emak dengan lembut dan dengan kata kata motivasinya, emak yang tahan mengorbankan waktu makan sahur untuk dirinya sendiri demi anak-anaknya bangun sahur. Tak jarang emak makan sahur dikejar kejar imsak, emak menjelaskan bahwa imsak itu baru lampu kuning, aba-abanya. Tetap boleh makan, lanjutkan saja makan dan minum kalian, kalau sudah azan baru lah kita hentikan makan dan minumnya. Dan itu akan mulai aku terapkan untuk Alvaro, wajib, kudu, musti, harus!!!

-miss u mom-

~~~~~~~🌸🌸🌸~~~~~~~

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay5
#Ramadhan2020
#Day4challenge
#sahurberkesan
@komunitas.odop
#disiniakubelajar
#reallife50%
#fiktif50%
#alfatihah-emak
#belajarmenulis
#kenanganmanis


🌸Sukur Kakak🌸

~~~~~~~🌸🌸🌸~~~~~~~

🌸Sukur Kakak (Susu Kurma)🌸

Semalam kakak mengabarkan kalau siang ini dia akan balik dari mudik. Tiap tahunnya kami memberikan hak cutinya sebanyak 3 kali kepada kakak, yaitu cuti selama lebaran, cuti liburan, apa itu cuti liburan? Hmm.. begini, secara kaan aku dan suami berprofesi sebagai guru, oleh karena itu libur kami pun sama, nah ketika kami libur semester, kakakpun ikutan libur dan dibolehkan mudik untuk bertemu lepas kangen dengan keluarganya, tentunya mereka juga keluarga kami karena kakak sudah kami anggap sebagai anak kami sendiri, yaitu sebagai kakaknya Alvaro, yaa memang benar, kami adalah keluarga berencana yang beranak dua, dan sepasang😉, selanjutnya, cuti ketiganya adalah cuti dalam rangka menyambut puasa, seperti saat ini. Yaaa, memang tidak lama sih, karena libur kami di hari pertama puasa juga tidak panjang, walaupun selama pandemi covid-19 ini kami tidak mengajar di sekolah namun, saya dan suami tetap bekerja dari rumah (WFH) sehingga kakak juga tak bisa mudik lama lama seperti liburan semester atau lebaran. Meskipun liburan semester panjang tak jarang kakak hanya mudik beberapa hari ke kampungnya lalu kembali lagi untuk ikut kami liburan ke luar kota.

Mendengar kakaknya akan datang kebayangkan dong betapa senangnya Alvaro. "Apa isi wa kakak, Miey?", tanya Alvaro ketika kusebut ada wa dari kakak. "Nih, baca saja sendiri", kataku sambil memberikan smartphoneku kepadanya, hmmm... pasti kalian bertanya-tanya, emangnya Alvaro usia 5 tahun sudah bisa membaca? That's right, gaess (gaya Alvaro kalo udah ngevlog dikonten youtubenya 🤭) Alhamdulillah Alvaro sudah lancar membacanya. Eiits. jangan salah persepsi dulu yaa, kami tidak pernah memaksakan dia untuk bisa membaca, berhitung, dan lainnya. Selain dia aktif, Alhamdulillah rasa ingin tahunya tinggi. Kalau boleh cerita atau berbagi pengalaman sedikit, boleh ya? Boleh dong 🤗 yaitu berbagi pengalaman cara kami mendidiknya. Begini ceritanya, eaaakkk😂 lagiiii, style ngevlognya Alvaro ya begituu, emaknya jadi latah secara emaknya ini adalah produser, director, dan promotornya include sebagai mimin akun sosmednya, promo dikit supaya follower dan subsrcibernya nambah, lumayan bisa dapat tambahan kuota dari pak suamikk🥰.

Alhamduliah, sejak Allah mengamanahkan Alvaro kepada kami, saat itu kami sudah mulai melek ilmu mendidik anak baik dari segi agama maupun umum dibandingkan sebelumnya walau ilmu ini belumlah sebanyak ilmu orang tua lainnya di luaran sana. Sehingga beranjak dari situ, kami sudah memiliki visi dan misi untuknya ke depan. Harapan kami ia bisa menjadi anak yang salih dan ia dapat tumbuh kembang dengan baik, itu yang selalu terucap dalam do'a kami. Oleh karena itu kami berupaya untuk mewujudkan harapan kami dengan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya, mulai dari pola asuh dan pola makannya. Jika kuda pacuan saja diberikan makanan yang bergizi oleh pemiliknya agar ia bisa menjadi kuda yang hebat, kenapa untuk anak sendiri tidak bisa? Kenapa kita memberinya makanan yang sembarangan? Kenapa harus memberinya mie instan? Kenapa dia dicekokin dengan makanan-makanan berbahan pengawet, penyedap, pewarna?  Mengapaaa??? Ooh mengapaaa? 😂.

"Yeee kakak pulang, asyik asyik, Vroh, kakak pulang, Vroh", ujarnya kepada Abbieynya yang sudah kewalahan dengan Alvaro yang kalau sedang becanda memanggilnya vroh, tidak salah Alvaro juga sih, sebab Abbieynya seperti itu ke dia. "Ummiey, siiiiini", panggil Alvaro manja sambil merangkulku dan ingin membisikkan sesuatu. "Apa?", tanyaku masih duduk manis. "Aku mau makan, miey, Aku lapaaar", rengeknya dengan wajah diasem asemin🤭 "Kan Al puasa, cieee puasa puasa kok bilang lapar?", sambutku sambil menggodanya."Iya, tapi sahur tadi aku makannya cuma sedikit, Miey, aku lapaar. Ayolah, Miey", rayunya yang kutahu itu bukan lapar sungguhan. Oh iya, ceritaku tadi sampai di sana dulu ya. InsyaAllah, lain waktu jika ada kesempatan aku akan berbagi dengan kalian semua (gayanya udah kayak sang motivator yang sudah berpengalaman dan berhasil saja), memang benar, kami belumlah melihat keseluruhan hasil asuhan kami untuk Alvaro, tapi sejauh ini Alhamduliah kami bersyukur bahkan dahsyat luar biasa campur tangannya Allah terhadap tumbuh kembangnya, faa biayyi ala irabbikuma tukazziban, Allahu Akbar. Kami berupaya mendidiknya secara Islam dekat dengan Allah subhanahu wa Ta'la sepanjang hidupnya. Alhamdulillah sekarang ia sudah mengaji sampai juz 16 dan hapalan juz 30 nya sudah lumayan. Tentang akan jadi apa dia nanti, maksudnya ke depannya, kami serahkan sepenuhnya kepada Sang Maha Berkendak. Namun, sejak kecil kami ikhtiarkan semua yang terbaik untuk dia sesuai kemampuan kami.

Aku sudah tidak mendengar lagi rengekkan Cibubu, ternyata ia sudah tertidur, sepertinya dia mengantuk karena ikut sahur tadi. Tidak beberapa lama kakak sampai di rumah diantar oleh bapaknya di saat Alvaro sedang tidur, sepeninggalan bapaknya pulang, dengan bersemangat kakak cerita sewaktu di rumahnya kemarin dia membuat takjil minuman berenergi dari resep temuannya sendiri 😁 Kakak mulai menjelaskan bahan bahan apa saja yang dbutuhkan dan langkah langkah membuatnya, hmm... walau aku mengantuk, demi kakak dan resepnya aku rela menahan kantukku. "Bu", begitu dia memanggilku. "Bahan bahannya ada semua di kulkas, Bu. Jadi kita langsung buat saja ya bu, mumpung adek masih tidur, hehe", katanya bersemangat sambil melihat isi kulkas. "Bahannya kurma, susu bubuk, dan air putih", jelasnya sambil mengeluarkan bahan bahan itu dari kulkas. Aku mengamati gayanya yang sudah kayak chef gitu. "Cara membuatnya, blender kurma secukupnya dengan air kemudian disaring", lanjutnya sambil mengeluarkan alat alat yang disebutkannya dari lemari. "Lalu, siapkan wadah yang cukup besar untuk membuat air susunya, kita buat air susu dengan cara menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah berisi bubuk susu, jangan terlalu banyak airnya karena susu kurma ini enaknya diminum dingin dingin, loh buu, dan bagusnya lagi susu kambing", jelasnya dengan percaya diri. "Kemudian tuangkan air kurma tadi ke dalam gelas yang bersisi susu ini, dan simpan di dalam kulkas, siap deh!", katanya puas.

"This is it! takjil berenergi susu kurma ala chef Astuti", teriaknya bangga sambil mengangkat segelas minuman berwarna kecoklatan yang benar benar menggoda untuk diminum.

Sebelum waktu berbuka tiba, kakak dan Alvaro mengantarkan takjil 'sukur'nya ke tetangga. MasyaAllah anak anak salih dan salihah aamiin

-Ini takjil kamii... mana takjiil kamu, gaes!-

#chefrumahan
#susukurma
#minumanbernergi