HOME

Tuesday, June 28, 2022

Keikhlasan Paripurna

Satu per satu masalah terselesaikan. Perempuan itu tidak berani lagi datang. Samuel dan Nina sudah kembali berbaikan. Dengan besar hati Nina menerima suaminya kembali. Dikhianati memang tidak enak, tapi demi keutuhan rumah tangga dan anak-anak terkadang para perempuan rela mengenyampingkan perasaannya sendiri.


"Kalau dituruti ego, aku udah nggak mau, Mbak untuk menerima Samuel,"


"Kamu luar biasa, Nin. Kalau Mas Raka begitu mungkin akan Mbak cincang itunya. Enak aja sana sini main celap ce…," tanpa sadar Nella membuat Nina sedih. Nina tertunduk dan meneteskan air matanya.


"Eh, sorry.. sorry.. hmm.. mbak nggak bermaksud membuatmu sedih. Seperti yang mbak bilang tadi, kamu perempuan yang luar biasa. Syurga loh balasannya kalau kamu bemar-benar ikhlas," Nella berusaha menyenangkan hati Nina. 


"Hmm… ga pa-pa, Mbak. Semua orang juga akan bilang begitu. Nggak semua orang mengalami seperti apa yang aku alami, Mbak. Setiap kita diuji dengan persoalan yang beda-beda,"


"Mungkin, kalau aku diuji dengan ujian yang diberikan Allah kepada Mbak dan Mas Raka, aku juga nggak akan sanggup," Nina menyeruput ice lime tea di depannya.


"Eh.. hmm, iya sih, eh apa ujian yang kamu maksud?" tanya Nella bingung.


"Ya apa aja misalnya, kan aku nggak tau Mbak dan Mas diuji apa. Aku cuma kasih contoh saja. Bahwa Allah itu menguji tidak di luar batas kemampuan hambanya kan, Mbak?"


"Sawang sinawang aja," tambah Nina.


Nella hanya terdiam dan mengunyah kentang goreng yang ia pesan.


"Eh sudah sore, ayo kita pulang. Hmm… yang kamu cari sudah semua? Ada lagi yang mau dibeli?" tanya Nella sambil mengintip ke trolly belanjaan yang ada di dekatnya. Siang itu Nella menemani Nina membeli kebutuhan dan perlengkapan baby Nina.


"Oh, udah kayaknya. Nggak pa-pa, kalau ada yang belum masih bisa dicari lagi. Sepertinya aku udah lelah, Mbak,"


Kemudian mereka pulang, Nella mengendarai mobilnya dengan santai. Diam-diam Nella memperhatikan Nina, Nina tampak melamun dan tiba-tiba Ia meneteskan air mata.


"Na, are you okay?"


Nina segera menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Ia berusaha tersenyum, tapi kesedihan di wajahnya tidak bisa Ia tutupin.


"Nggak, kalau kamu mau cerita, cerita aja," Nella menepikan kendaraannya.


"Ini bukan kali pertama Samuel berkhianat dalam pernikahan kami, Mbak. Ini sudah kesekian kalinya,"


"Luka itu tidak pernah sembuh. Ia terus menganga,"


"Na, wajar kamu sedih. Tapi, kamu harus ingat, alasan kamu untuk memaafkan dan menerimanya kembali adalah semata-mata demi keutuhan rumah tangga,"


"So, relaks, kamu harus percaya dia. Aku yakin kali ini Samuel akan berubah, kalian akan menjadi the happiest family, ikhlas dan memaafkan adalah kekuatan paripurna yang kamu miliki,"


"Sedih, kecewa, dan marah wajar banget. Manusiawi. Tapi memaafkan dan menerima seseorang yang sudah berkhianat it's amazing, beb," Nella menatap Nina dengan penuh kasih sayang dan bangga.




No comments:

Post a Comment