Azan subuh, zuhur, ashar, magrib dan isya berlalu silih berganti. Sudah lama juga tempat ini sepi tidak berpengunjung. Aku melihat yang datang ke sini hanya orang-orang yang itu-itu saja. "Aah.. bosan", bathinku. Mereka datang lalu salat, terus pergi. Entah karena sudah kenal denganku atau memang sudah malas melihatku. Memang kebanyakan yang datang menghampiriku biasanya orang-orang baru. Orang yang salat dan berisitirahat karena lelah dalam perjalanan. Mereka itulah yang memberiku recehan bahkan lembaran dari saku atau dompetnya.
Malam telah tiba, aku di sini, berteman kelam dengan teman-temanku yang juga senasib denganku. Tiang masjid tempatku bersender selalu menopang tubuhku yang mulai renta ini. Tak sanggup lagi aku berkeliling di antara jama'ah ibu-ibu seperti tarawih-tarawih tahun lalu. Aku diopor ke sana kemari, kadang sudah dua bahkan tiga kali jalur itu kulalui, yang acuh tetap saja acuh tidak melihatku. "Ah, biar saja, jangan ambil hati", bisikku pada diriku.
"Ada yang liat kotak amal tadi?", ucap lirih seorang ibu-ibu celingak celinguk mencari sesuatu. "Hmm... dia, kenapa mencariku? Bukannya tadi aku sudah mau sepuluh kali lewat di depannya,", bathinku. "Ada, tadi ada", ujar nenek yang duduk di sebelah kanannya yang tadi mengucap basmallah memberiku uang yang diambil dari uncangnya. "Iya, Bu. Tadi ada, lama diam di depan ibu, saya fikir ibu ga ngisi", ujar seorang perempuan yang rupawan lagi menawan di sebelah kirinya yang kuingat memberiku 2 lembar uang yang dilipat, yang merah di bagian dalam dan yang ungu dibagian luar. Aku juga tidak mengerti mengapa dia melakukan hal itu setiap memberiku uang.
Tiba-tiba aku berasa tubuhku diangkat diopor dari tangan ke tangan "Hei... hei!, aku bisa jalan kok!", teriakku. Namun tak ada yang mendengar. Sampailah aku di tangan ibu yang mencariku tadi. "Hmm... enak aj ga ngisi, emang lu aj yang bisa, berapa lu tadi ngisi? Sepuluh ribuan kan tadi? Nih liat ni, gue limapuluh ribu", ujarnya sewot sambil melipat-lipat uang itu di atas kepalaku. Suaranya pelan dan cuma aku sendiri yang mendengarnya "Aduh, Bu. Masukin langsung kenapa, Bu?. Lama juga aku didekap diketiak si ibu. Uang itu dibolak balik dilipat dibuka berulang-ulang, barulah diberikan kepadaku. "Huftt... dilepas juga", ujarku sambil menarik nafas lega.
Teringat cerita tarawih tahun lalu. Setiap tarawih aku berkeliling dengan riang gembira menyapa ibu-ibu yang kulewati, kadang ditahan dan dipegang dikasih uang, aku senang kelak bisa menjadi saksi amal jariyah mereka di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala. Itu duluu sewaktu aku masih gagah dan kuat. Sekang aku mulai renta dan sudah mulai keropos. Sudah ada yang menggantikanku. Tugasku ini akan digantikan anak cucuku, kotak-kotak amal yang lebih keren, ada yang dari kaleng ada juga kayu yang bercat warna-warni dilengkapi gembok pengaman. Sehingga sulit dibobol maling. Sepertiku diriku dulu.
"Beramal saja dengan ikhlas, bersedekah itu sedikit tapi ikhlas, lebih baik lagi banyak dengan bersih dan tulus hati", akhir ceramah pak ustaz kala itu. 😊
Malam telah tiba, aku di sini, berteman kelam dengan teman-temanku yang juga senasib denganku. Tiang masjid tempatku bersender selalu menopang tubuhku yang mulai renta ini. Tak sanggup lagi aku berkeliling di antara jama'ah ibu-ibu seperti tarawih-tarawih tahun lalu. Aku diopor ke sana kemari, kadang sudah dua bahkan tiga kali jalur itu kulalui, yang acuh tetap saja acuh tidak melihatku. "Ah, biar saja, jangan ambil hati", bisikku pada diriku.
"Ada yang liat kotak amal tadi?", ucap lirih seorang ibu-ibu celingak celinguk mencari sesuatu. "Hmm... dia, kenapa mencariku? Bukannya tadi aku sudah mau sepuluh kali lewat di depannya,", bathinku. "Ada, tadi ada", ujar nenek yang duduk di sebelah kanannya yang tadi mengucap basmallah memberiku uang yang diambil dari uncangnya. "Iya, Bu. Tadi ada, lama diam di depan ibu, saya fikir ibu ga ngisi", ujar seorang perempuan yang rupawan lagi menawan di sebelah kirinya yang kuingat memberiku 2 lembar uang yang dilipat, yang merah di bagian dalam dan yang ungu dibagian luar. Aku juga tidak mengerti mengapa dia melakukan hal itu setiap memberiku uang.
Tiba-tiba aku berasa tubuhku diangkat diopor dari tangan ke tangan "Hei... hei!, aku bisa jalan kok!", teriakku. Namun tak ada yang mendengar. Sampailah aku di tangan ibu yang mencariku tadi. "Hmm... enak aj ga ngisi, emang lu aj yang bisa, berapa lu tadi ngisi? Sepuluh ribuan kan tadi? Nih liat ni, gue limapuluh ribu", ujarnya sewot sambil melipat-lipat uang itu di atas kepalaku. Suaranya pelan dan cuma aku sendiri yang mendengarnya "Aduh, Bu. Masukin langsung kenapa, Bu?. Lama juga aku didekap diketiak si ibu. Uang itu dibolak balik dilipat dibuka berulang-ulang, barulah diberikan kepadaku. "Huftt... dilepas juga", ujarku sambil menarik nafas lega.
Teringat cerita tarawih tahun lalu. Setiap tarawih aku berkeliling dengan riang gembira menyapa ibu-ibu yang kulewati, kadang ditahan dan dipegang dikasih uang, aku senang kelak bisa menjadi saksi amal jariyah mereka di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala. Itu duluu sewaktu aku masih gagah dan kuat. Sekang aku mulai renta dan sudah mulai keropos. Sudah ada yang menggantikanku. Tugasku ini akan digantikan anak cucuku, kotak-kotak amal yang lebih keren, ada yang dari kaleng ada juga kayu yang bercat warna-warni dilengkapi gembok pengaman. Sehingga sulit dibobol maling. Sepertiku diriku dulu.
"Beramal saja dengan ikhlas, bersedekah itu sedikit tapi ikhlas, lebih baik lagi banyak dengan bersih dan tulus hati", akhir ceramah pak ustaz kala itu. 😊
No comments:
Post a Comment