HOME

Friday, June 03, 2022

Papa Sudah Tidak Sakit


Sehari setelah pernikahan di ICU itu, kondisi Pak Ridwan semakin memburuk. Dokter memanggil pihak keluarga untuk menjelaskan kondisi terakhir beliau. Godid dan Mamanya yang diminta oleh keluarga besar untuk mendengarkan penjelasan dari dokter.


Dengan harap-harap cemas akan hal yang akan disampaikan tentang kondisi Pak Ridwan, Godid dan Mama saling menguatkan. Di mata Godid, Mama adalah sosok istri yang sangat tegar. Beliau dengan siaga menjaga Papa. Selama ini Papa tidak pernah mengeluh sakit, tiba-tiba harus terbaring tak sadarkan diri seperti ini, semua merasa tak percaya. 


"Batang otak sudah tidak berfungsi, istilah kedokterannya brain death, semua alat ini bekerja untuk menunjang beliau seperti selang, kabel, dan mesin-mesin ini. Detak jantung yang terekam dalam monitor hanyalah bantuan defibrilator sementara ventilator membantu dan menunjang pernapasannya."


Penjelasan dokter mengejutkan walau keluarga sebenarnya juga sudah mengira akan disampaikannya hal seperti ini.


Beberapa hari lalu Mama sudah menandai beberapa hal di luar kebiasaan, sebab sejak dokter sudah tidak lagi memberikan resep apapun untuk Pak Ridwan. Mama menyampaikan hal ini kepada keluarga. Keluarga merasa mungkin memang sudah tidak ada tindakan yang bisa diupayakan lagi untuk Pak Ridwan.


"Sebelumnya kami sudah melakukan serangkaian tes untuk mendiagnosa. Jadi, kami serahkan semua keputusan kepada pihak keluarga. Apakah alat ini akan tetap terpasang di tubuh beliau atau memang sepakat untuk dilepaskan." Jelas dokter yang membuat keluarga tak bisa berbuat apa-apa melainkan menyerahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa. Namun, mereka harus mengambil keputusan akan hal itu.


Godid dan Mama saling berpandangan, Godid melihat mata Mamanya berkaca-kaca, Mama memberikan isyarat kepada Godid. Setelah memberi isyarat Mama menghela nafas panjang dan dalam sekejap mata Ia sudah berada dalam dekapan anaknya. Godid mengerti maksud dari isyarat Mamanya itu. Isyarat memohon agar Suaminya ditolong sekaligus juga mengizinkan alat-alat yang terpasang di tubuh Papa untuk dilepas saja.



"Sebaiknya dilepas saja…" ucap Mama Lirih.


"Baik, Dok, kasihan Papa menanggung kesakitan ini. Papa sudah tidak membutuhkan semua alat ini. Papa ingin semua alat ini dilepaskan saja. Sebelum kondisi Papa seperti sekarang ini Papa pernah minta ke Mama untuk dibawa pulang ke rumah. Papa tidak mau alat-alat ini mengikatnya. Beliau ingin dilepaskan saja." Ucap Godid yakin.


"Ya lepaskan saja... Melepas ventilator untuk melihat apakah suami saya mencoba bernapas sendiri atau tidak lagi…" Mama menghentikan sejenak ucapannya.


"Apabila telah dilepas dan ternyata suami saya memberi respon kita mohon pihak rumah sakit memasang alatnya kembali untuk menolongnya. Jika tidak, kami akan membawanya pu..." Mama Godid tidak melanjutkan kata-katanya. 


"Baik, Bu, Pak, kami akan mempersiapkan semuanya. Tapi mohon salah satu anggota keluarga berkenan dan ikhlas untuk melepaskan alat-alat tersebut."


Godid satu-satunya yang diminta oleh keluarga untuk melepaskan ventilator itu. Ia merasa dengan melepaskan alat itu sama seperti Ia bertanggung jawab atas hidup dan mati Papanya. Ia tepis perasaan itu yang terbayang kini adalah Ia ingin melihat Papanya tidak kesakitan dan tenang. 


Setelah semua siap, baik tim medis maupun Godid. Godid disilakan untuk melakukannya. Kemudian dengan mengucapkan bismillah Ia ikhlas dengan kehendak Yang Maha Kuasa. Dengan mengikuti arahan tim medis, secara perlahan-lahan Godid menarik keluar alat yang dimasukkan dalam rongga mulut Papanya.


Tiba-tiba, refleks tubuh Papa meregang, perlahan dan tangan kanan Pak Ridwan naik, histeris Virda berteriak…


"Papa masih hidup, Ma… pasang kembali alatnya, Dok!"


Godid kemudian memeluk istrinya dan berbisik di telinga Virda.

"Sayang, ikhlaskan Papa, maafkan Papa, Papa sakaratul maut…"


Tangan Pak Ridwan naik lurus ke atas dengan tekapak tangan terbuka lebar kemudian tubuhnya meregang ditinggikan seolah seperti ada yang menarik ke atas. Kemudian tangan itupun turun perlahan lahan disambut oleh istrinya dan diletakkan ke sisi tubuh suaminya. 


Bu Ridwan yang duduk di samping suaminya, memegang tangannya sambil membaca talqin.


La ilaha illa Allah” ucap Bu Ridwan dengan suara yang lembut.


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, Allahumma firlahum warhamhum waafihi wafu anhum."


Serentak semua yang ada di sana mengucapkan kalimat tarji tersebut.


Pak Ridwan menghembuskan napas terakhir lima menit setelah Godid menarik selang ventilator. Godid menyaksikan cahaya berkedip-kedip di layar dan detak jantung menunjukkan angka nol, garis datar di layar monitor.


"Papa udah ga sakit lagi sekarang. Ivir sayang Papa" Ucap Virda disertai tangis pilu. Sejak menjadi menantu Pak Ridwan Dia belum pernah berbincang dengan Papa mertuanya itu.

Hari itu juga Pak Ridwan dikebumikan. Prosesinya berjalan dengan lancar serta dihadiri oleh sahabat, kerabat, keluarga, dan orang-orang yang mengenal beliau.



Usai prosesi pemakaman Papanya, Virda dan Godid mengucapkan terima kasih kepada keluarga, kerabat, dan sahabat yang udah menyempatkan bertakziyah dan bahkan ikut ke pemakaman sampai prosesi selesai.

2 comments:

  1. jadi ikut sedih, bisa merasakan karena sudah ditinggalkan ayah untuk selama-lamanya. semoga ALLAH berikan tempat terbaik buat orang orang terkasih kita yang terlebih dahulu menghadao Ilahi Rob

    ReplyDelete