.jpeg) |
| kumparan |
Lokasi tempat yang akan dituju tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda empat. Terpaksa mereka berjalan kali mengikuti arahan penduduk sekitar. Di jalan setapak yang dilalui terdapat banyak pohon karet. Pohon karet itu tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar, tinggi pohon kira-kira mencapai 15-25 meter. Tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Sepertinya Ia sudah lelah disayat dan dipaksa untuk mengeluarkan cairan putih kental dari batangnya yang sudah tua.
Tampaknya kebun ini sudah tidak terurus lagi. Gulma liar tumbuh di setiap pangkal batang pokok karet tersebut. Suasana di sini mencekam dan terlalu sunyi seperti sedang berada di dalam hutan belantara. Nella beberapa kali berhenti ketika ada yang bergerak di semak. Siapa yang tahu jika di antara semak belukar itu bersembunyi hewan melata yang bisa keluar kapan saja. padahal kebun ini berada di sekitar rumah penduduk.
Suhu udara di dalam kebun terasa amat dingin dan di kiri kanan jalan setapak merupakan jalanan tanah yang becek dan berlubang-lubang, maklum saja di sini memang baru turun hujan sehingga sinar matahari pagi pun tidak tampak menembus pepohonan di sekitar. Nella selalu tertinggal, Ia berlari kecil mengejar Raka yang sudah jauh di depan.
Sekali-sekali klakson pengendara ojek motor mengagetkan dan memecah kesunyian, mereka juga lewat di jalan setapak yang Nella dan Raka lalui itu, mereka terpaksa menepi ke pinggir jalan agar tidak menghalanginya lewat. Tidak jarang pula mereka terperosok ke bawah dan menginjak tanah becek. Jalan setapak ini sepertinya sengaja dibuat untuk memudahkan pekebun untuk lalu lalang mengambil hasil karet dan menjualnya ke pengepul.
"Kalau tahu jauh seperti ini kenapa kita tidak naik ojek saja," kata Nella yang sedang menenteng rantang makanan keletihan.
"Kita kan sama-sama tidak tahu kalau ternyata lumayan melelahkan dan mengotori sepatu compass kesayangan Mas," Raka menimpali.
"Itu sudah kedengaran bunyi airnya, Pap!" teriak Ranaya yang nyaman dalam gendongan Raka. Kadang Ia minta diturunkan dan melompat-lompat menyusuri jalan setapak. Kalau saja tidak karena Nella melotot kepada Raka yang membiarkan Ranaya berjalan, Raka tidak akan menggendong Ranaya yang begitu asyik mengeksplor dan mentaddaburi alam. Sebenarnya Raka juga pegal menggendong anak yang beratnya mencapai 25 kg itu.
Setelah melewati jalan setapak di sepanjang kebun karet yang panjangnya kurang lebih dua kilometer itu, terdengarlah gemericik air mengalir, itu pertanda keberadaan Sungai Napal sudah tidak jauh lagi. Sungai Napal ini viral di sosial media karena di sungai itu terdapat napal yang lebar dan pipih yang berasal dari tanah liat yang membantu atau napal. Letaknya tidak jauh dari pusat kota, tepatnya di desa Muhajirin, kabupaten Muaro Jambi. Cari saja dipencarian google dengan mengetikkan Sungai Napal Jambi pada bar pencarian maka kalian akan disuguhkan gambar-gambar Sungai Napal yang unik.
Napal di sungai ini bermacam bentuk dan berwarna kuning kecoklatan. Ada yang tampak di permukaan dan ada yang masih tersembunyi di dasar sungai. Dengan keunikan bentuk dan rupa kenampakkan alam di sungai ini menjadi spot foto yang menarik bagi pendatang. Selebgram seperti Nella tentu saja tidak mau ketinggalan dengan lokasi seperti ini.
"Mari Bu, Pak, di sini ada pondok untuk disewa. Bapak dan Ibu bisa beristirahat dulu dan meletakkan barang bawaannya di sini," seorang nenek memberi tawaran kepada Nella dan Raka.
"Di sini juga ada tempat penyewaan pelampung dan tersedia kamar kecil untuk bilas badan," Nenek itu melanjutkan, Nella melihat-lihat ke sekitar dan ke tempat-tempat yang disebutkan nenek itu. Di sekitar ada beberapa pedagang yang membuat pondok-pondok dan terdapat toilet darurat di belakangnya yang bertuliskan tempat bilas Rp10.000/kepala.
Nella berinteraksi dengan nenek tadi untuk menyewa pondok berukuran 1 x 2 meter itu. Sementara Raka menurunkan Ranaya dari gendongannya, sekejap Ranaya sudah berlari menuju ke tepi sungai, dengan sigap Raka mengejar dan meraih tangan Ranaya. Setiap yang datang ke tempat ini akan takjub memandang hamparan alam nan elok seperti Sungai Napal ini. yang terkembang di depan mata. Air Sungai Napal tampak berwarna kecoklatan, lumayan dangkal dan berarus deras. Sungai ini cocok untuk olah raga arung jeram.
"Belum balik orang tadi? Sudah satu jam kira-kira dia menghanyut bersama pelampung yang disewanya di tempat saya sampai sekarang belum kembali," kata salah seorang pemilik pondokkan kepada Nenek.
"Siapa, Nek?" tanya Nella.
"Itu tadi, salah seorang dari rombongan itu terjun ke air dengan pelampung. Tapi belum kembali,"
"Ah masa? Memangnya aliran sungai ini ke mana? Apa tidak ditelusuri saja?" tanya Nella.
"Sudah ada yang mencari sampai ke ilir ujung sungai yang sempit tidak ketemu. Mungkin sudah naik ke darat tapi tersasar karena hutan dan kebun karet semua." Sambut Ibu yang nenyewakan pelampung.
"Semoga segera ketemu," jawab Nella sambil berjalan menuju sungai di mana Raka dan Ranaya berdiri.
 |
| dokumentasi pribadi |
"Loh, mana napalnya? Nggak kelihatan!" seru Nella.
"Kalau habis hujan begini, air sungai naik dan keruh, Bu. Jadi napalnya tidak terlihat," Nenek itu menjelaskan.
"Tapi kalau sudah dua atau tiga hari tidak turun hujan, napalnya akan terlihat."
"Memang sebaiknya datang ke sini kalau dua malam sebelumnya tidak turun hujan,"
"Yaaa… gimana dong. Aku kan mau foto-foto Ranaya, Mas,"
"Mau gimana lagi." Jawab Raka.
Raka melihat banyak pengunjung yang sudah turun ke air. Mereka ada yang berenang, duduk-duduk di napal yang tertutup air sungai yang mengalir, dan ada yang turun sekedar untuk mengabadikan keindahan Sungai Napal ini. Tampak riak-riak air yang menandakan bahwa di sana terdapat napalnya.
Nella dan Raka mencoba turun ke sungai. Karena airnya cukup deras, Nella dan Ranaya memutuskan untuk duduk dan bermain air saja di sebatang kayu rubuh yang memanjang di pinggiran sungai. Raka dengan pelampung sewaan mulai melakukam adegan arung jeram dari hulu menuju ke hilir sungai bersama dengan pengunjung lainnya. Sesekali Ia melewati posisi di mana Nella dan Ranaya berada. Ranaya berteriak-teriak kegirangan memanggil-manggil Raka.
"Upapi… Upapi! Naya ikut!"
Raka mendekati Nella dan Ranaya. Ia menyerahkan pelampung besar berwarna hitam itu kepada Nella. Raka memastikan keadaan sungai dangkal dan aman. Sungai Napal sangat panjang tak tampak ujungnya, tetapi para pemuda kampung itu siaga bergantian berjaga-jaga di bagian bawah sungai. Mereka memberi batas pengunjung berenang dan bermain pelampung di hilir dengan menggunakan tali rafia.
Sungai ini masih belum terjamah investor. Tempat ini hanya dikelola oleh penduduk sekitar. Sehingga belum ada ketersediaan sarana yang memadai. Seperti kakus dan tempat bilas hanya dibuat dari papan dan kayu bekas ditutup dengan spanduk bekas seadanya.
Karena sudah merasa yakin, dengan dipegangi oleh Raka, Nella langsung naik dan duduk di pelampung dengan kaki dipanjangkan ke depan di atas pelampung, hanya bokongnya saja yang menyentuh air. Ia memangku Ranaya di atas perutnya. Raka memeluk pelampung dari belakang mendorong dan mengemudi arah laju pelampung. Pelampung itu meliuk-liuk dipermukaan air mengikuti aliran menuju ke batas yang sudah diberi tanda di hilir sungai. Di sana ada dua orang pemuda yang berjaga-jaga dan membantu untuk menghentikan laju pelampung apabila telah melewati tanda batas. Butuh tenaga ekstra untuk membuat pelampung itu berhenti.
"Yee.. yee…. Lagi Umami, lagi Upapi!" pinta Ranaya.
"Lagi Mas!" Nella berseru.
Nella dan Ranaya kegirangan. Mereka ingin merasakan keseruan itu kembali. Mereka bertiga berjalan kaki mengarungi sungai melawan arus menuju ke hulu sungai untuk mengulanginya. Air sungai yang dangkal membuat mereka tidak kesulitan menuju ke hulu. Sampai di hulu mereka mengulangi seperti yang mereka lakukan tadi. Karena keasyikan, Nella ingin mencoba sendiri. Raka dan Ranaya bermain dengan pelampung yang lain. Setelah Nella menitipkan Ranaya kepada Raka kemudian Nella berjalan mengarungi air menuju hulu kembali.
Raka menaikan Ranaya ke atas pelampung kecil dan Raka di pelampung besar. Raka memegang tangan Ranaya mereka bergerak bersama Sementara Nella mulai menyusuri sungai mengikuti arus menuju ke hilir ke posisi Raka dan Ranaya yang Ia tinggalkan tadi. Saking asyiknya, Nella menengadahkan kepala dan memandang langit tinggi dengan tangan mengayuh air. Ia berputar-putar dan marasakan sensasi bebas lepas.
"Haha aku bebaaas… Yuhuuu.. Asyiik!"
"Mbak! Mbak! Anaknya hanyut!"
"Mbak, itu anaknya tenggelam!" seseorang menarik tangan Nella.
Nella kaget dan segera melihat keadaan sekitar. Orang-orang di sekitarnya melihat ke hilir sungai. Nella melihat seolah-olah semua berhenti beraktivitas, tidak ada orang-orang yang berenang, berarungjeram, berteriak kegirangan, berfoto, dan bahkan Ia sendiri merasakan jantungnya berhenti berdetak.
Tiba-tiba Ia melihat sekelebat tubuh Raka sudah di hilir batas tali Rafia. Ia melihat Raka sedang berlari menuju ke suatu tempat, Ia tampak kesulitan melawan derasnya arus air dan Nella melihat Raka begitu cemas sambil meminta tolong. Jauh dari posisi Raka, kira-kira dua meter, Nella melihat Ranaya sedang bergelantungan di bawah pepohonan bambu di pinggir Sungai Napal yang kondisi air di sana sangat dalam dan deras. Ia melihat putri mungilnya itu memegang ranting pohon dengan sebelah tangannya, sekali saja Ranaya melepas pegangannya maka Ia akan tenggelam dalam air dan hanyut di bawa arus. Ia tidak melihat ada pelampung di dekat Ranaya. Fikiran Nella berkecamuk, ke mana pelampungnya? Mengapa Ia bisa lepas dari Raka? Apa yang terjadi?
Posisi Nella cukup jauh dari Ranaya, tetapi Ia diuntungkan karena Ia bisa menghanyutkan tubuh mengikuti arus air menuju ke hilir di mana Ranaya berada. Tanpa fikir panjang, Ia segera berenang dan menghanyutkan tubuhnya, sesekali lutut dan perutnya terantuk napal-lapal di dasar sungai yang memang tidak Ia ketahui di mana saja letak posisi napal-napal itu. Sakit benturan tak dihiraukannya. Ia melesat cepat menuju Ranaya dan berusaha meraih tubuh anaknya itu. Namun Ia terlambat, tangan mungil Ranaya sudah terlepas dari pegangannya. Ranaya terjatuh dan tenggelam ke dalam air.
Tiba-tiba salah seorang remaja bertubuh bongsor yang sedang menyaksikan kejadian itu dan berusaha membantu bersama segerombolan teman sekolahnya. Ia berada tepat di dekat Ranaya. Ia dengan cepat menyambut tubuh Ranaya. Namun terlambat, tubuh Ranaya sudah masuk ke dalam air. Beruntung Ia dapat meraih tangan mungil Ranaya. Ia segera menarik dan memeluk Ranaya.
"Umamiiiii…" teriak Ranaya.
Nella yang juga ikut menyelam segera muncul kepermukaan dan remaja bertubuh bongsor itu segera menyerahkan Ranaya ke pelukan Nella.
"Alhamdulillah" serentak Nella, Raka, dan semua yang ada di sana mengucap syukur.
"Terima kasih, Dek," ucap Raka lirih
Raka menghampiri istri dan anaknya. Ia meminta maaf kepada Ranaya dan menciuminya, Raka juga meminta maaf kepada Nella. Nella tidak menghiraukannya. Ia tampak kacau, antara senang dan bersyukur karena Ranaya sudah dalam pelukannya, tetapi kesal kepada Raka dan menyesalkan kejadian itu bisa terjadi.
"Awalnya Naya sama Mas, tiba-tiba pelampung kami sama-sama menepi ke pinggir sungai yang banyak semak belukar dan pohon bambu,"
"Mas mengarahkan pelampung ke tengah sambil memegangi ranting demi ranting. Tiba-tiba Naya meniru apa yang Mas lakukan. Karena airnya deras Ranaya tidak melepas ranting yang Ia pegang. Sehingga Ia bergelantungan dan pelampungnya hanyut," jelas Raka.
Nella mendengarkan penjelasan itu tapi Ia benar-benar tidak bisa menerimanya.
"Tangan Naya sakit, Nak? Tadi terlepas karena sakit ya?"
"Nggak, Mi. Tadi tangan Naya licin. Jadi terlepas deh."
"Mas duluan ke hilir untuk jaga-jaga menunggu Ranaya hanyut ke hilir. Ternyata Ranaya tidak juga melepaskan pegangan tangannya," ujar Raka.
Nella melotot ke arah Raka, tentu saja akal sehatnya tidak terima kok bisa-bisanya Raka menunggu Ranaya hanyut dan mencoba menangkap Ranaya pada arus air di hilir yang sederas itu. Yang ada, Ranaya bablas hanyut.
Kejadian itu tidak bisa dilupakan, setiap kali teringat, Nella merasa gamang. Hal-hal buruk selalu melintas, kalau saja... seandainya... setiap fikiran-fikiran itu datang Nella segera penepisnya.
Tidak satupun foto-foto mereka di sana Nella posting di sosmed. Biarlah semua menjadi kenangan baginya, Raka, dan Ranaya. Sejak kejadian itu, Nella bertekad mengajarkan Ranaya berenang dan trauma bermain di sungai. Sungai Nepal viral kembali.
π€π€π€