#RWCODOP2020
#RWCDay9
#Ramadhan2020
#OneDayOnePost
@komunitas.odop
🌸Mendadak witir🌸
"Ummiey, ayoo kita tidur", rengek Alvaro kepadaku. Kulihat jam di dinding sudah pukul 21.00, dia memang sudah terlihat sangat mengantuk. Untuk tidur itu, Alvaro harus ada yang menemani, dan maunya ditemani oleh Ummiey. Biasanya dia tidur ba'da isya. Isyaku terlambat karena tadi ada urusan di luar, sementara ketika waktu salat masuk, aku tidak bisa melaksanakan salat di masjid dalam kondisi saat ini. Jadi kami segera pulang berniat untuk mengerjakan rangkaian salat Isya, tarawih dan witir di rumah. "Iya nanti tidurnya Ummiey temani, tapi Ummiey salat isya dulu ya", jawabku mendekat dan mengusap kepalanya. "Oh, Ummiey belum salat isya ya?, tanyanya lagi. "Belum, nak. Tadi waktu di jalan azan Isya, tapi tidak bisa salat di masjid atau di SPBU kayak biasanya, kan bisa berpotensi terdampak", jelasku padanya. "Ummiey salat ya, Al baca 3 qul dulu lalu baca do'a tidur ya, nanti ummiey menyusul", tambahku.
Aku berwudhu dan mengerjakan salat isya disambung tarawih. Sengaja aku salat di kamar agar dekat dengannya dan dia merasa ditemani. Kutoleh, ternyata Alvaro belum juga tidur, sepertinya dia memang menungguku. Biasanya sih, kalau aku isya ditambah rawatib ba'diyahnya dia sudah terlelap. "Ummiey sudah ya salatnya?", tanyanya melihatku sudah mengakhiri salat dengan salam. Ternyata dia mengamati dan memerhatikanku. "Belum", ucapku. "Kok belum, lama sekali salatnya, tadi Al hitung Ummiey salatnya banyak sekali", tambahnya. "Oh, itu tadi salat tarawih, Nak. Sekarang Ummiey tinggal mengerjakan salat sunnah witir", jelasku lembut menenangkannya yang mulai tidak sabaran. "Salat witir itu apa, Miey?" Tanyanya cepat. Oh ya aku belum pernah menjelaskan tentang salat witir kepadanya, sebelumnya aku hanya menjelaskan tentang salat tarawih, itupun penjelasannya belum selesai karena dia sudah tertidur, dan keesokan harinya dia baru bertanya kembali dan kuevaluasi dia masih ingat tentang salat tarawih tersebut. Aku berhenti sejenak, duduk disampingnya yang tengah menggolek golek ke kiri dan ke kanan merasakan sejuknya kasur yang spreinya baru kuganti pagi tadi. Dia paling suka sekali kalau sprei yang baru diganti.
"Salat witir itu nak, salat pengakhir malam, atau sholat sunnah yang dilakukan untuk menutup malam atau penutup salat, dan jumlah rakaatnya ganjil, bisa 1 rakaat, 3, 5, 7 dan seterusnya", jelasku pelan agar ia memahami walau tak kupaksa untuk paham. Namun biasanya Alvaro akan bertanya kalau ia tertarik dengan topik pembahasannya dan dari sanalah aku mengetahui Alvaro memahaminya atau tidak.
"Satu rakaat? Memangnya ada ya, Miey salat satu rakaat?", tanyanya penasaran. "Ada, namanya salat witir, Rasulullah tidak pernah meninggalkan sholat sunnah ini, walaupun dalam kondisi beliau sedang safar atau bepergian sekalipun", terangku lagi.
"Dapat pahala ya, Miey kalau kita mengerjakannya?", rasa ingin tahunya mulai kelihatan. "Iya dong, setiap amalan akan Allah ganjar pahala. "Al mau tahu tidak apa keistimewaan atau pahala salat sunnah ini?", tanyaku. "Apa, Miey?", penasaran juga dia. "Dalam hadist disebutkan, “Sesungghnya Allah itu witir, mencintai witir/ganjil, maka lakukanlah sholat witir wahai ahli Al Qur’an”(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah; shahih)", nah, kalau Alvaro mau Allah cintai, maka.." "Al harus mencintai apa yang Allah cintai kan, Miey?", potongnya.
"Betul Al," pujiku sambil mengacungkan 2 jempol kiri dan kananku ke hadapannya.
"Kalau begitu yuk, Miey Al mau salat witir sebelum tidur, tapi satu rakaan dulu boleh kan, Miey?"
"Boleh dong, ayooo!", ajakku
-MasyaAllah-
-Barakallah-
-walhamdulillah-
-wasyukurillah-
#RWCDay9
#Ramadhan2020
#OneDayOnePost
@komunitas.odop
🌸Mendadak witir🌸
"Ummiey, ayoo kita tidur", rengek Alvaro kepadaku. Kulihat jam di dinding sudah pukul 21.00, dia memang sudah terlihat sangat mengantuk. Untuk tidur itu, Alvaro harus ada yang menemani, dan maunya ditemani oleh Ummiey. Biasanya dia tidur ba'da isya. Isyaku terlambat karena tadi ada urusan di luar, sementara ketika waktu salat masuk, aku tidak bisa melaksanakan salat di masjid dalam kondisi saat ini. Jadi kami segera pulang berniat untuk mengerjakan rangkaian salat Isya, tarawih dan witir di rumah. "Iya nanti tidurnya Ummiey temani, tapi Ummiey salat isya dulu ya", jawabku mendekat dan mengusap kepalanya. "Oh, Ummiey belum salat isya ya?, tanyanya lagi. "Belum, nak. Tadi waktu di jalan azan Isya, tapi tidak bisa salat di masjid atau di SPBU kayak biasanya, kan bisa berpotensi terdampak", jelasku padanya. "Ummiey salat ya, Al baca 3 qul dulu lalu baca do'a tidur ya, nanti ummiey menyusul", tambahku.
Aku berwudhu dan mengerjakan salat isya disambung tarawih. Sengaja aku salat di kamar agar dekat dengannya dan dia merasa ditemani. Kutoleh, ternyata Alvaro belum juga tidur, sepertinya dia memang menungguku. Biasanya sih, kalau aku isya ditambah rawatib ba'diyahnya dia sudah terlelap. "Ummiey sudah ya salatnya?", tanyanya melihatku sudah mengakhiri salat dengan salam. Ternyata dia mengamati dan memerhatikanku. "Belum", ucapku. "Kok belum, lama sekali salatnya, tadi Al hitung Ummiey salatnya banyak sekali", tambahnya. "Oh, itu tadi salat tarawih, Nak. Sekarang Ummiey tinggal mengerjakan salat sunnah witir", jelasku lembut menenangkannya yang mulai tidak sabaran. "Salat witir itu apa, Miey?" Tanyanya cepat. Oh ya aku belum pernah menjelaskan tentang salat witir kepadanya, sebelumnya aku hanya menjelaskan tentang salat tarawih, itupun penjelasannya belum selesai karena dia sudah tertidur, dan keesokan harinya dia baru bertanya kembali dan kuevaluasi dia masih ingat tentang salat tarawih tersebut. Aku berhenti sejenak, duduk disampingnya yang tengah menggolek golek ke kiri dan ke kanan merasakan sejuknya kasur yang spreinya baru kuganti pagi tadi. Dia paling suka sekali kalau sprei yang baru diganti.
"Salat witir itu nak, salat pengakhir malam, atau sholat sunnah yang dilakukan untuk menutup malam atau penutup salat, dan jumlah rakaatnya ganjil, bisa 1 rakaat, 3, 5, 7 dan seterusnya", jelasku pelan agar ia memahami walau tak kupaksa untuk paham. Namun biasanya Alvaro akan bertanya kalau ia tertarik dengan topik pembahasannya dan dari sanalah aku mengetahui Alvaro memahaminya atau tidak.
"Satu rakaat? Memangnya ada ya, Miey salat satu rakaat?", tanyanya penasaran. "Ada, namanya salat witir, Rasulullah tidak pernah meninggalkan sholat sunnah ini, walaupun dalam kondisi beliau sedang safar atau bepergian sekalipun", terangku lagi.
"Dapat pahala ya, Miey kalau kita mengerjakannya?", rasa ingin tahunya mulai kelihatan. "Iya dong, setiap amalan akan Allah ganjar pahala. "Al mau tahu tidak apa keistimewaan atau pahala salat sunnah ini?", tanyaku. "Apa, Miey?", penasaran juga dia. "Dalam hadist disebutkan, “Sesungghnya Allah itu witir, mencintai witir/ganjil, maka lakukanlah sholat witir wahai ahli Al Qur’an”(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah; shahih)", nah, kalau Alvaro mau Allah cintai, maka.." "Al harus mencintai apa yang Allah cintai kan, Miey?", potongnya.
"Betul Al," pujiku sambil mengacungkan 2 jempol kiri dan kananku ke hadapannya.
"Kalau begitu yuk, Miey Al mau salat witir sebelum tidur, tapi satu rakaan dulu boleh kan, Miey?"
"Boleh dong, ayooo!", ajakku
-MasyaAllah-
-Barakallah-
-walhamdulillah-
-wasyukurillah-
No comments:
Post a Comment