Tiba juga waktu yang ditunggu-tunggu si kakak. Waktunya mudik eh.. balik kampung. Dari pagi kakak sudah sibuk siap-siap. Beberesnya sudah dari sejak kapan tahu dibolehin mudik eh.. balik kampung ding. Sebelumnya dia galau juga bisa mudik eh.. balik kampung atau tidak, sebab berita-berita di tv menyebutkan larangan mudik, namun balik kampung dibolehkan.
Nah loh! Bingung kan lu pada?! Hihi... begini, kalau mudik itu dilarang, karena itu istilah untuk orang yang bekerja dan menetap di suatu tempat lalu mudiknya ke tempat yang lain untuk bersilaturrahim. Itu tidak dibolehkan. Sementara pulang kampung sendiri adalah pulangnya orang yang berada di suatu tempat untuk bekerja sementara keluarganya ada di kampung. Nah, yang begitu boleh untuk balik deh.
Terlepas dari itu sebetulnya status PSBB ataupun tidak kakak tetap bisa pulang. Kampung kakak berada di salah satu kabupaten di provinsi yang sama. Jadi memang belum ada larangannya untuk mudik maupun balik kampung.
"Jadi gimana ya, Bu, Tuti bisa mudik ga sih, Bu tahun ini?".
"Loh memangnya kenapa? Aman kok", ujar suamiku yang biasa Tuti panggil Bapak.
"Yee, benaran, Pak? Alhamdulillah", spontan kakak saat dikasih tahu.
"Aman, belum ada larangan toh Jambi belum kena aturan PSBB di masa corona ini", jelas abang lagi.
"Iya, lagipula kakak tetap bisa balik karena kakak bekerja di sini dan akan balik untuk berkumpul dengan keluarga", tambahku lagi.
"Kalau ibu sih pengennya kakak ga mudik ataupun balik kampung", harapku sambil tersenyum meliriknya.
Cuaca panas, malah lebih terik dari biasanya. Kami sekeluarga mengantar Tuti mudik ga apa apa sebut mudik karena belum ada larangan. Di perjalanan aku terkenang Emak. Biasanya Emak minta ikut. Namun kali ini berbeda. Cepat-cepat aku alihkan fokusku sebelum air mata menetes di pipi.
"Eh, habis mengantar kakak kita langsung saja ke tempat bunda, Al", kataku memecah keheningan menoleh ke Alvaro yang duduk di belakang sama kakak.
"Iya, Ummiey aku setuju. Ayo, Biey kita langsung ke Padang. Ke tempat bunda. Seruuuu... kita bisa ke pantai", riangnya Alvaro yang ga paham kalau Ummiey cuma bercanda.
"Nah, itu yang ga bisa, Dek. Di Padang sekarang statusnya sudah PSBB yaitu larangan masuk atau keluar kota itu".
Tidak puas dengan jawaban dari Tuti Alvaro berkerut kening. "Memangnya kenapa dilarang, Biey? Ayolah kita ke kampung bunda", ajaknya.
"Kakak benar Al, dilarang karena untuk mencegah penularan corona lebih luas lagi. Di kota Padang pasien yang terjangkit corona semakin bertambah", jelas Abbiey. "Kita tidak tahu wabah itu bisa saja ditularkan dari orang-orang yang datang atau sebaliknya orang-orang yang datang bisa terjangkit dari orang yang ada dalam kota Padang", sudah kayak pakar dan pengamat saja Abbiey menjelaskannya kepada Alvaro.
Sudah barang tentu larangan ini membuat kita yang memiliki keluarga di kota lain atau sebaliknya akan merasa sedih. Aku dan Uni juga merasakan hal yang sama. Ditambah, lebaran tahun ini akan terasa berbeda karena tidak ada sosok Emak lagi...
"Jadi lebaran ini aku ga bisa ketemu Bang Qy", sedih juga melihat Alvaro jadi murung tidak bisa bertemu dengan abang sepupunya.
"Ya, Nak. Apapun itu. Kita harus patuh. Larangan ini dibuat untuk keselamatan kita bersama. Kita masih bisa video call abang kok", hiburku padanya.
Semua hening dengan dalam imajinasinya masing-masing. Begitupun aku, sudah merasa berhari raya bersama sanak keluarga di kampung dengan tradisinya yang khas.
Alvaro dengan lamunannya berlebaran bersama Bang Qy, berlarian di pantai dan makan-makanan sea food yang dijajakan penjual di sepanjang pantai.
Khayalan Abbiey dengan kegembiraannya dapat bersendagurau dengan abang iparnya yang selalu memberikan pepatah petitih yang selalu dirindunya, hubungan mereka amat dekat walau hanya ipar.
"Aaah.." itu bukan khayalan tapi harapan dan mimpi yang harus bisa diraih dan didapat, tidak sekarang tapi mungkin pekan depan, bulan depan, atau tahun depan. InsyaAllah bersabarlah...
“Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar”. Ali Imran 146
Nah loh! Bingung kan lu pada?! Hihi... begini, kalau mudik itu dilarang, karena itu istilah untuk orang yang bekerja dan menetap di suatu tempat lalu mudiknya ke tempat yang lain untuk bersilaturrahim. Itu tidak dibolehkan. Sementara pulang kampung sendiri adalah pulangnya orang yang berada di suatu tempat untuk bekerja sementara keluarganya ada di kampung. Nah, yang begitu boleh untuk balik deh.
Terlepas dari itu sebetulnya status PSBB ataupun tidak kakak tetap bisa pulang. Kampung kakak berada di salah satu kabupaten di provinsi yang sama. Jadi memang belum ada larangannya untuk mudik maupun balik kampung.
"Jadi gimana ya, Bu, Tuti bisa mudik ga sih, Bu tahun ini?".
"Loh memangnya kenapa? Aman kok", ujar suamiku yang biasa Tuti panggil Bapak.
"Yee, benaran, Pak? Alhamdulillah", spontan kakak saat dikasih tahu.
"Aman, belum ada larangan toh Jambi belum kena aturan PSBB di masa corona ini", jelas abang lagi.
"Iya, lagipula kakak tetap bisa balik karena kakak bekerja di sini dan akan balik untuk berkumpul dengan keluarga", tambahku lagi.
"Kalau ibu sih pengennya kakak ga mudik ataupun balik kampung", harapku sambil tersenyum meliriknya.
Cuaca panas, malah lebih terik dari biasanya. Kami sekeluarga mengantar Tuti mudik ga apa apa sebut mudik karena belum ada larangan. Di perjalanan aku terkenang Emak. Biasanya Emak minta ikut. Namun kali ini berbeda. Cepat-cepat aku alihkan fokusku sebelum air mata menetes di pipi.
"Eh, habis mengantar kakak kita langsung saja ke tempat bunda, Al", kataku memecah keheningan menoleh ke Alvaro yang duduk di belakang sama kakak.
"Iya, Ummiey aku setuju. Ayo, Biey kita langsung ke Padang. Ke tempat bunda. Seruuuu... kita bisa ke pantai", riangnya Alvaro yang ga paham kalau Ummiey cuma bercanda.
"Nah, itu yang ga bisa, Dek. Di Padang sekarang statusnya sudah PSBB yaitu larangan masuk atau keluar kota itu".
Tidak puas dengan jawaban dari Tuti Alvaro berkerut kening. "Memangnya kenapa dilarang, Biey? Ayolah kita ke kampung bunda", ajaknya.
"Kakak benar Al, dilarang karena untuk mencegah penularan corona lebih luas lagi. Di kota Padang pasien yang terjangkit corona semakin bertambah", jelas Abbiey. "Kita tidak tahu wabah itu bisa saja ditularkan dari orang-orang yang datang atau sebaliknya orang-orang yang datang bisa terjangkit dari orang yang ada dalam kota Padang", sudah kayak pakar dan pengamat saja Abbiey menjelaskannya kepada Alvaro.
Sudah barang tentu larangan ini membuat kita yang memiliki keluarga di kota lain atau sebaliknya akan merasa sedih. Aku dan Uni juga merasakan hal yang sama. Ditambah, lebaran tahun ini akan terasa berbeda karena tidak ada sosok Emak lagi...
"Jadi lebaran ini aku ga bisa ketemu Bang Qy", sedih juga melihat Alvaro jadi murung tidak bisa bertemu dengan abang sepupunya.
"Ya, Nak. Apapun itu. Kita harus patuh. Larangan ini dibuat untuk keselamatan kita bersama. Kita masih bisa video call abang kok", hiburku padanya.
Semua hening dengan dalam imajinasinya masing-masing. Begitupun aku, sudah merasa berhari raya bersama sanak keluarga di kampung dengan tradisinya yang khas.
Alvaro dengan lamunannya berlebaran bersama Bang Qy, berlarian di pantai dan makan-makanan sea food yang dijajakan penjual di sepanjang pantai.
Khayalan Abbiey dengan kegembiraannya dapat bersendagurau dengan abang iparnya yang selalu memberikan pepatah petitih yang selalu dirindunya, hubungan mereka amat dekat walau hanya ipar.
"Aaah.." itu bukan khayalan tapi harapan dan mimpi yang harus bisa diraih dan didapat, tidak sekarang tapi mungkin pekan depan, bulan depan, atau tahun depan. InsyaAllah bersabarlah...
“Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar”. Ali Imran 146
No comments:
Post a Comment