"Mboh, Mas isin. Supir-in mau deh" Katanya.
Dari semalam memang Nella sudah prepare untuk mengantarkan Ranaya. Namun, sebelum itu Ia harus selesaikan semua pekerjaannya terlebih dahulu. Jika tidak, pekerjaannya akan terbengkalai dan itu akan menjadi beban pikirannya nanti ketika bersama Ranaya. Nella ingin berdua dengan Ranaya dengan perasaan yang nyaman dan enjoy, sehingga hal-hal kecil dan sepele yang dilakukan anak kecil seusia Ranaya tidak memantik sifat temperamennya.
Kebiasaan buruk Nella biasanya mudah kalut dan panikan apabila segala sesuatu tidak berjalan sesuai harapannya. Apabila hal itu terjadi biasanya Ia akan mudah emosi dan biasanya orang-orang di sekitarnya yang akan kena akibatnya. Nella tidak ingin merusak momen hari ini. Ia harus merencanakan sesuatu yang indah, berkesan, dan sesuatu yang membuat Ranaya akan bilang lebih suka pergi bersama Umami daripada Upapi. Tidak seperti selama ini, kalau Ranaya ditanya lebih senang perginya diantar Umami atau Upapi? Ranaya akan spontan selalu jawab, Upapi.
"Umami, kenapa bukan Upapi yang antar Naya?"
"Hari ini sama Umami ya, Sayang. Upapi mau ke luar kota jam 10 nanti."
"Oh gituuu." Mulutnya dimanyunkannya lalu Ia menghadap ke kaca jendela sambil mengusap embun yang menempel akibat cuaca dingin karena rinai membasahi kaca jendela mobil.
"Oh ya hari ini Ranaya gladi untuk perpisahan, bukan? Nah, setelah itu kita ke mall ya untuk mencari dresscode dan assesoris untuk penampilan Ranaya besok pas farewell." Ucap Nella tanpa harus Ia katakan kalau Upapinya pasti akan nyerah untuk mencari-cari printilan-printilan seperti itu.
"Oh gituuu, eh Mami, gladi itu apa ya? Naya ga tau."
"Gladi itu latihan penampilan yang akan Ranaya tampilkan di acara farewell. Jadi sebelum tampil di hari perpisahannya Ranaya dan kawan-kawan harus gladi atau latihan namanya."
"Udah yuk kita turun. Kita sudah sampai di lokasi gladi resiknya." Kata Nella dan mengajak Ranaya untuk turun menuju ke salah satu ruangan di mana wali kelas Ranaya menunggu murid-muridnya.
Setelah menyerahkan Ranaya ke wali kelasnya, Nella menuju ke lobi convention centre di mana Viyanti sahabatnya itu berada. Tadi sebelum mengantarkan Ranaya ke ruangan gladi, Ia sudah melihat keberadaan sahabatnya itu di sana dan memberi isyarat Ia akan kembali ke sana sejenak setelah mengantarkan Ranaya.
"Tadi Mami Bobby cariin kamu, Nel. Katanya disuruh baca whatsapp." Ucap Viyanti sambil memilih-milih ballet bun cup di tangannya. Ia memadu-padankan benda warna warni itu ke sebuah dress pink. Dress itu akan dipakai oleh anaknya, Navee untuk penampilan balet di farewell.
"Astaga, ponselku masih off. Ya ampun, pastilah Mami Bobby telepon-telepon Aku deh." Segera Nella merogoh ke dalam tasnya. Dia mengambil ponsel dan menyalakannya.
"Ting… ting… ting.. ting.." banyak sekali pesan yang masuk ke kontaknya.
"Nel, untuk drescode Ranaya disamain aja sama Bobby ya. Kebetulan Bobby masih muat kostum batiknya tahun lalu. Tapi celananya ga muat lagi."
"Ting.. ting.. ting.."
"Hari ini Aku beli bahan langsung jahit ke penjahitku. Sekalian aja jahit gaun Naya dengan bahan samaan, gimana?"
Ting… ting.. ting.."
"Nel…"
"Kalau udah baca telepon aku ya." Segera Nella menekan menu call dari ponselnya.
Dalam farewell nanti, Ranaya akan menampilkan fashion show dengan beberapa temannya. Mereka diatur berpasang-pasangan oleh wali kelasnya. Mereka diminta untuk menyamakan kostum mereka dengan masing-masing pasangannya.
Semalam Nella sudah chat dengan Mami Bobby untuk mendiskusikan mengenai dress code dan lain-lainnya. Jika pasangan yang lain hanya memakai kostum tema casual yang ready di lemarinya saja, tapi Nella dan Mami Bobby ingin membuatkan kostum spesial untuk anak mereka. Demi anak, kata mereka.

senengnya naya punya mama yang hebat, bgtulah ya mbak layaknya orangtua, makanya q heren kok ada ibu yang tega bunuh anakny klo benar-benar normal sang ibu tuh. miris.
ReplyDeleteIya May miris
ReplyDelete