HOME

Thursday, June 09, 2022

Ulasan Artikel



Hai hai halo, kali ini aku akan coba untuk mengulas/meresensi sebuah artikel. Berikut ini unsur ulasan/resensi artikelnya:



Di awal artikel ini menceritakan tentang seorang istri dan juga ibu yang bekerja bernama Yuni. Sebagian kisah Yuni ini juga aku alami. Ia ingin perusahaan tempat Ia bekerja menjadi tempatnya untuk mengembangkan diri. Namun, di sisi lain dilema sebagai Ibu yang bekerja menjadi masalah baginya. Menjaga keseimbangan antara profesional kerja dan seorang ibu tidak mudah walaupun dengan support system yang baik.


Kalian tahu? Artikel ini mengulas tuntas tentang dinamika Ibu yang bekerja. Pada akhirnya penulis menuliskan tentang 5 Kalimat Ampuh untuk Hadapi Dilema Ibu Bekerja ini.


Sejak menemukan artikel ini Aku tertarik sekali membacanya karena Aku adalah seorang Ibu rumah tangga yang bekerja di luar rumah. Sebagai pekerja profesional tentu Aku ingin mendedikasikan hati dan pikiranku di tempat Aku bekerja. Aku juga ingin mendapatkan pengakuan atas keberadaanku di sana. Totalitas adalah hal utama bagiku untuk membuktikan itu. Namun, di sisi lain, Aku juga adalah seorang istri dan juga Ibu dari seorang putra yang masih kecil. 



Ini menjadi dilema bagiku dong. Aku menghabiskan seluruh tenaga dan pikiran hanya untuk pekerjaanku, sehingga hal ini membuatku lelah. Setiap pulang kerja, fikiranku suntuk dan badanku letih. Pada akhirnya di rumah Aku lebih suka marah-marah bahkan cenderung tidak mau diganggu. Aku berharap semua orang mengerti dengan kondisiku yang lelah bekerja begitupun dengan suami dan anakku. 



Aku sadar betul sikapku itu tidak baik. Aku merasa "I'm not a happy mom 'n family, astagfirullah. Something wrong with me." Sejak saat itu Aku sering ikut pelatihan parenting, googling, dan membaca artikel-artikel kategori parenting.



Ketika Aku membaca sebuah artikel yang berjudul "5 Kalimat Ampuh untuk Hadapi Dilema Ibu Bekerja" Aku bersyukur sekali, karena belum terlambat bagiku untuk menjadi Ibu yang bahagia dari perusahaan kecilku yang bernama keluarga ini. 




Kalian mau tahu apa saja 5 kalimat ampuh itu?


Ayo kita simak bersama-sama!

Cekidot!


5 Kalimat Ampuh untuk Hadapi Dilema Ibu Bekerja:


  1. Seimbang itu tidak selalu 50:50.


Ibu yang bekerja harus bisa mengatur waktu untuk urusan pekerjaan dan keluarga. Tentu saja tidak mudah. Namun, kita pasti paham betul akan ritme pekerjaan kita. Oleh karena itu totallah pada saat sedang tinggi-tingginya perhatian untuk pekerjaan yang harus diberikan. Kemudian, di saat senggang kita bisa beristirahat sejenak dari rutinitas tersebut dengan melakukan aktivitas bersama keluarga. It's about quality not quantity, right!


  1. Bukan berarti Anda tidak berhak mendapatkan me-time.


Poin yang Aku dapat dari kalimat nomor dua ini adalah 'me time' Itu Penting. Setelah lelah bekerja yang menguras pikiran dan tenaga, kita harus menjaga kewarasan kita dengan relax sejenak dan menyegarkan pikiran. Iya dong, Aku setuju itu. Dalam kutipan di artikel ini disebutkan Ibu yang bahagia akan dapat membahagiakan keluarganya. Pasti dong! So, think about healing, ok Moms! 


  1. Meminta bantuan bukan berarti Anda kalah.


"Orang tua yang berhasil menyeimbangkan pekerjaan dan pengasuhan mengerti bahwa memprioritaskan anak terkadang juga berarti harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka."


Ya, i did it!, kita ga boleh segan untuk minta bantuan ahli untuk menemai keseharian anak kita di rumah sembari bekerja. Kita bisa menggunakan jasa babysitter yang telah dilatih terlebih dahulu. Semua rencana dan capaian program untuk anak harus dibuat selanjutnya pastikan semua berjalan sesuai rencana. Yups! Done


  1. Sayang bukan berarti memanjakan anak.


Intisari dari kalimat poin 4 ini adalah rasa bersalah yang dirasakan oleh Ibu yang bekerja adalah karena terlalu sering terlalu lama meninggalkan anak di rumah. Sehingga, cenderung membiasakan anak dengan hal-hal yang tidak mendidik seperti memanjakannya. Hal ini menjadi sulit untuk menanamkan sikap disiplin, bertanggungjawab, dan mandiri kepada anak. Padahal itu merupakan bekal utama untuk membangun kepribadian seseorang.


  1. Bekerja full time bukan suatu kejahatan


Widih, di akhir artikel kita diajak untuk dapat menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga. Jika prioritas kerja adalah money oriented maka memang harus siap dengan konsekuensinya. Totalitas dalam bejerja juga tetap memperhatikan kesehatan diri sendiri karena kita tidak bisa memprediksi apakah selamanya kuat untuk bekerja, untuk itu tidak perlu takut solusinya adalah asuransikan diri dan keluarga. Walau menurut Aku pribadi bahwa asuransi terbaik adalah dengan berserah diri kepada Allah Yang Maha Pengatur segalanya serta merencanakan segala sesuatu sebaik mungkin. Selanjutnya bertawakal karena kita hanya berencana Tuhan lah Penentu yang terbaik untuk hidup kita.


Well, untuk kalian yang punya masalah dengan dilema sebagai Ibu bekerja. Aku rekomendasiin deh baca artikel ini.


  • Keunggulan artikel ini, penulis menyampaikan tulisannya dengan gaya bahasa yang enak dimengerti dan berikan contoh yang real dan  relevan, sehingga kita yang membaca ikut terbawa ke dalam permasalah yang diangkat dalam artikel tersebut. Bahasanya lugas dan mudah dimengerti. Cara penulis menyampaikan poin per-poin sistematis dan komunikatif. Namun, Aku juga menemukan kelemahan dari artikel ini.

  • Kelemahan dari artikel ini adalah, sangat disayangkan di akhir artikel ada iklan yang diselipkan. Itu akan membuat pembaca merasa/berpikir seolah-olah solusi yang diberikan dalam artikel itu adalah satu-satunya jalan, sehingga terkesan tidak murni lagi karena ada sisi komersial di dalamnya.


Semoga bermanfaat. Mohon maaf apabila adalah kesalahan dalam menyampaikan ulasan ini. Sekian dan terima kasih.


♡♡♡

20 comments:

  1. Replies
    1. Beneraaaan???? Happy bgt aku smpe k bulan and back. Butuh krisan dek, kmrn udh ngs² bombay dpt tantangan ini, udah mau nyerah aja🙏

      Delete
  2. mbak, sepertinya ada klaimat yang terputus ya
    artikelnya mewakili diri saya yang juga bekerja full time selain menjadi ibu rumah tangga full time pula, dinamika menjadi ibu ibarat roller coaster hehehe, kembali ke diri kita masing-masing sih, betul banget jika seimbang tidak harus 50:50

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga trputus sih sbnrnya lgsg mau ak sambungin ke nomor/poin d bawahnya, cuma kurang pas, jd kyk nanggung gtu ya.. but, udh ak cb revisi. Tengkiu yaaa😘

      Delete
  3. Saya juga ibu bekerja. Dibawa happy saja karena pilihan hidup saya ya bekerja. Walau bekerja anak-anak tetap dekat dengan saya sebagai ibunya. Tetap saya pernah merasakan ditangisi saat hendak berangkat kerja.

    ReplyDelete
  4. Bagus banget say ulasannya, dilema yang suka kita hadapi ya... Terima kasih untuk pencerahannya...

    ReplyDelete
  5. Wah, BW hari ini isinya tantangan, keren kak. Resensi artikel yang di pilih aku bingit, kayanya after comment langsung ke link artikel yang kakak resensi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya boleh, tp artikelnya ringan saja. Spy d tantangannya ak ga kpayahan. Sbb br the frst time coba buat ulasan, nyari² yg ringan²

      Delete
  6. Tulisannya bagus kak bisa untuk pengetahuan juga bagi yang masih sendiri. Terimakasih kak.

    ReplyDelete
  7. Makasih kak, sudah memberikanku referensi tentang mengerjakan tantangan.

    ReplyDelete
  8. Artikel yang diresensi pas banget buat ak yang masih berkegiatan di luar rumah. Tengkyuuu bund...❤️

    ReplyDelete
  9. Mantap kak. Ini wawancaranya daring kak? Senang deh sudah punya banyak jejaring 👍🏻

    ReplyDelete