HOME

Thursday, June 30, 2022

Gelebah tak Bertubir

canva.com



Celah kelompong dalam diri


Kini sudah tak lagi antap


Duhai.... nan datang tlah memadatkan


Hadirmu datangkan bunga bunga


Antalogi nan melahirkan jiwa bekerlapan


Wahai.... nan berkunjung tuk memafhumi


Setiap musim membenakan lakonku


Setiap musim melipur laraku


Setiap musim bakal untukku


Aduhai... engkau nan datang tuk meluluskan


Afeksi yang kau tancap, kini tlah bertaruk


Afeksi nan bertaruk, masa ini merecup memanggul kakas


Kakas jatah atma nan dulu dengkik, tak bergaya, tak optimistis


Tetaplah memadatkan, memafhumi, dan meluluskan


Atmaku kini padat bakal gelebah


Gelebah akan nafsimu nan telah bersemi pada batin


Tetaplah di sini, di hayat, di raga


Nafasku tak lagi kandas berkat gelebah



@leettathethor
For Maihani🀍


Wednesday, June 29, 2022

Keseruan Ranaya Hari Ini

"Deal ya, Mak?"

"Kita besok bawa anak-anak ke taman bermain," 


Dari obrolan Nella dan mamak rempong di grup ibu-ibu komplek, diputuskan mereka akan membawa anak-anaknya ke sebuah taman bermain di kota itu. Dalam kesepakatan itu disebutkan titik kumpul di rumah Nella pukul 8 pagi.


Malam harinya Nella sudah membicarakannya kepada Raka dan Ranaya. Seperti biasa Raka mengizinkan asalkan tujuannya jelas dan aman, serta rombongannya yang ia kenal. Sementara, Ranaya bukan main girangnya. Ia berkali-kali bertanya kepada Nella permainan apa saja yang ada di sana. Sebenarnya ini bukan kali pertama Ranaya diajak ke sana, sebelum covid, Raka dan Nella sudah pernah mengajaknya ke sana. Mungkin Ranaya lupa, masa covid saja sudah hampir dua tahun berlangsung.


"Asyik Naya boleh berenang juga ya, Umami?" Ranaya memperhatikan perlengkapan apa saja yang disiapkan oleh Nella.


"Boleh dong, Naya nanti juga Umami ajarin manjat-manjat dan melalui rintangan di wahana outbound,"


"Hati-hati loh, Dek. Yakinkan aman dan keadaan peralatannya semua baik-baik saja," pesan Raka.


Setelah selesai menyiapkan semua perlengkapan, Nella mengambil Rapor Ranaya untuk di fotokopi di printer fotokopi di ruang kerjanya. Nella juga ngeprint beberapa rapor anak temannya yang dikirim melaluo wa nya.


"Aduh, ini kenapa nggak bisa fotokopi?"


"Mau fotokopi? Sini aku bawa aja, aku mau keluar sebentar," kata Raka.


"Sekalian print beberapa file yang aku kirim ke wa Mas ya,"


Keesokkan harinya, Nella dan Raya sudah bersiap. Mereka dan beberapa tetangga lainnya sudah berkumpul. Mereka masih menunggu dua orang lagi yang belum bergabung.


"Innalillahi… Kakek Gea meninggal, Mam. Padahal baru semalam dia batalin ga jadi ikut karena kakek Gea sakit" ucap Nella setelah membaca wa di grup komplek.


"Iya, kupikir Jeung tau. Mereka sekeluarga pagi ini berangkat ke Palembang,"


"Semoga mereka diberi ketabahan. Jadi nggak ada yang bertakziyah?"


"Rumahnya kosong, tapi dari persatuan sudah mengirimkan rangkaian bunga ucapan berbela sungkawa. Kata Bu RT tadi besok ketika mereka pulang kita bertakziyah,"


Setelah semua berkumpul mereka berangkat menuju lokasi. Sesampainya di sana, anak-anak dikumpulkan oleh EO di tempat itu. Anak-anak diberikan materi dan game yang menarik. Mereka semua terlihat gembira dan menyukai permainan yang disuguhkan. Anak-anak juga diberikan hadiah menarik dalam permainan itu.



Setelah bermain bersama, anak-anak dibawa untuk menjelajah dan diperkenalkan dengan wahana-wahana yang ada di sana. Mereka diajak untuk menikmati dan memainkan wahana yang ada. Tidak terasa hari sudah siang, waktunya anak-anak beristirahat, sholat, dan makan siang.


Anak-anak melakukan sholat berjamah dipandu oleh panitia EO di sana. Setelah itu, mereka makan bersama dan Ranaya diberi kesempatan untuk memimpin pembacaan doa makan. Ranaya memimpin dengan suara yang lantang, anak lainnya mengikuti bacaan Ranaya.


Setelah puas bermain, matahari mulai turun, suhu udara terasa sejuk. Hari sudah menjelang sore. Anak-anak diajak ke wahana kolam renang, di sana mereka diajak bermain lempar bola. Merek bermain dengan ceria. Suasana sore di kolam renang sangat ramai dengan tawa dan teriakan mereka.


Setelah semua wahana dimainkan, waktunya mereka pulang. Mereka kelelahan, ada yang sudah tertidur di mobil dalam perjalanan pulang, begitu juga dengan Ranaya.


Sesampai di rumah Ranaya mendekati Raka, ia bercerita antusias sekali tentang pengalamannya di taman bermain.


"Karena nilai Naya bagus, Naya bisa masuk dan bermain gratis loh, Upapi,"


"Wah, anak hebat. Anak siapa dulu?" tanya Raka sambil menggendong Ranaya berputar.


"Anak Umami dong," sambar Nella.

Tuesday, June 28, 2022

Keikhlasan Paripurna

Satu per satu masalah terselesaikan. Perempuan itu tidak berani lagi datang. Samuel dan Nina sudah kembali berbaikan. Dengan besar hati Nina menerima suaminya kembali. Dikhianati memang tidak enak, tapi demi keutuhan rumah tangga dan anak-anak terkadang para perempuan rela mengenyampingkan perasaannya sendiri.


"Kalau dituruti ego, aku udah nggak mau, Mbak untuk menerima Samuel,"


"Kamu luar biasa, Nin. Kalau Mas Raka begitu mungkin akan Mbak cincang itunya. Enak aja sana sini main celap ce…," tanpa sadar Nella membuat Nina sedih. Nina tertunduk dan meneteskan air matanya.


"Eh, sorry.. sorry.. hmm.. mbak nggak bermaksud membuatmu sedih. Seperti yang mbak bilang tadi, kamu perempuan yang luar biasa. Syurga loh balasannya kalau kamu bemar-benar ikhlas," Nella berusaha menyenangkan hati Nina. 


"Hmm… ga pa-pa, Mbak. Semua orang juga akan bilang begitu. Nggak semua orang mengalami seperti apa yang aku alami, Mbak. Setiap kita diuji dengan persoalan yang beda-beda,"


"Mungkin, kalau aku diuji dengan ujian yang diberikan Allah kepada Mbak dan Mas Raka, aku juga nggak akan sanggup," Nina menyeruput ice lime tea di depannya.


"Eh.. hmm, iya sih, eh apa ujian yang kamu maksud?" tanya Nella bingung.


"Ya apa aja misalnya, kan aku nggak tau Mbak dan Mas diuji apa. Aku cuma kasih contoh saja. Bahwa Allah itu menguji tidak di luar batas kemampuan hambanya kan, Mbak?"


"Sawang sinawang aja," tambah Nina.


Nella hanya terdiam dan mengunyah kentang goreng yang ia pesan.


"Eh sudah sore, ayo kita pulang. Hmm… yang kamu cari sudah semua? Ada lagi yang mau dibeli?" tanya Nella sambil mengintip ke trolly belanjaan yang ada di dekatnya. Siang itu Nella menemani Nina membeli kebutuhan dan perlengkapan baby Nina.


"Oh, udah kayaknya. Nggak pa-pa, kalau ada yang belum masih bisa dicari lagi. Sepertinya aku udah lelah, Mbak,"


Kemudian mereka pulang, Nella mengendarai mobilnya dengan santai. Diam-diam Nella memperhatikan Nina, Nina tampak melamun dan tiba-tiba Ia meneteskan air mata.


"Na, are you okay?"


Nina segera menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Ia berusaha tersenyum, tapi kesedihan di wajahnya tidak bisa Ia tutupin.


"Nggak, kalau kamu mau cerita, cerita aja," Nella menepikan kendaraannya.


"Ini bukan kali pertama Samuel berkhianat dalam pernikahan kami, Mbak. Ini sudah kesekian kalinya,"


"Luka itu tidak pernah sembuh. Ia terus menganga,"


"Na, wajar kamu sedih. Tapi, kamu harus ingat, alasan kamu untuk memaafkan dan menerimanya kembali adalah semata-mata demi keutuhan rumah tangga,"


"So, relaks, kamu harus percaya dia. Aku yakin kali ini Samuel akan berubah, kalian akan menjadi the happiest family, ikhlas dan memaafkan adalah kekuatan paripurna yang kamu miliki,"


"Sedih, kecewa, dan marah wajar banget. Manusiawi. Tapi memaafkan dan menerima seseorang yang sudah berkhianat it's amazing, beb," Nella menatap Nina dengan penuh kasih sayang dan bangga.




Monday, June 27, 2022

Keputusan yang Berat

Waktu dan pikiran Raka tersita oleh masalah adik iparnya. Ia selalu dihubungi oleh orang tuanya untuk datang dan mengurusi urusan itu. Nella berusaha mengerti, tetapi terkadang Ia jengkel juga karena di saat Ia membutuhkan Raka, Raka tidak ada atau Raka susah untuk dihubungi.


Sejak kejadian bentroknya Nina dengan perempuan selingkuhan Samuel itu, Samuel tidak pulang ke rumah. Raka mencoba mencari keberadaan Samuel ke rumah orangtuanya. Ternyata tidak ada. Keesokan harinya, perempuan itu kembali mendatangi rumah mertua Nella dengan membawa saudara laki-lakinya yang centeng, berperawakan keras dan kasar. Mereka meminta pertanggungjawaban kepada Samuel atas kehamilan perempuan itu. Mereka mengancam dan menangkap Samuel untuk menikahi perempuan itu.


Semua panik termasuk Nina, Ia khawatir Samuel disekap dan dipaksa untuk menikahi perempuan itu, lalu bagaimana dengan dirinya dan anaknya? Nina mengurung diri di kamar.


Raka baru mendapat info bahwa Samuel sekarang disekap oleh pihak perempuan itu. Samuel dan kendaraannya ditahan di sana. Perempuan itu tinggal sekampung dengan orangtua Samuel. Setelah diselesaikan dengan cara kekeluargaan oleh keluarga Samuel bersama kepala desa, sekarang Samuel sudah berada di rumah ibunya. Samuel meminta perlindungan karena Ia dilaporkan ke polisi oleh perempuan selingkuhannya itu. Inilah yang diurus oleh Raka dan papanya. Raka bolak balik ke rumah Samuel. Mengumpulkan fakta dan data. Ternyata setelah diselidiki perempuan itu tidak sedang hamil.


"Bagaimana dengan kamu, Dek?" tanya Raka kepada Nina. 


"Malam ini abang akan ke tempat Samuel. Abang harus tahu dulu apa keputusanmu,"


"Aku nggak tau, Mas. Tanyakan saja pada Samuel. Dia memilih aku dan anak-anak atau perempuan itu," jawab Nina sambil memegangi perutnya yang tengah mengandung tujuh bulan.


"Apabila memang kamu tidak terima, kita bisa tuntut balik mereka dengan kasus perselingkuhan dan perzinahan," Raka emosi. 


"Nina, maafkan Samuel. Semua keputusan di tanganmu. Samuel pasrah. Kalau Ia berhak memilih, Ia ingin bersama kalian, anak dan istrinya. Pikirkan itu" ucap Nella lirih.


Kali ini, Nella diajak oleh Raka untuk ikut mendampingi Nina yang kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Nina trauma dengan kejadian yang bertubi-tubi menimpanya.


Nina menangis dan memeluk Nella. Nella adalah satu-satu kakak ipar yang dia punya. Nina dan Nella sudah seperti kakak adik kandung. Nella bisa merasakan apa yang dirasakan Nina. Kecewa dikhianati apalagi kondisinya tengah berbadan dua.


"Kenapa Ia malah menghilang dan tidak pulang beberapa hari ini, Mbak. Mungkin dia sudah pergi dan memilih perempuan itu," tangis Nina pecah.


"Samuel sudah di rumah orangtuanya. Ia tidak mau menikahi perempuan itu walau disiksa sekalipun. Sekarang kami semua mau mendengarkan keputusan darimu," 


Malam ini adalah malam pertemuan Samuel sekeluarga dengan Nina di rumah papa mertua Nella. Nella bersama Nina di kamar. Nina pasrah apabila Samuel lebih memilih perempuan itu. Nella membisikkan sesuatu kepada Nina. 


"Nanti ketika kalian berdua punya kesempatan berbicara, tanyakan kepada Samuel dari hati ke hati. Tidakkah Ia menyayangi kalian? Jika memang Samuel menyayangi kalian terimalah Ia," 


Nina hanya terdiam sambil memeluk anak-anaknya.

Sunday, June 26, 2022

Ada Apa dengan Raka?

Hampir setiap menit Nella menoleh ke jam dinding yang ada di kamarnya. Berkali-kali pula Ia menghubungi Raka. Telepon Nella tidak diangkat dan chatnya tidak dibalas oleh Raka. Ia tampak begitu bingung. Setiap kendaraan yang lewat di depan rumahnya Ia mengira itu adalah Raka.


Kejadian seperti ini sering terjadi akhir-akhir ini. Raka beberapa kali pulang larut bahkan pernah tidak pulang dan mengabarkan hanya melalui pesan wa saja, itupun dadakan. Nella berusaha tidur, jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11 lewat. Nella resah dan gelisah menunggu di kamar. Ia coba menelepon ke kontak mertuanya.


Lama Nella menunggu, panggilan terhubung tapi tidak diangkat. Ia hendak memutus sambungan tiba-tiba telepon dijawab,


"Assalamualaikum, Pa,"


"Waalaikumussalam, Dek."


Nella kaget, Ia mengenali suara yang menjawab telepon.


"Mas…"


"Maaf, Dek. Bentar lagi Mas pulang. Ini sudah siap-siap mau pulang, udah ya"


"Mas, aku mau bicara," 


"Iya, nanti kita bicara di rumah ya. Tapi kalau kamu ngantuk, boleh tidur duluan, rasanya tadi aku bawa kunci rumah,"


Dua jam Nella menanti, Raka tidak kunjung pulang. Nella merasakan Ia sangat mengantuk. Akhirnya Nella tertidur pulas, Ia tidak mengetahui kapan Raka pulang karena Raka pulang saat Ia sudah tertidur.


"Mas, aku mau bicara," Nella membangunkan Raka ketika fajar.


"Hmm… malam begini? Besok pagi ya, Mas ngantuk," Raka melanjutkan tidurnya 


"Mas, ini sudah pagi. Sudah pukul 4. Aku nggak mau kalau nanti Ranaya bangun, Ia bisa mendengar kita membicarakan soal ini. Bangunlah!"


Sia-sia saja, Raka sudah kembali pulas. Sepertinya Ia sangat mengantuk. Nella bersabar menunggu Raka bangun. Setelah pagi hari, Nella menyiapkan sarapan di dapur. Raka bangun dan langsung menuju kamar mandi. Setelah mandi Ia menghampiri istrinya itu.


"Yuk! ke kamar, ada yang mau Mas ceritakan," Raka memegang tangan Nella.


"Nggak mau, nanti Ranaya melihat kita ribut," jawab Ranaya dan menepis tangan Raka.


"Hmm, Naya dibawa Suti jogging keles. Lagipula yang ngajak ribut siapa?" Sekali lagi Raka memegang tangan Nella dan mengajaknya ke kamar. 


"Aku yang mau ribut, Mas. Mas sudah keterlaluan!" Nella menghentikan kalimatnya ketika Raka meletakkan jari telunjuknya ke bibir Nella.


"Yuk!" Raka mengajak Nella ke kamar. 


Nella pasrah dan ikut ke kamar walau hatinya mangkel. Nella tidak bicara sepatah katapun. Sesampainya di kamar, Nella diajak Raka duduk di tepi dipan. Raka duduk tepat di sebelahnya, Ia menatap Nella yang membuang muka. 


"Maafin, Mas ya. Mas tau salah. Sebenarnya Mas sedang ada masalah, hmm, tepatnya mama dan papa sedang ada masalah,"


Nella menatap Raka tajam, kemudian Ia membuang muka kembali tanda Ia tidak percaya. Ia tidak mau bicara sepatah katapun. Karena hal ini sudah sering terjadi, dalam pekan belakangan ini. Raka sering pulang malam bahkan ada satu malam tidak pulang ke rumah, Nella bertanya dan selalu emosi setiap kali Raka terlambat pulang. Biasanya Raka meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.


"Dek, lihat aku. Ini masalah Samuel, suami Nina. Ia berselingkuh. Ada perempuan yang datang ke rumah mama mencari Samuel. Perempuan itu adu mulut dengan Nina. Bukan hanya adu mulut mereka adu jotos," terang Raka.


Nella kaget mendengar cerita Raka. Nina adalah adiknya Raka. Lalu apa hubungannya dengan Raka yang selalu pulang malam akhir-akhir ini? Ia masih belum bisa mengerti. 


πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Saturday, June 25, 2022

Hubungan Tak Bertepi

 "Dear, Diary

Pagi tadi aku udah buru-buru datang cuma buat ketemu Ogef, asal bisa bicara atau bisa apa ajalah yang penting ketemu aja dulu,"


"Aah, sedih! Kecewa! Benci Ogef!"


"Memang aku nya telat sih, jadi g bisa melakukan hal-hal yang udah aku khayalkan dan rencanakan bersama dia. Eh, pas aku datang, dia udah fokus sama anak-anak yang lain."


Lita menulis diary lagi malam ini, ia memang selalu menulis diary untuk sekedar meluapkan dan menumpahkan semua perasaannya. 


Lita menumpahkan rasa marah, kecewa, dan sedih yang ia rasakan karena sikap Ogef  kepadanya melalui goresan pena pada lembaran-lembaran kertas di buku diarynya.


"Kenapa ya Ogef selalu nyebelin kalau sudah di depan orang. Dia selalu bikin aku ga nyaman dengan keadaan,"


Lita terbawa emosi saat menulis kata demi kata pada buku yang ia sebut sebagai sahabatnya itu.


"Diary, masa sih dia ga bisa menunjukkan ke mereka kalau dia sayang aku? Masa sih dia bisa secuek itu ke aku, dan malah dia selalu memuji cewek-cewek itu ketimbang aku? Bilang si A keren lah, bilang si B bagus lah," Lita terus saja ngedumel melalui tulisannya.


"Aku tu pengen pengakuan banget loh. Sementara kalau ga sama mereka, dia tu caper banget loh ke aku. Ih, males banget. Aku nggak akan lagi mau dicaperin, illfil, bodo amat!"


Lita berhenti sejenak,


Ia membaca ulang kalimat demi kalimat yang ia tulis. Ia mengerutkan dahinya.


"Ih.. apa sih ini! Norak banget! Idih, ga banget," Lita mencoret tulisan demi tulisan yang sudah ditulis. 


"Gede kepala tar dia," Lita tidak hanya mencoret-coretnya. Ia juga merobek kertas yang sudah ia tulis sebanyak dua lembar itu.


"Huh… aku harus bisa bersikap objektif kayak Ogef. Aku harus kesampingkan urusan pribadi," ucap Lita lebih bijak kali ini.


Ogef adalah sahabatnya sejak tiga belas tahun lalu. Mereka mulai dekat sejak Ogef selalu memberi perhatian kepadanya. Bukan hanya perhatian, tetapi Ogef juga sudah mengungkapkan perasaannya kepada Lita. Lita diam-diam juga mengagumi Ogef.


Ogef adalah sosok yang Lita kagumi. Ogef tipe laki-laki yang ia idamkan. Namun, Lita nggak semudah itu menerima Ogef untuk bisa masuk dalam hidupnya.


"Kenapa? Ya Tuhan, kenapa selalu stuck di sini sini aja. Kapan sih bisa menyatunya?"


"Benar kata Ibu, hubungan ini tidak akan ada tepinya. Lebih baik sudahi saja."



Friday, June 24, 2022

Tragedi di Jalan

Setelah menerima hasil belajar Ranaya, Nella ingin memberi Ranaya hadiah. Tujuannya ingin membahagiakan Ranaya. Selama sepekan kemarin Ranaya menjalankan serangkaian kegiatan, tentu Ranaya butuh refreshing. Mulai dari latihan penampilan untuk perpisahan siswa kelas 6, latihan kegiatan wisuda tahfizh, ujian/penilaian akhir tahun.



Pada saat ditanya oleh Nella Ranaya mau hadiah apa, Ranaya menjawab Ia ingin diajak bermain di arena bermain salah satu mall di kota itu dan Ia juga ingin ditemani berenang. Sesimple itu arti bahagia bagi Ranaya. Namun, sayang sekali Raka sedang tugas ke luar kota, sehingga hanya tinggal Nella sendiri yang akan menemani Ranaya. Jika ditunda tidak mungkin, mengingat setelah Raka pulang, jadwal Nella pula yang padat karena Ia menjadi narasumber seminar menulis. Jadi, mau tidak mau Nella lah yang akan memberikan Ranaya hadiah yaitu menemaninya bermain dan berenang. Kalau Ditunda-tunda kasihan Ranaya.



Nella janjian dengan sahabatnya—Viyanti, mereka menemani anak-anak mereka. Ranaya dan Navee—putri Viyanti juga berteman karena mereka selalu diajak oleh Ibu-ibu mereka ke setiap pertemuan. Nella menjemput Viyanti dan Navee ke rumahnya yang kebetulan hanya berjarak satu blok saja. Kemudian mereka menuju ke kolam renang kompleks terlebih dahulu, kolam renang kompleks ini berada tidak jauh dari blok mereka.



"Lumayan lama juga anak-anak itu berenang," kata Viyanti



"Ho oh, udah jam 11. Ayolah kita panggil," Nella dan Viyanti memberi kode lambaian tangan kepada kedua anak itu.



Mereka malas-malasan untuk naik. Mereka masih ingin berenang. Namun mereka ingat kalau mereka akan bermain ke mall lagi. Maka mereka segera naik dan bilas. Setelah berenang mereka menuju mall untuk bermain di Happy World. Di perjalanan, telepon Nella berdering.



"Hallo, Assalamualaikum," jawab Nella.



"Oh ya bisa, besok moderatornya siapa? Bisa kirim CV saya ke…" tiba-tiba telepon genggam Nella terjatuh. Nella kaget ketika ada yang menabrak mobilnya. Nella segera melambatkan dan mengerem laju kendaraannya. Nella segera buka jendela untuk memastikan pengendara sepeda motor itu tidak kenapa-kenapa.

Nella menegur pengendara motor yang merupakan sepasang remaja berseragam hitam-putih, Ia mengingatkan kepada pengendara motor untuk berhati-hati. Kejadian itu sangat cepat. Ketika kendaraan Nella melewati kendaraan lain yang sedang berhenti di lampu merah. Nella jalan terus karena di simpang tiga itu ada aturan bagi pengendara yang lurus boleh langsung. Ketika Nella lurus, lampu menyala hijau, salah seorang pengendara tidak sabar menunggu kendaraan di depannya jalan, Ia memotong dengan berbelok menyalip ke kiri jalan. Motor itu langsung menyerempet mobil Nella.


"Maaf, Mbak. Tadi kena spion. Apa ga kenapa-kenapa, Mbak?" Tanya pengendara sepeda motor itu.


"Kaliannya yang aku tanya, kalian nggak kenapa-kenapa?"


Keadaan sekitar menjadi macet, remaja itu mengajak Nella untuk segera ke pinggir. Nella mengikuti maunya anak itu. Nella khawatir kepada mereka berdua.


"Kamu kenapa tiba-tiba ngiri? Kalau kelindes gimana?" 


"Maaf, Mbak. Iya kami tau kami salah, coba Mbak lihat mobil mbak nggak kenapa? Takutnya kenapa-kenapa," 


Setelah mendengar kata-kata anak muda itu, Nella spontan keluar mobil dan melihat bagian body kanan mobilnya dan juga spion.


"Nggak pa-pa. Kalian gimana?"


"Syukurlah, Mbak. Kami Nggak apa apa. Maaf ya, Mbak."


Kemudian Nella meninggalkan mereka.




Thursday, June 23, 2022

Terima Kasihku

 Besok Ranaya akan menerima hasil belajarnya. Raka dan Nella akan datang ke sekolah untuk mengambil rapor putri mereka. Ranaya senang sekali Upapi dan Umaminya akan datang ke sekolah untuk bertemu Ibu guru kesayangannya.


Sepekan setelah kejadian di Sungai Napal. Raka, Nella, dan Ranaya datang berkunjung ke rumah remaja putri yang telah menolong dan menyelamatkan Ranaya. Sore itu ketika pulang dari rumah Sopia—remaja putri itu, Ranaya mengajak Upapi dan Umami ke mall. Katanya mau membeli hadiah untuk Ibu guru.



"Hadiah apa, Naya?" tanya Nella heran.



"Untuk Bu guru, mami. Kan kayak Navee beli hadiah untuk Bu guru," jelas Ranaya.



"Oh maksudnya Naya mau memberikan Bu guru sesuatu ketika penerimaan rapor?"



"Iyaa, Mami. Bu guru pasti senang. Naya mau liat Bu guru tersenyum" 



Raka dan Nella tersenyum melihat ekspresi Ranaya. Mereka kemudian menuju mall terdekat. Sesampainya di mall, Ranaya bertanya di mana tempat menjual bunga. Ia ingin membelikan Bunga untuk Bu gurunya. Kemudian Nella menunjukkan arah ke tempat keberadaan bunga yang dimaksud oleh Ranaya. Kemudian Ranaya memilih bunga yang sesuai untuk diberikan kepada gurunya itu. Sesekali Ia bertanya pendapat Nella tentang bunga itu.



"Wah, ini bagus, sayang. Warnanya sangat lembut. Dan pas ditaruh dalam vas yang Naya pegang itu. Eits, hati-hati ya pegang vasnya. Itu terbuat dari kaca  kalau jatuh bisa.."



"Pecah!" sambung Ranaya.



"Jadi Naya ambil bunga yang ini?" 



"Iya, Upapi. Bagus kan? Kata Umami lembuuut warnanya, ha.. ha.." Ranaya tertawa renyah.



Diam-diam Nella sudah membeli hadiah yang akan diberikan kepada Guru anaknya itu. Memberi hadiah ketika waktu penerimaan rapor sudah biasa terjadi. Menurut sebagian orang hal itu tidak wajar karena tugas mengajar merupakan tugas dari seorang guru. Jadi memberi hadiah dinilai suatu hal yang berlebihan. Namun, memberi kue dan kartu ucapan masih bisa dianggap wajar karena hal ini hanya untuk ucapan terimakasih kepada guru. Bukankah menyenangkan hati orang adalah pahala?



Guru di sekolah Ranaya belum pernah mau meminta atau menerima hadiah dari siswa saat terima rapor karena hal itu sudah menjadi ketentuan dan aturan di sekolah tersebut. Di awal tahun pelajaran, selain menanda tanda tangani surat pernyataan dari sekolah mengenai tata tertib sekolah mereka juga harus menandatangani persetujuan untuk tidak memberikan guru hadiah atau sumbangan berupa uang maupun barang berharga seperti perhiasan.



Bunga dan kue yang sudah disiapkan oleh Nella dan Ranaya diantarkan langsung ke rumah Ibu guru setelah rapor di terima di sekolah. Nella dan Raka mengucapkan terima kasih kepada Ibu guru yang telah sabar mendidik Anak mereka. Mereka juga meminta maaf atas sikap putri mereka yang mungkin ada yang kurang berkenan bagi Ibu gurunya. Tidak lupa Nella dan Raka juga meminta kerelaan serta keridhaan ilmu yang sudah diajarkan kepada Ranaya.



"Alhamdulillah, hasil belajar Ranaya di atas rata-rata, dan dinyatakan naik ke tingkat berikutnya. Wah, anak Umami sudah gede sekarang,"



Wednesday, June 22, 2022

Sungai Napal Viral

kumparan


Lokasi tempat yang akan dituju tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda empat. Terpaksa mereka berjalan kali mengikuti arahan penduduk sekitar. Di jalan setapak yang dilalui terdapat banyak pohon karet. Pohon karet itu tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar, tinggi pohon kira-kira mencapai 15-25 meter. Tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Sepertinya Ia sudah lelah disayat dan dipaksa untuk mengeluarkan cairan putih kental dari batangnya yang sudah tua.


Tampaknya kebun ini sudah tidak terurus lagi. Gulma liar tumbuh di setiap pangkal batang pokok karet tersebut. Suasana di sini mencekam dan terlalu sunyi seperti sedang berada di dalam hutan belantara. Nella beberapa kali berhenti ketika ada yang bergerak di semak. Siapa yang tahu jika di antara semak belukar itu bersembunyi hewan melata yang bisa keluar kapan saja. padahal kebun ini berada di sekitar rumah penduduk. 


Suhu udara di dalam kebun terasa amat dingin dan di kiri kanan jalan setapak merupakan jalanan tanah yang becek dan berlubang-lubang, maklum saja di sini memang baru  turun hujan sehingga sinar matahari pagi pun tidak tampak menembus pepohonan di sekitar. Nella selalu tertinggal, Ia berlari kecil mengejar Raka yang sudah jauh di depan.


Sekali-sekali klakson pengendara ojek motor mengagetkan dan memecah kesunyian, mereka juga lewat di jalan setapak yang Nella dan Raka lalui itu, mereka terpaksa menepi ke pinggir jalan agar tidak menghalanginya lewat. Tidak jarang pula mereka terperosok ke bawah dan menginjak tanah becek. Jalan setapak ini sepertinya sengaja dibuat untuk memudahkan pekebun untuk lalu lalang mengambil hasil karet dan menjualnya ke pengepul.


"Kalau tahu jauh seperti ini kenapa kita tidak naik ojek saja," kata Nella yang sedang menenteng rantang makanan keletihan.


"Kita kan sama-sama tidak tahu kalau ternyata lumayan melelahkan dan mengotori sepatu compass kesayangan Mas," Raka menimpali.


"Itu sudah kedengaran bunyi airnya, Pap!" teriak Ranaya yang nyaman dalam gendongan Raka. Kadang Ia minta diturunkan dan melompat-lompat menyusuri jalan setapak. Kalau saja tidak karena Nella melotot kepada Raka yang membiarkan Ranaya berjalan, Raka tidak akan menggendong Ranaya yang begitu asyik mengeksplor dan mentaddaburi alam. Sebenarnya Raka juga pegal menggendong anak yang beratnya mencapai 25 kg itu.


Setelah melewati jalan setapak di sepanjang kebun karet yang panjangnya kurang lebih dua kilometer itu, terdengarlah gemericik air mengalir, itu pertanda keberadaan Sungai Napal sudah tidak jauh lagi. Sungai Napal ini viral di sosial media karena di sungai itu terdapat napal yang lebar dan pipih yang berasal dari tanah liat yang membantu atau napal. Letaknya tidak jauh dari pusat kota, tepatnya di desa Muhajirin, kabupaten Muaro Jambi. Cari saja dipencarian google dengan mengetikkan Sungai Napal Jambi pada bar pencarian maka kalian akan disuguhkan gambar-gambar Sungai Napal yang unik.


Napal di sungai ini bermacam bentuk dan berwarna kuning kecoklatan. Ada yang tampak di permukaan dan ada yang masih tersembunyi di dasar sungai. Dengan keunikan bentuk dan rupa kenampakkan alam di sungai ini menjadi spot foto yang menarik bagi pendatang. Selebgram seperti Nella tentu saja tidak mau ketinggalan dengan lokasi seperti ini. 


"Mari Bu, Pak, di sini ada pondok untuk disewa. Bapak dan Ibu bisa beristirahat dulu dan meletakkan barang bawaannya di sini," seorang nenek memberi tawaran kepada Nella dan Raka. 


"Di sini juga ada tempat penyewaan pelampung dan tersedia kamar kecil untuk bilas badan," Nenek itu melanjutkan, Nella melihat-lihat ke sekitar dan ke tempat-tempat yang disebutkan nenek itu. Di sekitar ada beberapa pedagang yang membuat pondok-pondok dan terdapat toilet darurat di belakangnya yang bertuliskan tempat bilas Rp10.000/kepala.


Nella berinteraksi dengan nenek tadi untuk menyewa pondok berukuran 1 x 2 meter itu. Sementara Raka menurunkan Ranaya dari gendongannya, sekejap Ranaya sudah berlari menuju ke tepi sungai, dengan sigap Raka mengejar dan meraih tangan Ranaya. Setiap yang datang ke tempat ini akan takjub memandang hamparan alam nan elok seperti Sungai Napal ini. yang terkembang di depan mata. Air Sungai Napal tampak berwarna kecoklatan, lumayan dangkal dan berarus deras. Sungai ini cocok untuk olah raga arung jeram.


"Belum balik orang tadi? Sudah satu jam kira-kira dia menghanyut bersama pelampung yang disewanya di tempat saya sampai sekarang belum kembali," kata salah seorang pemilik pondokkan kepada Nenek.

"Siapa, Nek?" tanya Nella.


"Itu tadi, salah seorang dari rombongan itu terjun ke air dengan pelampung. Tapi belum kembali,"


"Ah masa? Memangnya aliran sungai ini ke mana? Apa tidak ditelusuri saja?" tanya Nella.


"Sudah ada yang mencari sampai ke ilir ujung sungai yang sempit tidak ketemu. Mungkin sudah naik ke darat tapi tersasar karena hutan dan kebun karet semua." Sambut Ibu yang nenyewakan pelampung.

"Semoga segera ketemu," jawab Nella sambil berjalan menuju sungai di mana Raka dan Ranaya berdiri.

dokumentasi pribadi


"Loh, mana napalnya? Nggak kelihatan!" seru Nella.


"Kalau habis hujan begini, air sungai naik dan keruh, Bu. Jadi napalnya tidak terlihat," Nenek itu menjelaskan.


"Tapi kalau sudah dua atau tiga hari tidak turun hujan, napalnya akan terlihat."


"Memang sebaiknya datang ke sini kalau dua malam sebelumnya tidak turun hujan," 


"Yaaa… gimana dong. Aku kan mau foto-foto Ranaya, Mas,"


"Mau gimana lagi." Jawab Raka.


Raka melihat banyak pengunjung yang sudah turun ke air. Mereka ada yang berenang, duduk-duduk di napal yang tertutup air sungai yang mengalir, dan ada yang turun sekedar untuk mengabadikan keindahan Sungai Napal ini. Tampak riak-riak air yang menandakan bahwa di sana terdapat napalnya.

Nella dan Raka mencoba turun ke sungai. Karena airnya cukup deras, Nella dan Ranaya memutuskan untuk duduk dan bermain air saja di sebatang kayu rubuh yang memanjang di pinggiran sungai. Raka dengan pelampung sewaan mulai melakukam adegan arung jeram dari hulu menuju ke hilir sungai bersama dengan pengunjung lainnya. Sesekali Ia melewati posisi di mana Nella dan Ranaya berada. Ranaya berteriak-teriak kegirangan memanggil-manggil Raka.


"Upapi… Upapi! Naya ikut!" 


Raka mendekati Nella dan Ranaya. Ia menyerahkan pelampung besar berwarna hitam itu kepada Nella. Raka memastikan keadaan sungai dangkal dan aman. Sungai Napal sangat panjang tak tampak ujungnya, tetapi para pemuda kampung itu siaga bergantian berjaga-jaga di bagian bawah sungai. Mereka memberi batas pengunjung berenang dan bermain pelampung di hilir dengan menggunakan tali rafia.


Sungai ini masih belum terjamah investor. Tempat ini hanya dikelola oleh penduduk sekitar. Sehingga belum ada ketersediaan sarana yang memadai. Seperti kakus dan tempat bilas hanya dibuat dari papan dan kayu bekas ditutup dengan spanduk bekas seadanya.


Karena sudah merasa yakin, dengan dipegangi oleh Raka, Nella langsung naik dan duduk di pelampung dengan kaki dipanjangkan ke depan di atas pelampung, hanya bokongnya saja yang menyentuh air. Ia memangku Ranaya di atas perutnya. Raka memeluk pelampung dari belakang mendorong dan mengemudi arah laju pelampung. Pelampung itu meliuk-liuk dipermukaan air mengikuti aliran menuju ke batas yang sudah diberi tanda di hilir sungai. Di sana ada dua orang pemuda yang berjaga-jaga dan membantu untuk menghentikan laju pelampung apabila telah melewati tanda batas. Butuh tenaga ekstra untuk membuat pelampung itu berhenti.



"Yee.. yee…. Lagi Umami, lagi Upapi!" pinta Ranaya.

"Lagi Mas!" Nella berseru.

Nella dan Ranaya kegirangan. Mereka ingin merasakan keseruan itu kembali. Mereka bertiga berjalan kaki mengarungi sungai melawan arus menuju ke hulu sungai untuk mengulanginya. Air sungai yang dangkal membuat mereka tidak kesulitan menuju ke hulu. Sampai di hulu mereka mengulangi seperti yang mereka lakukan tadi. Karena keasyikan, Nella ingin mencoba sendiri. Raka dan Ranaya bermain dengan pelampung yang lain. Setelah Nella menitipkan Ranaya kepada Raka kemudian Nella berjalan mengarungi air menuju hulu kembali.


Raka menaikan Ranaya ke atas pelampung kecil dan Raka di pelampung besar. Raka memegang tangan Ranaya mereka bergerak bersama Sementara Nella mulai menyusuri sungai mengikuti arus menuju ke hilir ke posisi Raka dan Ranaya yang Ia tinggalkan tadi. Saking asyiknya, Nella menengadahkan kepala dan memandang langit tinggi dengan tangan mengayuh air. Ia berputar-putar dan marasakan sensasi bebas lepas.


"Haha aku bebaaas… Yuhuuu.. Asyiik!" 


"Mbak! Mbak! Anaknya hanyut!" 


"Mbak, itu anaknya tenggelam!" seseorang menarik tangan Nella. 

Nella kaget dan segera melihat keadaan sekitar. Orang-orang di sekitarnya melihat ke hilir sungai. Nella melihat seolah-olah semua berhenti beraktivitas, tidak ada orang-orang yang berenang, berarungjeram, berteriak kegirangan, berfoto, dan bahkan Ia sendiri merasakan jantungnya berhenti berdetak.


Tiba-tiba Ia melihat sekelebat tubuh Raka sudah di hilir batas tali Rafia. Ia melihat Raka sedang berlari menuju ke suatu tempat, Ia tampak kesulitan melawan derasnya arus air dan Nella melihat Raka begitu cemas sambil meminta tolong. Jauh dari posisi Raka, kira-kira dua meter, Nella melihat Ranaya sedang bergelantungan di bawah pepohonan bambu di pinggir Sungai Napal yang kondisi air di sana sangat dalam dan deras. Ia melihat putri mungilnya itu memegang ranting pohon dengan sebelah tangannya, sekali saja Ranaya melepas pegangannya maka Ia akan tenggelam dalam air dan hanyut di bawa arus. Ia tidak melihat ada pelampung di dekat Ranaya. Fikiran Nella berkecamuk, ke mana pelampungnya? Mengapa Ia bisa lepas dari Raka? Apa yang terjadi?


Posisi Nella cukup jauh dari Ranaya, tetapi Ia diuntungkan karena Ia bisa menghanyutkan tubuh mengikuti arus air menuju ke hilir di mana Ranaya berada. Tanpa fikir panjang, Ia segera berenang dan menghanyutkan tubuhnya, sesekali lutut dan perutnya terantuk napal-lapal di dasar sungai yang memang tidak Ia ketahui di mana saja letak posisi napal-napal itu. Sakit benturan tak dihiraukannya. Ia melesat cepat menuju Ranaya dan berusaha meraih tubuh anaknya itu. Namun Ia terlambat, tangan mungil Ranaya sudah terlepas dari pegangannya. Ranaya terjatuh dan tenggelam ke dalam air.


Tiba-tiba salah seorang remaja bertubuh bongsor yang sedang menyaksikan kejadian itu dan berusaha membantu bersama segerombolan teman sekolahnya. Ia berada tepat di dekat Ranaya. Ia dengan cepat menyambut tubuh Ranaya. Namun terlambat, tubuh Ranaya sudah masuk ke dalam air. Beruntung Ia dapat meraih tangan mungil Ranaya. Ia segera menarik dan memeluk Ranaya.


"Umamiiiii…" teriak Ranaya.


Nella yang juga ikut menyelam segera muncul kepermukaan dan remaja bertubuh bongsor itu segera menyerahkan Ranaya ke pelukan Nella.


"Alhamdulillah" serentak Nella, Raka, dan semua yang ada di sana mengucap syukur.

"Terima kasih, Dek," ucap Raka lirih

Raka menghampiri istri dan anaknya. Ia meminta maaf kepada Ranaya dan menciuminya, Raka juga meminta maaf kepada Nella. Nella tidak menghiraukannya. Ia tampak kacau, antara senang dan bersyukur karena Ranaya sudah dalam pelukannya, tetapi kesal kepada Raka dan menyesalkan kejadian itu bisa terjadi.


"Awalnya Naya sama Mas, tiba-tiba pelampung kami sama-sama menepi ke pinggir sungai yang banyak semak belukar dan pohon bambu,"


"Mas mengarahkan pelampung ke tengah sambil memegangi ranting demi ranting. Tiba-tiba Naya meniru apa yang Mas lakukan. Karena airnya deras Ranaya tidak melepas ranting yang Ia pegang. Sehingga Ia bergelantungan dan pelampungnya hanyut," jelas Raka.


Nella mendengarkan penjelasan itu tapi Ia benar-benar tidak bisa menerimanya.


"Tangan Naya sakit, Nak? Tadi terlepas karena sakit ya?"


"Nggak, Mi. Tadi tangan Naya licin. Jadi terlepas deh."


"Mas duluan ke hilir untuk jaga-jaga menunggu Ranaya hanyut ke hilir. Ternyata Ranaya tidak juga melepaskan pegangan tangannya," ujar Raka.


Nella melotot ke arah Raka, tentu saja akal sehatnya tidak terima kok bisa-bisanya Raka menunggu Ranaya hanyut dan mencoba menangkap Ranaya pada arus air di hilir yang sederas itu. Yang ada, Ranaya bablas hanyut.


Kejadian itu tidak bisa dilupakan, setiap kali teringat, Nella merasa gamang. Hal-hal buruk selalu melintas, kalau saja... seandainya... setiap fikiran-fikiran itu datang Nella segera penepisnya.


Tidak satupun foto-foto mereka di sana Nella posting di sosmed. Biarlah semua menjadi kenangan baginya, Raka, dan Ranaya. Sejak kejadian itu, Nella bertekad mengajarkan Ranaya berenang dan trauma bermain di sungai. Sungai Nepal viral kembali.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€







Tuesday, June 21, 2022

Anugerah dan Karunia




Nella merasa bangga dan bahagia sekali. Ia dikabari oleh guru tahfidznya Ranaya, bahwa Ranaya termasuk salah satu dari 324 peserta wisuda kbar Hafidz/Hafidzah Al-Qur'an jenjang SD dan SMP bersama Walikota. Menurut info yang Ia dapat Ranaya adalah peserta tahfidz termuda.


Setelah menerima kabar itu, Nella digabungkan ke dalam whatsapp grup orang tua para peserta wisuda akbar tersebut. Admin grup mengirimkan info, file nama peserta, asal sekolah, dan jenjang serta kelasnya. Nella melihat nama Ranaya berada di urutan pertama karena Ia merupakan peserta paling muda yang sedang duduk di kelas satu sekolah dasar.


Nella menyampaikan kabar gembira itu kepada Raka dan Ranaya ketika makan siang bersama. Mereka mengucap syukur tak terhingga atas karunia dan anugerah terindah ini. Nella dan Raka memeluk dan mencium Ranaya secara bergantian sambil memberi ucapan selamat dan serangkaian doa terbaik untuk Ranaya.


Ranaya senang saja melihat Umami dan Upapinya itu bangga. Kelak Ia ingin memasangkan mahkota untuk kedua orang yang disayanginya itu. Untuk ikhtiar bisa hapal juz amma, tentunya Ranaya tidak dengan usaha yang keras sekali. Tidak seperti anak pondok yang harus menghafal sambil memegang mushab dan memberikan setoran hapalan. Tidak seperti itu.


Teknik hapalan yang dijalankan Ranaya selama ini adalah dilakukan tanpa Ia sadari. Setiap hari di rumah didengarkan murotal juz 30. Ranaya bisa sangat asyik bermain dengan mendengarkan murrotal tersebut. Alam bawah sadarnya menyimpan apa yang Ia dengar setiap hari. Nah, yang didengar Ranaya belum tentu pas huruf atau bacaannya. 


Setiap magrib Nella dan Raka meluangkan waktu kepada Ranaya untuk membacakan bacaan yang sudah Ia tangkap sambil bermaian tadi. Hal ini dilakukan akan dapat memperbaiki bacaan dan huruf yang keliru yang direkam oleh memori Ranaya dari mendengar murrotal tersebut. Tak jarang, Nella memutarkan murottal dengan mode repeat tract, sehingga surah yang ditargetkan untuk dihafal oleh Ranaya akan selalu berputar secara otomatis.


Nella akan membuat jadwal atau program hafalan Ranaya. Suti adalah pendamping yang baik yang bisa Nella andalkan apabila Ia dan Raka sedang sibuk dengan deadline pekerjaan mereka. Suti yang sehari-harinya menemani Ranaya sangat membantu mensukseskan target hafalan Ranaya yang sudah disusun oleh Nella.


Nella bersyukur sekali atas raihan putrinya itu di usia yang sangat kecil sudah menjadi peserta termuda dalam acara wisuda akbar hafidzah Al Quran. Ini adalah anugerah dan karunia yang tak ternilai.



Monday, June 20, 2022

Diary Lita 1




"Dear diary…" tulis Lita di buku diarynya. Walau sering teman-teman dan keluarganya bilang tidak zamannya lagi menulis diary, Lita tetap saja melakukannya, bahkan ketika buku diarynya sudah penuh karena tulisannya, Ia akan membeli buku diary yang baru.


"Hmm.. kenapa ya, asyik ajaa, Aku bisa nulis banyak hal… curhat apa aja. Tanpa dikomentari, disalahkan, dan ditertawakan." Jawab Lita setiap kali ditanya mengapa masih menulis diary. 


Setiap hari Lita menulis diary. Biasanya sebelum tidur sih jadwal Lita menulis di sebuah buku kecil yang berwarna pink itu. Eits… tapi bukan itu ritual wajibnya sebelum tidur. Ritualnya sebelum tidur adalah menjalankan sunnah sebelum tidur, tidak lupa cuci kaki, sikat gigi, baca do'a, dan melakukan sunnah sebelum tidur seperti mengibas tempat tidur untuk membersihkan tempat yang akan digunakan untuk tidur adalah suatu keharusan bagi Lita.


Back to diary, 


"Hari ini riweuh… hectic.." Ia melanjutkan tulisannya.


"Semalam Aku tidurnya udah malam banget. Karena aku mau nulis buat setoran, deadline, sebab siang dan sore aku nggak sempat." Lita mulai curhat.


"Udah gitu, Si Ogef wa wa Aku, gangguin aja, ngajak naughty talk. Gila kan? Sempet terhanyut juga Aku. Aah, dasar penggoda!" Goresan pena Lita bergerak teratur mengikuti khayal dan imajinasinya. Ia menulis di atas kertas yang terlihat lembarannya berwarna soft blue, lalu lembaran sebelahnya berwarna nude, begitulah warna kertas pada buku diary Lita. Berwarna-warni seperti tulisan-tulisan di buku itu.


Bau khas buku diary itu kalau dibuka seperti mengeluarkan aroma terapi yang menenangkan bagi Lita. Lita suka sekali dengan aromanya. Setiap buku diary yang Ia beli, memiliki aroma khasnya masing-masing. Ia sudah hafal betul buku diary yang mempunyai aroma yang enak dicium. Lalu ke mana buku-buku diarynya yang sudah penuh itu? Buku-buku itu Ia susun di dalam lemari kaca yang berada di kamarnya dengan beberapa pajangan foto kenangan dari  momen-momen yang sempat diabadikannya.


"Karena tidur larut," Lita mulai menulis kembali.


"Jadi, Aku bangun kesiangan deh. Aah… kalau saja bukan karena masuk kerja, mungkin usai salat subuh Aku kembali tidur lagi." Itu hanya mimpi bagi Lita tak mungkin jadi nyata apalagi di hari Senin hingga Jum'at. Pekerjaannya menumpuk. 


"Dead diary,"

"Udah dulu ya Aku ngantuk. Besok kita sambung lagi. Malam ini aku nggak mau waktu tidurku berkurang lagi"


"Love u diary"

See you! Bye bye!


 

Sunday, June 19, 2022

Buah Kesabaran



Beberapa foto pernikahan Zaskiy dikirimkan kepada Fe melalui aplikasi telegram. Namun, tak satupun muka Si Koko tampak. Satu persatu foto itu dizoom oleh Fe, tapi memang sepertinya yang memotret sengaja untuk tidak memperlihatkan muka suaminya Zaskiy. Sebagian foto yang dikirimkan itu posisi Si Koko membelakangi kameraman, yang nampak hanyalah wajah Zaskiy yang kelihatan cantik dengan make up minimalisnya. 


"Alhamdulillah, Barakallahu lakum wa baraka alaikum. Happy married, Bestie. Akhirnyaaaa!" Fe mengirimkan ucapan selamat kepada Fe melalui pesan di whatsapp.


"Thank you, sayangku. Sekarang udah halal loh hehe. Udah ya, kami mau bikin anak." Balas Zaskiy menggoda Fe.


"Buah kesabaran ya, Ki. Yang pasti Koko sudah berani untuk jujur ke istrinya." Fe turut senang.


Fe dan Frans tidak bisa hadir dalam acara sakral pernikahan Zaskiy dan Koko. Mereka sedang menunggu jadwal operasi sesar Fe. Operasi itu akan dilakukan lusa. Dokter mengatakan bahwa posisi bayi Fe tidak berada pada posisi normal. Bayi Fe memposisikan kaki atau bokongnya ke arah saluran kelahiran, yang dikenal sebagai posisi sungsang. Selain itu, panggul Fe terlalu kecil untuk melahirkan bayinya. Dalam kasus tersebut, operasi sesar merupakan cara paling aman menurut dokter.


Selang sepuluh bulan jarak pernikahan Zaskiy dari pernikahan Fe. Sekarang Zaskiy dan Koko sudah resmi menjadi suami istri. Pernikahan itu hanya dihadiri oleh pihak keluarga Zaskiy saja. Mereka menikah di KUA dan menggelar tasyakuran kecil-kecilan di rumah adik laki-laki Zaskiy.


Sejak Zaskiy memutuskan untuk mengadu nasib di perantauan, tidak berapa lama pada tahun berikutnya, adik laki-lakinya menyusul ke Batam setelah menamatkan pendidikannya di jenjang sekolah menengah atas. Dua orang adiknya sudah menetap di sana di rumah sendiri, bahkan ada yang sudah menikah.


Sempat beberapa bulan Fe dan Zaskiy tidak berkomunikasi. Zaskiy mengatakan bahwa Dia akan segera menikah tapi masih ada kendala. Dia minta didoakan agar semua rencananya berjalan mulus. Zaskiy juga berjanji tidak akan melakukan perbuatan yang dilarang lagi sampai Ia benar-benar sah menjadi suami istri dengan Koko. Dia juga sudah memutuskan berhenti bekerja di toko untuk menghindari ketemu Si Koko.


Tiba-tiba saja Fe teringat pecakapan terakhirnya dengan Zaskiy sebelum Ia menerima berita pernikahan ini.


"Sorry Fe, Koko telepon. Aku jawab dulu tadi dia bilang mau ke kost-an. Sejak aku sudah tidak bekerja di toko, dia makin sering datang kemari." Itulah percakapan terakhirnya dengan Zaskiy melalui aplikasi whatsapp audio call.

__________________________

"Halo! Ya, sayang. Oh, Papi udah di depan. Sebentar.. sebentar…" Zaskiy segera membukakan pintu dan mempersilahkan pria yang Ia panggil Papi itu untuk masuk.


"Loh, Papi nggak di toko?" Tanya Zaskiy sambil menutup pintu kembali. 


"Aku kangen kamu." Laki-laki itu dengan cepat memegang kedua pundak Zaskiy membuat tubuh Zaskiy sedikit terdorong mundur ke belakang. Pria itu memeluknya, Zaskiy berusaha melepaskan pelukannya, tapi apa daya badan pria itu terlalu besar dan tenaganya amat kuat untuk Ia lawan.


"Pi, jangan! Beberapa teman sedang Off kerja. Mereka sedang berada di kost." Laki-laki itu tidak peduli dengan apa yang diucapkan Zaskiy. Ia mencoba untuk mencium leher jenjang Zaskiy, tetapi Zaskiy menekuk kepalanya. 


"Pi, please. Mami lagi PMS. Pi!" Laki-laki yang tadinya penuh nafsu itu melepaskan dekapannya.


"Mi, bukannya kita sudah akan menikah. Kenapa Mami beralasan ke Papi? Di rumah juga lagi merah, di sini PMS." Gerutunya.


"Apa? Ooh... begitu. Di sana merah lalu Papi kemari? Dasar ya!" Zaskiy memukul pria itu.


"Nggak, Mi. Papi becanda."

"Papi sudah menunjukkan keseriusan Papi, Kan?" Ia duduk lesu di sebuah sofa diikuti oleh Zaskiy.


"Pi, serius untuk menikah bukan berarti sudah halal. Bukankah kita udah janji nggak akan melakukannya lagi. Ingat Pi, orang yang bertaubat itu harus menyesali di dalam hati yang paling dalam atas apa yang telah dilakukan dan tidak mengulangi lagi." Zaskiy membuat pria itu tertunduk.


"Kita pernah khilaf, tapi kita sama-sama menyadari. Allah Maha Pengampun." 

 

"Justru karena sebentar lagi kita akan menikah, Papi harus sabar." Pria itu mengusap wajahnya.

"Maafin, Papi." Sesalnya.


"Ya, udah, Mami buatkan kopi, ya. Betewe, Sekarang yang perlu Papi siapkan adalah keberanian untuk dikhitan." Goda Zaskiy lalu berlari menuju ke dapur. 


🀍🀍🀍

Saturday, June 18, 2022

Seribu Alasan

canva.com


     "Hari ini Ki cuekin Koko, Fe. Beberapa kali maksa terus mau datang ke kost-an. Paling minta dimanja manja. Trus ujungnya..." Zaskiy tidak melanjutkan ucapannya tapi dapat dimaknai oleh Fe.


"Kesel juga lama-lama. Ada aja alasannya menunda-nunda pernikahan." Tak terasa sudah hampir sejam zaskiy ngobrol dengan Fe. 


     Beberapa kali Fe memindahkan ponselnya dari telinga kiri ke telinga kanan dan dari pakai headset ke loudspeaker. 


     "Dek, laper." Kode Frans.


     "Stttss… ambil sendiri ya, Bang. Ini masih belum kelar." Tunjuk Fe ke ponselnya, Fe merapatkan kedua telapak tangannya isyarat minta maaf dan minta dimaklumi.


     Kehamilan Fe sudah memasuki pekan ke duapuluh. Kisah Zaskiy tentang rencana pernikahannya yang beberapa kali gagal selalu menarik untuk dikomentari oleh Fe. Namun Fe berusaha keras untuk tidak berkomentar. Sadar kalau komentarnya nanti hanya akan membuat temannya semakin sedih, lebih baik Ia menjadi pendengar yang baik. Menurut Fe, Zaskiy hanya butuh tempat untuk bercerita.


Seperti kata Tere Liye, "Terkadang, kita memang hanya butuh tempat untuk bercerita. Yang padanya kita bisa menumpahkan seluruh kisah. Kita tidak minta nasehat, tidak minta dibalas, tidak minta kalimat-kalimat penyemangat, cukup didengarkan. Kemudian, saat semua cerita tersampaikan, kita bisa menyeka air mata dengan lega."


     Beruntung sekali Zaskiy punya sahabat seperti Fe. Fe menjadi pendengar yang baik untuk Zaskiy. Sesekali Fe merespon dengan satu--satu kata seperti, "iya..", "hmm..", dan "ohh.." tidak jarang pula Fe berkomentar secukupnya apabila Zaskiy meminta pendapatnya.


     "Eh, udah dulu ya, Bestie. Kamsahamnida... Assalamualaikum...." Mendadak sambungan telepon terputus. Zaskiy memutuskan tiba-tiba dan belum sempat dijawab oleh Fe. Fe sudah terbiasa dengan ritme seperti ini. Dimatikan tiba-tiba sudah kebiasaan Zaskiy kalau menelepon. Biasanya hal itu terjadi dikarenakan waktu istirahatnya sudah habis, atau ada customer yang datang, atau ada Si Koko, Bosnya datang.



     "Ga panas tu kuping telponan lama bener. Awas loh, radiasi tar. Lain kali pake headset aja." Bawel Frans ketika melihat istrinya sudah duduk di sampingnya.


     "Hmm…" respon Fe.


     "Eh, pamali ambil-ambil lauk orang." Frans menoleh ke Fe yang mencomot ikan teri di piringnya.


     "Apaan sih! Pelit amat. Lagian dikit-dikit pamali dikit-dikit pamali. Laa haula wa laa quwwata illa billah keles, Bang." Fe berniat akan melakukannya kembali, kali ini Ia gagal mencomot kacang goreng sambal di piring suaminya karena dengan cepat Frans menjauhkan piringnya dari jangkauan Fe.


     "Abaaaaang! Mintaaaaa…" rajuk Fe.


     Melihat istrinya merajuk, Frans kemudian membujuknya dengan menyuapkan sesuap nasi ke mulut istrinya itu, dan tentu saja disambut cepat oleh Fe dengan menganga lebar.


     "Napa lagi Ki, Dek?" Tanya Frans.


     "Hmm... itoo?" Jawab Fe dengan Mulut yang penuh dengan nasi.


     "Heh! Pam…" Frans tidak jadi melanjutkan kata-katanya karena langsung disela dan dipotong Fe.




     "Pam...anku dari desa... Dibawakannya rambutan, pisang, dan sayur-mayur segala rupa… ha ha ha." Tawa Fe pecah menyela ucapan suaminya yang akan menyebut pamali dengan lirik lagu Pamanku Datang oleh penyanyi cilik Tasya itu.


     "Uhuk.. uhuk!" Fe terbatuk-batuk karena tersedak.


     Frans buru-buru meraih gelas air minum dan memberikannya untuk Fe sambil menepuk-nepuk pundak Fe.


     "Koko menunda lagi rencana pernikahan mereka. Ini udah kali ke tiga Dia menundanya loh, Bang. Ih! Niat ga sih!" Ujar Fe kesal.


     "Pertama, alasannya istrinya mau melahirkan anak ketiga mereka, eeh.. udah lahiran, dijanjiin lagi akan mempersiapkan pernikahan setelah toko barunya dibuka, menunggu itu aja bukan sehari dua hari, tidak pula seminggu dua minggu, menunggu apa? Menunggu hari baik pula, lama dong ya?? eh hari baik yang udah diperhitungkan sesuai kalender Cina udah tiba dan toko udah buka, tiba-tiba tadi Zaskiy bilang Si Koko ntuuu ngaku habis ditipu rekan bisnisnya. Ki disuruh sabar dooong oleh Si Koko karena Si Koko mau urus penipuan itu dulu, sebab dana untuk menikah dipinjem sama yang nipu. Fe menarik nafas panjang.


     "Minum… minum dulu. Semangat amat sih!" Lagi-lagi Frans menyodorkan gelas berisi air ke mulut Fe.

     Fe Meneguk tiga tegukkan air dalam gelas itu.


     "Seribu alasan banget! Repeeet amat sih!" Kalimat penutup Fe.

     Frans hanya geleng-geleng kepala.



Friday, June 17, 2022

Doa Sahabat


Canva.com


Sebenarnya Fe sudah curiga kepada sahabatnya itu, tetapi Ia selalu berusaha menampik pikiran negatif yang sering melintas dibenaknya.


"Ki, sudah nggak perawan lagi." Cerita Zaskiy sedih.


"Makanya Ki minta dinikahkan cepat." Fe terdiam.


Fe prihatin mendengar kisah sahabatnya itu. Fe dan Zaskiy bersahabat sejak mereka berseragam putih abu-abu. Fe mengenal Zaskiy dengan keluguannya. Beberapa tahun setelah mereka tamat sekolah. Fe melanjutkan ke perguruan tinggi negeri melalui jalur undangan SNMPTN. Sementara sahabatnya itu memutuskan pergi merantau ke Batam.


Fe menjadi mahasiswa dengan padatnya kegiatan dan banyaknya tugas, serta Fe juga mengambil pekerjaan di luar jam kuliahnya. Sedangkan Zaskiy menjadi pramuniaga di sebuah toko furniture. Dengan kesibukkan masing-masing, mereka semakin jarang berkomunikasi.


Empat tahun menjadi mahasiswa akhirnya Fe menyelesaikan kuliahnya, kemudian Ia diwisuda. Fe mulai fokus dengan pekerjaannya dan serius dengan hubungannya bersama Frans. Frans adalah teman Fe satu universitas tapi beda fakultas. Mereka merencanakan untuk berumah tangga di bulan Safar tahun ini, itu artinya persiapan tinggal sebulan lagi. Saking bahagianya Fe memberi kabar gembira kepada sahabatnya itu melalui pesan singkat di whatsapp. Fe tahu kalau Zazkiy tidak bisa ditelepon dalam jam kerja. Namun, komunikasi di antara mereka mulai terjalin sejak saat itu.


"Sorry ya Fe, Ki ga bisa datang di hari bahagiamu. Mudah-mudahan lebaran Syawal nanti Ki balik ke Jambi." Balasan dari Zaskiy untuk Fe melalui whatsapp. Fe dapat memahami kondisi Zaskiy, Ia tidak memaksakan Zaskiy untuk dapat hadir. Ia hanya meminta doa restu dari sahabatnya. 

_________________________

Dua bulan lebih umur pernikahan Fe dan Frans. Saat ini Fe sedang mengandung buah cintanya bersama Frans. Seperti janjinya, Zaskiy mudik lebaran Syawal tahun ini ke Jambi. Setelah dua hari berada di Kota Karet ini, Zaskiy menemui Fe di rumahnya. Mereka melepas rindu setelah hampir 5 tahun tidak bertemu. Hanya sepekan lamanya Zaskiy di Jambi dan baru satu kali mereka bertemu.


"Fe, Ki pamit balik ke Batam, ya. Maaf Ki ga bisa mampir." Satu pesan dari Zaskiy sudah dibaca oleh Fe. Fe sedih karena sahabatnya itu harus pergi lagi.


"Fe, sebenarnya kemarin Ki mau cerita sesuatu tapi ga enak ada suami Fe." Notifikasi pesan dari ponsel Fe berbunyi lagi.


"Nanti aja ya, kalau sudah sampai Batam Ki cerita ke Fe."


"Udah dulu ya, Ki mau boarding."


"Safe flight, Bestikuuu.. muaah." Sebuah emot kiss disisipkan Fe di pesannya.


Sejak saat itu Zaskiy sering menghubungi Fe dan bercerita tentang banyak hal, termasuk menceritakan kisahnya yang tengah menjalin hubungan dengan seseorang. Pada dasarnya Fe tidak setuju dan selalu menasihati Zaskiy untuk memutuskan hubungan dengan laki-laki itu. Dia adalah pemilik toko tempat Zaskiy bekerja. Laki-laki itu adalah bos Zaskiy, Ia sudah beristri dan memiliki 2 anak. Ditambah lagi Zaskiy dan Bosnya itu beda agama.


"Dia berjanji akan menikahi Ki secepatnya. Ia akan menjadi mualaf. Kami tidak mengadakan pesta resepsi, tapi Koko akan mengajak Ki umroh." Zaskiy berbicara melalui ponselnya.


"Tapi Ki, dia suami orang. Sebaiknya jangan, Ki pikirkan lah lagi daripada menyesal di kemudian hari." Fe menasihati.


"Fe kan tahu, Ki selalu cerita semua tentang hubungan kami. Koko nggak bahagia bersama istrinya. Ki rela kok jadi istri kedua." Jelas Zaskiy.


"Tapi Ki…" omongan Fe disela oleh Zaskiy.


"Fe, denger! Dengan menjadi mualaf, Dia sudah menunjukkan keseriusannya pada Ki. Ki siap dengan konsekuensinya. Ibu sudah memberi restu." Jawab Zaskiy semangat.



"Koko sudah merenggut keperawan Ki. Dia harus nikahi Ki itu yang terpenting saat ini. Ki ga akan menuntut apa-apa, apalagi memintanya untuk meninggalkan istri dan anaknya."

"Halo, Fe... Fe... "


"Tut...tuuut.." sambungan teleponnya terputus.


Fe terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya. Menurutnya, keputusan yang akan diambil sahabatnya itu salah. Salah, karena Ia menerima dinikahi oleh laki-laki yang sudah berstatus suami orang tanpa izin istri pertamanya. Ia bisa rasakan bagaimana perasaan seorang istri yang suaminya diam-diam menikah di belakangnya. Namun, Ia juga seesalkan sahabatnya bisa menyerahkan kehormatannya kepada om om itu. Dari dulu di mata Fe, Zaskiy adalah sahabat yang  lugu. Namun, sejak Zaskiy merantau Ia berubah.

"Fe ingin kamu bahagia. Jika bahagiamu harus dengan keputusan ini, Fe berdoa kebaikan untukmu, Ki."  Fe mengirim pesan ke Zaskiy.



πŸ–€πŸ–€πŸ–€



Thursday, June 16, 2022

Misi di Balik Pulang Kampung

canva.com


"Yuhuu… pulang kampung kita!" seru Nella riang sambil menepuk paha suaminya, Ia tidak menyadari kalau suaminya sedang meringis kesakitan.


Pulang kampung, Nella menyebutnya demikian karena tempat Mbah yang katanya piawai mengurut itu berada di kampung Nella. Kampung Nella berada di luar kota dalam provinsi saja. Katanya jam terbang Mbah sangat tinggi di dunia perurutan dan mobilitasnya padat. Mbah sering dipanggil dan dibawa ke desa-desa sekitar kampung. Dalam perjalanan Nella mencoba menelepon Mbah.  Kalau tidak ditelepon terlebih dahulu, bisa saja Mbah tidak sedang berada di rumah. Kebayangkan jauh-jauh menahan sakit eh orang yang dicari tidak di tempat.


"Bentar ya, Mas. Aku turun dulu beli jeruk nipis. Mbah tadi ditelepon bilang kalau keseleo diurutnya pakai jeruk nipis. Ini kebetulan hari Senin, kita sudah sampai di Pasar Senin." Nella sesaat menoleh ke jok belakang sebelum turun dari mobil, dilihatnya Ranaya sedang tidur pulas. Setelah pamit, Nella menuju ke pasar yang berada di pinggir jalan tepat di mana Ia memarkirkan kendaraannya. Pasar Senin di kampung ini beroperasi setiap hari Senin saja, tidak buka di hari lainnya. Nella hafal betul seluk beluk di pasar tradisional itu, karena setiap pulang kampung, Ia dan Ibunya selalu ke sana.


"Berapa banyak, Neng?" Tanya Si penjual kepada Nella.


"Hmm. Ga banyak, Bu. Minta 3 biji eh 3 buah saja. Berapa ya, Bu?"  Nella bertanya sambil merogoh saku gamisnya.


"Sepuluh ribu, Neng." Jawab Ibu itu. Nella lalu membayar dengan selembar uang sepuluh ribuan dan meraih kantong berisi 3 buah jeruk nipis yang diberikan Si penjual kepadanya.


"Ini semangka yang tanpa biji itu ya, Bu? Saya beli 1, Bu." Pinta Nella. Ia membayar dengan selembar uang lima puluh ribu. Ibu penjual memberikan kembalian uang Nella. Nella mengucapkan terima kasih lalu pergi.


Kurang lebih dua jam perjalanan dengan beberapa kali berhenti di rest area dan terakhir mampir di pasar Senin, mereka sampai juga di rumah Mbah, yaitu di kampung halaman Ibunya Nella. Di perjalanan Nella sering mengeluh busa jok yang Ia duduki terlalu rendah. Ia terpaksa menyempalnya dengan bantal leher milik Ranaya. Beberapa kali pula Raka meminta kepada Nella agar Ia dibolehkan menggantikan Nella untuk menyetir, tetapi Nella tidak mengizinkannya.


Sesampai di rumah Mbah, Nella dan keluarga kecilnya disambut oleh Bibi, Paman, dan Sepupunya, Ia senang sekali bisa pulang ke kampungnya walau dadakan tapi Ia bisa melepas kangen dengan keluarganya di kampung. Pada lebaran kemarin Nella, Raka, dan Ranaya tidak sempat pulang karena mereka pulang ke kampung halaman Raka. Namun, Ini masih di bulan Syawal walau sudah di penghujungnya.


Mbah melihat kedatangan Nella, perempuan tua paruh baya itu mempersilakan cucunya itu naik ke rumah. Mbah menyalami Raka dan memeluk Nella serta membimbing tangan Ranaya masuk ke dalam rumah. Mbah merasa haru dan sempat berfikir kalau saja tidak karena keseleo mungkin cucunya itu tidak pulang kampung saat ini. Mbah iba melihat Raka berjalan kesakitan menahan pijakkan kakinya saat melangkah. Sembari bercengkerama, Ia menyiapkan sesuatu untuk keperluan mengurut. Nella memberikan jeruk nipis kepada Mbah.


Mbah membelah ketiga jeruk nipis tersebut dan memasukkannya ke dalam poci lalu diberi sedikit air hangat. Sesudah dingin Mbah memeras dan menyaringnya. Sebelum diurutkan ke jari Raka yang keseleo akibat terpeleset di bebatuan di pinggir sungai siang itu, tampak Mbah memberikan beberapa sendok minyak kayu putih ke perasan jeruk nipis tersebut.


Mbah mulai mengurut jari kaki Raka yang bengkak. Raka meringis dan sesekali mengaduh kesakitan. Setelah mengurut Raka, Mbah pergi ke belakang. Ia kembali membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat dan stoples besar berisi kue semprit yang tampak tinggal separuh. Melihat Nella, Raka, dan Ranaya sedang menikmati pemandangan di teras rumah, Mbah meletakkan nampan itu di bale-bale kayu.


Kue semprit adalah kue kering khas dari kampung Mbah. Mbah mempersilahkan Nella, Raka, serta cicitnya Ranaya untuk mencicipi semprit garut itu. Kudapan ini cocok sekali dinikmati dengan teh hangat di kala sore sambil memandang hamparan sawah yang menguning di sekeliling rumah panggung Mbah.


Tokopedia.com


"Wah, masih ada aja kue lebarannya, Mbah! Ella tau ini kue apa namanya. Ini kue semprit kan, Mbah?" Tebak Nella sambil membuka stoples. Ia mengambil dua biji kue semprit dan memberikan satu kepada Ranaya.


"Jadi ini ga apa-apa ya, Mbah?" Tanya Nella sambil menunjuk kaki suaminya.

"Masalahnya, tulat ini kami berencana akan ikut dengan rombongan kantor Mas Raka liburan, bersamaan dengan libur sekolah Ranaya, Mbah." Tanya Nella khawatir, mengingat jadwal keberangkatan itu sudah di depan mata.


"Insyaalloh besok sudah baikkan asal rajin diurut dengan ini." Mbah menunjuk ke poci berisi minyak urut racikannya.


"Alhamdulillah, semoga semua bisa berjalan sesuai rencana." Ujar Nella dan dianggukkan oleh Mbah.


"Aamiin. Dinten meniko senen, nggih? berangkatnya tulat, hmm... artinya kalian berangkatnya Kamis. Semoga kalian semua dilindungi Gusti Alloh yo, Ndok."

"Kalian nginep toh malam ini?" Tanya Mbah ingin meyakinkan.


"Iya dong Mbah Uti, kami udah sampai di kampung masa ga nginep, lagi pula Mas Raka harus diurut minimal sekali lagi kan, Mbah?" Tanya Nella.


Raka memberi isyarat kepada Nella dengan mencubit bajunya sendiri dan menggoyang-goyangkannya. 


"Oh, pakaian? Ada kok aku bawa pakaian untuk Mas, Ranaya, dan juga aku." Sambut Nella paham dengan isyarat Raka. Biasanya di bagasi mobil memang sudah tersedia pakaian serap bahkan sandal dan sepatu juga ada. Apalagi  hari ini mereka memang akan pergi mem-videokan Ranaya tentu saja Nella membawa pakaian ganti.

 

"Oh ya Mbah, malam ini Ella akan jalan ke rumah kerabat yang deket-deket, Mbah temenin Ella ya." Ucap Nella sambil melirik ke arah Raka yang menggelengkan kepalanya.

"Aku dan Ranaya, Mas. Mas di rumah aja, kan lagi atit." Godanya.

__________________________________

canva.com


Setelah menginap satu malam di rumah Mbah dan bersilaturahmi ke rumah kerabat dekatnya, Nella dan Raka pamit pulang. Nella juga sempat meminta resep kue semprit garut ala Mbah. Kata Mbah kue semprit itu dibuat dari olahan tepung larut atau tepung ararut, biasa orang menyebutnya tepung garut yang berasal dari umbi garut. Jiwa chef Nella meronta-ronta, Ia langsung searching untuk mengetahui penjelasan dan bentuk tepung tersebut.


Tiba-tiba, Nella senyum-senyum teringat sesuatu. Waktu itu Ia juga pernah membuat kue semprit dari resep pemberian Ibunya, tetapi kue hasil buatannya tidak sama dengan buatan Ibu apalagi buatan Mbah. Ini adalah resep turun-temurun kata Ibunya ketika tahu Nella mengganti tepungnya dengan tepung sagu.


Setelah pamit pulang, Nella teringat kemarin Ia belum menulis untuk setoran tulisan di OPREC ODOP Komunitas One Day One Post. Meskipun Ia sudah piawai dalam menulis, tetapi Nella masih suka mengikuti lomba-lomba menulis atau sekedar ikut komunitas menulis. Katanya menulis itu ruh, jadi ruh harus hidup setiap hari. Tiada hari tanpa menulis.


"Astaga, Mas, Aku ada hutang tulisan. Mas yang nyetir ya? Please, bisa kan?" Nella lalu membuka pintu tengah untuk Ranaya lalu Ia duduk di depan di sebelah Raka. Ia langsung gerak cepat membuka aplikasi document di ponselnya. Ia girang sekali karena sudah punya ide tulisan yaitu menulis kisah tentang perjalanan pulang kampung dadakan membawa misi sosial, yaitu membawa Raka berobat kampung, lagi-lagi Ia tersipu-sipu.


Selama di kampung, Nella sangat menikmati suasana sore di kampung. Meskipun mudik dadakan, tetapi Nella merasa mudik kali ini membuatnya rileks, bisa melupakan sesaat deadline dan berjibaku dengan laptop serta tumpukkan buku.


Raka tersenyum melihat perangai istri yang dicintainya itu. Tentu saja Ia yang memegang setir karena sudah bisa menyetir sejak diurut dua kali oleh Mbah Raka tidak lagi merasakan jari kakinya sakit.

🀎🀎🀎



Wednesday, June 15, 2022

Momen Yang Terlewatkan



"Oke, kirim!" Nella telah selesai menyunting video rekaman Ranaya membaca surah. Nella ahli dalam menyunting video, hobinya editing dan fotografi sangat cocok sekali dengan kesukaan putrinya, Ranaya yang suka difoto maupun divideokan itu.


Nella mengisi data diri Ranaya ke formulir online lomba hapalan surah pendek, kemudian meng-upload video Ranaya yang berdurasi kurang lebih 4 menit ke field yang telah disiapkan pada formulir tersebut.


"Alhamdulillah sudah terkirim." Kemudian Nella segera menghampiri Ranaya dan Raka yang sedang bermain di pinggir sungai di sebelah masjid megah itu, di sana terdapat sungai yang tidak terlalu lebar dengan airnya mengalir sangat jernih.


Ranaya tampak melangkah turun perlahan-lahan pada bebatuan di pinggir sungai. Tampak arus air mengalir sangat deras, air yang mengalir itu berkilau dan bercahaya akibat terpapar sinar matahari pagi menjelang siang. Raka memegangi lengan Ranaya ikut turun mengiringi langkah kaki Ranaya.


"Pi, hati-hati! Menjelang tengah hari ini." Nella mengingatkan Raka. Ia tampak khawatir.


"Iya, eh udah selesai ya meng-editnya?" Teriak Raka agak kencang karena Ia merasa kalau tidak kencang suaranya akan terdengar samar sampai ke Nella akibat suara riak dan gemericik air di dekatnya juga posisinya yang jauh di bawah.


"Udah dikirim keles." Sahut Nella cepat sambil mengeluarkan ponselnya dari tas tentengnya, lalu Ia mulai merekam aktivitas kedua orang yang Ia sayangi di pinggir sungai yang berbatu itu. Ia tidak akan mau kehilangam momen indah itu. Pokoknya bagi Nella setiap momen kebersamaan mereka itu wajib diabadikan dan didokumantasikan. Tidak ada momen yang lepas untuk diabadikan dalam kamera ponselnya itu.


"Allahu akbar, Allahu akbar!" Terdengar suara muadzin nan merdu berkumandang di masjid itu.


"Mas. Adzan, Naiklah!" Nella kemudian mematikan rekaman videonya dan segera menuju tempat wudhu.


Raka menggendong Ranaya naik ke atas. Ia melangkah di antara bebatuan menuju ke pinggir sungai. Tiba-tiba batu yang Ia pijak bergeser dan Raka terpeleset, Ia berusaha meraih batu besar disebelahnya untuk berpegangan dengan sebelah tangan karena tangan lainnya masih memeluk gadis kecil itu yang nyaris terlepas darinya. Beruntung Ranaya bergayut erat dalam gendongannya. Raka terduduk meringis kesakitan dan menarik putrinya ikut terduduk di perutnya. Kalau saja Ranaya terlepas, Ia akan terpental ke sungai yang berada persis di depan mereka.


"Upapiiii… " Teriak Ranaya cemas.


"Ga apa apa sayang." Raka menenangkan Ranaya, Ia segera memeluk dan menggendong Ranaya erat kemudian Ia berusaha bangkit dan melangkah perlahan-lahan.


Nella yang tadinya hendak menuju ke tempat wudhu mendengar teriakan Ranaya segera berlari ke arah sungai di samping masjid itu. Ia hanya melihat Raka yang sedang menggendong putriya naik ke atas.

 

Nella kehilangan momen itu...

Kalaupun Ia melihat, Ia tidak akan sempat untuk mengabadikan momen itu ke dalam kameranya. Kejadian itu begitu cepat lagipula mana mungkin Ia terfikir untuk meraih ponsel dan merekamnya. Tentu Ia akan cemas dan panik sekali apabila sempat melihatnya.


Melihat Raka menggendong Ranaya. Ia menunggu mereka naik ke atas. Kemudian Nella menyambut putrinya itu. Nella tidak melihat ada keanehan. Ia kemudian melanjutkan niatnya untuk berwudhu dan mengajak anaknya ikut serta bersamanya.


Setelah shalat Nella melihat Raka menuju mobil berjalan agak pincang sebelah. Ia melihat suaminya itu seperti menahan sakit apabila kaki sebelah itu dipijakkan.


"Kenapa kakinya, Mas?  Celanamu basah, Mas dan kotor lagi!?" Tanya Nella kepada Raka. 


"Oh, ini? terpeleset di bebatuan di pinggir sungai tadi." Jawab Raka sembari masuk menuju ke mobil.


"Eh, tunggu! Astagfirullah, Mas. Pasti kamu terkilir. Sakit ya?" Tanya Nella yang segera mendekati Raka dan berjongkok memegangi ujung jari kelingking suaminya yang terlihat bengkak.


"Terpeleset gimana sih, Mas? Trus, waktu terpeleset tadi Ranaya di mana, Mas?" Tanya Nella sambil memapah suaminya untuk naik mobil ke bangku di sebelah supir.


"Ada batu yang bergeser waktu aku pijak. Ranaya masih kugendonglah, amankan? Loh kenapa aku duduk di sini, Dek?" Tanya Raka.


"It's okay. I'll drive. Kita sekarang akan ke tempat Mbah untuk diurut ya." Sahut Nella.


"Ke Mbah? Pulang kampung maksudnya? Hmm... maunyaa." Raka manyun, tetapi Ia menurut saja karena kakinya benar-benar kesakitan.


πŸ’™πŸ’™πŸ’™

Tuesday, June 14, 2022

Keseharian Ranaya



Setelah dibujuk akhirnya Ranaya semangat untuk ikut. Katanya Ranaya mau disayang Allah dan Ranaya mau bawa Umami dan Upapi ke syurga-Nya Allah. Senang sekali Nella mendengar kalimat yang diucapkan Ranaya.


Beberapa hari setelah pem-"bujukkan" itu Ranaya mulai rutin murojaah surah yang akan dilombakan. Jadwal Ranaya mengulang hafalannya adalah setiap selesai shalat dhuha, ashar, dan magrib. Jadwal itu fleksibel disesuaikan dengan aktivitasnya hari itu.


Setiap hari juga diputar murotal di rumah. Ranaya bermain sambil mendengarkan murottal tersebut. Dengan melakukan teknik hapalan seperti itulah dari kecil Ranaya dibiasakan. Sehingga Ranaya hanya menghafal ayat-ayat suci Al-Quran di bawah alam sadarnya. Dulu, pada anak pertamanya, Nella belum mengetahui ilmu seperti ini, Ia selalu memutar lagu-lagu anak yang berbahasa Inggris dan Indonesia. Namun, anak pertamanya itu tidak berumur panjang. Anaknya meninggal karena sesak nafas.


Ketika Allah memberikan mereka amanah anak kedua, Nella mulai mengubah pola pengasuhan anak. Bella mulai belajar dan mencari referensi dalam mendidik Ranaya. Pada akhirnya Nella diberi petunjuk untuk mendidik Ranaya sesuai tuntunan agama, yaitu Al-Quran dan Sunnah.


Ia mulai mengenalkan Ranaya kepada Sang Maha Pencipta dengan mentadaburi alam dan melihat ciptaan-ciptaan-Nya. Ranaya juga diajarkan doa harian, dikenalkan surga-neraka, diajarkan membaca, menonton video kisah-kisah Islami, mentadabburi, dan menghafal  Al-Quran, serta ilmu-ilmu lainnya. Setiap hari yang diperdengarkan hanya lantunan ayat suci, salawat, dan doa harian. Tanpa sadar, ketika asyik bermain Ranaya selalu mengikuti bacaan-bacaan yang ia dengar dari audio yang diputar. Tak jarang Ranaya bershalawat dan mengucapkan ayat demi ayat yang Ia dengar.


Beberapa kerabat dan teman berpendapat bahwa Nella dan Raka terlalu mengatur dan menjadwalkan segala aktivitas Ranaya serta memaksakan kehendak kepada Ranaya sehingga Ranaya tidak sebebas anak-anak seusianya. Mereka hanya melihat dan menilai dari luarnya saja. Mereka sebetulnya salut pada Ranaya. Ranaya yang sekecil itu sudah khotmil Quran, hafal juz 30, hafal doa dan hadits harian. 


Dari kecil Nella juga membuat program pengasuhan untuk Ranaya. Ia mendidik Suti memberikan aktivitas montessori dan life skill untuk Ranaya sehingga Ranaya terbiasa sehingga kemampuan motorik halus dan kasarnya sudah terlatih dengan baik.


Tiba waktunya Ranaya harus direkam membacakan surah yang sudah dihafal nya untuk dikirimkan ke panitia lomba. Mereka merencanakan akan mengambil video di dalam masjid. Ranaya, Nella, dan Raka sudah memilih masjid untuk lokasi pengambilan video tersebut. Letak masjid  tersebut lumayan jauh dari rumah mereka. Mereka menikmati perjalanan itu, hitung-hitung healing tipis-tipis kata Nella. Masjid itu sangat megah dan merupakan salah satu icon di kota itu. Sebelum ini ada beberapa masjid yang sudah menjadi lokasi pengambilan video Ranaya. Ranaya sangat menikmati perjalanan itu. Di perjalanan Ia melihat-lihat dan bertanya tentang banyak hal kepada Upapi dan Umaminya.


Satu jam perjalanan, sampailah mereka di tempat yang mereka tuju. Halaman masjid itu sangat luas. Masjid berwarna putih itu begitu indah dan terlihat mewah. Ranaya berlari-lari kecil beberapa kali Ia minta difoto. Warna gamis yang dikenakan Ranaya serasi pula dengan warna masjid tersebut