Azan magrib yang ditunggu-tunggu sepanjang hari ini berkumandang juga akhirnya. Mendengar muadzin yang syahdu membuat denyut jantung terasa terhenti ikut menikmati alunan suara adzan yang begitu merdu. Alvaro dan Tuti sudah menghambur menuju ke dapur siap menyantap semangkok bubur yang masih hangat.
"Ayo, Miey kita berbuka", panggil Alvaro ketika melihatku masih termangu di ruang keluarga tempat kami yang tadinya berkumpul. "Eh iyaa", sahutku. "Ayo, Bang", ajakku sambil melihat suamiku masih menonton televisi. Kemudian kami menyusul mereka ke ruang makan. Kebiasaan kami membatalkan puasa dengan 3 buah kurma dan segelas air hangat berhasil membuat keringat dingin mengucur di seluruh tubuh. Minum air hangat ketika berbuka tentunya menyehatkan, bukan?
"Aduh, Dek. Udah habis saja semangkok buburnya. Nasinya mau ditaruh di mana, Dek?", ledek Tuti sambil memegang perut Alvaro. Alvaro menghindar sambil meletakkan mangkok buburnya yang kosong ke wastafel cuci piring. "Aku makannya nanti, Kak. Aku mau salat jamaahan dulu", jelas Alvaro. Lalu dia menuju ke tempat berwudhu dan segera menggelar sajadah untuk kami semua.
"Rapatkan syafnya", ucap Abbiey.
"Allaahu Akbar", Abbiey takbir dan kami ikuti dengan takbir juga.
"Allaahu Akbar", takbir rukuk.
""Sami'allahu liman hamidah" Suara Alvaro terdengar serak, sebelum Abbiey i'tidal dia duluan i'tidal.
Usai salat kami dzikir dan berdo'a tak lupa selalu mengucapkam syukur atas nikmat dan karunia Allah kepada kami, lalu bersalaman.
"Alvaro, tadi i'tidal duluan kan?", todong kakak cepat. "Memangnya kenapa?", tanya Alvaro balik. "Ga bolehlah, Dek. Namanya saja salat berjama'ah. Kita harus ikuti imam, betulkan, Bu?", tanya Tuti sambil melihat kepadaku. "Iya, kakak benar, Al. Salat berjamaah itu ada imam dan makmum", jelasku kepadanya yang telah bertengger dipangkuanku. "Imam yang memimpin di depan dan makmum adalah orang-orang yang melakukan sholat di belakangnya", tambahku lagi.
"Iya, nak", sahut Abbiey yang ikut menyimak sedari tadi. "Seperti yang Ummiey bilang tadi, bahwa imam adalah seseorang yang memimpin ketika sholat berjamaah. Maka dari itu seluruh makmum harus mengikuti gerakan imam ketika sholat", sambung Abbiey. "Contohnya ketika imam melakukan gerakan ruku', i tidal, sujud dan seterusnya makmum harus mengikuti gerakan-gerakan itu serta membaca doa di setiap gerakannya tanpa mendahului imam", jelas Abbiey sambil mengajak Alvaro untuk duduk dipangkuannya.
"Tuu, udah ngerti belum?", tanya Tuti sambil mencolek telinga adiknya gemas. "Mau duluan aja kayak mau balapan mobil", ujar Tuti dan tawa kecil kami pun serentak.
"Iya kakak aku ngerti sekarang. Tapi kalau aku yang jadi imam seperti waktu salat dengan Naufal kemarin boleh tidak aku duluan, Biey?", tanya Alvaro. "Nah, itu boleh kan Alvaro sebagai imamnya Naufal", jelas Abbiey.
"Bu, pernah juga Tuti salat tarawih di kampung tahun lalu, ada teman-teman Tuti yang berjamaah ikut imamnya hanya ketika salam saja. Dari takbir, rakaat pertama, kedua dan sujud mereka tidak ikut. Tapi ketika tasyahud akhir mereka ikuti imam sampai salam. Itu bagaimana, Bu?", tanya Tuti kepadaku. Aku tersenyum dan kujelaskan bahwa itu tidak benar. "Nah, hayoo... kakak ga khusu' nih salatnya kok tau temannya ga ikut gerakan imam?, ngintip yaaa?", ledekku.
"Yeee kakak salatnya kepo nii yeee", ledek Alvaro lagi sambil berlari mengikuti Abbiey ke ruang makan. Dan obrolan pun berlanjut di ruang makan.
"Salat seperti yang diceritakan Tuti tadi tidak perlu untuk dicontoh, karena itu salat yang nyeleneh", kataku. Itu salat dari orang-orang yang belum paham. Semoga Allah beri mereka pemahaman", tambahku lagi. Tidak lupa kupesankan kepada Tuti jika ada teman yang seperti itu nasihatilah. Namun, jika mereka tak mau mendengarkan maka do'akanlah.
"Hidayah hanya milik Allah, kita tak punya kuasa mengubah seseorang", ucapku.
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk, QS. Al-Qasas: 56", lanjut Abbiey.
“Tunjukilah kami jalan yang lurus", sambung Tuti.
"Aamiin", suara kami menggema.
Semoga kita terhindar dari sifat bodoh.
"Ayo, Miey kita berbuka", panggil Alvaro ketika melihatku masih termangu di ruang keluarga tempat kami yang tadinya berkumpul. "Eh iyaa", sahutku. "Ayo, Bang", ajakku sambil melihat suamiku masih menonton televisi. Kemudian kami menyusul mereka ke ruang makan. Kebiasaan kami membatalkan puasa dengan 3 buah kurma dan segelas air hangat berhasil membuat keringat dingin mengucur di seluruh tubuh. Minum air hangat ketika berbuka tentunya menyehatkan, bukan?
"Aduh, Dek. Udah habis saja semangkok buburnya. Nasinya mau ditaruh di mana, Dek?", ledek Tuti sambil memegang perut Alvaro. Alvaro menghindar sambil meletakkan mangkok buburnya yang kosong ke wastafel cuci piring. "Aku makannya nanti, Kak. Aku mau salat jamaahan dulu", jelas Alvaro. Lalu dia menuju ke tempat berwudhu dan segera menggelar sajadah untuk kami semua.
"Rapatkan syafnya", ucap Abbiey.
"Allaahu Akbar", Abbiey takbir dan kami ikuti dengan takbir juga.
"Allaahu Akbar", takbir rukuk.
""Sami'allahu liman hamidah" Suara Alvaro terdengar serak, sebelum Abbiey i'tidal dia duluan i'tidal.
Usai salat kami dzikir dan berdo'a tak lupa selalu mengucapkam syukur atas nikmat dan karunia Allah kepada kami, lalu bersalaman.
"Alvaro, tadi i'tidal duluan kan?", todong kakak cepat. "Memangnya kenapa?", tanya Alvaro balik. "Ga bolehlah, Dek. Namanya saja salat berjama'ah. Kita harus ikuti imam, betulkan, Bu?", tanya Tuti sambil melihat kepadaku. "Iya, kakak benar, Al. Salat berjamaah itu ada imam dan makmum", jelasku kepadanya yang telah bertengger dipangkuanku. "Imam yang memimpin di depan dan makmum adalah orang-orang yang melakukan sholat di belakangnya", tambahku lagi.
"Iya, nak", sahut Abbiey yang ikut menyimak sedari tadi. "Seperti yang Ummiey bilang tadi, bahwa imam adalah seseorang yang memimpin ketika sholat berjamaah. Maka dari itu seluruh makmum harus mengikuti gerakan imam ketika sholat", sambung Abbiey. "Contohnya ketika imam melakukan gerakan ruku', i tidal, sujud dan seterusnya makmum harus mengikuti gerakan-gerakan itu serta membaca doa di setiap gerakannya tanpa mendahului imam", jelas Abbiey sambil mengajak Alvaro untuk duduk dipangkuannya.
"Tuu, udah ngerti belum?", tanya Tuti sambil mencolek telinga adiknya gemas. "Mau duluan aja kayak mau balapan mobil", ujar Tuti dan tawa kecil kami pun serentak.
"Iya kakak aku ngerti sekarang. Tapi kalau aku yang jadi imam seperti waktu salat dengan Naufal kemarin boleh tidak aku duluan, Biey?", tanya Alvaro. "Nah, itu boleh kan Alvaro sebagai imamnya Naufal", jelas Abbiey.
"Bu, pernah juga Tuti salat tarawih di kampung tahun lalu, ada teman-teman Tuti yang berjamaah ikut imamnya hanya ketika salam saja. Dari takbir, rakaat pertama, kedua dan sujud mereka tidak ikut. Tapi ketika tasyahud akhir mereka ikuti imam sampai salam. Itu bagaimana, Bu?", tanya Tuti kepadaku. Aku tersenyum dan kujelaskan bahwa itu tidak benar. "Nah, hayoo... kakak ga khusu' nih salatnya kok tau temannya ga ikut gerakan imam?, ngintip yaaa?", ledekku.
"Yeee kakak salatnya kepo nii yeee", ledek Alvaro lagi sambil berlari mengikuti Abbiey ke ruang makan. Dan obrolan pun berlanjut di ruang makan.
"Salat seperti yang diceritakan Tuti tadi tidak perlu untuk dicontoh, karena itu salat yang nyeleneh", kataku. Itu salat dari orang-orang yang belum paham. Semoga Allah beri mereka pemahaman", tambahku lagi. Tidak lupa kupesankan kepada Tuti jika ada teman yang seperti itu nasihatilah. Namun, jika mereka tak mau mendengarkan maka do'akanlah.
"Hidayah hanya milik Allah, kita tak punya kuasa mengubah seseorang", ucapku.
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk, QS. Al-Qasas: 56", lanjut Abbiey.
“Tunjukilah kami jalan yang lurus", sambung Tuti.
"Aamiin", suara kami menggema.
Semoga kita terhindar dari sifat bodoh.
No comments:
Post a Comment