🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
🕳🕳🕳🕳🕳🕳🕳🕳🕳🕳🕳🕳
Walau Alif tidak menjadi juara dalam lomba Dai Cilik yang diadakan oleh pihak Javas Cycle. Namun, Alif sudah menjadi sang juara di mata Abah, Umma, dan Makwo sekeluarga. Sudah berani berdiri di depan orang banyak saja itu sudah luar biasa puji Pakwo kepada Alif. Seusai mendengarkan pengumuman lomba malam itu pukul 11 malam mereka langsung menuju ke rumah dan beristirahat.
____________
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Umma dan Makwo pergi berbelanja ke pasar tradisonal yang letaknya tidak jauh dari rumah Umma. Ini adalah hari terakhir di bulan Ramadan. Sepulang berbelanja Umma dan Makwo disambut oleh Lita putri sulung Makwo. Lita ikut membantu Umma dan Makwo menyiapkan menu Lebaran. Menu Lebaran kali ini sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Yaitu masakan khas Sumatera Barat, masakan dari daerah asal Umma dan Makwo. Menu yang disiapkan macam-macam, ada rendang, gulai nangka, ketupat, dan gulai gajeboh.
Tidak terasa siang pun menjelang, matahari sudah pada posisi di atas kepala. Setelah semua menu selesai dimasak. Lita diminta Umma untuk menyusun kue-kue Lebaran ke dalam stoples. Alif yang dari tadi membantu Hadid, adiknya Lita membersihkan debu di permukaan dan bagian dalam penutup kipas angin berlari menuju dapur ketika mendengar Lita akan menyusun kue Lebaran. Alif meminta izin untuk ikut menyusun kue-kue tersebut. Lita mengizinkannya dan menyuruh Alif untuk mencuci tangannya terlebih dahulu.
Setelah kembali dari mencuci tangan, Alif duduk kembali dan memilih untuk menyusun kue nastar. Kue nastar adalah kue favorit Alif. Sambil menyusun satu persatu kue ke dalam stoples tanpa Alif sadari sesekali Ia terlihat hendak memasukkan kue itu menuju ke mulutnya dan beberapa kali juga Lita melihat dan menegurnya.
"Eits, puasa!" Teriak Lita yang mengagetkan Alif. Lita tertawa geli melihat kelakuan Alif itu.
"Astagfirullah, Kak. Alif lupa kalau sedang puasa." Alif menaruh kue itu dan tersipu malu diikuti tertawaan Umma dan Makwo yang juga mendengar serta melihat kejadian lucu itu.
___________
Ba'da asar semua berkumpul di ruang keluarga. Mereka melepas penat setelah seharian bekerja. Sambil duduk santai di kursi goyang, Pakwo berkisah Lebaran mereka di luar negeri setahun yang lalu. Pakwo pernah bekerja sebagai pegawai KJRI di Johor Bahru Malaysia.
"Setahun yang lalu kami tidak berlebaran di tanah air. Padahal waktu itu Makwo ini ingin sekali mudik. Hanya saja ada imbauan untuk tidak mudik atau pulang Hari Raya Idul Fitri Tahun 2021 dalam upaya pengendalian penyebaran covid 19." Permulaan kisah Pakwo
"Oh iya, waktu itu Makwo sedih sekali. Mana momen itu tepat setahun Jidda meninggal. Makwo ingin sekali ziarah dan berkumpul bersama saudara Makwo di tanah air di momen Lebaran. Namun, Allah berkehendak lain. Kami terpaksa merasakan suasana Lebaran di luar negeri" sambut Makwo.
"Iya, Untungnya saat itu KJRI rayakan Lebaran dengan berbagi kepada WNI yang berada di penjara. Kami membagikan makanan serta pakaian di Hari Raya Lebaran kepada saudara kita WNI yang kurang beruntung yang tersebar di beberapa Penjara di Malaysia." Lanjut Lita dengan antusias berkisah tentang pengalamannya itu pula.
"Dan saat itu, kami merasa bersyukur. Ternyata kami tidak sendirian berlebaran di negeri orang. Bahkan ada yang nasibnya kurang beruntung dari kami. Mereka harus dikurung, jangankan untuk mudik ketemu keluarga. Mereka bahkan tidak bisa merasakan kebebasan berlebaran di luar. Tampak mereka bahagia dan terharu dengan kedatangan kami ke sana. Kami tidak kesepian meskipun merayakan Lebaran dalam penjara." Pakwo mengakhiri cerita dengan mengharu biru.
Sambil mendengar akhir kisah Pakwo tentang suasana Lebaran di luar negeri yang sangat menyentuh itu, Umma menutup salah satu jendela di ruang keluarga yang menghadap ke barat. Umma melihat langit berwarna jingga di ufuk barat yang warnanya memberi ketenangan dan kesan hangat yang saat ini Umma rasakan. Kehangatan dapat berkumpul dengan keluarga dan kakak tercinta adalah momen yang langka mengingat mereka tinggal berlainan kota. Warna jingga yang dikenal dengan nama oranye ini adalah peleburan dari warna merah dan kuning, sama-sama memberi efek yang kuat dan hangat.
Sebentar lagi waktu berbuka tiba. Umma menyiapkan menu berbuka dengan menu yang sudah dimasak pagi tadi. Berbuka dengan lontong, rendang, dan ketupat adalah tradisi berbuka di akhir Ramadan dalam keluarga Umma sejak dulu.
__________
Setelah berbuka, mereka salat magrib berjamaah. Selesai salat,
Pakwo, Abah, Hadid, dan Alif kemudian menuju ke ruang keluarga kembali. Pakwo meminta Alif untuk menyalakan televisi untuk melihat sidang isbat. Sidang isbat bertujuan untuk menentukan Hari Raya Idul Fitri 2022 jatuh pada tanggal berapa pada kalender Masehinya.
Dari info yang didapat dalam berita di televisi dinyatakan bahwa pemerintah telah menetapkan bahwa 1 Syawal jatuh pada tanggal 2 Mei 2022.
"Itu artinya, secara hisab, pada hari tersebut posisi hilal awal Syawal di Indonesia sudah masuk dalam kriteria baru." Komentar Pakwo setelah melihat hasil sidang isbat di televisi tersebut.
"Hilal itu apa, Pakwo?" Tanya Alif yang sok serius menonton berita itu juga.
"Hilal adalah bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat sebagai tanda permulaan bulan dalam kalender Islam. Biasanya hilal diamati pada hari ke-29 dari bulan Islam untuk menentukan apakah hari berikutnya sudah terjadi pergantian bulan atau belum." Jawab Pakwo berusaha menjelaskan dengan cara yang tepat kepada Alif agar dapat dipahaminya.
"Oh, mau lihat apakah bulan Ramadannya sudah habis dan berganti bulan Syawal ya, Pakwo? Wah, berarti besok sudah lebaran!" Sorak Alif dan ke dapur mengabarkan kepada Umma.
"Umma, Alif boleh cicip kue nastarnya sekarang kan?" Pinta Alif.
"Allâhu akbar Allâhu akbar Allâhu akbar lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar, Allâhu akbar wa lillâhi-l-hamd." Terdengar takbir dari pengeras suara masjid.
"Selamat Hari Raya Idul Fitri dari Alif untuk semuanya. Mohon Maaf lahir dan bathin. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala." Ucap Alif lantang.
"Aamiin" jawab semua serentak.

No comments:
Post a Comment