Akhir-akhir ini setiap kali pulang dari rumah Ibu mertuanya, Nella sering merasa gondok. Bagaimana tidak mendongkol, sebab selama ini yang dirasakan Nella dari perlakuan Ibu mertua ke anaknya dan anak adik iparnya tidak sama. Beberapa kali Nella berusaha untuk menepis perasaan tidak nyaman yang dirasakannya itu. Tapi penampakkan itu terlalu menyakitkan dan terpampang nyata.
Perasaan itu bukan hanya dirasakan oleh Nella saja, pernah suatu ketika Suti, babysitter anaknya, Ranaya menyampaikan hal itu kepada Nella walau saat itu tak begitu diindahkannya, bukan berarti Ia tidak mengingatnya.
"Bu, kenapa ya Uti ga mau kalah kalau mendengar Suti menceritakan kelebihan Dedek?"
"Hmm, ada ada aja kamu, Ti."
"Bener, Bu, 'kan Suti cerita ke Uti kalau Dedek ikut lomba hafalan surah pendek. Suti bilang kalau Dedek udah hapal sampai surah Abasa." Sambung Suti
"Lalu Uti bilang Mbak Tunik sudah hafal juga. Padahal kan Mbak Tunik ga hapal bu."
"Ha.. ha.. sok tau kamu, Ti."
"Lah iya, Bu, kan diam-diam Suti tanya dan tes hafalannya Mbak Tunik, eh.. ternyata Mbak Tunik belum hafal sama sekali. Kenapa ya, Bu Uti begitu ke Dedek?"
Nella yang mendengar pertanyaan itu melihat Suti sebentar Ia hanya diam dan tak menjawab Ia terus saja menekan-nekan keyboard notebooknya.
Hari itu Nella tampak sibuk sekali. Waktu itu Ia sedang hectic. Deadline tulisannya harus direvisi sebelum di-publish. Nella adalah a housewife yang nyambi menjadi a web content writer. Namun, Dari pagi Ia sudah di dapur menyiapkan sarapan untuk dibawa oleh Ranaya ke sekolah. Suti selalu membantunya untuk mengerjakan pekerjaan di rumah. Namun tidak dengan urusan yang satu ini. Seperti biasa, Ia tidak mau bagian itu diambil alih oleh Suti. Ia ingin mengerjakannya sendiri, karena menurutnya memasak makanan untuk keluarga itu ternyata dapat menghadirkan kehangatan di hati khususnya untuk anak semata wayangnya, Ranaya.
Nella terkesan betul dengan masa kecilnya yang selalu disiapkan sarapan oleh Ibu. Di sekolah Ia merasa bangga membuka bontot (baca: bekal makanan) dari Ibunya. Masakan yang dimasak oleh Ibu tiada tandingan cita rasanya. Ia ingin melakukan hal itu kepada Ranaya seperti yang pernah dilakukan oleh Ibu kepadanya.
Sejak Ibunya meninggal dua tahun yang lalu, banyak sekali kenangan manis yang tak bisa dilupakannya dari perempuan yang luar biasa yang disapanya dengan sapaan Mama itu. Hal yang sangat dan paling dirindukan Nella adalah masakan khas Mama. Waktu tak pernah terulang dan kembali. Hanya kenangan yang akan bisa selalu abadi dalam ingatan. Sejak Nella menikah dan memiliki Ranaya, rutinitas memasakkan makanan untuk keluarga menjadi prioritasnya.
Sudah acap kali Ia menerima keluh kesah Suti tentang perlakuan Ibu mertuanya terhadap putrinya. Karena memang Suti selalu menemani Ranaya jika sedang berada di rumah Eyang Utinya itu. Nella tak pernah menggubrisnya, melainkan selalu mengatakan itu hanya perasaan Suti saja.
Namun, akhir-akhir ini tidak dapat dipungkirinya, bahwa dengan mata kepalanya sendiri Ia sering melihat dan menyaksikan perlakuan dan perkataan Ibu mertuanya itu seperti apa yang selalu disampaikan oleh Suti kepadanya. Yang tampak olehnya, Ibu mertuanya itu terlalu membela dan mengedepankan cucunya yang bernama Tunik itu. Tunik adalah cucu pertamanya dari anak perempuan bungsunya. Ya, Ibunya Tunik adalah adik dari suamiku.
Malam ini mereka baru pulang dari rumah Eyang Uti karena ada hajatan di sana. Setelah Raka, suaminya memarkir kendaraan di garasi rumahnya, Nella langsung turun, dan membuka pintu rumah. Sementara Ranaya tertidur di mobil, tugas Upapi yang menggendongnya ke kamar. Ia dan Suti masuk berbarengan ke dalam rumah. Ia menggerutu dan mengoceh karena kesal.
"Benar apa yang kamu bilang selama ini, Ti. Sebenarnya Saya sudah sering lihat dan dengar perbedaan perlakuan Uti ke Ranaya dan Mbak Tunik. Saya tahu dan saya merasakan. Kesal juga tapi masih berusaha positif thinking aja." Sesampai di dapur dia mulai meluapkan kekesalannya itu.
"Tapi, kali ini Uti keterlaluan!"
"Kamu lihat kan tadi bagaimana Uti menanggapi cerita Upapi Ranaya?" Suti mengangguk-angguk sambil mengangkat perlengkapan Ranaya dari mobil ke dalam rumah sepulang dari rumah Uti. Dia tidak berkomentar apa-apa. Ia paham betul, bagaimana watak induk semangnya itu. Jika salah jawab maka Ia akan kena akibatnya.
[TBC-Next Episode]


No comments:
Post a Comment