"Ranaya salah apa coba, Viy?" Tanya Nella siang itu kepada Viyanti sahabatnya ketika di komplek orang-orang sibuk membahas tentang fitnah Bunda Zafira terhadap anaknya Ranaya setelah penampilan dalam event di sekolahnya itu sukses habis. Bukan kebetulan, namun rata-rata anak-anak di komplek itu bersekolah di sekolah yang sama.
Sekolah itu adalah Sekolah Dasar swasta satu-satunya di zona komplek tersebut. Ranaya dan 4 anak lainnya bersekolah di tingkat kelas yang sama di SDS Insan Qur'ani itu, ada yang satu kelas mereka berdua dan ada juga yang masing-masing beda kelas.
Dua hari yang lalu, Delfi, Bundanya Zafira yang tinggal di komplek itu mengundang beberapa Bunda-bunda lainnya ke whatsapp grup yang Ia buat. Zafira kebetulan sekelas dengan Ranaya. Di grup yang Ia buat itu bergabung beberapa Bunda yang anaknya bersekolah di sekolah yang sama, anak-anak mereka tidak semua yang satu tingkat kelas. Tidak lama setelah Umami-nya Ranaya diundang ke grup itu, malam itu Ia mulai membaca beberapa chat masuk yang menjelaskan apa tujuan grup itu dibuat.
"Malam Momsky, maaf ya diriku sudah join kan Moms semua ke grup ini tanpa izin terlebih dahulu. Gini loh, Jeunk, di sini kita akan bahas penampilan bebas anak-anak kita untuk kegiatan di sekolah hari Sabtu pekan depan." Jelas Bunda yang membentuk grup itu.
Dengan terperinci Bunda Zafira menjelaskan timeline penampilan yang akan ditampilkan, Ia sudah merancang dan menyusun naskah dan skenario yang akan digunakan, semua itu sudah Ia ketik dan shared di WAG. Beberapa Bunda yang lain ada yang menanggapi, menimpali, menjawab, dan ada juga yang bertanya. Namun, tak sedikit yang hanya menyimak saja tanpa komentar apa-apa. Di sela-sela itu tiba-tiba notifikasi pesan WA Nella berbunyi.
"Ting.. ting.." Ia lalu membuka dan membacanya.
"Apa sih maksudnya Jeunk Delfi itu, Mi? Bingung Eike." Nella, Umaminya Ranaya itu ternyata menerima chat japri dari Bundanya Navee sahabatnya yang bernama Viyanti. Viyanti juga termasuk member grup tersebut. Dia gerah membaca chat dari Delfi bundanya Zafira yang panjangnya tidak terbilang dan lebarnya tidak terjangkau, seperti istilah matematikanya panjang kali lebar jadilah luas seluas samudera.
"Sudah, ikuti saja dulu. Menurutku idenya Delfi bagus kok, tapi masih perlu ditambah sana sini dikitlah." Balas Nella, dan dia kembali stay tune ke WAG lagi.
Sementara ditinggal sebentar, diskusi di WAG berjalan alot. Intinya, over all sudah oke dan fix. Penampilan yang akan ditampilkan oleh anak-anak komplek itu adalah drama musikal. Pada Akhir chat mereka di WAG udah sepakat untuk mulai latihan pada keesokkan harinya dan mereka saling mengingatkan properti apa saja yang akan dibawa serta kostum apa saja yang harus disiapkan untuk pergantian scene.
"Apaan, masih mentah banget. Ditanyain dia bilang gitu-gitulah pokoknya, gitu-gitu gimana. Tuh besok loh mulainya." Ketik Viyanti lagi.
"Hmm... ya, tapi dia open kok, belum fix lah, masih bisa dipoles lagi. Betewe, sorry ya, mungkin besok Aku dan Ranaya ga bisa ikutan. Sebenarnya sayang sekali Ranaya ga bisa ikutan. Kayakanya di komplek ini hanya anakku sendiri yang ga ikut deh." Balas Nella
"Loh kok Kamu ga ikut sih? Mau ke mana? Hayo, alasan kan? Hmm… mana asyik ga ada kamu dan Ranaya. Nanti Navee temennya siapa?"
"Ada acara sertijab di kantornya Upapi Ranaya di luar kota jadi kami berangkat besok pagi acaranya malam, Bestie. Aku usahakan rundingan sama Upapi-nya dulu kalau bisa Aku dan Ranaya nyusul. Aku juga udah japri ngabarin Jeunk Delfi tadi. Udah centang biru tapi belum direspon. Kuatir besok dia salah paham."
"Ok Bestie, tapi janji ya, nyusul! Awas loh!"
Keesokan harinya, setelah diskusi panjang malam itu di WAG dengan sedikit trouble, seperti drama debat kecil, usulan-usulan di luar rencana, bahkan ada yang protes untuk mengubah naskah, skenario, dan lokasi take gambar dikarenakan belum jelas konsep dari penampilan yang akan ditampilkan itu. Maka ada lah beberapa yang tersinggung. Salah satunya adalah Bunda Zafira. Ia tersinggung akibat idenya tidak dipakai karena dimentahkan kembali oleh beberapa Bunda yang lain, bahkan ada yang merasa pekerjaan ini buang-buang waktu, mana lokasi shootingnya jauh, dan beberapa miscommunication lainnya.
Oleh karena itu, ada beberapa Bunda yang izin leave grup dengan alasan bermacam-macam serta dua orang tidak bisa ikut shooting juga meminta izin tidak bisa bergabung dengan yang lain karena ada kondangan. Hal ini menyebabkan Bunda Zafira yang memiliki konsep dan rencana yang sudah matang pun memutuskan untuk tidak hadir juga pada hari itu dengan alasan di luar logika.
"Ngadi-ngadi ih Bundanya Zafira itu. Kemarin ngotot mau shooting di sana, pan die yang ngusulin tempatnya di sana. Kok te-tiba dia bilang Ayahnya Zafira ga ngebolehin anaknya ke sana karena tempat itu disebutnya tempat keramat. Gimana sih maksudnya? Lelah Hayati, Barbie iihhhh!" Kesal bunyi chat WA Viyanti yang diterima oleh Nella.
"Udah, biarin aja. Jangan sampai proyek ini gatot. Kamu ambil alih aja semua. Kalau Dia batal ya biarin aja itu keputusannya sendiri. Lagipula Bunda Afi udah bujuk dia untuk datang tapi dia tetap ga mau. Insya Allah aku ikut. Barusan aku udah diskusi sama Upapi-nya Ranaya kami akan ikut kalian dulu setelah kelar di sana, sorenya kami berangkat untuk menghadiri acara kantornya Dia." Jelas Nella.
"Syukurlah, ih happy aku. Navee ada temannya deh. Eh kamu udah bilang ke Bunda Zafira bahwa akhirnya kamu bisa datang? Nanti dia salah paham loh!"
"Already, tapi dia tetap bilang ga bisa ikut. Katanya lanjut aja."
=======
Sudah sepekan latihan berlangsung, tibalah pada hari yang dinanti-nanti. Anak-anak menampilkan drama musikal pada pertunjukan pentas seni di sekolahnya itu. Penampilan mereka memukau seluruh penonton dan mendapatkan standing applause. Para Bunda rempong komplek merasa senang luar biasa mereka mengucap syukur dan merayakan kegembiraannya dengan foto bersama serta makan bersama di cafe yang lagi booming di kota itu.
Namun, seminggu sesudah acara itu selesai, Bunda Zafira tidak terima dengan kenyataan ini. Penampilan anak-anak yang luar biasa itu menjadi omongan di komplek itu. Bunda Zafira semakin kesal hatinya. Ia merasa Bunda Ranaya dan yang lainnya tidak menghargai karyanya, karena naskah dan skenario yang karyanya dipakai dan dibawakan dalam penampilan itu tanpa izin terlebih dahulu. Ia menyebut Bunda Ranaya munafik awalnya tidak ikut dan tiba-tiba jadi ikut.
Hal itu merembet-rembat sampai ke sekolah. Ia menemui guru kelas Ranaya dan Zafira. Dia tidak mau anaknya di dekatkan dengan Ranaya. Dia menarik diri dan membuat omongan yang tidak-tidak tentang Ranaya di mana-mana. Baik di sekolah maupun di komplek rumah. Ia marah karena menurutnya guru-guru tidak memperhatikan putrinya, guru-guru hanya peduli kepada Ranaya. Dia mulai protes kebijakan-kebijakan di kelas. Ia menuduh guru-guru memperlakukan Ranaya dengan spesial karena setiap apapun kegiatan di kelas guru selalu memilih Ranaya. Akhirnya, baik di sekolah maupun di komplek sibuk membicarakan tentang itu. Lama kelamaan Nella gerah mendengar tentang itu, Ia merasa anaknya difitnah oleh Bunda Zafira.
Hal itu membuat Nella meradang dan mau mendamprat Delfi Bundanya Zafira. Namun, dicegah oleh Viyanti.
"Udah ga usah dipikirin. Cukup tau ajalah."
"Jelas-jelas kita ga pake naskahnya dia, lu tau kan? Semua dialog, tokoh, alur, setting, dan adegan ngalir aja pas di lokasi. Hanya aja kita tetap di lokasi yang dia sebut. Kenapa kita tetap di lokasi semula, karena udah kadung." Nella emosi
"Kesel gue! Trus sekarang Ranaya dibawa-bawa. Jangan bawa-bawa anak dong. Maunya apa? Kasihan kan Ranaya."
"Udah, dia sirik aja."

No comments:
Post a Comment