"Dear, Diary
Pagi tadi aku udah buru-buru datang cuma buat ketemu Ogef, asal bisa bicara atau bisa apa ajalah yang penting ketemu aja dulu,"
"Aah, sedih! Kecewa! Benci Ogef!"
"Memang aku nya telat sih, jadi g bisa melakukan hal-hal yang udah aku khayalkan dan rencanakan bersama dia. Eh, pas aku datang, dia udah fokus sama anak-anak yang lain."
Lita menulis diary lagi malam ini, ia memang selalu menulis diary untuk sekedar meluapkan dan menumpahkan semua perasaannya.
Lita menumpahkan rasa marah, kecewa, dan sedih yang ia rasakan karena sikap Ogef kepadanya melalui goresan pena pada lembaran-lembaran kertas di buku diarynya.
"Kenapa ya Ogef selalu nyebelin kalau sudah di depan orang. Dia selalu bikin aku ga nyaman dengan keadaan,"
Lita terbawa emosi saat menulis kata demi kata pada buku yang ia sebut sebagai sahabatnya itu.
"Diary, masa sih dia ga bisa menunjukkan ke mereka kalau dia sayang aku? Masa sih dia bisa secuek itu ke aku, dan malah dia selalu memuji cewek-cewek itu ketimbang aku? Bilang si A keren lah, bilang si B bagus lah," Lita terus saja ngedumel melalui tulisannya.
"Aku tu pengen pengakuan banget loh. Sementara kalau ga sama mereka, dia tu caper banget loh ke aku. Ih, males banget. Aku nggak akan lagi mau dicaperin, illfil, bodo amat!"
Lita berhenti sejenak,
Ia membaca ulang kalimat demi kalimat yang ia tulis. Ia mengerutkan dahinya.
"Ih.. apa sih ini! Norak banget! Idih, ga banget," Lita mencoret tulisan demi tulisan yang sudah ditulis.
"Gede kepala tar dia," Lita tidak hanya mencoret-coretnya. Ia juga merobek kertas yang sudah ia tulis sebanyak dua lembar itu.
"Huh… aku harus bisa bersikap objektif kayak Ogef. Aku harus kesampingkan urusan pribadi," ucap Lita lebih bijak kali ini.
Ogef adalah sahabatnya sejak tiga belas tahun lalu. Mereka mulai dekat sejak Ogef selalu memberi perhatian kepadanya. Bukan hanya perhatian, tetapi Ogef juga sudah mengungkapkan perasaannya kepada Lita. Lita diam-diam juga mengagumi Ogef.
Ogef adalah sosok yang Lita kagumi. Ogef tipe laki-laki yang ia idamkan. Namun, Lita nggak semudah itu menerima Ogef untuk bisa masuk dalam hidupnya.
"Kenapa? Ya Tuhan, kenapa selalu stuck di sini sini aja. Kapan sih bisa menyatunya?"
"Benar kata Ibu, hubungan ini tidak akan ada tepinya. Lebih baik sudahi saja."
No comments:
Post a Comment