"Ica, π€πππ‘!"
"Huh! Dipanggil kok melehoy aja ini anak." Rutuk Virda.
Ia lalu berlari kecil ke arah orang yang Ia panggil. Dengan cepat Ia melompat tepat di depan Ica dan berhasil menghalangi laju langkah kaki Ica. Ia meraih dan melepas βππππ ππ‘ yang terpasang di balik kerudung Ica.
"Raflesia! Is.. is.. iiis.. pantesan aja ga dengar. Hmm..." Virda berhasil melepas βππππ ππ‘ itu.
"Astagfirullah, Virda. Lu ngagetin aja sih!" Raflesia kaget dan spontan mundur selangkah ke belakang.
"Sini!" Dengan cepat Virda menarik pergelangan tangan Ica seraya mengajaknya duduk di salah satu bangku di taman kampus.
Taman itu terlihat tampak sangat asri dan teduh dengan banyak pepohonan peneduh. Selain mereka berdua, ada beberapa mahasiswa lainnya juga berada di sana yang tengah duduk-duduk dan tentunya dengan aktivitas dan kesibukkan mereka masing-masing.
"Ca, proyek kita ini bagaimana? Dua hari lagi ππππππππ loh." Sembari duduk Virda mulai membuka pembicaraan.
"Oh itu, tenang aja, Vir, udah gue garap kok, tar lagi matang." Jawab Ica santai dan berniat memasang βππππ ππ‘ itu kembali ke telinganya. Ia membuka kunci layar ponselnya hendak men-π πππππ ππππ¦πππ π‘ musik favoritnya.
Melihat Ica sedang asyik memilih lagu favorit di ππππ¦πππ π‘ musiknya. Virda meletakkan sebelah telapak tangannya tepat di atas ponsel sehingga menutupi layar ponsel yang sedang di-π πππππ oleh Ica itu.
"πππππ π deh, Caaaa. Ivir serius. ππ‘ππ dulu kenapaaaa?!" Rajuk Virda.
"πΉπππ..., πΏππ‘'π π‘πππ, π΅πππ¦ ππππ yang manjakkkk!" Bujuk Ica dan meletakkan ponselnya di atas meja tepat di depan bangku tempat Dia duduk.
"Nah, gitu doooong." Ucap Virda senyum-senyum manja.
"Trus tadi Ica bilang tar lagi matang, gimana maksudnya? Videonya udah rampung, gitu?" Virda bertanya sangat antusias.
"Sabar, Bestie. Kalau proyek video pendek untuk lomba HUT Kota Jambi emang belum sih. Kan Elu juga terlibat ntar? Masa iya udah?! Belumlah!" Jawab Ica sewot.
"Iya iyaaa! Makanya Ivir tanya, Bestie! So, yang tadi Ica bilang udah digarap apaan?" Tambah Virda lagi.
"Gini, Vir. Tema video pendeknya kan tentang kebudayaan nusantara. Nah, gue udah garap π πππππππππ¦-nya. Jadi Lu tenang aja. Tar lagi rampung kok." Jelas Ica
"Ho oh.. ho oh.." Angguk Virda walau masih belum paham. "Betewe, π πππππππππ¦ apaan yak?" Tanya Virda bingung.
"Yaelah, anggukkannya kayak yang paham pahaaam jeee." Logat Ica ala tokoh kartun Ipin Upin sambil geleng-geleng kepala.
"ππππππππππ¦ itu naskah, Bestie. Gue udah garap naskahnya dan disesuain sama temanya. Nah, kita angkat satu saja keberagaman dari banyaknya budaya di Indonesia ini. Gue udah petakan keberagaman tersebut. Di antaranya adalah keberagaman rumah adat, bahasa daerah, lagu daerah, tarian daerah, makanan khas, dan banyak lagi. Nah, Gue dan Godid sepakat angkat tentang makanan khasnya." jelas Ica diikuti anggukan-anggukan Virda.
"Hmm.. gimana itu, Ica. Ivir belum bisa πππππππ ππ‘?" desak Virda dengan gaya bicara dan intonasinya yang manja, pelan, dan lembut.
"Skenarionya gimana? Kasih tahu dooong." lanjut Virda.
"πππππππnya gimana?" Tanya Virda
"ππππ gambarnya di mana?" Tambah Virda.
"Lalu, Ivir kebagian tugas a…" Virda mencecar dengan banyak pertanyaan yang tiba-tiba diπ π‘ππ oleh Ica.
"Stss!" Ica meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Virda.
"Ya udah gini aja. Gue ππππ Godid dulu. Ivir diem dulu ya." Ica meraih ponselnya.
Setelah menelepon Godid, Ica lalu memesan makanan dari kantin Bude langgananya yang tempatnya tidak jauh dari taman di mana mereka duduk.
Tak lama kemudian..
"Hai, Gaes! π€βππ‘'π π’π?" Lima menit berlalu sejak Ica menelepon Godid. Akhirnya Godid yang ditunggu-tunggu datang juga dan langsung meraih dan menyeruput secangkir white cappuccino yang telah dipesan Ica khusus untuknya.
"Kita sedang obrolin tentang proyek video pendek itu loh, Did." Jawab Ica.
"π΄ππππβπ‘, πΌ π ππ!" Sambut Godid.
"Waktu otewe tadi Gue udah baca π€βππ‘π πππ Lu, Ca. Gue juga udah dengerin π£π yang Lu π πππ td, suara merdunya siap sih?" Goda Godid sambil melirik ke arah Virda.
"Iih… Ica! Apa-apaan sih. Jadi dari tadi itu Ica rekam suara Ivir? Terus kirim ke Godid? Sebel deh!" Rajuk Virda membuang muka dengan menoleh ke samping dengan pipinya yang bersemu merah karena malu.
"Mon-maap ya, Virda cayaaang. Canda koook! Kalau gak gitu Godid mana mau ke sini dan secepat kilat begini pula. Hehe…" Rayu Ica ke Virda yang tersipu malu itu.
"ππππ, πΆπππ ππππππ . Skuy, kembali ke laptop!" Godid mengambil alih keadaan.
"Kembali ke proyek tadi, kita udah sepakat π’π topik tentang makanan khas salah satu daerah di Indonesia kan, Ca?" Isyarat Godid ke Ica dengan mengangkat alis matanya.
"He-eh, khas Sumatera Barat ya, yaitu ren-dang." Sambut Ica sambil meraih dan mulai menikmati sendok demi sendok spaghetti carbonara kegemarannya yang baru saja diantar oleh Bude kantin.
"ππππ¦, kita semua tahu makanan khas nusantara itu kaya cita rasa. Ada Gudeg Yogya yang cita rasanya manis kita angkat juga sebagai pembanding Rendang Padang yang cita rasanya pedas. Kedua makanan khas daerah ini memiliki cita rasa yang berbeda namun menjadi primadona di daerahnya masing-masing. Nah, kedua makanan ini menjadi makanan ππππππ bahkan di luar daerah aslinya. Gimana setuju kan?" Tanya Godid ke Ica dan Virda
"Terus trus?" Desak Virda penasaran.
"Kita akan perkenalkan makanan khas daerah ini include bahan dan cara membuatnya. Yang mana bahan utama rendang dari daging sapi dimasak dengan santan dan rempah-rempah asli Indonesia di antaranya bawang putih, bawang merah, jahe, cabe merah, dan daun-daunan. Rempah-rempah ini di dapat dari bahan alam asli Indonesia." Papar Godid sambil sesekali berdiri dan berjalan mengelilingi kedua gadis cantik itu seolah-olah seperti seorang dosen yang sedang memberikan mata kuliah kepada mahasiswanya.
Godid menyeruput sisa minuman favoritnya itu kemudian melanjutkan penjelasannya kembali.
"Rendang dan gudeg adalah contoh sebagian makanan khas daerah yang sudah ππ internasional. Dengan mengangkat tentang keberagaman makanan khas daerah ini tujuannya agar π£πππ€ππ bisa menghargai makanan khas masing-masing daerah. Poin pentingnya dalam video ini kita perkenalkan beberapa makanan khas tersebut dengan keunggulannya masing-masing. Maka, dengan menonton ini milenial bangga menjadi anak Indonesia.
"Keren ih, Godid aku padamu!" Puji Virda yang membuat Godid terbang ke awan πππ ππππ.
"Lalu π‘πππ videonya di mana?" Tanya Virda.
"Kita π‘πππ awal di Sultan Thaha Saifuddin π΄ππππππ‘. Seolah-olah Lu πππππππ dari Padang membawa makanan khas yaitu rendang itu tadi." Tunjuk Godid ke arah Virda.
"πβππ, di π‘πππ selanjutnya rendang itu Ivir bawa untuk dicicipi ke Gue. Dalam skenario itu Gue sebagai cowoknya kamu, Sayang" Godid mengedipkan sebelah matanya menggoda Virda lagi. Ia berhenti sejenak terkesima menyaksikan pemandangan indah dari wajah Virda yang tersipu malu karena kalimat yang diucapkannya.
"Pa-an siih?" Virda berusaha menyembunyikan pipinya memerah karena malu.
"Santai, Non, he.. he.. Gue lanjutin ya. Rendang itu dikasih ke Gue sebagai oleh-oleh yang notabene bukan orang Minang." Jelas Godid lagi dengan semangat dan berpindah duduk ke samping Virda dan menatap Virda lembut.
"Oleh karena cita rasa rendangnya pedas, Gue menolak karena tidak terbiasa dan kurang suka tapi gak mencela atau mengejeknya dong. Gue bisa saja berkeinginan untuk mencicipinya barang sedikit atau menolaknya dengan baik. Nah, disini baru muncul wujud sikap saling menghargai keberagaman budaya salah satunya keberagaman makanan khas ini walau tidak suka sekalipun." Tutup Godid dengan manis.
Virda manggut-manggut sambil memperbaiki bingkai kaca matanya yang turun hingga ke puncak hidungnya yang bangir.
"Ivir sukak! Ivir Sukak konsepnya! Hal ini tentunya juga akan dapat mengedukasi para milenial yang tidak kenal apalagi tidak menyukai sama sekali makanan asli Indonesia karena mereka lebih doyan makanan dari luar negeri, seperti Italia, Amerika, dan Korea." Puji Virda
"Betul betul betul, ya seperti cewek pecinta πΌπ‘πππππ ππππ di depan Ivir ini." Sindir Godid ke Ica sambil melirik Ica yang sedang menikmati suapan terakhir spaghettinya.
"Hmm.., nyindir deeh.., eits, siapa bilang Gue ga suka makanan tradisional? Gue πΉπππππ πΏπππ¦, suka Sate Padang, Gado-gado Betawi, Tempe Bacem Mataram, Urap Jawa, terus apa itu yang dari Jambi yang dari fermantasi durian? Hmm tempoyak ikan patin, lezzaaaatto… daaan banyak lagi yang lainnya." Balas Ica tak mau disindir dan disertai dengan terngiler-ngilernya Virda dan Godid membayangi semua makanan tradisional yang disebutkan Ica.
"Ha ha!!" Ica tertawa geli melihat mereka berdua.
"ππππ, πΌ πππ‘ ππ‘! ππ°, malam ini aku rampungi naskah. Besok kita udah mulai π΄π©π°π°π΅πͺπ―π¨ ya, ππ . πππ‘ππ π‘ πππ ππ. πππ‘ππ." Ucap Ica sambil bergegas mengemasi barang-barangnya dan hendak bangkit dari bangkunya.
"Eh, mau ke mana, Ca?" Tanya Virda bengong.
"Gue ada kelas nih, udah telat gue. Sama Mr. Broto, gila! Udah ya, tar kita sambung lagi via G-Meet pukul 10 malem. Gue janji malam ini kelar." Diacungkannya dua jari telunjuk dan jari tengahnya simbol "V" kemudian Ia ganti dengan jari jempol dan jari telunjuk dia satukan membentuk lingkaran simbol "OKE" ke arah ke dua sahabatnya itu.
"Habiskan ya tteokbokki πΎπππππ ππππnya, Ivir sayang, the Kπππππ πππ£ππ." Ledek Ica disambut bibir manyunnya Virda.
"Betewe Gaes, sampaikan ke Bude ini semua masukin ke catatan bon Gue ya. Amaaan." Teriak Ica sambil menunjuk ke piring dan gelas kosong di meja itu dan berlalu.
Tinggallah Virda dan Godid berdua saling tatap, Virda segera menunduk malu karena tatapan tajam penuh makna dari dua bola mata Godid yang menembus jantung Virda sehingga membuatnya berdetak kencang.
_Raflesia, Virda, dan Godid adalah tiga sekawan yang sudah bersahabat sejak mereka kelas satu SMA_

No comments:
Post a Comment