![]() |
| canva.com |
"Hari ini Ki cuekin Koko, Fe. Beberapa kali maksa terus mau datang ke kost-an. Paling minta dimanja manja. Trus ujungnya..." Zaskiy tidak melanjutkan ucapannya tapi dapat dimaknai oleh Fe.
"Kesel juga lama-lama. Ada aja alasannya menunda-nunda pernikahan." Tak terasa sudah hampir sejam zaskiy ngobrol dengan Fe.
Beberapa kali Fe memindahkan ponselnya dari telinga kiri ke telinga kanan dan dari pakai headset ke loudspeaker.
"Dek, laper." Kode Frans.
"Stttss… ambil sendiri ya, Bang. Ini masih belum kelar." Tunjuk Fe ke ponselnya, Fe merapatkan kedua telapak tangannya isyarat minta maaf dan minta dimaklumi.
Kehamilan Fe sudah memasuki pekan ke duapuluh. Kisah Zaskiy tentang rencana pernikahannya yang beberapa kali gagal selalu menarik untuk dikomentari oleh Fe. Namun Fe berusaha keras untuk tidak berkomentar. Sadar kalau komentarnya nanti hanya akan membuat temannya semakin sedih, lebih baik Ia menjadi pendengar yang baik. Menurut Fe, Zaskiy hanya butuh tempat untuk bercerita.
Seperti kata Tere Liye, "Terkadang, kita memang hanya butuh tempat untuk bercerita. Yang padanya kita bisa menumpahkan seluruh kisah. Kita tidak minta nasehat, tidak minta dibalas, tidak minta kalimat-kalimat penyemangat, cukup didengarkan. Kemudian, saat semua cerita tersampaikan, kita bisa menyeka air mata dengan lega."
Beruntung sekali Zaskiy punya sahabat seperti Fe. Fe menjadi pendengar yang baik untuk Zaskiy. Sesekali Fe merespon dengan satu--satu kata seperti, "iya..", "hmm..", dan "ohh.." tidak jarang pula Fe berkomentar secukupnya apabila Zaskiy meminta pendapatnya.
"Eh, udah dulu ya, Bestie. Kamsahamnida... Assalamualaikum...." Mendadak sambungan telepon terputus. Zaskiy memutuskan tiba-tiba dan belum sempat dijawab oleh Fe. Fe sudah terbiasa dengan ritme seperti ini. Dimatikan tiba-tiba sudah kebiasaan Zaskiy kalau menelepon. Biasanya hal itu terjadi dikarenakan waktu istirahatnya sudah habis, atau ada customer yang datang, atau ada Si Koko, Bosnya datang.
"Ga panas tu kuping telponan lama bener. Awas loh, radiasi tar. Lain kali pake headset aja." Bawel Frans ketika melihat istrinya sudah duduk di sampingnya.
"Hmm…" respon Fe.
"Eh, pamali ambil-ambil lauk orang." Frans menoleh ke Fe yang mencomot ikan teri di piringnya.
"Apaan sih! Pelit amat. Lagian dikit-dikit pamali dikit-dikit pamali. Laa haula wa laa quwwata illa billah keles, Bang." Fe berniat akan melakukannya kembali, kali ini Ia gagal mencomot kacang goreng sambal di piring suaminya karena dengan cepat Frans menjauhkan piringnya dari jangkauan Fe.
"Abaaaaang! Mintaaaaa…" rajuk Fe.
Melihat istrinya merajuk, Frans kemudian membujuknya dengan menyuapkan sesuap nasi ke mulut istrinya itu, dan tentu saja disambut cepat oleh Fe dengan menganga lebar.
"Napa lagi Ki, Dek?" Tanya Frans.
"Hmm... itoo?" Jawab Fe dengan Mulut yang penuh dengan nasi.
"Heh! Pam…" Frans tidak jadi melanjutkan kata-katanya karena langsung disela dan dipotong Fe.
"Pam...anku dari desa... Dibawakannya rambutan, pisang, dan sayur-mayur segala rupa… ha ha ha." Tawa Fe pecah menyela ucapan suaminya yang akan menyebut pamali dengan lirik lagu Pamanku Datang oleh penyanyi cilik Tasya itu.
"Uhuk.. uhuk!" Fe terbatuk-batuk karena tersedak.
Frans buru-buru meraih gelas air minum dan memberikannya untuk Fe sambil menepuk-nepuk pundak Fe.
"Koko menunda lagi rencana pernikahan mereka. Ini udah kali ke tiga Dia menundanya loh, Bang. Ih! Niat ga sih!" Ujar Fe kesal.
"Pertama, alasannya istrinya mau melahirkan anak ketiga mereka, eeh.. udah lahiran, dijanjiin lagi akan mempersiapkan pernikahan setelah toko barunya dibuka, menunggu itu aja bukan sehari dua hari, tidak pula seminggu dua minggu, menunggu apa? Menunggu hari baik pula, lama dong ya?? eh hari baik yang udah diperhitungkan sesuai kalender Cina udah tiba dan toko udah buka, tiba-tiba tadi Zaskiy bilang Si Koko ntuuu ngaku habis ditipu rekan bisnisnya. Ki disuruh sabar dooong oleh Si Koko karena Si Koko mau urus penipuan itu dulu, sebab dana untuk menikah dipinjem sama yang nipu. Fe menarik nafas panjang.
"Minum… minum dulu. Semangat amat sih!" Lagi-lagi Frans menyodorkan gelas berisi air ke mulut Fe.
Fe Meneguk tiga tegukkan air dalam gelas itu.
"Seribu alasan banget! Repeeet amat sih!" Kalimat penutup Fe.
Frans hanya geleng-geleng kepala.



No comments:
Post a Comment