HOME

Wednesday, June 01, 2022

Hati yang Bercabang

"Ya Allah. Semoga Papa diberikan kesembuhan. Aku ga tahu." Isak tangis Ica mendengar penjelasan Virda dan Godid.


"Iya Ca, ketahuannya juga baruuuu. Ga ada gejala dan keluhan sama sekali dari Papa. Kita semua juga kaget ditambah permintaan Papa yang disebutnya sebagai permintaan terakhirnya ini." Jelas Godid.


"Ya Tuhan. Yang sabar ya kalian. Semoga semuanya berjalan lancar. Walau sederhana juga kan tetap aja disiapkan segala sesuatunya karena ini adalah momen sakral kalian. Aku siap bantu apa aja, jangan sungkan aku marah loh kalau kalian ga libatkan aku. Apalagi kondisinya sulit seperti ini. Fikiran kalian pastinya bercabang-cabang." Ucap Ica kepada Virda dan Godid.


"Acaranya sederhana aja kok, Ca. Ga ada tuh kereta bangsawan dan gaun pengantin yang mekar yang Ivir bayangkan seperti cerita Cinderella dulu ituuuu..." Kalimat yang Virda ucapkan dengan lirih kepada sahabatnya.


Kemudian Ica memeluk Virda dan membisikkan serangkaian kalimat penguat dan penyemangat lainnya.




"Gue tahu Lu pasti juga panik ya kan? Impian pernikahan bak Cinderella yang Lu idamkan kandas. Tapi gue yakin Allah sudah siapkan kehidupan yang jauh bahagia buat lu dan Godid nantinya. Lu harus siap jadi Cinderallanya Godid. Gue yakin dong, Godid akan menyayangi lu melebihi sayang gue.. huu..huu.. sayangkuu" Seketika tangis keduanya pecah di ruang yang hening itu. 


Sepulang dari rumah Ica. Virda dan Godid mampir memenuhi janji mereka ke beberapa tempat yang akan mensukseskan acara mereka nanti. Ya, acara akad nikah dan walimatul urs sederhana. Dikarenakan kondisi mereka yang harus bolak balik rumah sakit serta izin kerja tentu mereka tidak bisa mengurusnya sendiri mereka meminta tolong kepada beberapa teman, kerabat, dan keluarga untuk terlaksananya momen sekali seumur hidup mereka ini. Janji ini sudah mereka rencanakan beberapa hari sebelum ini. Mereka juga ga mungkin akan merepotkan Ica yang juga lagi sibuk-sibuknya dengan revisi tugas akhirnya.

"Alhamdulillah ya, Beib, Ivir lega loh, Ica bisa memahami ini semua." Virda membuka pembicaraan setelah beberapa lama mereka hanya diam.


"Alhamdulillah ya, Beib, Ivir lega loh, Iva bisa memahami ini semua." Virda membuka pembicaaran setelah beberapa lama mereka hanya diam.


"Jujur, sebelumnya Aku udah yakin sih Ica dapat memahami. Kita udah berteman itu sejak pitik. Jadi ga ada alasan kita berbuat yang akan menyakiti hati satu dan lainnya. Hanya saja, masalahnya hal ini belum sempat kita komunikasikan saja ke Ica. Buktinya, Ica sangat mengerti." Jawab Godid


"Iya sih, ya Ivir takut aja gara-gara ini hubungan kita jadi ambyar."


"Rencana pernikahan kita yang dinilai Ica dadakan ini kan sebenarnya dadakan juga buat kita, buat keluarga kita dan buat siapa aja. Kenapa? Ya karena kondisi kesehatan Papa aku yang ga bisa menunggu lagi. Papa ingin secepatnya melihat aku menikah sebelum beliau…." Raut sedih tampak dari wajah Godid.


"Istigfar, Beib, maaf ya, Ivir jadi bikin kamu sedih. Udah ya mari kita sambut hari bahagia kita dengan senyuman." Hibur Virda.



"Sekaligus tangisan karena Papa akan menjalani kraniotomi dan radioterapi untuk kesekian kalinya dan dokter sudah katakan kemungkinan Papa untuk sembuh itu nihil." Sambut Godid.


"Sekaligus tangisan karena Papa akan menjalani kraniotomi dan radioterapi untuk kesekian kalinya dan dokter sudah katakan kemungkinan Papa untuk sembuh itu nihil." Sambut Godid.


"Beib, kita doakan Papa baik-baik ya. Intinya kita ga boleh nyerah. Kita tetap berikan yang terbaik untuk Papa. Selanjutnya kita serahkan kepada yang Maha Berkehendak." Virda berusaha menenangkan kekasih hatinya itu.


"Aamiin. Makasih Sayang. Kamu selalu support aku dan selalu bisa membuat Aku tegar sampai saat ini. Aku ga salah pilih Cinderellaku." Godid berusaha tersenyum karena Ia tahu kalau Virda sangat mendambakan konsep pernikahan putri sultan.


"Apaan sih!" Virda tersenyum malu.


"Well..., beres semua. Sekarang kita cus rumkit, kan?" Tanya Godid.


"Kok ke rumah sakit sih, Beib. Kita ke rumah Bude Asih dong, buat mastiin menu ketering serta jumlah porsinya dan yang terpenting kita juga mau rundingan tentang budgetnya, Beib." Jawab Ica.


"Ups.. ya aku lupa. Hatiku jadi bercabang-cabang deh."

"Hmm.. hayoo ke mana coba cabangnya?" Goda Virda sambil melirik pria di sebelahnya yang lagi bercanda itu.


"Sarangeun geureongabwa….

Museun mareul haebwado…"

Tiba-tiba nada dering dari ponsel Virda berdering. Lirik lagu This Love adalah lagu yang dilantunkan oleh duo penyanyi asal Korea Selatan, Davichi. Lagu ini tema dari drama Korea kondang, Descendants of the Sun film favorit mereka.


"Telepon dari Kak Nada di rumah sakit, Beib!" Ucap Virda.


"Oh mungkin ponselku off. Kak Nada jadi telepon kamu. Jawab, Sayang!" Balas Godid.


3 comments: