![]() |
| canva.com |
"Yuhuu… pulang kampung kita!" seru Nella riang sambil menepuk paha suaminya, Ia tidak menyadari kalau suaminya sedang meringis kesakitan.
Pulang kampung, Nella menyebutnya demikian karena tempat Mbah yang katanya piawai mengurut itu berada di kampung Nella. Kampung Nella berada di luar kota dalam provinsi saja. Katanya jam terbang Mbah sangat tinggi di dunia perurutan dan mobilitasnya padat. Mbah sering dipanggil dan dibawa ke desa-desa sekitar kampung. Dalam perjalanan Nella mencoba menelepon Mbah. Kalau tidak ditelepon terlebih dahulu, bisa saja Mbah tidak sedang berada di rumah. Kebayangkan jauh-jauh menahan sakit eh orang yang dicari tidak di tempat.
"Bentar ya, Mas. Aku turun dulu beli jeruk nipis. Mbah tadi ditelepon bilang kalau keseleo diurutnya pakai jeruk nipis. Ini kebetulan hari Senin, kita sudah sampai di Pasar Senin." Nella sesaat menoleh ke jok belakang sebelum turun dari mobil, dilihatnya Ranaya sedang tidur pulas. Setelah pamit, Nella menuju ke pasar yang berada di pinggir jalan tepat di mana Ia memarkirkan kendaraannya. Pasar Senin di kampung ini beroperasi setiap hari Senin saja, tidak buka di hari lainnya. Nella hafal betul seluk beluk di pasar tradisional itu, karena setiap pulang kampung, Ia dan Ibunya selalu ke sana.
"Berapa banyak, Neng?" Tanya Si penjual kepada Nella.
"Hmm. Ga banyak, Bu. Minta 3 biji eh 3 buah saja. Berapa ya, Bu?" Nella bertanya sambil merogoh saku gamisnya.
"Sepuluh ribu, Neng." Jawab Ibu itu. Nella lalu membayar dengan selembar uang sepuluh ribuan dan meraih kantong berisi 3 buah jeruk nipis yang diberikan Si penjual kepadanya.
"Ini semangka yang tanpa biji itu ya, Bu? Saya beli 1, Bu." Pinta Nella. Ia membayar dengan selembar uang lima puluh ribu. Ibu penjual memberikan kembalian uang Nella. Nella mengucapkan terima kasih lalu pergi.
Kurang lebih dua jam perjalanan dengan beberapa kali berhenti di rest area dan terakhir mampir di pasar Senin, mereka sampai juga di rumah Mbah, yaitu di kampung halaman Ibunya Nella. Di perjalanan Nella sering mengeluh busa jok yang Ia duduki terlalu rendah. Ia terpaksa menyempalnya dengan bantal leher milik Ranaya. Beberapa kali pula Raka meminta kepada Nella agar Ia dibolehkan menggantikan Nella untuk menyetir, tetapi Nella tidak mengizinkannya.
Sesampai di rumah Mbah, Nella dan keluarga kecilnya disambut oleh Bibi, Paman, dan Sepupunya, Ia senang sekali bisa pulang ke kampungnya walau dadakan tapi Ia bisa melepas kangen dengan keluarganya di kampung. Pada lebaran kemarin Nella, Raka, dan Ranaya tidak sempat pulang karena mereka pulang ke kampung halaman Raka. Namun, Ini masih di bulan Syawal walau sudah di penghujungnya.
Mbah melihat kedatangan Nella, perempuan tua paruh baya itu mempersilakan cucunya itu naik ke rumah. Mbah menyalami Raka dan memeluk Nella serta membimbing tangan Ranaya masuk ke dalam rumah. Mbah merasa haru dan sempat berfikir kalau saja tidak karena keseleo mungkin cucunya itu tidak pulang kampung saat ini. Mbah iba melihat Raka berjalan kesakitan menahan pijakkan kakinya saat melangkah. Sembari bercengkerama, Ia menyiapkan sesuatu untuk keperluan mengurut. Nella memberikan jeruk nipis kepada Mbah.
Mbah membelah ketiga jeruk nipis tersebut dan memasukkannya ke dalam poci lalu diberi sedikit air hangat. Sesudah dingin Mbah memeras dan menyaringnya. Sebelum diurutkan ke jari Raka yang keseleo akibat terpeleset di bebatuan di pinggir sungai siang itu, tampak Mbah memberikan beberapa sendok minyak kayu putih ke perasan jeruk nipis tersebut.
Mbah mulai mengurut jari kaki Raka yang bengkak. Raka meringis dan sesekali mengaduh kesakitan. Setelah mengurut Raka, Mbah pergi ke belakang. Ia kembali membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat dan stoples besar berisi kue semprit yang tampak tinggal separuh. Melihat Nella, Raka, dan Ranaya sedang menikmati pemandangan di teras rumah, Mbah meletakkan nampan itu di bale-bale kayu.
Kue semprit adalah kue kering khas dari kampung Mbah. Mbah mempersilahkan Nella, Raka, serta cicitnya Ranaya untuk mencicipi semprit garut itu. Kudapan ini cocok sekali dinikmati dengan teh hangat di kala sore sambil memandang hamparan sawah yang menguning di sekeliling rumah panggung Mbah.
![]() |
| Tokopedia.com |
"Wah, masih ada aja kue lebarannya, Mbah! Ella tau ini kue apa namanya. Ini kue semprit kan, Mbah?" Tebak Nella sambil membuka stoples. Ia mengambil dua biji kue semprit dan memberikan satu kepada Ranaya.
"Jadi ini ga apa-apa ya, Mbah?" Tanya Nella sambil menunjuk kaki suaminya.
"Masalahnya, tulat ini kami berencana akan ikut dengan rombongan kantor Mas Raka liburan, bersamaan dengan libur sekolah Ranaya, Mbah." Tanya Nella khawatir, mengingat jadwal keberangkatan itu sudah di depan mata.
"Insyaalloh besok sudah baikkan asal rajin diurut dengan ini." Mbah menunjuk ke poci berisi minyak urut racikannya.
"Alhamdulillah, semoga semua bisa berjalan sesuai rencana." Ujar Nella dan dianggukkan oleh Mbah.
"Aamiin. Dinten meniko senen, nggih? berangkatnya tulat, hmm... artinya kalian berangkatnya Kamis. Semoga kalian semua dilindungi Gusti Alloh yo, Ndok."
"Kalian nginep toh malam ini?" Tanya Mbah ingin meyakinkan.
"Iya dong Mbah Uti, kami udah sampai di kampung masa ga nginep, lagi pula Mas Raka harus diurut minimal sekali lagi kan, Mbah?" Tanya Nella.
Raka memberi isyarat kepada Nella dengan mencubit bajunya sendiri dan menggoyang-goyangkannya.
"Oh, pakaian? Ada kok aku bawa pakaian untuk Mas, Ranaya, dan juga aku." Sambut Nella paham dengan isyarat Raka. Biasanya di bagasi mobil memang sudah tersedia pakaian serap bahkan sandal dan sepatu juga ada. Apalagi hari ini mereka memang akan pergi mem-videokan Ranaya tentu saja Nella membawa pakaian ganti.
"Oh ya Mbah, malam ini Ella akan jalan ke rumah kerabat yang deket-deket, Mbah temenin Ella ya." Ucap Nella sambil melirik ke arah Raka yang menggelengkan kepalanya.
"Aku dan Ranaya, Mas. Mas di rumah aja, kan lagi atit." Godanya.
__________________________________
![]() |
| canva.com |
Setelah menginap satu malam di rumah Mbah dan bersilaturahmi ke rumah kerabat dekatnya, Nella dan Raka pamit pulang. Nella juga sempat meminta resep kue semprit garut ala Mbah. Kata Mbah kue semprit itu dibuat dari olahan tepung larut atau tepung ararut, biasa orang menyebutnya tepung garut yang berasal dari umbi garut. Jiwa chef Nella meronta-ronta, Ia langsung searching untuk mengetahui penjelasan dan bentuk tepung tersebut.
Tiba-tiba, Nella senyum-senyum teringat sesuatu. Waktu itu Ia juga pernah membuat kue semprit dari resep pemberian Ibunya, tetapi kue hasil buatannya tidak sama dengan buatan Ibu apalagi buatan Mbah. Ini adalah resep turun-temurun kata Ibunya ketika tahu Nella mengganti tepungnya dengan tepung sagu.
Setelah pamit pulang, Nella teringat kemarin Ia belum menulis untuk setoran tulisan di OPREC ODOP Komunitas One Day One Post. Meskipun Ia sudah piawai dalam menulis, tetapi Nella masih suka mengikuti lomba-lomba menulis atau sekedar ikut komunitas menulis. Katanya menulis itu ruh, jadi ruh harus hidup setiap hari. Tiada hari tanpa menulis.
"Astaga, Mas, Aku ada hutang tulisan. Mas yang nyetir ya? Please, bisa kan?" Nella lalu membuka pintu tengah untuk Ranaya lalu Ia duduk di depan di sebelah Raka. Ia langsung gerak cepat membuka aplikasi document di ponselnya. Ia girang sekali karena sudah punya ide tulisan yaitu menulis kisah tentang perjalanan pulang kampung dadakan membawa misi sosial, yaitu membawa Raka berobat kampung, lagi-lagi Ia tersipu-sipu.
Selama di kampung, Nella sangat menikmati suasana sore di kampung. Meskipun mudik dadakan, tetapi Nella merasa mudik kali ini membuatnya rileks, bisa melupakan sesaat deadline dan berjibaku dengan laptop serta tumpukkan buku.
Raka tersenyum melihat perangai istri yang dicintainya itu. Tentu saja Ia yang memegang setir karena sudah bisa menyetir sejak diurut dua kali oleh Mbah Raka tidak lagi merasakan jari kakinya sakit.
🤎🤎🤎



Ceritanya bagus bund dan itu kenapa kuenya menggoda sekaliiii 😍
ReplyDeleteHaha padahal ya sering sekali makan kue kering ini, baru tahu kalau bahannya tepung ararut. ODOP emang keren udh mmprkenalkan kita dg bahan satu inj
DeleteKak Leta ... sepertinya otak kita sefrekuensi mengembangkan kata wajib busa dan tepung ararut ke dalam tulisan. Busa jok dan kue semprit dari tepung ararut. Saya bacanya jadi senyum-senyum sendiri, hehehe
ReplyDeleteEh iya ya D, kk jg udh bc tulisan D, sefeeling kita yak
ReplyDeleteSeru banget Mom, ini kalau terus dilanjut kisah Nella (berasa nhomong sama diri sendiri), Raka dan Ranaya bisa jadi novel Mom.
ReplyDeleteAku mau kue sempritnya, ahahai...
Makasih Nay
ReplyDelete