HOME

Wednesday, June 15, 2022

Momen Yang Terlewatkan



"Oke, kirim!" Nella telah selesai menyunting video rekaman Ranaya membaca surah. Nella ahli dalam menyunting video, hobinya editing dan fotografi sangat cocok sekali dengan kesukaan putrinya, Ranaya yang suka difoto maupun divideokan itu.


Nella mengisi data diri Ranaya ke formulir online lomba hapalan surah pendek, kemudian meng-upload video Ranaya yang berdurasi kurang lebih 4 menit ke field yang telah disiapkan pada formulir tersebut.


"Alhamdulillah sudah terkirim." Kemudian Nella segera menghampiri Ranaya dan Raka yang sedang bermain di pinggir sungai di sebelah masjid megah itu, di sana terdapat sungai yang tidak terlalu lebar dengan airnya mengalir sangat jernih.


Ranaya tampak melangkah turun perlahan-lahan pada bebatuan di pinggir sungai. Tampak arus air mengalir sangat deras, air yang mengalir itu berkilau dan bercahaya akibat terpapar sinar matahari pagi menjelang siang. Raka memegangi lengan Ranaya ikut turun mengiringi langkah kaki Ranaya.


"Pi, hati-hati! Menjelang tengah hari ini." Nella mengingatkan Raka. Ia tampak khawatir.


"Iya, eh udah selesai ya meng-editnya?" Teriak Raka agak kencang karena Ia merasa kalau tidak kencang suaranya akan terdengar samar sampai ke Nella akibat suara riak dan gemericik air di dekatnya juga posisinya yang jauh di bawah.


"Udah dikirim keles." Sahut Nella cepat sambil mengeluarkan ponselnya dari tas tentengnya, lalu Ia mulai merekam aktivitas kedua orang yang Ia sayangi di pinggir sungai yang berbatu itu. Ia tidak akan mau kehilangam momen indah itu. Pokoknya bagi Nella setiap momen kebersamaan mereka itu wajib diabadikan dan didokumantasikan. Tidak ada momen yang lepas untuk diabadikan dalam kamera ponselnya itu.


"Allahu akbar, Allahu akbar!" Terdengar suara muadzin nan merdu berkumandang di masjid itu.


"Mas. Adzan, Naiklah!" Nella kemudian mematikan rekaman videonya dan segera menuju tempat wudhu.


Raka menggendong Ranaya naik ke atas. Ia melangkah di antara bebatuan menuju ke pinggir sungai. Tiba-tiba batu yang Ia pijak bergeser dan Raka terpeleset, Ia berusaha meraih batu besar disebelahnya untuk berpegangan dengan sebelah tangan karena tangan lainnya masih memeluk gadis kecil itu yang nyaris terlepas darinya. Beruntung Ranaya bergayut erat dalam gendongannya. Raka terduduk meringis kesakitan dan menarik putrinya ikut terduduk di perutnya. Kalau saja Ranaya terlepas, Ia akan terpental ke sungai yang berada persis di depan mereka.


"Upapiiii… " Teriak Ranaya cemas.


"Ga apa apa sayang." Raka menenangkan Ranaya, Ia segera memeluk dan menggendong Ranaya erat kemudian Ia berusaha bangkit dan melangkah perlahan-lahan.


Nella yang tadinya hendak menuju ke tempat wudhu mendengar teriakan Ranaya segera berlari ke arah sungai di samping masjid itu. Ia hanya melihat Raka yang sedang menggendong putriya naik ke atas.

 

Nella kehilangan momen itu...

Kalaupun Ia melihat, Ia tidak akan sempat untuk mengabadikan momen itu ke dalam kameranya. Kejadian itu begitu cepat lagipula mana mungkin Ia terfikir untuk meraih ponsel dan merekamnya. Tentu Ia akan cemas dan panik sekali apabila sempat melihatnya.


Melihat Raka menggendong Ranaya. Ia menunggu mereka naik ke atas. Kemudian Nella menyambut putrinya itu. Nella tidak melihat ada keanehan. Ia kemudian melanjutkan niatnya untuk berwudhu dan mengajak anaknya ikut serta bersamanya.


Setelah shalat Nella melihat Raka menuju mobil berjalan agak pincang sebelah. Ia melihat suaminya itu seperti menahan sakit apabila kaki sebelah itu dipijakkan.


"Kenapa kakinya, Mas?  Celanamu basah, Mas dan kotor lagi!?" Tanya Nella kepada Raka. 


"Oh, ini? terpeleset di bebatuan di pinggir sungai tadi." Jawab Raka sembari masuk menuju ke mobil.


"Eh, tunggu! Astagfirullah, Mas. Pasti kamu terkilir. Sakit ya?" Tanya Nella yang segera mendekati Raka dan berjongkok memegangi ujung jari kelingking suaminya yang terlihat bengkak.


"Terpeleset gimana sih, Mas? Trus, waktu terpeleset tadi Ranaya di mana, Mas?" Tanya Nella sambil memapah suaminya untuk naik mobil ke bangku di sebelah supir.


"Ada batu yang bergeser waktu aku pijak. Ranaya masih kugendonglah, amankan? Loh kenapa aku duduk di sini, Dek?" Tanya Raka.


"It's okay. I'll drive. Kita sekarang akan ke tempat Mbah untuk diurut ya." Sahut Nella.


"Ke Mbah? Pulang kampung maksudnya? Hmm... maunyaa." Raka manyun, tetapi Ia menurut saja karena kakinya benar-benar kesakitan.


💙💙💙

6 comments:

  1. Untung Ranaya nggak terlepas ya Mom. Habis ngikutin beritanya Eril, baca ini jadi bayangin kalau Ranaya terlepas, semangat menulis Mom...

    ReplyDelete
  2. Thnk God. Makasih dek sayang. Harus semangt, jgn bosen ya dampingi kami

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah, untung selamat. Ngeri betol la bacanya. Untung Ranaya tak terlepas...

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah tulisan ini telah dibedah bersama-sama oleh tim ODOPers dan temen² peserta OPREC ODOP BATCH 10. Tengkiu yaaa semuanya yg udah ikut ngebedah. Smoga tulisanku semakin apik dan segera menemukan jodohnya

    ReplyDelete