HOME

Saturday, May 09, 2020

🌸Tangisan menjadi Teriakan🌸

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay15
#Ramadhan2020

"Jadi bagaimana ini, Mas?", samar-samar kami mendengar suara Surti tetangga di sebelah rumah menangis di rumahnya. "Sepertinya mereka ribut lagi", ujar suamiku.  Sudah dua hari ini aku mendengar mereka ribut, sepertinya membahas tentang uang dan makan.

"Anak-anak bude Surti berebut, Bu waktu Tuti antarkan makanan ke sana", cerita Tuti kepadaku setiap kali dia pulang dari rumah Surti untuk mengantarkan menu berbuka puasa. Surti dan Mamad memiliki 3 orang anak yang masih kecil-kecil.

Surti adalah pedagang kaki lima di kantin sekolah. Sekolah tepatnya berjualan sejak wabah pandemi covid-19 diliburkan dan siswa siswi dirumahkan. Suaminya adalah seorang ojek online yang nasibnya kini juga diujung tanduk, tidak lagi beroperasi karena sepinya penumpang yang menggunakan jasanya. Mata pencaharian kedua suami istri ini tidak lagi dapat diandalkan untuk mendapatkan uang, jangankan untuk memenuhi dompetnya, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja sulit.

Tiba-tiba terfikir ingin membantu Surti agar keluar dari masalah hidupnya agar dapat bertahan dalam kondisi seperti saat ini yang kita tidak tahu kapan ini semua akan berakhir. Tiba-tiba aku teringat dengan kemampuan Surti membuat kue basah. Surti dulu pernah ikut pelatihan membuat kue utusan dari ibu-ibu di RT kami. Sewaktu lomba hari Kartini kelompok kami menang lomba membuat kue bolu, itu karena Surti termasuk anggota kelompok kami, walau bahan dan peralatannya dariku dan ibu-ibu yang lain.

"Ada apa ya, Bu?, tadi pagi Mbak tuti bilang ibu manggil Surti", tanya Surti kepadaku.

"Iya Surti, Ibu mau minta tolong kamu buatkan ibu kue bolu pandan 2 loyang dan sarang semut 3 loyang. Ini bahan-bahannya dan kalau kamu perlu mixer dan oven pakai saja punya ibu", kataku sambil menyerahkan bahan-bahan itu kepada Surti yang masih bingung dengan kata-kataku.

"Ibu mau buat kue sebanyak itu, untuk lebaran ya bu?", tanya Surti bingung.

"Ada yang pesan. Surti mau kan membuatkan kue-kue itu?", ujarku lagi. "Surti bisa kan? Anak-anak bagaimana nantinya?", tanyaku. "Bisa bu bisa, anak-anak bisa main sama bapaknya", buru Surti. "Baiklah, Bu. Surti bawa bahan dan peralatannya", ucap Surti.

Kue-kue yang Surti buat kufoto dan kuposting ke sosmed lalu kukirim ke teman-teman dan saudaraku. Lumayan dalam sepekan ini sudah banyak yang memesannya, bahkan yang sudah mencoba rasa kuenya ingin memesan lagi. Kuhitung-hitung modal dan keuntungannya, kuberikan seluruh keuntungan itu kepada Surti. Surti sempat menangis terharu. "Sekarang Surti sudah punya modal sendiri, teruskanlah usaha ini", kataku

Semakin banyak pesanan Surti untuk menu berbuka dan hari raya. Sekarang Surti tidak lagi bekerja sendiri, dia mengajak beberapa tetangga yang senasib dengannya untuk membantu menyelesaikan orderannya. Sementara aku tetap membantu urusan pemasarannya. Sore tadi Surti datang mengembalikan mixer yang dia pakai. Katanya dia sudah beli mixer sendiri. Kulihat Surti membuka dompetnya dan terlihat lembaran-lembaran uang di dompet itu, "Alhamdulillah dompet itu ada isinya", bathinku ikut bahagia. Surti mengeluarkan lembaran uang dan mnyodorkannya kepadaku. "Ini bu, Surti balikin uang ibu untuk modal usaha kue Surti tempo hari itu", katanya kepadaku. "Itu untuk Surti, tidak usah dikembalikan", kataku lembut sambil memutar balik uang ditangannya ke dada Surti.

Surti pamit pulang karena anak-anaknya di rumah bersama para pekerjanya. Kulihat di depan rumah, Mas Mamad sedang menebas semak dan mengeluarkan pasir dari dalam selokan. Kulihat dari jendela ad kepala Abbiey nongol. "Abang yang suruh?", tanyaku mendekat. Kulihat suamiku mengangguk. "Hmm.. ada yang mau saingan", kataku.

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan", bisik suamiku. Kami tertawa bareng. "Sekarang kamu lihat tu, dompet Mas Mamad di sakunya tebel", ledek suamiku. "Ada beberapa rumah tetangga yang dibersihkan oleh Mas Mamad pekarangannya dan ia mendapatkan upah dari kerjanya, kemarin abang pinjamin dia alat roundup dan pemotong rumput di gudang", cerita suamiku.

"Mas, anak anak nii ajak maain, kuenya tar gosooong", teriakan Surti sampai ke rumah.

"MasyaAllah"  barokah ya Surti dan Mas Mamad.

No comments:

Post a Comment