Sudah dua bulan Emak pergi dan selama itu pula rumah Emak tidak ditunggu.
Sedih dan aku rindu Emak, rindu rumah Emak. Sejak aku remaja dan mengakhiri masa lajangku di rumah itu bersama Emak saja, Uni dan Uda sudah lebih dulu membangun biduk rumah tangga dan tinggal terpisah dengan aku dan emak. Aku dan Emak, susah senang bareng Emak. "Oh.. kurindu Emak", ucapku lirih tak terasa air mataku berlinang dan membasahi pipi. Tanpa kusadari suamiku mendengar ucapan dan isakkanku itu.
"Ya, besok kita ke sana. Pekarangan rumah Emak pasti sudah banyak ditumbuhi rumput kenikir", kata suamiku seolah-olah ingin mengalihkan fokusku. "Sebelumnya kan pekarangan itu kita bersihkan dengan mencangkuli dan itu kurang lebih sebulan yang lalu karena rumput itu tumbuh subur di sana", jelasnya lagi. "Habis dicangkul, biasanya ga berapa lama tumbuhlah kenikir yang berasal dari bunga yang beterbangan dan jatuh-jatuh di sekitar tempat itu", ujar suamiku.
"Kenikir itu apa, Biey?", tanya Alvaro yang ikut mendengarkan cerita Abbieynya itu. "Kenikir itu sejenis rumput, Nak. Tapi rumput ini berbeda dengan rumput kebanyakan", mencoba untuk menjelaskan pada Alvaro. "Bedanya rumput ini bisa dimakan", tambahnya lagi. "Oo.. dimakan kambing dan sapi kan', ucap Alvaro santai. "Hmm.. iya kambing dan sapi suka sekali, dan Abbiey juga suka. Soalnya enaaaak sekali, apalagi Ummiey yang mengolahnya", lirik suamiku kepadaku. Aku tersenyum melihat Alvaro keheranan. "Hah?! Masa Abbiey suka makam rumput sih?. Memangnya rumputnya bisa dimakan ya, Biey?", tanya Alvaro lagi.
"Iya busa, sini duduk, Abbiey perlihatkan gambar rumput kenikirnya", ajak Abbieynya kemudian membuka ponselnya lalu setelah pencarian menemukan kata kunci yang dicari, Alvaro ditunjukkan pada gambar rumput kenikir dari ponsel tersebut. "Nah ini rumputnya, rumput ini bisa diolah menjadi makanan. Biasanya nenek dulu mengolahnya menjadi osengan kenikir, diurap juga enak, apalagi ditumis wuiih segeer, Ummiey juga suka membuat telur dadar kenikir untuk Abbiey", cerita Ayah ke anaknya. Aku seperti terbawa ke kisah masa lalu, Emak memang ahlinya mengolah kenikir menjadi hidangan favorit kami di rumah. "Wuuuiih enak kali itu, Biey. Telur dadar aku suka tapi belum pernah pakai rumput kenikir ya kan, Miey?", tanyanya menegaskan kepadaku. "Iya, nanti Ummiey buatkan ya spesial untuk Alvaro", ucapku memastikan itu kepadanya.
Benar saja, keesokan harinya ketika kami datang menengok rumah Emak, hampir seluruh pekarangan bekas cangkulan tersebut dipenuhi rumput kenikir. Ada yang sudah besar dan banyak yang masih kecil-kecil. "Ta, Apa kabar? Sudah lama tidak ke mari", aku dikagetkan oleh sapaan Mbah, tetangga Emak yang sangat baik itu. Kusalami dan kupeluk beliau, sedikit terobati rasa rindu ini kepada Emak tercinta. "Iyaa mbaaah.. kabar baik. Mbah apa kabar?", aku balik bertanya sambil melihat takir yang dipegangnya. "Alhamdulillah, mbah sehat. Eh ini kemarin rumput kenikirnya mau diroundup mbah kakung. Mbah larang karena selama wabah covid ini warung tutup, mau ke pasar juga mikir jaga jarak ini. Jadi kami sekeluarga mengambil rumput kenikir di sini untuk dijadikan lauk dan sayur makan kami", kata mbah sambil menunjuk rumput kenikir yang ada dalam takirnya. "Oh ya ga apa apa mbah, diambil saja Alhamdulillah diolah jadi apa mbah?", tanyaku sambil ikut membantu mbah memetik rumput kenikir dan memasukkanya ke dalam takirnya. "daun mudanya dimakan mentah bersama nasi, atau dicacah dan dicampur dengan sambal terasi dan tempoyak juga enak", jawab mbah. "Kalian berbuka di sini kan? Nanti cicip ya olahan rumput kenikirnya mbah", sahut mbah dengan tersenyum, terobati sedikit rasa rindu kepada Emak. Al Fatihah untuk Emak.
Sedih dan aku rindu Emak, rindu rumah Emak. Sejak aku remaja dan mengakhiri masa lajangku di rumah itu bersama Emak saja, Uni dan Uda sudah lebih dulu membangun biduk rumah tangga dan tinggal terpisah dengan aku dan emak. Aku dan Emak, susah senang bareng Emak. "Oh.. kurindu Emak", ucapku lirih tak terasa air mataku berlinang dan membasahi pipi. Tanpa kusadari suamiku mendengar ucapan dan isakkanku itu.
"Ya, besok kita ke sana. Pekarangan rumah Emak pasti sudah banyak ditumbuhi rumput kenikir", kata suamiku seolah-olah ingin mengalihkan fokusku. "Sebelumnya kan pekarangan itu kita bersihkan dengan mencangkuli dan itu kurang lebih sebulan yang lalu karena rumput itu tumbuh subur di sana", jelasnya lagi. "Habis dicangkul, biasanya ga berapa lama tumbuhlah kenikir yang berasal dari bunga yang beterbangan dan jatuh-jatuh di sekitar tempat itu", ujar suamiku.
"Kenikir itu apa, Biey?", tanya Alvaro yang ikut mendengarkan cerita Abbieynya itu. "Kenikir itu sejenis rumput, Nak. Tapi rumput ini berbeda dengan rumput kebanyakan", mencoba untuk menjelaskan pada Alvaro. "Bedanya rumput ini bisa dimakan", tambahnya lagi. "Oo.. dimakan kambing dan sapi kan', ucap Alvaro santai. "Hmm.. iya kambing dan sapi suka sekali, dan Abbiey juga suka. Soalnya enaaaak sekali, apalagi Ummiey yang mengolahnya", lirik suamiku kepadaku. Aku tersenyum melihat Alvaro keheranan. "Hah?! Masa Abbiey suka makam rumput sih?. Memangnya rumputnya bisa dimakan ya, Biey?", tanya Alvaro lagi.
"Iya busa, sini duduk, Abbiey perlihatkan gambar rumput kenikirnya", ajak Abbieynya kemudian membuka ponselnya lalu setelah pencarian menemukan kata kunci yang dicari, Alvaro ditunjukkan pada gambar rumput kenikir dari ponsel tersebut. "Nah ini rumputnya, rumput ini bisa diolah menjadi makanan. Biasanya nenek dulu mengolahnya menjadi osengan kenikir, diurap juga enak, apalagi ditumis wuiih segeer, Ummiey juga suka membuat telur dadar kenikir untuk Abbiey", cerita Ayah ke anaknya. Aku seperti terbawa ke kisah masa lalu, Emak memang ahlinya mengolah kenikir menjadi hidangan favorit kami di rumah. "Wuuuiih enak kali itu, Biey. Telur dadar aku suka tapi belum pernah pakai rumput kenikir ya kan, Miey?", tanyanya menegaskan kepadaku. "Iya, nanti Ummiey buatkan ya spesial untuk Alvaro", ucapku memastikan itu kepadanya.
Benar saja, keesokan harinya ketika kami datang menengok rumah Emak, hampir seluruh pekarangan bekas cangkulan tersebut dipenuhi rumput kenikir. Ada yang sudah besar dan banyak yang masih kecil-kecil. "Ta, Apa kabar? Sudah lama tidak ke mari", aku dikagetkan oleh sapaan Mbah, tetangga Emak yang sangat baik itu. Kusalami dan kupeluk beliau, sedikit terobati rasa rindu ini kepada Emak tercinta. "Iyaa mbaaah.. kabar baik. Mbah apa kabar?", aku balik bertanya sambil melihat takir yang dipegangnya. "Alhamdulillah, mbah sehat. Eh ini kemarin rumput kenikirnya mau diroundup mbah kakung. Mbah larang karena selama wabah covid ini warung tutup, mau ke pasar juga mikir jaga jarak ini. Jadi kami sekeluarga mengambil rumput kenikir di sini untuk dijadikan lauk dan sayur makan kami", kata mbah sambil menunjuk rumput kenikir yang ada dalam takirnya. "Oh ya ga apa apa mbah, diambil saja Alhamdulillah diolah jadi apa mbah?", tanyaku sambil ikut membantu mbah memetik rumput kenikir dan memasukkanya ke dalam takirnya. "daun mudanya dimakan mentah bersama nasi, atau dicacah dan dicampur dengan sambal terasi dan tempoyak juga enak", jawab mbah. "Kalian berbuka di sini kan? Nanti cicip ya olahan rumput kenikirnya mbah", sahut mbah dengan tersenyum, terobati sedikit rasa rindu kepada Emak. Al Fatihah untuk Emak.
No comments:
Post a Comment