HOME

Saturday, June 06, 2020

🤎 Persahabatan Remaja, Al Qur'an dan Al Sunnah adalah Selamat🤎

Semakin seru aja chit chat di wa grup. Bukan grup heboh namanya kalau membernya ga bisa bikin heboh grup dengan topik-topik bahasan yang selalu cetar dan bikin obrolan tambah awet dan berlama-lama saling balas komen. Aku cuma bisa menjadi silent reader doang di grup tersebut. Salah juga nih adminnya nyemplungi aku ke grup. Tapi seru juga sih, akunya aja yang ga bisa ikut seperti itu. 

"Bismillahirrahmanurrahiiim....", tiba-tiba alarm di ponselku menyala. "Al-Kahfi time", bathinku. Alhamdulillah aku mungkin termasuk remaja yang masih bijak dalam bersmartphone. Tentu saja, ponsel bagiku adalah sebagai alat komunikasi dengan ayah, ibu dan adik-adikku di kampung, sebagai notebook, sebagai pengingat atau alaram yang bisa gantiin cerewetnya ibu, sebagai ATM, dan sumber penghasilanku, serta banyak lagi yang lainnya ketimbang hanya buat ngegame, chit chat, berselancar, stalking medsosnya mantan.

Bergegas aku berwudhu dan salat malam, serta kuraih mushabku lalu kubaca ayat demi ayat surah Al Kahfi.

"al-ḥamdu lillahillażi anzala 'alā 'abdihil-kitāba wa lam yaj'al lahụ 'iwajā"

Merdunya suaraku melantunkan ayat demi ayat sudah menjadi pujian wajib dari ibu, adik-adik dan teman-teman sekostanku. Namun tak juga membuatku sombong.

Kutaddaburi arti demi arti dari tiap-tiao ayat yang kubaca.

"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya".

Sudah menjadi rutinitas membaca dan mentaddaburi surah Al Kahfi setiap malam Jum'at dan sepanjang hari Jum'atnya, Alhamdulillah tak pernah kulewatkan hari Jum'atku tanpanya .

Aku sadar, aku adalah remaja yang rentan mendapat godaan besar karena aku hidup jauh dari orangtua dan mengambil pendidikan di kota besar ini, namun bersyukurnya aku tidak termasuk remaja-remaja yang menggandrungi penyanyi-penyanyi korea, nonton konser, apalagi drakor melow. Ya Ampun tau ga sih lu? Drakor-drakor itu bisa-bisanya membuat temen-temen kostku yang kucintai karena Allah ga beranjak dari depan laptop mereka jam demi jam, lalu menangis sesenggukan, ekstrimnya lagi, ada yang menjalani hidup penuh drama layaknya aktris-aktris korea yang mereka damba. Astagfirullah..

“Demi Masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Dan yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran,”
(QS. Al Ashr, 1-4).

Aku sebagai teman yang menginginkan persahabatan ini till jannah, selalu dan tak henti-henti mengingatkan mereka. Yaah... hidayah hanya milik Allah, kita tak punya kuasa mengubah seseorang. Hanya do'a yang senantiasa kulangitkan semoga remaja remaja sepertiku bisa mengamalkan Al-Qur'an dan sunnah.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk,”
(QS. Al-Qasas: 56).

♡5 Juni 2020 - Al Kahfi -TTODOP♡

Friday, May 22, 2020

🦋Ketupat Cinta🦋

Ketupat, nama yg nyaris ga dapat dipisah dengan Lebaran. Menu lebaran favorit keluarga kami adalah ketupat dan gulai nangka. Menu spesial dan wajib ada di hari lebaran. Ini menu yang ngangenin banget apalagi ditambah rendang dengan ditaburi bawang goreng serta dilengkapi kerupuk di atasnya. Lebaran tahun ini tentunya ga seperti tahun-tahun sebelumnya. Benerkan?

Eiitss..., maksudnya untukku. Bagaimana ga coba? Tahun-tahun sebelumnya aku selalu bergantung pada emak untuk melengkapi lebaranku dengan ketupat dan gulai nangkanya. Namun tahun ini berbeda. Tahun ini Syawal kusambut dengan suka cita. Setelah kepergian emak aku ga pernah bisa melupakan emak. Aku ga boleh soerti ini terus. Emak sudah tenang di sana, InsyaAllah, di tempat yang terindah di sisiNya, Aamiin Allahumma Aamiin..

Tampaknya tahun ini aku ga bergairah untuk menyambut bulan Syawal. Jangankan untuk menyiapkan pernak-perniknya, untuk memikirkan menu lebaran yang wajib ada saja aku malas. Tiba-tiba aku dikagetkan suara nyaring Alvaro.

"Ummiey, kata Abbiey kalau lebaran itu ada ketupat ya, Miey? Waah, aku suka ketupat, Miey. Ketupat lebaran Ummiey pasti enak", celotehnya. Aku mengangguk pelan kuhela nafas panjang. "Dua hari lagi lebaran... yeee". Alvaro berlari ke kamar menemui Abbieynya dan bilang kalau Ummiey akan buatkan ketupat lebaran.

Pagi itu, "Semangat ya sayang, kamu pasti bisa. Buktikan padanya dan aku kalau menu lebaran kali ini spesial dimasakan dengan cinta", tepuk lembut abang di bahuku.
Aku hempaskan semua rasa yang selama ini membuatku jadi tak bergairah. Aku ga boleh egois. Hidup dan mati rahasia Illahi, ikhlas dengan takdirnya adalah harga mati. Yaa, emak sudah tenang di sana tak seharusnya aku terus memberatkan emak dengan sedih yang berlarut-larut. Rasa kehilangan memang ga bisa kupungkiri namun ikhlas adalah obat mujarab untukku. Orang-orang di sekelilingku ingin melihatku bisa move on setelah kepergian emak.

Aku mulai disibukkan dengan aktivitas belanja dan memasak pagi itu, aah.. emak pasti bahagia melihat aku bisa mandiri, masak dan menyiapkan menu lebaran sendiri. Sudah berulang-ulang emak bilang dan meyakiniku bahwa aku bisa untuk masak sendiri. Semua modal dari resep hingga pengalaman memasak saat membantu emak sudah kukantongi. Aku tinggal membangun rasa percaya diri. Memasak itu feel, kata-kata juri chef di tv ketika mencoba membuat peserta tantangan memasak di programnya menjadi percaya diri. "Yaaa feel!"

"Taraaa... this is it, ketupat lebaran dan gulai nangka spesial ditaburi bawang goreng gurih dan kerupuk emping di atasnya tersaji dalam sebuah mangkok keramik putih untuk Cibubumiey", kataku bersemangat dan puas dengan kerjaku. "Dan rendang dimasak dengan cinta untukmu, sayang", bisikku lembut di telinga suamiku yang senantiasa menyemangatiku dan membuat aku mampu move on.

"Alhamdulillah, aku ga sabaran pengen cobainnya. Makasih Ummieyaaaa", itu panggilan sayang Alvaro untukku. Dia yang selalu kupanggil manja dengan Cibubumiey yang artinya adalah si buruk busuk ummiey (read: ci buluk bucuk Ummiey). Kata orang-orang tua dulu, memuji anak kecil itu pamalik, jadi jangan bilang ganteng tapi sebut buruk, wangi sebut dengan busuk.. aah itu memang ga berdalil tapi nama itu sudah melekat sebagai panggilan kesayanganku padanya.

Berbagi sedikit tentang ucapan yang berdalil ketika memuji sesuatu atau seseorang dengan kelebihannya “Masya Allah, la quwwata illa billah”
(Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah", sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu. Al Kahfi 39.

Dengan melafadzkan “Maasyaa Allah” ketika kita mengaggumi kelebihan yang dimiliki orang lain, diharapkan orang tersebut tidak terkena penyakit ‘ain disebabkan pandangan kita. Karena penyakit ‘ain ini dapat terjadi baik kita sengaja ataupun tidak.

Nah…yang sering menarik pandangan seseorang adalah tingkah dan fisik anak kecil yang menggoda. Pipinya yang lucu, matanya yang nakal dan lain sebagainya. Lalu datanglah pujian dari sanak, saudara atau teman sekitar kita. Namun kita mungkin lupa, bahwa anak juga merupakan anugrah yang dapat terkena ‘ain. Maka, ingatkanlah orang-orang sekitar untuk mengucapkan masya Allah ketika memberikan pujian kepada anak kita. Begitupula dengan kita sendiri ketika memuji anak atau benda milik seseorang, maka ucapkanlah ‘maasyaa Allah’ ini.

Bahagianya bisa mempersembahkan menu spesial dengan cinta buat orang yang kusayang.
Aku senang, tradisi lebaran dengan ketupat dan gulai nangka ini hadir di rumahku. "Mak, Alhandulillah aku berhasil, resep emak sukses kueskekusi. Al Fatihah", senantiasa untuk emak. 

Thursday, May 21, 2020

🦋Sabar itu Beroleh Cinta🦋

Tiba juga waktu yang ditunggu-tunggu si kakak. Waktunya mudik eh.. balik kampung. Dari pagi kakak sudah sibuk siap-siap. Beberesnya sudah dari sejak kapan tahu dibolehin mudik eh.. balik kampung ding. Sebelumnya dia galau juga bisa mudik eh.. balik kampung atau tidak, sebab berita-berita di tv menyebutkan larangan mudik, namun balik kampung dibolehkan.

Nah loh! Bingung kan lu pada?! Hihi... begini, kalau mudik itu dilarang, karena itu istilah untuk orang yang bekerja dan menetap di suatu tempat lalu mudiknya ke tempat yang lain untuk bersilaturrahim. Itu tidak dibolehkan. Sementara pulang kampung sendiri adalah pulangnya orang yang berada di suatu tempat untuk bekerja sementara keluarganya ada di kampung. Nah, yang begitu boleh untuk balik deh.

Terlepas dari itu sebetulnya status PSBB ataupun tidak kakak tetap bisa pulang. Kampung kakak berada di salah satu kabupaten di provinsi yang sama. Jadi memang belum ada larangannya untuk mudik maupun balik kampung.


"Jadi gimana ya, Bu, Tuti bisa mudik ga sih, Bu tahun ini?".

"Loh memangnya kenapa? Aman kok", ujar suamiku yang biasa Tuti panggil Bapak. 
"Yee, benaran, Pak? Alhamdulillah", spontan kakak saat dikasih tahu.

"Aman, belum ada larangan toh Jambi belum kena aturan PSBB di masa corona ini", jelas abang lagi.
"Iya, lagipula kakak tetap bisa balik karena kakak bekerja di sini dan akan balik untuk berkumpul dengan keluarga", tambahku lagi.
"Kalau ibu sih pengennya kakak ga mudik ataupun balik kampung", harapku sambil tersenyum meliriknya.

Cuaca panas, malah lebih terik dari biasanya. Kami sekeluarga mengantar Tuti mudik ga apa apa sebut mudik karena belum ada larangan. Di perjalanan aku terkenang Emak. Biasanya Emak minta ikut. Namun kali ini berbeda. Cepat-cepat aku alihkan fokusku sebelum air mata menetes di pipi.

"Eh, habis mengantar kakak kita langsung saja ke tempat bunda, Al", kataku memecah keheningan menoleh ke Alvaro yang duduk di belakang sama kakak.

"Iya, Ummiey aku setuju. Ayo, Biey kita langsung ke Padang. Ke tempat bunda. Seruuuu... kita bisa ke pantai", riangnya Alvaro yang ga paham kalau Ummiey cuma bercanda.

"Nah, itu yang ga bisa, Dek. Di Padang sekarang statusnya sudah PSBB yaitu larangan masuk atau keluar kota itu".

Tidak puas dengan jawaban dari Tuti Alvaro  berkerut kening. "Memangnya kenapa dilarang, Biey? Ayolah kita ke kampung bunda", ajaknya.

"Kakak benar Al, dilarang karena untuk mencegah penularan corona lebih luas lagi. Di kota Padang pasien yang terjangkit corona semakin bertambah", jelas Abbiey. "Kita tidak tahu wabah itu bisa saja ditularkan dari orang-orang yang datang atau sebaliknya orang-orang yang datang bisa terjangkit dari orang yang ada dalam kota Padang", sudah kayak pakar dan pengamat saja Abbiey menjelaskannya kepada Alvaro.

Sudah barang tentu larangan ini membuat kita yang memiliki keluarga di kota lain atau sebaliknya akan merasa sedih. Aku dan Uni juga merasakan hal yang sama. Ditambah, lebaran tahun ini akan terasa berbeda karena tidak ada sosok Emak lagi...

"Jadi lebaran ini aku ga bisa ketemu Bang Qy", sedih juga melihat Alvaro jadi murung tidak bisa bertemu dengan abang sepupunya.

"Ya, Nak. Apapun itu. Kita harus patuh. Larangan ini dibuat untuk keselamatan kita bersama. Kita masih bisa video call abang kok", hiburku padanya.

Semua hening dengan dalam imajinasinya masing-masing. Begitupun aku, sudah merasa berhari raya bersama sanak keluarga di kampung dengan tradisinya yang khas.

Alvaro dengan lamunannya berlebaran bersama Bang Qy, berlarian di pantai dan makan-makanan sea food yang dijajakan penjual di sepanjang pantai.

Khayalan Abbiey dengan kegembiraannya dapat bersendagurau dengan abang iparnya yang selalu memberikan pepatah petitih yang selalu dirindunya, hubungan mereka amat dekat walau hanya ipar.

"Aaah.." itu bukan khayalan tapi harapan dan mimpi yang harus bisa diraih dan didapat, tidak sekarang tapi mungkin pekan depan, bulan depan, atau tahun depan. InsyaAllah bersabarlah...

“Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar”. Ali Imran 146

Wednesday, May 20, 2020

🌸Terjebak Hilal Ramadan (THR)🌸

"Allahumma barik lana fi rajaba wa sya’bana wa balighna Ramadhana.Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah (umur) kami hingga bulan Ramadhan.
💚
Ramadan datang lalu pergi bukan tiba-tiba.
Dengan kenangan yang ditinggalkan, tak kan mampu menghapus jejaknya.
Lagi sayang-sayangnya membuat sedih di hati tak terperi terasa.
Para bucin sangat bisa menggambarkan rasanya lukanya.
Kepergiannya akan membuat sedih bagi yang mendambanya.
💚
Day by day, sudah barang tentu terasa kurang pembelajaran tentang pernak-pernik, hal ihwal Ramadan teruntuk kita semua wabilkhusus buat anandaku Alvaro. Sedikit cuma, bak tetesan air di kala dahaga di gurun pasir. Jadilah, itu sudah seharusnya disyukuri walau baru printilannya namun telah dapat membasahi kerongkongan yang kerontang akan hausnya ilmu. Namun, tentang ilmu, tidak ada batasan untuk mencarinya dan tidak ada kata puas dalam mempelajarinya. Belajar itu sepanjang hayat dari buai sampai lahat kata pak ustaz dalam hadist yang terucap.
💚
Begitu cepat waktu berganti, tiada terasa tinggal hitungan jam, iya hitungan jam, 3 kali 24 jam waktu tersisa bersamanya. Syawal pun telah menanti. Setelah itu entah kita akan bersama lagi atau tidak. Entah bisa lagi merasakan hangat suasana bersamanya atau tidak.
Entah dapat meraih berkah dengannya lagi atau tidak. Sepanjang Ramadan ini, Alvaro baru mengenal tentang sahur, tarawih, witir, takjil, ngabuburit, nuzul Qur'an, lailatul qadr dan beberapa pernak-pernik lainnya yang menarik dan tentu saja unik bagi anak yang baru mengenalnya. Itu juga belumlah dalam, sedalam hatimu yang dimabuk cinta dan belumlah luas, seluas maafmu di kala lebaran tiba nanti.
💚
Akhirnya, Terjebak Hilal Ramadan (THR) lagi dan lagi, ikhlas tidak ikhlas harus dilepas berharap ketika dia kembali diri ini masih setia menanti, hati ini tetap merintih memohon hadirnya esok hari. Rasa enggan diri ini ditinggalkannya, karena ingin selalu mengajarkan hal baru yang penuh hikmah tentangnya untuk sang buah hati juga sebagai pembelajaran terhadap diri yang masih sering lalai dibuai nikmatnya surga dunia yang fana.
💚
Jebakan ini bukanlah jebakan batman, yang dibuat untuk mengerjai dan dijadikan bahan tertawaan tanpa nilai dan kebermanfaatan lalu hilang tanpa kesan. Namun, jebakan hilal ramadan ini membuat kita justru mampu memaknai setiap skenario yang dijalani bersamanya dan selesainya harus memberi kesan terhadap tempat, waktu, dan keadaan yang dilaluinya. Sehingga rasa rindu terhadapnya tak pernah pudar sampai kapanpun sampai nyawa berpisah dengan raga. Kutunggu kau Ramadan berharap Tuhan mempertemukan kita kembali. Aamiin
💚
Bulan Ramadan datangnya dengan 3 kekhasannya yang tak dimiliki  dan tak tertandingi oleh bulan-bulan lainnya, di mana pada 10 hari pertama adalah fase rahmat, 10 hari kedua adalah fase maghfirah, 10 hari terakhir adalah fase dibebaskan dari api neraka. Ramadan selalu di hati dan selalu dinanti oleh orang-orang yang mencintainya.
Kuterjebak THR. Terjebak Hilal Ramadan...

🌿Cahaya yang Menginspirasi🌿

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay26
#Ramadhan2020
🌸
Mendidik anak itu susah-susah gampang. Ya ga sih? Iyain aja deh yaaa... akuur😁
Susahnya apa? Misalnya kalau anak ga patuh ga mau diatur, ya kan? Pusing sendiri.
Nah, gampangnya yaitu dengan marah, bila anak melakukan yang ga sesuai dengan keinginan orang tuanya atau jika anak melakukan kesalahan. Dikerasin aja supaya nurut, masih kecil inii..., lagi pula ada pasal 1 dan pasal 2. Pasal 1 orangtua ga pernah salah. Kalau salah, kena pasal 2 nya yaitu kembali ke pasal 1. Tapi apa memang begitu cara yang benar? Tentu ga dong.
🌸
Cara mendidik anak yang baik memiliki banyak metode. Tingkat kesuksesannya bergantung dari metode yang diterapkan orang tua pastinya. Sebagai orang tua, kita dituntut untuk mempunyai cara mendidik anak yang baik dan benar agar anak terbentuk memiliki pribadi yang berakhlak mulia dan diterima oleh lingkungan. Saat anak masih berusia 0 tahun, orang tua memiliki peran paling utama dan pertama dalam perkembangan otak sang anak.
🌸
Anak Lahir di Atas Fitrah. Hadits yang mulia menyatakan, setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani, HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabarani. Makna hadits di atas adalah manusia difitrahkan (memiliki sifat pembawaan sejak lahir) dengan kuat di atas Islam. Tetapi, tentu harus ada pembelajaran Islam dengan perbuatan atau tindakan. Peran penting itu ada pada seorang ibu. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Dalam mengasuh anak, tugas dan tanggung jawab ibu begitu besar. Bukan hanya mengasuh tapi juga mendidik.
🌸
Sebelum adanya Alvaro, mungkin aku termasuk salah satu ibu yang belum punya ilmu agama dalam mengasuh dan mendidik anak. Hampir setiap hari Akhtar dulu kudengarkan lagu-lagu English song for kids, tepuk-tepuk, serta lagu-lagu anak lainnya, itu bukannya ga bagus, bagus juga sih. Tergantung ke mana kita akan arahkan anak kita, sesuai fitrhanya kah? Dan mau dijadikan apa anak tersebut. Itu peran kita sebagai orangtua sepenuhnya. Sampai pada satu ketika biidznillah, malam itu aku ga sengaja menemukan sebuah postingan seorang anak hafiz Qur'an di IG. Allah gerakan hatiku untuk kepoin akun IG tersebut. Aku begitu penasaran cara orangtuanya mengajar dan mendidik anaknya menjadi hafiz. Kustalking postingannya sampai ke bawah-bawah ke yang paling bawah. Postingan demi postingan di akun itu membuatku tak henti-hentinya menitikkan air mata, bahkan banjir air mata. Sesekali aku menoleh dan menciumi anakku, penyesalan demi penyesalan kurasakan sangat dalam menusuk-nusuk dadaku yang sesak karena isakku, penyesalan demi penyesalan terus menerrorku. "Ke mana saja akuu selama ini?", sesalku tak henti, seharusnya Alvaro bisa menjadi seperti anak itu bahkan bisa lebih, karena fitrah bakat yang Allah berikan kepadanya sangat besar. Dari postingan di akun tersebut aku melihat bagaimana orangtuanya menjalin komunikasi ke anak kembar mereka itu dengan lembut, setiap berbicara dengan dalilnya, mengajarkan tentang surga dan neraka dengan apik sesuai usia anaknya. Mereka senantiasa mengulang-ulang hapalan anaknya setiap hari dan memutarkan murotal di rumahnya di saat anak-anaknya tengah bermain. Sehingga alam bawah sadarnya merekam apa yang dia dengar.
🌸
Dulu sulit untuk kupercaya cara tersebut dapat membuat anak mengingat apa yang didengarkan, lalu bisa menjadi penghapal isi Al-Qur'an. Namun, kemudian aku berfikir, jika didengarkan lagu saja anak-anak dapat mengucapkan kata-kata dalam lirik dengan fasih irama dan cengkok yang pas dengan penyanyi asli, kenapa ayat-ayat suci Al-Qur'an tidak? Kutoleh Alvaro yang tengah pulas tidur di sebelahku, bayi kami yang sudah berusia satu tahun itu. Memang tidak lama setelah kepergian Akhtar, Allah melihat kami mampu move on dengan resep ikhlas yang overdosis. Allah amanahkan dan percayakan kepada kami kembali seorang anak laki-laki, MasyaAllah, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?. "Ya Allah mau kubawa ke mana anakku ini? Mau kujadikan apa dia?", tangisku pecah melihatnya. Kuciumi keningnya, berlinang air mataku menyesal setahun ini waktu terbuang sia-sia. Kalau saja dari dulu aku sudah dapatkan pencerahan ini mungkin kata-kata pertama yang dia ucapkan adalah ayat suci Al-Qur'an. Ini belum terlambat! inii belum terlambat! segala kesedihan dan penyesalan kubuang dan hempaskan, aku kembali optimis. "Bismillah, Ya Robbku, jadikan ia anak yang salih, sesuai fitrah keimanan yang ada pada dirinya", doaku lirih sambil mencium keningnya.
🌸
Mungkin banyak orang di luar sana yang inspiarasinya di dapat dari orangtua hebatnya, guru hebatnya, suami hebatnya, penulis hebat dan orang-orang hebat lainnya, sementara aku, lain dari yang lain. Akun IG itu adalah cahaya yang menerangi langkahku hingga aku berani tuk berhijrah dan akun IG itu memberikanku inspirasi untuk mendidik Alvaro. Akun IG itu merupakan langkah awal untuk kami mengasuh, mendidik, dan membesarkannya secara islami, hingga saat ini kami sudah bisa merasakan buah dari itu semua, di usianya 4 tahun lebih 4 bulan dia sudah khatam Iqra' dan mengaji Al-Qur'an dengan lancar. Menjelang TK tahun ini harapan kami dia bisa khatam Al-Qur'an. Hapalan Juz 30nya juga lumayan Alhamdulillan. Harapan kami Alvaro bisa menjadi hafiz Qur'an. Aamiin Yaa Robbal'aalaamiin.

Monday, May 18, 2020

🌸Kenikir Pengobat Rindu🌸

Sudah dua bulan Emak pergi dan selama itu pula rumah Emak tidak ditunggu.
Sedih dan aku rindu Emak, rindu rumah Emak. Sejak aku remaja dan mengakhiri masa lajangku di rumah itu bersama Emak saja, Uni dan Uda sudah lebih dulu membangun biduk rumah tangga dan tinggal terpisah dengan aku dan emak. Aku dan Emak, susah senang bareng Emak. "Oh.. kurindu Emak", ucapku lirih tak terasa air mataku berlinang dan membasahi pipi. Tanpa kusadari suamiku mendengar ucapan dan isakkanku itu.

"Ya, besok kita ke sana. Pekarangan rumah Emak pasti sudah banyak ditumbuhi rumput kenikir", kata suamiku seolah-olah ingin mengalihkan fokusku. "Sebelumnya kan pekarangan itu kita bersihkan dengan mencangkuli dan itu kurang lebih sebulan yang lalu karena rumput itu tumbuh subur di sana", jelasnya lagi. "Habis dicangkul, biasanya ga berapa lama tumbuhlah kenikir yang berasal dari bunga yang beterbangan dan jatuh-jatuh di sekitar tempat itu", ujar suamiku.

"Kenikir itu apa, Biey?", tanya Alvaro yang ikut mendengarkan cerita Abbieynya itu. "Kenikir itu sejenis rumput, Nak. Tapi rumput ini berbeda dengan rumput kebanyakan", mencoba untuk menjelaskan pada Alvaro. "Bedanya rumput ini bisa dimakan", tambahnya lagi. "Oo.. dimakan kambing dan sapi kan', ucap Alvaro santai. "Hmm.. iya kambing dan sapi suka sekali, dan Abbiey juga suka. Soalnya enaaaak sekali, apalagi Ummiey yang mengolahnya", lirik suamiku kepadaku. Aku tersenyum melihat Alvaro keheranan. "Hah?! Masa Abbiey suka makam rumput sih?. Memangnya rumputnya bisa dimakan ya, Biey?", tanya Alvaro lagi.

"Iya busa, sini duduk, Abbiey perlihatkan gambar rumput kenikirnya", ajak Abbieynya kemudian membuka ponselnya lalu setelah pencarian menemukan kata kunci yang dicari, Alvaro ditunjukkan pada gambar rumput kenikir dari ponsel tersebut. "Nah ini rumputnya, rumput ini bisa diolah menjadi makanan. Biasanya nenek dulu mengolahnya menjadi osengan kenikir, diurap juga enak, apalagi ditumis wuiih segeer, Ummiey juga suka membuat telur dadar kenikir untuk Abbiey", cerita Ayah ke anaknya. Aku seperti terbawa ke kisah masa lalu, Emak memang ahlinya mengolah kenikir menjadi hidangan favorit kami di rumah. "Wuuuiih enak kali itu, Biey. Telur dadar aku suka tapi belum pernah pakai rumput kenikir ya kan, Miey?", tanyanya menegaskan kepadaku. "Iya, nanti Ummiey buatkan ya spesial untuk Alvaro", ucapku memastikan itu kepadanya.

Benar saja, keesokan harinya ketika kami datang menengok rumah Emak, hampir seluruh pekarangan bekas cangkulan tersebut dipenuhi rumput kenikir. Ada yang sudah besar dan banyak yang masih kecil-kecil. "Ta, Apa kabar? Sudah lama tidak ke mari", aku dikagetkan oleh sapaan Mbah, tetangga Emak yang sangat baik itu. Kusalami dan kupeluk beliau, sedikit terobati rasa rindu ini kepada Emak tercinta. "Iyaa mbaaah.. kabar baik. Mbah apa kabar?", aku balik bertanya sambil melihat takir yang dipegangnya. "Alhamdulillah, mbah sehat. Eh ini kemarin rumput kenikirnya mau diroundup mbah kakung. Mbah larang karena selama wabah covid ini warung tutup, mau ke pasar juga mikir jaga jarak ini. Jadi kami sekeluarga mengambil rumput kenikir di sini untuk dijadikan lauk dan sayur makan kami", kata mbah sambil menunjuk rumput kenikir yang ada dalam takirnya. "Oh ya ga apa apa mbah, diambil saja Alhamdulillah diolah jadi apa mbah?", tanyaku sambil ikut membantu mbah memetik rumput kenikir dan memasukkanya ke dalam takirnya. "daun mudanya dimakan mentah bersama nasi, atau dicacah dan dicampur dengan sambal terasi dan tempoyak juga enak", jawab mbah. "Kalian berbuka di sini kan? Nanti cicip ya olahan rumput kenikirnya mbah", sahut mbah dengan tersenyum, terobati sedikit rasa rindu kepada Emak. Al Fatihah untuk Emak. 

🌸Kangen Kamu Buntal🌸

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay24
#Ramadhan2020

Video call sore ini bikin ngakak. Aku sedang berbaring di kasur sambil menemani Alvaro bermain. Ketika panggilan video call masuk, "Si Buntal", bathinku, ini adalah panggilan kesayanganku ke uniku. Itu karena tubuhnya yang bahenol, berisi dan gempal. Yang penting sehat dan seksi katanya padaku waktu panggilan itu kusematkan padanya. Panggilan video call tersebut langsung kujawab. Terlihat dia sedang rebahan di kamar, di kasur, "yasalam", kataku spontan. Karena kami sama-sama di posisi rebahan di kamar dan di kasur.

"Halo Buntal. Hahaha.. kenapa jadi samaan kita rebahan gini?", tawa kami pecah saling menertawakan kelakuan masing-masing. Memang kesamaan kami akhir-akhir ini sering rebahan karena kurangnya aktivitas dikarenakan wabah covid 19 ini. Rebahan adalah alternatif mengisi waktu kosong yang panjang hingga menunggu waktu berbuka. Tidak banyak aktivitas yang bisa kulakukan di rumah selain dengan rebahan dan otak-atik ponselku. Sebagian besar pekerjaanku sudah kupindah ke ponsel semua. Jadi, rebahan dan ponsel adalah pasangan yang cocok buatku di masa sekarang.

"Enak aja buntal!", bantahnya. "Coba liat tuh kamu sekarang lebih bulet dari pada aku, hahaha", ledeknya balik. Aku langsung duduk melihat ke cermin lemariku di depan dipan tempatku rebahan. Kulihat muka dan badanku lebih bengkak dan bulat dari biasanya. Hadeh, nular buntalnya ke aku nih "gawat", bathinku ga siap menerima kenyataan pahit ini. Belakangan ini memang aku sudah tidak pernah olahraga lagi, kebanyakam usai subuh aku lebih memilih tidur dan bangun siang.

Kami sama-sama tertawa dan akhirnya sama-sama pasrah dengan kenyataan berbadan buntal. Walau aksi ejek-mengejeknya tidak hanya sampai di sana. Tidak cukup hanya dibuntal-buntalan saja tapi juga sampai ke keluarga kuda nil dan badak serta kerabatnya. Hanya sebatas itu tidak sampai masuk ke hati karena kami memang saling menyayangi satu dan lainnya.

Video call kali ini tak ada pembahasan seru hanya lepas kangen dan say helo saja mengingat kami akan saling merindu dalam waktu yang lama akibat covid kami tidak akan bisa berkumpul dalam waktu dekat ini. Uniku berada di provinsi yang berbeda denganku. Aku rindu pada Si Buntalku yang menyayangiku melebihi dirinya sendiri. Dan dia sebagai pengganti Emak bagiku. "I love Si Buntal, i'm gonna miss u", lirihku sebelum telpon ditutup dan tangisku pecah. "I miss my mom i miss my uni dan keluarganya", ucapku setelah teleponnya kumatikan.

Sunday, May 17, 2020

🌸Lailatul Qadar🌸

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay23
#Ramadhan2020

"Kenapa sih usai subuh ngaji, habis dhuha tadi udah ngaji juga, sesudah zuhur ngaji lagi, ashar magrib ngaji, sekarang isya malam ngaji juga?", tanya Alvaro sambil mengambil rekal dan mushafnya. "Supaya dapat pahala, Dek ", jawab Tuti mengulurkan tangan menyambut kedatangan Alvaro dengan mushaf di tangan kanannya. Alvaro mengambil posisi adab duduk mengaji menghadap kiblat, selalu begitu dan sudah mengerti walau dijelaskan hanya sekali lewat saja. Karena menjelaskannya dengan dalil yang diterjemahkan ke bahasa yang mudah dipahaminya.

"Maksudnya apa kak? Kan kalau ngajinya satu kali saja setelah dhuha seperti biasa,  juga dapat pahala", tegas Alvaro. "Ya beda dong, Dek. Semakin sering beribadah semakin banyak pahalanya. Adek ga mau? Entar pahala kakak lebih banyak loh, kalau kakak ga mau kalah sama Ummiey dan Abbiey", ditantang begitu biasanya Alvaro tambah bersemangat. "Apalagi ini kan sudah malah-malam sepuluh terakhir di bulan Ramadan. Saatnya kita perbanyak beribadah, karena kata pak ustaz dalam ceramahnya hadits Rasulullah SAW: Barangsiapa yang beribadah pada malam Al-Qadr karena iman dan mengharapkan keridhaan Allah, diampunilah dosa-dosanya yang terdahulu. HR. Bukhari dan Muslim", jelas Tuti.

"Malam Al Qadr itu apa kak?", ingin tahu dan lebih mendekat duduknya ke Tuti.

"Sebuah malam yang sangat berkah yang lebih baik dari seribu bulan", jelas Tuti. "Sesungguhnya seseorang yang beribadah pada malam itu maka sama baginya dengan beribadah selama 83 tahun 4 bulan lamanya. Lama banget kan? Bayangin pahalanya selama itu", tambah Tuti yang membuat Alvaro ternganga.

"Haaaaah? Panjang sekali kak tahun tahun tahuuuun bertahuun tahuun ya kak?", gaya Al gemesin banget. "Iya, makanya apa ga rugiii ga mau perbanyak ibadahnya?", goda Tuti lagi.

"A’udzu billahi minasy syaithonir rojiim", suara merdu Al melantunkan bacaan ta'awuz menggema di ruangan itu.
"Kakak simak ya bacaannya, Dek", sambil membuka mushafnya.

Usai mengaji, kami berkumpul di ruang musala kecil ini mendengarkan Abbiey menjelaskan keutamaan malam lailatul qadr. Alvaro sangat antusias mendengarkan. Abbiey mengatakan ibadah apa saja yang dikerjakan pada malam lailatul qadr itu maka pahalanya sangat banyak. "Tadi Abbiey dengar sekilas penjelasan kakak ke adek. Itu benar. Nah, selain mengaji semua bernilai ibadah jika yang dilakukan adalah kebaikan dan diawali niat karena Allah", jelas Abbiey mengelus rambut Alvaro yang dipangku Abbiey.
"Al mengaji, murojaah itu ibadah, Al bantu Ummiey ibadah, kak Tuti nyapu, cuci, dan seterika dan lainnya jika ikhlas maka itu ibadah, Ummiey ke sekolah mengajar ibadah. Bukan cuma puasa, shalat, haji, dan zakat saja", ujar Abbiey. "Jadi carilah dan burulah malam lailatul qadr dengan perbanyak beribadah", tutup Abbiey.

"Betul gaes, Abbiey bener gaes", sambung Al sambil berdiri gayanya sudah kayak ustaz di masjid saja. "Ayo semuanya kita perbanyak beribadah pada malam lalatul..., apa, Kak?", putus ceramah Al karena lupa. "Lailatul qadr, Adek kakaaaak", gemes Tuti mencubit pipi gembul Al. "Iya, betul gaes..", sambung Al sambil memegang pipinya kesakitan. "Ayo kita mencari dan memburu malam Lailatul qadr itu tanda seorang yang bertaqwa", selesai Alvaro berceramah kami bertepuk tangan serentak dan ia menghambur ke pelukaanku dan kupeluk erat anak salihku ini, "MasyaAllah laa haula wa laa quwata illa billah", 

Monday, May 11, 2020

🌸Hore Baju Baru🌸

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay18
#Ramadhan2020

Setengah jam lagi waktunya berbuka tiba. Hari ini berbuka bersama keluarga Abbiey di rumah kami. Walau kebiasaan berbuka bersama kami, tuan rumah diimbau tidak perlu masak banyak-banyak karena yang datang berbuka juga membawa makanan masing-masing. Tetap saja kami ingin menyiapkan segala sesuatunya untuk nanti.

Lima belas menit menjelang berbuka keluarga sudah berangsur-angsur datang. Persiapan pun sudah selesai 99%. Tinggal menata dan menyusun ke atas meja saja lagi. Semakin ramai dengan riuhnya anak keponakan yang bermain dan berebut mainan, maklumlah mereka hampir seusia dari usia balita hingga batita. Ada yang bermain bersama, menangis karena menginginkan mainan yang dipegang oleh yang lain, dan ada yang bekejaran berlari-larian.

Melihat keponakan masih kecil-kecil aku teringat baju-baju Alvaro seusia mereka kusimpan rapi di dalam lemari. Sudah dari lama aku ingin membagikan baju-baju itu hanya saja belum ada kesempatan. Aku langsung mengambil tas baju-baju tersebut dan membuka lipatan baju satu demi satu. Kucocok-cocokkan untuk siapa-siapanya. Keponakan semuanya laki-laki jadi pas lah mendapat baju turunan dari Alvaro

"Ini dipilih... dipilih. Baju yang ini pasangannya dengan celana yang ini", kataku sambil membongkar-bongkar layaknya pedagang di pasar malam saja. Adik iparku menoleh dan mulai mendekat. Awalnya mereka bingung, apa-apaan ini pakai gelar dagangan. Setelah mereka melihat jenis dan model pakaiannya mereka merasa itu pas dan cocok dengan anaknya mereka lalu memilih dan mengambilnya.

Alvaro adalah anak kami semata wayang, sejak ada Alvaro aku lebih sering membelikan dia baju ketimbang baju untuk diriku sendiri. Aku memilihkan baju untuknya tidak seperti kebanyakan orang tua yang lain, yang memilihkan baju-baju motif dan corak yang rame. Aku lebih cenderung memilihkan baju kaos, dan kemeja polos serta jins dan celana bahan untuk Alvaro. "Fashionable" kata orang-orang yang mengenalku. Walau pakaiannya seperti pakaian orang dewasa namun pakaian Alvaro kubeli di kids fashion online maupun offline.

Kondisi semua baju Alvaro itu memang masih bagus. Maklumlah kalau baju anak-anak cepat sempitnya karena anak-anak pertumbuhannya sangat cepat dtambah lagi aku lebih suka memilihkan baju yang pres body. Jadi baju itu tersimpan hanya karena sudah sempit saja. "Alhamdulillah ini bisa jadi baju lebaran, tak perlu yang baru tapi masih seperti baru", kata salah seorang adik iparku itu. Benar saja baju-baju itu seperti baru bedanya tidak dibungkus plastik saja. "Lumayan", kata suamiku. "Ini bisa untuk lebaran tidak usah beli yang baru lagi", ujarnya kepada salah seorang adiknya yang terdampak covid 19. Dari pada beli-beli baju mending uangnya bisa dipakai untuk kebutuhan lainnya.

"Iya, ini masih bagus-bagus", Ibu mertuaku menambahkan. Jadi uang yang ada bisa digunakan untuk menunaikan zakat dan untuk kebutuhan pokok lainnya", ucapnya lagi. Suasana jadi kayak pasar kaget saja. "Ini mana pasangannya?", adik-adik memilih-milih mana yang cocok untuk anaknya. Tak jarang mereka menarik dan mengambil baju yang sama akhirnya tawa kami pun pecah karena mereka berebut. "Itu aku duluan ambil", histeris adikku yang satunya. Ramenya sudah ngalahin anak-anak yang riuh tadi. "Oh ya, ada sepatu dan sandal Alvaro juga tu di dalam kantong plastik di gudang", ingatku. Aku meminta Tuti untuk mengambilkannya di gudang.

Tidak terasa waktu berbuka tiba, pasar kaget ini harus segera ditutup. Kuatir diusir kamtib karena sebentar lagi mereka akan turun untuk merazia yang masih gelar dagangan di jam-jam berbuka puasa ini. Kulihat barang daganganku semua ludes tidak bersisa. Turut bahagia bisa berbagi walau pakaian bekas tapi masih sangat layak pakai dan berbaginya juga ke saudara sendiri apalagi bisa meringankan beban mereka yang terdampak covid 19, tidak perlu lagi menyiapkan budget untuk baju baru di hari lebaran. Utamanya berhari raya adalah silaturahiimnya, dan walau lebaran tahun ini hanya di rumah saja, tidak mengurangi rasa suka cita kita.

Sunday, May 10, 2020

🌸Sebuah Kisah Mulia🌸

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay17
#Ramadhan2020

Pagi itu usai kami dhuha time, seperti biasa aku menyimak hapalan Alvaro. Murojo'ah paginya dari surah Al- Fajr sampai dengan surah An Naas kalau malam dari surah An Naba' sampai dengan surah Al Mutaffifin. Sudah kebiasaan Alvaro kalau murojo'ah ya sambil main, kali ini dia ngajak main lego. Ga pa pa sih, supaya dia bisa enjoy, releks dan menikmati tidak merasa terpaksa saja. Cusss...

Aku mulai dengan taawudz dan basmallah, Alvaro membersamai bacaanku. Di saat murojo'ah begini aku ga bisa total sambil main dengannya karena biasanya aku pegang mushaf, karena banyak juga surah pendek rentangan surah-surah hapalan Alvaro itu yang aku sendiri juga belum hapal. Jadi alvaro bermain sendiri sambil murojo'ah dan aku menyimak dengan mata mantengin mushaf. Walau sesekali dia minta bantuan kepadaku untuk membuka lego yang berdempet sulit dipisahkan.

Sampai bacaan Alvaro pada surah Al-Alaq dan Al-Qadr.

"بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ"
"innā anzalnāhu fī lailatil-qadr"

"Ohya Al, biasanya kalau tarawih di masjid, surah ini sering dibaca pada malam-malam terakhir di bulan Ramadan" potongku.
Mendengar perkataanku itu Alvaro langsung berhenti melanjutkan bacaannya.

"Oh ya, Miey. Sekarang 17 Ramadan ya, Miey?", tanyanya. Menyesal pula aku memotong bacaannya tadi.

"Belum Al, 17 Ramadan itu besok hari Ahad. Sekarang masih Sabtu 16 Ramadan", jawabku.

"Kata Abbiey 17 Ramadan itu Al-Qur'an jatuh ya, Miey?", tanyanya dan sempat membuatku tertawa geli dengan pertanyaannya. Dibayangan Alvaro menurut pemahanku dari kalimat yang dia utarakan adalah pada tanggal itu Al-Qur'an berjatuhan ke bumi. Aku sempat mendengar kemarin dia ngobrol-ngobrol dengan Abbieynya. Sekilas kudengar Abbieynya bilang bahwa tanggal 17 Ramadhan Al-Qur'an diturunkan ke bumi. Mungkin saat itu begitulah pemahaman harfiah anak-anak seusia Alvaro.

Memang untuk menyampaikan hal baru kepadanya harus dengan cara yang dapat dan mudah dia pahami, dan itu keahlianku, "hmm.." memang belum ada yang di rumah sebisa aku memberikan pehaman kepada Alvaro (bukannya sombong yaa hehe udah terbukti kok, tanya saja Abbiey dan kak Tuti). Biasanya mereka hanya menjelaskan secara sepintas saja, Alvaro yang belum menangkap apa yang dimaksud akan bertanya, "Beneran?"  nanti mereka akan katakan, "tanyalah Ummiey kalau ga percaya". Lalu akan kujelaskan detail ke Alvaro dengan kata-kata yang mudah ia pahami. "Segala yang dari hati, akan sampai ke hati", kataku ke mereka saat Alvaro mulai paham.

"Surah yang Alvaro baca tadi mengisahkan tentang malam lailatur qadar", kataku. "Dan biasanya surah ini selalu dibaca pada salat tarawih di malam-malam tanggal 17 Ramadan dan seterusnya di sepuluh hari terakhir Ramadan", tambahku lagi.

"Memangnya apa artinya, Miey", tanya Alvaro yang memang dia selalu minta dibacakan artinya kalau dia murojo'ah. "Alvaro baca ayatnya dan Ummiey baca artinya ya", begitu pintanya.

"Artinya Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar. Malam kemuliaan yaitu malam lebih baik daripada seribu bulan", jelasku.

"Setiap tanggal 17 Ramadan diperingati sebagai malam Nuzulul Quran. Nuzul Qur'an berarti turunnya Al-Qur'an. Jadi Al-Qur'an itu bukan berjatuhan ke bumi, melainkan diturunkan, dalam QS. Al-Anfal ayat 41 Allah berfirman , "Dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami yaitu kepada Rasulullah (Muhammad) di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan di badar, perang badar", jelasku kepada Alvaro. Sedikit saja dia paham, sudah merupakan satu amal kebaikan yang akan Allah catat sebagai pahala, InsyaAllah. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).

"Al-Qur’an turun secara berangsuran yang didahului dengan surat Al-‘Alaq ayat 1-5  yang Al baca sebelumnya tadi", kataku. "Pada saat pengangkatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi Rasul ialah malam 17 Ramadhan", jelasku.

"Ooo.. kirain aku semua Al-Qur'an itu berjatuhan, Miey. Kena nanti kepala kita kalau jatuh ya kan, Miey?", katanya sambil memegang kepalanya. Kuusap kepalanya.

"Nah, untuk itu. Kita harus selalu dekat dengan Al-Qur'an dengan cara sering-seringlah membaca Al-Qur’an, karena membaca Al-Qur'an sendiri adalah sebuah amal shalih. "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, HR. At Tirmizdi". Kataku.

"Asiiiyaaap, Ummiey", sambut Alvaro dengan tangan disejajarkan dengan pelipisnya seperti sedang memberikan penghormatan kepada komandan upacara.

"ihdinas siratal mustaqim"
 “Tunjukkanlah kami jalan lurus (yaitu, Kitab dan Sunnah).”
(QS. Al-Fatihah : 6)

Alhamduliah wasyukurillah

Saturday, May 09, 2020

🌸Tangisan menjadi Teriakan🌸

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay15
#Ramadhan2020

"Jadi bagaimana ini, Mas?", samar-samar kami mendengar suara Surti tetangga di sebelah rumah menangis di rumahnya. "Sepertinya mereka ribut lagi", ujar suamiku.  Sudah dua hari ini aku mendengar mereka ribut, sepertinya membahas tentang uang dan makan.

"Anak-anak bude Surti berebut, Bu waktu Tuti antarkan makanan ke sana", cerita Tuti kepadaku setiap kali dia pulang dari rumah Surti untuk mengantarkan menu berbuka puasa. Surti dan Mamad memiliki 3 orang anak yang masih kecil-kecil.

Surti adalah pedagang kaki lima di kantin sekolah. Sekolah tepatnya berjualan sejak wabah pandemi covid-19 diliburkan dan siswa siswi dirumahkan. Suaminya adalah seorang ojek online yang nasibnya kini juga diujung tanduk, tidak lagi beroperasi karena sepinya penumpang yang menggunakan jasanya. Mata pencaharian kedua suami istri ini tidak lagi dapat diandalkan untuk mendapatkan uang, jangankan untuk memenuhi dompetnya, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja sulit.

Tiba-tiba terfikir ingin membantu Surti agar keluar dari masalah hidupnya agar dapat bertahan dalam kondisi seperti saat ini yang kita tidak tahu kapan ini semua akan berakhir. Tiba-tiba aku teringat dengan kemampuan Surti membuat kue basah. Surti dulu pernah ikut pelatihan membuat kue utusan dari ibu-ibu di RT kami. Sewaktu lomba hari Kartini kelompok kami menang lomba membuat kue bolu, itu karena Surti termasuk anggota kelompok kami, walau bahan dan peralatannya dariku dan ibu-ibu yang lain.

"Ada apa ya, Bu?, tadi pagi Mbak tuti bilang ibu manggil Surti", tanya Surti kepadaku.

"Iya Surti, Ibu mau minta tolong kamu buatkan ibu kue bolu pandan 2 loyang dan sarang semut 3 loyang. Ini bahan-bahannya dan kalau kamu perlu mixer dan oven pakai saja punya ibu", kataku sambil menyerahkan bahan-bahan itu kepada Surti yang masih bingung dengan kata-kataku.

"Ibu mau buat kue sebanyak itu, untuk lebaran ya bu?", tanya Surti bingung.

"Ada yang pesan. Surti mau kan membuatkan kue-kue itu?", ujarku lagi. "Surti bisa kan? Anak-anak bagaimana nantinya?", tanyaku. "Bisa bu bisa, anak-anak bisa main sama bapaknya", buru Surti. "Baiklah, Bu. Surti bawa bahan dan peralatannya", ucap Surti.

Kue-kue yang Surti buat kufoto dan kuposting ke sosmed lalu kukirim ke teman-teman dan saudaraku. Lumayan dalam sepekan ini sudah banyak yang memesannya, bahkan yang sudah mencoba rasa kuenya ingin memesan lagi. Kuhitung-hitung modal dan keuntungannya, kuberikan seluruh keuntungan itu kepada Surti. Surti sempat menangis terharu. "Sekarang Surti sudah punya modal sendiri, teruskanlah usaha ini", kataku

Semakin banyak pesanan Surti untuk menu berbuka dan hari raya. Sekarang Surti tidak lagi bekerja sendiri, dia mengajak beberapa tetangga yang senasib dengannya untuk membantu menyelesaikan orderannya. Sementara aku tetap membantu urusan pemasarannya. Sore tadi Surti datang mengembalikan mixer yang dia pakai. Katanya dia sudah beli mixer sendiri. Kulihat Surti membuka dompetnya dan terlihat lembaran-lembaran uang di dompet itu, "Alhamdulillah dompet itu ada isinya", bathinku ikut bahagia. Surti mengeluarkan lembaran uang dan mnyodorkannya kepadaku. "Ini bu, Surti balikin uang ibu untuk modal usaha kue Surti tempo hari itu", katanya kepadaku. "Itu untuk Surti, tidak usah dikembalikan", kataku lembut sambil memutar balik uang ditangannya ke dada Surti.

Surti pamit pulang karena anak-anaknya di rumah bersama para pekerjanya. Kulihat di depan rumah, Mas Mamad sedang menebas semak dan mengeluarkan pasir dari dalam selokan. Kulihat dari jendela ad kepala Abbiey nongol. "Abang yang suruh?", tanyaku mendekat. Kulihat suamiku mengangguk. "Hmm.. ada yang mau saingan", kataku.

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan", bisik suamiku. Kami tertawa bareng. "Sekarang kamu lihat tu, dompet Mas Mamad di sakunya tebel", ledek suamiku. "Ada beberapa rumah tetangga yang dibersihkan oleh Mas Mamad pekarangannya dan ia mendapatkan upah dari kerjanya, kemarin abang pinjamin dia alat roundup dan pemotong rumput di gudang", cerita suamiku.

"Mas, anak anak nii ajak maain, kuenya tar gosooong", teriakan Surti sampai ke rumah.

"MasyaAllah"  barokah ya Surti dan Mas Mamad.

🌸Kolak dalam Kotak🌸

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay16
#Ramadhan2020

Sebelum ashar aku dan Tuti sudah berkutat di dapur. Rela tidur siang kami korbankan agar semua selesai tepat waktu. Kolak kacang ijo sudah siap untuk dimasukkan ke dalam cup kemudian dimasukkan ke dalam kotak. Kelimapuluh kotak itu akan diantarkan ke panti tempat kami biasa berbagi. Panti itu tempat khusus untuk anak-anak seusia Alvaro. Paling besar usianya 12 tahun seusia anak kelas 6 SD. Di tempat itu kami berikan Alavaro edukasi berbagi dan berempati. Anak-anak yang ada di sana rata-rata yatim dan yatim piatu.

"Berlebih ga sih ini, Bu?", tanya tuti sambil menghitung semua kotak. "Ya disengaja itu, Kak, sekalian nanti kita kasih bapak dan anaknya yang sering duduk di samping bak sampah di depan ruko bahan bangunan itu kak", jawabku. "Tuti mau bu satu", potong Tuti. "Hmm.. ya nanti sisihkan saja satu ya, Kak", jawabku. "Dan nanti kita kasih yang ada di jalanan juga, Kak", tambahku lagi.

"Nanti dikirainnya kotak nasi isi sampah, Miey", sambar Alvaro yang sedari tadi menyimak pembicaraan kami. Kami tertawa mendengarnya. "Haha ada-ada saja kamu ini, Dek", kekeh Tuti tak tahan sampai-sampai sebagian kuah kolak tumpah dari cupnya. "Nanti kita kasihkan kotaknya dan minta mereka langsung buka saja atau kita tawarkan untuk bantu membukakan. Supaya kekuatiran mereka sirna", jelasku kepada Alvaro. "Keren.. keren, Miey jadi Ummiey ga dikatain ngefrank", puji Alvaro sambil mengacungkan dua jari jempolnya.

Akhirnya selesai juga semua tepat waktu. Sudah pukul setengah lima. Kami segera bersiap dan akan pergi mengantarkan semua kotak kepada orang-orang yang biizdnillah sudah tercatat hari ini untuk menerimanya. Setelah mengantarkan dan membagikan nasi kotak berisi kolak dalam kotak itu kami langsung pulang ke rumah. Terharu melihat ekspresi bahagia Alvaro saat membagi-bagikan nasi kotak plus berisi Kolak kacang ijo dalam kotak tadi.

Tiba-tiba, "Miey, itu ada kakek tua!, kasihan", ujar Alvaro ketika melihat seorang kakek tua sedang duduk di samping sepedanya yang diparkir di samping ruko tertutup. Terlihat si kakek menunggu waktu berbuka. Memang tinggal beberapa menit lagi beduk akan ditabuh menandakan waktu berbuka tiba. Ia membuka tempat air minum yang sudah usang dengan tangan kanannya yang terlihat sudah lemah karena terlihat berulang-ulang kali ia memutar tutup tempat minum itu dan sebuah plastik yang diikat karet gelang ditaruhnya di atas sandalnya. Seketika itu juga Abbiey menepikan kendaraan yang kami naiki.

"Ayo, Dek. Kita kasih kakek itu kotak nasi ini", kata Tuti cepat. "Tapi kak, bukannya sudah habis?", kataku. "Ini ada satu lagi bu yang Tuti sisihkan untuk Tuti tadi", jelas Tuti sambil membuka pintu mobil lalu turun diikuti Alvaro. "Tunggu kak aku pakai masker dulu", teriak Alvaro. Aku dan abang tersenyum melihat anak berdua itu. Alhamdulillah..

"Robbi habli minassholihin", ucapku dan abang berbarengan. "Aamiin"

Thursday, May 07, 2020

🌸Banyak dan Ikhlas🌸

Azan subuh, zuhur, ashar, magrib dan isya berlalu silih berganti. Sudah lama juga tempat ini sepi tidak berpengunjung. Aku melihat yang datang ke sini hanya orang-orang yang itu-itu saja. "Aah.. bosan", bathinku. Mereka datang lalu salat, terus pergi. Entah karena sudah kenal denganku atau memang sudah malas melihatku. Memang kebanyakan yang datang menghampiriku biasanya orang-orang baru. Orang yang salat dan berisitirahat karena lelah dalam perjalanan. Mereka itulah yang memberiku recehan bahkan lembaran dari saku atau dompetnya.

Malam telah tiba, aku di sini, berteman kelam dengan teman-temanku yang juga senasib denganku. Tiang masjid tempatku bersender selalu menopang tubuhku yang mulai renta ini. Tak sanggup lagi aku berkeliling di antara jama'ah ibu-ibu seperti tarawih-tarawih tahun lalu. Aku diopor ke sana kemari, kadang sudah dua bahkan tiga kali jalur itu kulalui, yang acuh tetap saja acuh tidak melihatku. "Ah, biar saja, jangan ambil hati", bisikku pada diriku.

"Ada yang liat kotak amal tadi?", ucap lirih seorang ibu-ibu celingak celinguk mencari sesuatu. "Hmm... dia, kenapa mencariku? Bukannya tadi aku sudah mau sepuluh kali lewat di depannya,", bathinku. "Ada, tadi ada", ujar nenek yang duduk di sebelah kanannya yang tadi mengucap basmallah memberiku uang yang diambil dari uncangnya. "Iya, Bu. Tadi ada, lama diam di depan ibu, saya fikir ibu ga ngisi", ujar seorang perempuan yang rupawan lagi menawan di sebelah kirinya yang kuingat memberiku 2 lembar uang yang dilipat, yang merah di bagian dalam dan yang ungu dibagian luar. Aku juga tidak mengerti mengapa dia melakukan hal itu setiap memberiku uang.

Tiba-tiba aku berasa tubuhku diangkat diopor dari tangan ke tangan "Hei... hei!, aku bisa jalan kok!", teriakku. Namun tak ada yang mendengar. Sampailah aku di tangan ibu yang mencariku tadi. "Hmm... enak aj ga ngisi, emang lu aj yang bisa, berapa lu tadi ngisi? Sepuluh ribuan kan tadi? Nih liat ni, gue limapuluh ribu", ujarnya sewot sambil melipat-lipat uang itu di atas kepalaku. Suaranya pelan dan cuma aku sendiri yang mendengarnya "Aduh, Bu. Masukin langsung kenapa, Bu?. Lama juga aku didekap diketiak si ibu. Uang itu dibolak balik dilipat dibuka berulang-ulang, barulah diberikan kepadaku. "Huftt... dilepas juga", ujarku sambil menarik nafas lega.

Teringat cerita tarawih tahun lalu. Setiap tarawih aku berkeliling dengan riang gembira menyapa ibu-ibu yang kulewati, kadang ditahan dan dipegang dikasih uang, aku senang kelak bisa menjadi saksi amal jariyah mereka di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala. Itu duluu sewaktu aku masih gagah dan kuat. Sekang aku mulai renta dan sudah mulai keropos. Sudah ada yang menggantikanku. Tugasku ini akan digantikan anak cucuku, kotak-kotak amal yang lebih keren, ada yang dari kaleng ada juga kayu yang bercat warna-warni dilengkapi gembok pengaman. Sehingga sulit dibobol maling. Sepertiku diriku dulu.

"Beramal saja dengan ikhlas, bersedekah itu sedikit tapi ikhlas, lebih baik lagi banyak dengan bersih dan tulus hati", akhir ceramah pak ustaz kala itu. 😊

Wednesday, May 06, 2020

🌸Masjid dan kenanganku🌸

Beruntung sekali aku yang tinggalnya di dekat masjid. Apalagi Masjid ini adalah masjid terbesar di kotaku, Masjid Agung Al Falah namanya masjid kebanggaan kami. Lokasinya merupakan pusat kerajaan Melayu Jambi dan berdiri di lahan bekas Istana Tanah Pilih dari Sultan Thaha Syaifudin. Dikenal sebagai Masjid 1000 Tiang dibangun pada tahun 1971 dan selesai pada tahun 1980, meskipun jumlah tiangnya tidak sampai 1000 buah. Bangunan masjid ini memang seperti sebuah pendopo terbuka dengan banyak tiang penyangga dan satu kubah besar di atasnya. Bentuk bangunan dengan konsep keterbukaan tanpa sekat seperti ini menghasilkan konsep ramah.

Sore itu langit tidak menampakkan merahnya. Aku dan teman-teman masa kecilku berlari-lari mengejar rinai di depan kami yang mulai membasahi tanah yang kami lalui. Dengan mukena, sejadah, dan sarung digunakan untuk melindungi tubuh dan kepala dari rinai yang semakin deras. Niat datang ke masjid tak surut ditambah keramahan pak ustaz yang dengan lembut tutur katanya membuat kami sayang tuk melewatkan momen itu setiap harinya.

Halaman masjid yang sangat luas menjadi arena bermain kami sebelum mulai mengaji. Luasnya lebih dari 2,7 hektar mengelilingi masjid yang berbentuk bujursangkar ini. Keindahan masjid semakin tampak karena dikelilingi kolam di keempat sisinya sambung menyambung tidak putus, aku membayangkan bak istana Ratu Balqis yang terdapat air di bawah istananya seperti cerita ustaz tentang kisah Nabi Sulaiman. Terkadang kolam itu kosong tak berair karena sedang dibersihkan. Tak jarang aku dan kawan-kawan terjun ke dalamnya bekejar-kejaran dan tanpa sadar kami sudah mengililingi Masjid dengan ukuran 80m x 80m itu.

Masjid ini digunakan sebagai tempat ibadah, selain dipakai untuk salat berjamaah lima waktu, munfarid, salat idul fitri, dan Idul Adha juga tak jarang dipakai untuk kegiatan majelis taklim, perayaan hari besar keagamaan, dan baksos. Di masjid ini kami juga belajar agama, mengaji, dan juga mendengarkan kisah Nabi Allah dan sewaktu aku remaja pernah kursus Bahasa Arab dan Inggris juga, gratis loh!

Kami salat magrib, mengaji dan isya di masjid. Ba'da isya kami pulang ke rumah masing-masing. Ketika malam hari, megahnya masjid semakin bertambah-tambah, masjid yang tak berdinding dan berpintu ini di kala malam terlihat sangat indah dengan lampu yang membuatnya bercahaya bak berada di atas awan seperti di negri dongeng.

Rinduku pada suasana itu, rinduku bisa kembali ke rumahku di dekat masjid itu.

Sejak tahun 1988, di sekitar masjid dibangun sebuah sekolah Islam ternama di kotaku, sekolah Islam pertama di kota ini. SD Islam Al falah namanya, sesuai dengan nama masjid tempat ia didirikan. Sedari dulu aku membayangkan dapat bersekolah di sana. Aah.. mana mungkin, aku membuyarkan khayalanku untuk dapat bersekolah di tempat seperti itu. Dengan adanya pusat pendidikan Islam di sana, masjid ini semakin dimakmurkan karena dimanfaatkan oleh siswa-siswinya dengan segala aktivitas keagamaan. Dan beruntungnya aku, sejak pendidikan kuselesaikan, tahun 2003 aku mengajar di sana menjadi guru tetap yayasan. Semoga aku bisa menjadi bagian hambaNya yang memakmurkan rumahNya. Aamiin.

Kenangan puluhan tahun silam masih melekat di benakku. Rinduku sedikit terobati.

-sekian puluh tahun silam-

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay13
#Ramadhan2020
@komunitas.odop

Source: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Masjid_Agung_Al-Falah

Tuesday, May 05, 2020

🌸Jangan Nyeleneh🌸

Azan magrib yang ditunggu-tunggu sepanjang hari ini berkumandang juga akhirnya. Mendengar muadzin yang syahdu membuat denyut jantung terasa terhenti ikut menikmati alunan suara adzan yang begitu merdu. Alvaro dan Tuti sudah menghambur menuju ke dapur siap menyantap semangkok bubur yang masih hangat.

"Ayo, Miey kita berbuka", panggil Alvaro ketika melihatku masih termangu di ruang keluarga tempat kami yang tadinya berkumpul. "Eh iyaa", sahutku. "Ayo, Bang", ajakku sambil melihat suamiku masih menonton televisi. Kemudian kami menyusul mereka ke ruang makan. Kebiasaan kami membatalkan puasa dengan 3 buah kurma dan segelas air hangat berhasil membuat keringat dingin mengucur di seluruh tubuh. Minum air hangat ketika berbuka tentunya menyehatkan, bukan?

"Aduh, Dek. Udah habis saja semangkok buburnya. Nasinya mau ditaruh di mana, Dek?", ledek Tuti sambil memegang perut Alvaro. Alvaro menghindar sambil meletakkan mangkok buburnya yang kosong ke wastafel cuci piring. "Aku makannya nanti, Kak. Aku mau salat jamaahan dulu", jelas Alvaro. Lalu dia menuju ke tempat berwudhu dan segera menggelar sajadah untuk kami semua.

"Rapatkan syafnya", ucap Abbiey.
"Allaahu Akbar", Abbiey takbir dan kami ikuti dengan takbir juga.

"Allaahu Akbar", takbir rukuk.

""Sami'allahu liman hamidah" Suara Alvaro terdengar serak, sebelum Abbiey i'tidal dia duluan i'tidal.

Usai salat kami dzikir dan berdo'a tak lupa selalu mengucapkam syukur atas nikmat dan karunia Allah kepada kami, lalu bersalaman.

"Alvaro, tadi i'tidal duluan kan?", todong kakak cepat. "Memangnya kenapa?", tanya Alvaro balik. "Ga bolehlah, Dek. Namanya saja salat berjama'ah. Kita harus ikuti imam, betulkan, Bu?", tanya Tuti sambil melihat kepadaku. "Iya, kakak benar, Al. Salat berjamaah itu ada imam dan makmum", jelasku kepadanya yang telah bertengger dipangkuanku. "Imam yang memimpin di depan dan makmum adalah orang-orang yang melakukan sholat di belakangnya", tambahku lagi.

"Iya, nak", sahut Abbiey yang ikut menyimak sedari tadi. "Seperti yang Ummiey bilang tadi, bahwa imam adalah seseorang yang memimpin ketika sholat berjamaah. Maka dari itu seluruh makmum harus mengikuti gerakan imam ketika sholat", sambung Abbiey. "Contohnya ketika imam melakukan gerakan ruku', i tidal, sujud dan seterusnya makmum harus mengikuti gerakan-gerakan itu serta membaca doa di setiap gerakannya tanpa mendahului imam", jelas Abbiey sambil mengajak Alvaro untuk duduk dipangkuannya.

"Tuu, udah ngerti belum?", tanya Tuti sambil mencolek telinga adiknya gemas. "Mau duluan aja kayak mau balapan mobil", ujar Tuti dan tawa kecil kami pun serentak.

"Iya kakak aku ngerti sekarang. Tapi kalau aku yang jadi imam seperti waktu salat dengan Naufal kemarin boleh tidak aku duluan, Biey?", tanya Alvaro. "Nah, itu boleh kan Alvaro sebagai imamnya Naufal", jelas Abbiey.

"Bu, pernah juga Tuti salat tarawih di kampung tahun lalu, ada teman-teman Tuti yang berjamaah ikut imamnya hanya ketika salam saja. Dari takbir, rakaat pertama, kedua dan sujud mereka tidak ikut. Tapi ketika tasyahud akhir mereka ikuti imam sampai salam. Itu bagaimana, Bu?", tanya Tuti kepadaku. Aku tersenyum dan kujelaskan bahwa itu tidak benar. "Nah, hayoo... kakak ga khusu' nih salatnya kok tau temannya ga ikut gerakan imam?, ngintip yaaa?", ledekku.

"Yeee kakak salatnya kepo nii yeee", ledek Alvaro lagi sambil berlari mengikuti Abbiey ke ruang makan. Dan obrolan pun berlanjut di ruang makan.

"Salat seperti yang diceritakan Tuti tadi tidak perlu untuk dicontoh, karena itu salat yang nyeleneh", kataku. Itu salat dari orang-orang yang belum paham. Semoga Allah beri mereka pemahaman", tambahku lagi. Tidak lupa kupesankan kepada Tuti jika ada teman yang seperti itu nasihatilah. Namun, jika mereka tak mau mendengarkan maka do'akanlah.

"Hidayah hanya milik Allah, kita tak punya kuasa mengubah seseorang", ucapku.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk, QS. Al-Qasas: 56", lanjut Abbiey.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus", sambung Tuti.

"Aamiin", suara kami menggema.

 Semoga kita terhindar dari sifat bodoh.

Sunday, May 03, 2020

🌸Kasur Jemur Guyur🌸

--------🌸🌸🌸--------

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay10
#Ramadhan2020
#komunitas.odop

"Bu, gordennya Tuti buka semua ya, mau Tuti cuci", ujar Tuti pagi itu padaku yang sedang asyik bermain dengan Alvaro. "Mumpung Tuti tidak sedang berpuasa, Bu", tambahnya. Tuti memang rajin, di rumah ini dia tidak membatasi diri dalam bekerja, dia tak sungkan untuk membantuku dengan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Alhamdulillah berkat pengasuhan Tuti juga, alvaro tumbuhkembang dengan sangat baik, setidaknya hingga saat ini, menurutku. Saat ini, untuk bermain sudah bisa bermain sendiri. Tidak seperti dulu, kalau bermain harus selalu ditemani kakak. Sehingga makin ke sini si kakak lebih leluasa membantu Ummiey menyelesaikan pekerjaan di rumah. Dan aku merasa sangat terbantu sekali.

"Ooh ya buka saja, Kak. Nanti ibu bantu buka gorden di jendela kamar ibu", ucapku.

"Kasur di kamar kakak itu kan juga sudah lama tidak dijemur, dijemur saja sekalian supaya tidurnya lebih nyaman dan terasa lebih empuk, kak. Nanti minta tolong ke bapak untuk mengangkatnya ke luar, soalnya lumayan berat juga", kataku. Sambil  tertawa Tuti berkata, "Hehe iya bu, sudah lama tidak dijemur, habisnya beberapa harikan ini cuaca mendung, kadang malah hujan, Bu dan memang benar rasanya sudah tidak empuk lagi untuk kita pakai tidur".

Syukur Alvaro sudah bisa kutinggal bermain sendiri. Aku membantu Tuti membuka gorden di kamar dan di ruang lainnya. Tuti mulai merendam semua gorden yang tadi dibuka satu persatu ke dalam baskom besar, sementara suamiku mengangkat kasur dari kamar Tuti untuk dijemur ke halaman belakang. Hari ini matahari bersinar terik, waktu yg tepat buat jemur menjemur.

Sore harinya, Tuti mulai mengangkat jemuran dan melipatnya. Sementara aku menyiapkan menu berbuka puasa, takjil yang diminta Alvaro adalah bubur kacang ijo, on process.

"Besok saja Tuti seterika ya, Bu", ujarnya. "Iya ga pa pa", kataku.

"Kasur belum diangkat bapak, Bu, mungkin bapak ketiduran," katanya kepadaku. Aku tinggalkan bubur kacang ijo tadi lalu segera menuju ke kamar dan melihat suamiku yang tengah tidur sambil mendengkur.

"Tiiiidur dia. Bang, bangun. Sebentar lagi masuk waktu Ashar, itu kasur belum diangkat sepertinya sore ini mulai mendung", kataku sambil menepuk-nepuk bahunya. "Buruan tar diguyur hujan loh", desakku dan berhasil membangunkannya. Dia segera bangkit dan melihat ke arah jendela dengan sempoyongan berdiri menuju ke halaman belakang rumah. Berhasil mengerjainya dengan tersenyum aku menuju ke dapur.



Saturday, May 02, 2020

🌸Mendadak Witir🌸

#RWCODOP2020
#RWCDay9
#Ramadhan2020
#OneDayOnePost
@komunitas.odop

🌸Mendadak witir🌸

"Ummiey, ayoo kita tidur", rengek Alvaro kepadaku. Kulihat jam di dinding sudah pukul 21.00, dia memang sudah terlihat sangat mengantuk. Untuk tidur itu, Alvaro harus ada yang menemani, dan maunya ditemani oleh Ummiey. Biasanya dia tidur ba'da isya. Isyaku terlambat karena tadi ada urusan di luar, sementara ketika waktu salat masuk, aku  tidak bisa melaksanakan salat di masjid dalam kondisi saat ini. Jadi kami segera pulang berniat untuk mengerjakan rangkaian salat Isya, tarawih dan witir di rumah. "Iya nanti tidurnya Ummiey temani, tapi Ummiey salat isya dulu ya", jawabku mendekat dan mengusap kepalanya. "Oh, Ummiey belum salat isya ya?, tanyanya lagi. "Belum, nak. Tadi waktu di jalan azan Isya, tapi tidak bisa salat di masjid atau di SPBU kayak biasanya, kan bisa berpotensi terdampak", jelasku padanya. "Ummiey salat ya, Al baca 3 qul dulu lalu baca do'a tidur ya, nanti ummiey menyusul", tambahku.

Aku berwudhu dan mengerjakan salat isya disambung tarawih. Sengaja aku salat di kamar agar dekat dengannya dan dia merasa ditemani. Kutoleh, ternyata Alvaro belum juga tidur, sepertinya dia memang menungguku. Biasanya sih, kalau aku isya ditambah rawatib ba'diyahnya dia sudah terlelap. "Ummiey sudah ya salatnya?", tanyanya melihatku sudah mengakhiri salat dengan salam. Ternyata dia mengamati dan memerhatikanku. "Belum", ucapku. "Kok belum, lama sekali salatnya, tadi Al hitung Ummiey salatnya banyak sekali", tambahnya. "Oh, itu tadi salat tarawih, Nak. Sekarang Ummiey tinggal mengerjakan salat sunnah witir", jelasku lembut menenangkannya yang mulai tidak sabaran. "Salat witir itu apa, Miey?" Tanyanya cepat. Oh ya aku belum pernah menjelaskan tentang salat witir kepadanya, sebelumnya aku hanya menjelaskan tentang salat tarawih, itupun penjelasannya belum selesai  karena dia sudah tertidur, dan keesokan harinya dia baru bertanya kembali dan kuevaluasi dia masih ingat tentang salat tarawih tersebut. Aku berhenti sejenak, duduk disampingnya yang tengah menggolek golek ke kiri dan ke kanan merasakan sejuknya kasur yang spreinya baru kuganti pagi tadi. Dia paling suka sekali kalau sprei yang baru diganti.

"Salat witir itu nak, salat pengakhir malam, atau sholat sunnah yang dilakukan untuk menutup malam atau penutup salat, dan jumlah rakaatnya ganjil, bisa 1 rakaat, 3, 5, 7 dan seterusnya", jelasku pelan agar ia memahami walau tak kupaksa untuk paham. Namun biasanya Alvaro akan bertanya kalau ia tertarik dengan topik pembahasannya dan dari sanalah aku mengetahui Alvaro memahaminya atau tidak.

"Satu rakaat? Memangnya ada ya, Miey salat satu rakaat?", tanyanya penasaran. "Ada, namanya salat witir, Rasulullah tidak pernah meninggalkan sholat sunnah ini, walaupun dalam kondisi beliau sedang safar atau bepergian sekalipun", terangku lagi.

"Dapat pahala ya, Miey kalau kita mengerjakannya?", rasa ingin tahunya mulai kelihatan. "Iya dong, setiap amalan akan Allah ganjar pahala. "Al mau tahu tidak apa keistimewaan atau pahala salat sunnah ini?", tanyaku. "Apa, Miey?", penasaran juga dia. "Dalam hadist disebutkan, “Sesungghnya Allah itu witir, mencintai witir/ganjil, maka lakukanlah sholat witir wahai ahli Al Qur’an”(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah; shahih)", nah, kalau Alvaro mau Allah cintai, maka.." "Al harus mencintai apa yang Allah cintai kan, Miey?", potongnya.

"Betul Al," pujiku sambil mengacungkan 2 jempol kiri dan kananku ke hadapannya.

"Kalau begitu yuk, Miey Al mau salat witir sebelum tidur, tapi satu rakaan dulu boleh kan, Miey?"

"Boleh dong, ayooo!", ajakku

-MasyaAllah-
-Barakallah-
-walhamdulillah-
-wasyukurillah-

Friday, May 01, 2020

🌸Meringankan Tubuh🌸

--------🌸🌸🌸---------

#RWCODOP2020
#RWCDay8
#OneDayOnePost
#Ramadhan2020
#Ramadanolahraga
@komunitas.odoh

Beberapa hari menjelang puasa kok berasa badan makin berat, sejak bekerja dari rumah efeknya kok ke berat badan ya? Iyalah, secara di rumah kerjaannya makan rebahan, begituu teruss diulang ulang sehari bisa berkali kali, udah masuk gank #rebahan loh tanpa tes, tes alam saja bisa terlihat dari bobot dan diameter pinggang. Anjuran untuk jaga jarak, ternyata berlaku juga untuk kancing rok. Rok udah pada ga muat (jangan dipaksakan karna ga akan nyaman), ga bisa dikancingkan lagi akibat sudah berjarak tadi. Akibatnya selain mager beraktivitas juga ibadah ikut terganggu. Bayangin aja mau bangkit dari sujud dan 'itidal rasanya seperti sedang membawa beban berat, bukan di pundak melainkan diperut. Lo ga akan sanggup, biar gua saja😝.

Pada dasarnya Aku suka sih olahraga, tapi karena menurut diriku yang mager ini, ga ada waktu buat melakukannya (aleeesan banget yes!?), akhirnya ga pernah olahraga sama sekali kecuali senam di sekolah. Di sekolah itupun giat senam dilaksankan setiap hari rabu satu kali sepekan dan cuma gerak gerak sekedarnya saja. Dengan bergerak anak anak ikut bergerak juga, jadi bisa punya alasan menegur bagi yang tidak bergerak (pasal 1 kan guru ga pernah salah, kata gua loh yaa 😁🤭). Ada sih ngaruh dikit dikit, misalnya keluar keringat. Senang dan puas dong ketika berkeringat saat berolahraga. Dengan derasnya keringat yang menetes, maka lemak pun sudah terbakar sangat banyak. Betul gaa sih? Eh ga ada ngaruh ngaruhnya ding, (barusan searching 🤭) yang aku baca di halodoc.com, keringat yang keluar tidak ada hubungannya dengan berapa banyak jumlah lemak yang terbakar. Bukan pula tolok ukur seberapa efektif olahraga yang telah dilakukan (nah loh!).

Sejak merasa serba berat dan berjarak itu tadi, aku kuatkan tekad bulatkan niat untuk berolahraga setiap habis subuh mumpung ga harus siap siap kerja karena masih dirumahkan, keesokan subuh aku mulai paksakan untuk melakukannya, aku iket kenceng pinggang dengan stagen (bengkung) ga tau juga kenapa harus membebat bagian perut dan pinggang tersebut, fikirku supaya bisa mengecil aja dan alasan logiknya supaya nyaman bergerak, lalu pakai kaos kaki dan sepatu, mulailah aku loncat-loncatan dengan skipping rope yang lama tersimpan selama ini hanya menambah koleksi peralatan olahragaku saja. Beberapa menit aku loncat loncat kegirangan (halah...😂 lompat lompat mengikuti gerakan dan putaran skipping rope yang kuayunkan maksudnya), hasilnya meeengeees, gaaeess secara udah kepala empat. Kustop dong, ga mau berisiko juga keles, sehat kagak kolaps iya😂. Aku beralih ke badminton, tapi kalo sendiri kan ga bisa gaes, itu namanya bertepuk sebelah tangan (kayak jomlo yang baperan, nelangsa akuu tuu😥) kan ga ad temen main sebab yang lain memilih tidur kalau usai subuh. Abang maaah janji janji doang mau ajakin aku olah raga nyatanya ga dinyatain juga tooh (kayak kamu yang diPHPin akhirnya pergi dan berlalu mencari cinta yang lain). Ya wis, cari akal bisa main badminton sendiri, ada tembok karena olah raganya di dalam rumah akibat mager keluar ditambah suhunya terasa dingin bekas hujan semalam, tinggal ambil bola plastik di box mainan Alvaro.

Tak.. tuk.. tik... tak.. tuk.. tik.. tuk....tuk...tuuuk.. bola memantul ke lantai, ke tembok, ke badminton (niat banget kan?). Olah raga model ini terus aku lakukan sampai hari ini meskipun di bulan puasa. Ini termasuk olah raga ringan yang kalau rutin dan teratur dilakukan maka akan menyehatkan, kata halodoc.com lagi nih, hubungannya adalah orang yang teratur berolahraga dan menerapkan pola hidup sehat cenderung akan berkeringat lebih banyak daripada yang tidak. Oleh sebab itu orang yang sering berolahraga cenderung memiliki berat badan yang ideal. Karena pembakaran kalori yang berulang-ulang akan menimbulkan penurunan berat badan, meski tidak menghilangkan lemak di tubuh.

Nah, terbukti, setelah beberapa kali aku rutinkan bermain badminton bertemankan tembok yang setianya ngalahin mantan mantan lo pada🤭, sekarang kau merasa lebih sehat dan kuat beraktivitas. Pastinya ga terlalu bikin lelah tapi menyehatkan. Sedikit demi sedikit perutku udah mulai mengempis, gaesss (pastilah kalian berfikir bukannya karena berpuasa ya? haha ngarep banget aku tuuu perutnya tipis jadi haluu😂). I swear, aku bisa rasakan badan terasa lebih ringan, dan yang terpenting, dalam menjalankan ibadah khususnya salat tarawih aku tidak merasakan keluhan seperti sebelumnya, jadi lebih khusuk, biizdnillah walhamdulillah🤲

#ayosharing
#olahragasehat
#gabikinlelah

Thursday, April 30, 2020

🌸Menyusun vs Menata🌸

🌸Menyusun vs Menata🌸

#RWCODOP2020
#RWCDay7
#OneDayOnePost
#Ramadhan2020

Pagi ini agak santuy gaeess, setelah sahur biasanya aku beberes, mandi, ibadah pagi, dan menikmati kesantuianku mumpung yang lain pada lelap tidur dan belum ada yang ngerecokin. Aku awali dengan cek cek wa sambil kunyalakan televisi. Sekarang ini menonton TV pagi sudah menjadi keharusan bagiku selama Pandemi ini. Karena aku memberikan tugas kepada murid muridku untuk belajar bersama Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang memang TVRI menayangkan program baru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang bertajuk Belajar dari Rumah. Program tayangan ini menjadi salah satu alternatif pembelajaran bagi siswa, guru, maupun orang tua, selama masa belajar di rumah di tengah wabah Covid-19. Sebenarnya ditujukan bagi siswa yang tidak mendapatkan akses belajar online. Kalau di sekolah kami Alhamdulillah, untuk mengakses pembelajaran online tidak ada ditemukan masalah yang berarti. Namun tidak masalah ikut belajar bersama TVRI ini. Pandemi covid-19 masih terus menjadi primadona untuk dibahas di mana mana, jujur sih, aku semakin kuatir kalau selalu mendengar tentang update berita si covid ini. Lebih baik aku ga tau dan aku bisa lebih relaks. Karenanya, aku suka parno sendiri, pilek dikit aku udah stress, orang di rumah batuk batuk aku semprot suruh tutup mulut. Namun, kata suamiku tidak boleh juga cuek begitu, kita harus tahu agar kita bisa waspada. Yaa, sekedarnya saja.

Tiba tiba aku mendengar notif WA masuk, ada yang chat, aah paling wag fikirku,  memang wagku lumayan banyak, dan itu sudah beberapa wag yang aku masukin arsip, dan tak sedikit yang aku mute notifnya. Tapi ada beberapa grup baru yang belum sempat kumute. Tit.. tit... kulihat di pop up, ada waj. Ooh dari orang tua siswaku yang anaknya sudah tamat sekian tahun lalu, dia punya bisnis kue gitu gaees, jadi lumayan dimudahkan membeli kue selain kuenya emang benar benar enak dan kekinian, harganya juga miring🤭 selain dia melayani pemesanan di rumahnya, kue yang dibuatnya juga dijual di mall dan supermarket ternama di kotaku ini, dan kalau kita beli di sana jangan harap bisa dapat potongan harga😁 (emang lo siapee?).

Kulihat gambar di flyer 'Vika Cookies' yang dikirimkan, aku sudah hapal sebagian dari kue-kue itu karena memang tiap tahun aku pesan kue dari Vika Cookies (sekalian dipromoin nih maa, hmm ditambah ya diskonnya 🤭). Sepertinya ada beberapa kue baru. Tapi belum kupesan sih, aku tanya kapan batas akhir pemesanan, katanya 1 Mei batas pemesanannya. "Hmm... baiklah", fikirku. Aku memang belum pesan dulu karena biasanya uniku juga ikutan pesan dan tahun lalu emakku juga ikutan pesan😭 (Al Fatihah untuk emak) dan biasanya kalau pesan aku sih antar stoples saja ke sana, karena aku emang paling malas menyusun kue ke stoples, apalagi kuenya berbentuk, misal di Vika Cookies ini ada kue skippi itu berbentuk love (❤) nah itu susah sekali menyusunnya, masalah lainnya kalau aku susun sendiri itu godaannya besar sekali, kenapa? Karena banyakkan masuk ke mulutnya ketimbang ke stoples🤤 (hehe.. ga batal ya puasanya karena aku susun kuenya malam malam, gaeess). Aku lebih bisa susun semacam tusuk gigi, kerupuk, dan kacang kacangan ke stoples, tinggal dicempungi aja beres😂 (ada yang samaan ga?). Kalau aku antar stoples ke sana biasanya nanti pas mau dekat lebaran aku tinggal ambil dan bayar pastinya dan didiskon itu sudah jelas🤭. Kalau tahun kemarin sih diskonnya ditukarkan dengan satu stoples kue paltik dan boleh pilih mau kue yang mana, asyik kan? Jangan ngiri rezeki sudah Allah Subhanahu wa Ta'ala atur😉.

Aku wa uni mengabarkan kalau Vika Cookies open order. Dan dari balasan wa uni, dia memesan beberapa macam kue. Kalian tau gaees? Uniku ini domisilinya di Padang, pesan kuenya di Jambi, hidup dibikin ribet ya gaes😁. Tapi ga masalah gaes, karena untuk bayar kuenya dia via transfer dan selalu dilebihkan untuk aku, tak jarang pesananku ikut dibayarinya juga, hmm... jangan ngiriii lagi. Langsung saja kukabari ke Mama Vika macam macam kue dan banyaknya kue yang kami pesan. Tapi kali ini aku ga antar stoples karena fikirku seru juga kalau tahun ini aku coba susun kue bareng Alvaro. Tahun tahun belakang dia masih kecil, pernah kuajak menyusun kue nastar kesukaannya ke stoples yang lebih kecil, ternyata kuenya menjadi banyak gaesss, pecah pecah dan menjadi puing maksudnya🤦‍♀️. Yah, ujung ujungnya ga jadi untuk lebaran. Menyusun kue ke dalam stoples memang tantangan berat bagiku tapi, kalau menata kue di atas meja atau buffet aku demen banget tu. Ya, aku tipe wanita yang suka menata, apalagi menata hati, karena suka baperan juga walau udah tua, semakin tua semakin baper loh, ga percaya cepet aja tuanya, rasakan sensasinya😝.

Program belajar dari rumah bersama TVRI sudah dimulai, aku harus fokus memantau acaranya karena beberapa waktu lalu ada beberapa berita yang up tentang acaranya yang dikritisasi oleh masyarakat mengenai acara keagamaan yang dianggap disisipi ditengah-tengah pembelajaran, namun hal tersebut sudah diklarifikasi oleh pihak stasiunnya langsung. Terlepas dari itu semua memang kita harus terus waspada terhadap tontonan anak anak kita. Ingat sebuah hadist Baginda yang Mulia menyatakan: “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

-stoples kue lebaran-
-lebaran masih jauh-
-lebaran di masa pandemi-
-yang utama ibadahnya-
-kue maah nomor sekian-
-membantu yang terdampak-




Wednesday, April 29, 2020

🌸Pekerjaan Mulia🌸

__________🕌__________

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay6
#Ramadhan2020
@komunitas.odop

Bismillahirrahmanirrahiim
Memasuki Ramadan hari ke enam ini, harapan kita bersama semoga kita senantiasa diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kesehatan sehingga kita dapat menjalankan ibadah dengan baik dan tentunya keimanan kita semakin meningkat serta yang tak kalah penting lagi semoga kita terhindar dari rasa malas, karena tidak ada hambatan untuk kita tetap beraktivitas di bulan Ramadan ini, melainkan hambatan untuk beraktivitas di luar rumah karena pandemi covid-19 ini. Namun, walaupun demikian kita tetap bisa beraktivitas di dalam rumah. Jangan sampai momentum bulan Ramadan ini produktivitas kerja menurun. Seperti kita ketahui bersama, bulan Ramadan ini merupakan bulan jihad umat Islam. Sejarah mencatat pada tanggal 17 Ramadan tahun kedua hijriah, umat Islam mengalami perang Badar. Nah, seharusnya di bulan ini kita dapat berkarya, bekerja, dan belajar dengan baik lagi karena Allah akan mengganjarnya dengan pahala yang setimpal apabila dikerjakan dengan ikhlas dan diniatkan untuk ibadah.

Apapun profesi kita saat ini, apakah seorang supir, guru, dokter, pedagang, bahkan marbut sekalipun jalankanlah dengan baik dan penuh tanggung jawab hindari rasa malas. Aku adalah seorang guru SD, dalam kondisi sekarang, kami diimbau untuk tetap mengajar dari rumah, walaupun atasan tidak melihat apakah aku mengajar online dari rumah atau tidak, memberikan tugas kepada siswa sesuai dengan surat edaran menteri atau tidak, memberikan penilaian atau tidak. Namun, aku berusaha untuk tetap melaksanakan tanggung jawabku tersebut dari rumah. Karena kelak akan aku pertanggungjawabkan di hadapanNya.

Beberapa waktu lalu, aku dan suamiku singgah dan salat di sebuah masjid dekat sekolahan tempat kami mendaftarkan Alvaro. Tak sengaja mataku melihat seorang marbut masjid sedang bekerja. Ia terlihat membersihkan karpet yang baru saja dipakai oleh jamaah yang sedikit itu, jumlahnya boleh dihitung dengan jari sebelah tangan saja itupun sudah termasuk imam, marbut sekaligus muaazin, serta kami berdua. Kulihat dia menggulung karpet itu dengan rapi, menyapu, mengepel. Sayup sayup kudengar dia melantunkan ayat ayat suci Al Qur'an. Fikirku, untuk apa dia melakukan itu semua di kondisi wabah virus ini dia bisa saja mengunci masjid ini dan bermalas malasan. Aku jadi teringat tentang sebuah do'a yang Rasulullah ajarkan, yang artinya adalah “wahai Allah Sungguh Aku Berlindung pada Mu dari Gundah dan Sedih, juga dari Lemah dan Malas, dan dari Kikir dan penakut, dan dari himpitan utang dan penindasan orang lain” (Shahih Bukhari). Aku segera beristighfar.

Sempat, aku membayangkan bagaimana kalau seandainya aku dan suami bekerja di masjid ini sebagai marbut, setiap waktu salat kami harus membuka masjid, menggelar tikar untuk syaf salat, lalu mengisi bak air wudhu, dan menjaga kebersihan masjid. Membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup lalu jangan pernah meremehkan. Tugasnya pasti sangat berat lalu pendapatanpun tak seberapa. Aku saja membersihkan rumah yang ukuran 6m x 6m itupun kelelahan hanya karena rumah berserakan oleh mainan Alvaro saja bukan menggelar dan menggulung karpet setiap hari bahkan setiap waktu salat tiba.

Pekerjaan sebagai marbut adalah pekerjaan yang sangat mulia, selain ia bekerja menjaga kebersihan masjid, rumah ibadah, ia juga bertanggungjawab dengan jalannya ibadah di masjid. Ia bisa menjadi muazin, imam, chatib, walaupun hanya sebagai cadangan. Pernah mendengar atau membaca kisah marbut wanita di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wassalam? Meninggalnya wanita itu membuat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam merasa kehilangan. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam kaget kenapa para sahabatnya tidak memberi tahu perihal kematiannya. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam lalu berdiri di dekat makamnya dan melaksanakan salat gaib untuknya. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam kemudian bersabda “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini telah dipenuhi kegelapan bagi penghuninya. Dan Allah benar-benar akan memberikan mereka cahaya karena salat yang aku lakukan atas mereka.”

Melihat kisah tadi, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam memuliakan orang-orang yang mengurus masjid, seperti kisah di atas. Salatnya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam terhadap marbut wanita itu karena ia dianggap orang baik dan mulia. Ya Allah, berikanlah kami pekerjaan yang mulia di sisiMu, jika Engkau takdirkan kami dengan pekerjaan kami yang sekarang, jadikanlah pekerjaan ini sebagai jalan kami mendapatkan keridhaanMu, dan muliakanlah kami dengan pekerjaan kami ini, Aamiin Yaa Rabbal 'aalaamiin.

-marbut pekerjaan mulia-
-guru pekerjaan yang ditakdirkan kepadaku-
-aku bangga menjadi guru-
-aku ingin dimuliakan seperti Rasul memuliakan seorang marbut wanita di zamannya-

Tuesday, April 28, 2020

🌸Jurus Sakti Emak🌸

--------🌸🌸🌸--------

"Makaaaan aaah... tar ga sahur lagi bisa tidur sampe subuh", kata uni sambil buka tudung saji sepulangnya dari tarawih di langgar yang letaknya tidak jauh dari rumah.

"Cup yaaa, kolak pisangku jangan dimakan, awas loh", teriak uni (sebut saja uni 2), sambil berlari menuju ke kamar mandi, udah ga tahan sepertinya selalu memegang megangi perutnya dari jalan menuju ke rumah tadi.

"Yaaah, es tehku habis ya?, kok ga ada lagi sih, kan tadi aku masukin kulkas", tanya uni (sebut saja uni 3 yaa) sambil membuka pintu kulkas. Tak mau kalah dengan uni, dia juga mengambil piring untuk makan malam, eh maksudnya makan setelah berbuka. Makan sahur? Bukan, tapi makan apa ya? Hmm.. yaa makan malam, makan setelah salat tarawih, ahh sudahlah tidak usah dibahas makan apa mereka. Mereka bertiga adalah saudara perempuanku, kami berempat adalah anak perempuan emak.

"Kalau sudah tadarusannya nanti kalian langsung tidur, supaya bangun sahurnya cepat, ya", kata emak kepada kami berempat dan berlalu ke biliknya. "Iya, mak", jawabku. Aku langsung menuju ke ruang tengah untuk memulai tadarusan, sebentar lagi uni-uni yang masih di dapur juga akan menyusul. Usai tadarusan kami berempat menuju ke kamar. "Eh, uni nanti ga sahur ya, tadi sudah makan, sengaja supaya ga bangun sahur lagi, ingat ya jangan dibangunin", kata uni sambil mengibas ngibas kasur dengan sapu lidi sambil mengucapkan bismillahi Allahu Akbar. Ini sudah kebiasaan kami. Kata emak, sebelum tidur sunnah membersihkan tempat tidur. "Aku juga ga sahur ya, aku ga puasa besok", sambut uni 2, dan begitu juga uni 3 "awas kalo bangunin aku juga". Kata mereka kalau bangun sahur itu waktu tidur menjadi berkurang, lagi pula mengantuk tidak ada selera makan. Mau makan sahurnya boleh dihitung dengan jari, paling paling hanya di malam pertama dan kedua Ramadan, setelah itu ga pernah mau bangun sahur. Tapi uni kuat kok puasa sampai magrib tanpa sahur. Kata emak, bukan soal kuat atau tidak kuatnya, tapi ambil pahala sunnahnya, niatkan sahur untuk mengikuti sunnah Rasul dan juga akan bertenaga kata emak kepadaku ketika aku ikut ikutan tidak mau makan sahur.

"Mi..., Yan..., El..."
"Ta..., bangun", lamat lamat kudengar di telingaku suara emak membangunkan aku sahur. Emak mengelus punggungku lembut "Ayo sahur, berwudhu dan tahajut dulu ya, itu makannanya sudah mak siapkan di meja" kata emak kepadaku yang kebetulan terbangun duluan, itupun entah sudah berapa lama emak membangunkanku. Aku menyeka mataku, lalu aku segera duduk dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.

"Mi..., Yan..., El... bangun, sebentar lagi waktu imsak tiba?", panggil emak membangunkan uni uniku. Dari mulai memanggil dengan suara pelan, dengan sentuhan, nada agak kencang, dan lanjut ke menggoyang goyangkan badan. "Mi ga sahur, mak. Mi tadi sudah makan sebelum tidur ga niat untuk makan sahur, jadi masih kenyaaang", jawab uni dengan mata masih terpejam. "Yan ga sahur mak ga puasa, lagi datang haid pulang dari langgar semalam", tambah uni 2. Dan uni 3 juga menolak untuk bangun makan sahur. Namun, emak tidak menyerah, emak terus dengan jurus saktinya berusaha membangunkan uni untuk sahur kecuali yang besok ga puasa yaa🤭. Emak terus membangunkan mereka sampai sampai aku sudah hampir selesai makan sahurnya, emak masih gigih membangunkan kedua uni sampai mereka bangun walau bangunnya terlihat kayak vampir berjalan dengan mata masih terpejam menuju kamar mandi untuk cuci muka, sambil ngedumel dan biasanya melek kalo sudah kejedut pintu🤭.

"Dek, sudah bangun Alvaro?", tanya suamiku yang tiba tiba muncul ke kamar yang dari tadi menunggu di ruang makan dan mengagetkanku serta membuyarkan kenangan sahur bersama emak dan uni-uniku. "Astaghfirullah, kaget adek bang. Belum, bang", jawabku. "Ayo, sudah mau imsak, tinggalkan saja", sambung suamiku. "Ga ah, kataku, aku coba sekali lagi, kasian kalau dia tidak sahur atau dia tidak puasa karena tidak makan sahur", jelasku. "Ayolah, nanti kamu ga sempat makan lagi", bujuk suamiku. "Ga pa pa, yang penting Alvaro bisa bangun dan makan sahur bareng", kataku. Sebegitu berkesannya cara emak membangunkan kami sahur aku bangunkan Alvaro dengan cara yang sama seperti emak, pantang makan sahur duluan kalau anak-anaknya belum bangun. Emak yang pantang menyerah tidak mudah putus asa walaupun uni uniku menyiapkan seribu alasan menolak dibangunkan sahur, emak justru punya berjuta-juta jurus sakti💪😉

"Miey, Biey, yuk sahuur", kata Alvaro, mengagetkan kami berdua. "Al tadi pura pura tidur aja kok supaya bisa digendong ke dapur", tambah Alvaro membuatku geleng geleng. "Kamuuuu tu yaaaa", gemasku dan menggelitikinya. Dia pun kegelian dan teriak-teriak minta ampuun. Dia punya cara jitu juga ternyataaah pemirsaaah, sayaa punya sejuta jurus, gaesss

Aku selalu terkenang cara emak membangunkan kami khususnya uni uniku itu, cara emak dengan lembut dan dengan kata kata motivasinya, emak yang tahan mengorbankan waktu makan sahur untuk dirinya sendiri demi anak-anaknya bangun sahur. Tak jarang emak makan sahur dikejar kejar imsak, emak menjelaskan bahwa imsak itu baru lampu kuning, aba-abanya. Tetap boleh makan, lanjutkan saja makan dan minum kalian, kalau sudah azan baru lah kita hentikan makan dan minumnya. Dan itu akan mulai aku terapkan untuk Alvaro, wajib, kudu, musti, harus!!!

-miss u mom-

~~~~~~~🌸🌸🌸~~~~~~~

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay5
#Ramadhan2020
#Day4challenge
#sahurberkesan
@komunitas.odop
#disiniakubelajar
#reallife50%
#fiktif50%
#alfatihah-emak
#belajarmenulis
#kenanganmanis


🌸Sukur Kakak🌸

~~~~~~~🌸🌸🌸~~~~~~~

🌸Sukur Kakak (Susu Kurma)🌸

Semalam kakak mengabarkan kalau siang ini dia akan balik dari mudik. Tiap tahunnya kami memberikan hak cutinya sebanyak 3 kali kepada kakak, yaitu cuti selama lebaran, cuti liburan, apa itu cuti liburan? Hmm.. begini, secara kaan aku dan suami berprofesi sebagai guru, oleh karena itu libur kami pun sama, nah ketika kami libur semester, kakakpun ikutan libur dan dibolehkan mudik untuk bertemu lepas kangen dengan keluarganya, tentunya mereka juga keluarga kami karena kakak sudah kami anggap sebagai anak kami sendiri, yaitu sebagai kakaknya Alvaro, yaa memang benar, kami adalah keluarga berencana yang beranak dua, dan sepasang😉, selanjutnya, cuti ketiganya adalah cuti dalam rangka menyambut puasa, seperti saat ini. Yaaa, memang tidak lama sih, karena libur kami di hari pertama puasa juga tidak panjang, walaupun selama pandemi covid-19 ini kami tidak mengajar di sekolah namun, saya dan suami tetap bekerja dari rumah (WFH) sehingga kakak juga tak bisa mudik lama lama seperti liburan semester atau lebaran. Meskipun liburan semester panjang tak jarang kakak hanya mudik beberapa hari ke kampungnya lalu kembali lagi untuk ikut kami liburan ke luar kota.

Mendengar kakaknya akan datang kebayangkan dong betapa senangnya Alvaro. "Apa isi wa kakak, Miey?", tanya Alvaro ketika kusebut ada wa dari kakak. "Nih, baca saja sendiri", kataku sambil memberikan smartphoneku kepadanya, hmmm... pasti kalian bertanya-tanya, emangnya Alvaro usia 5 tahun sudah bisa membaca? That's right, gaess (gaya Alvaro kalo udah ngevlog dikonten youtubenya 🤭) Alhamdulillah Alvaro sudah lancar membacanya. Eiits. jangan salah persepsi dulu yaa, kami tidak pernah memaksakan dia untuk bisa membaca, berhitung, dan lainnya. Selain dia aktif, Alhamdulillah rasa ingin tahunya tinggi. Kalau boleh cerita atau berbagi pengalaman sedikit, boleh ya? Boleh dong 🤗 yaitu berbagi pengalaman cara kami mendidiknya. Begini ceritanya, eaaakkk😂 lagiiii, style ngevlognya Alvaro ya begituu, emaknya jadi latah secara emaknya ini adalah produser, director, dan promotornya include sebagai mimin akun sosmednya, promo dikit supaya follower dan subsrcibernya nambah, lumayan bisa dapat tambahan kuota dari pak suamikk🥰.

Alhamduliah, sejak Allah mengamanahkan Alvaro kepada kami, saat itu kami sudah mulai melek ilmu mendidik anak baik dari segi agama maupun umum dibandingkan sebelumnya walau ilmu ini belumlah sebanyak ilmu orang tua lainnya di luaran sana. Sehingga beranjak dari situ, kami sudah memiliki visi dan misi untuknya ke depan. Harapan kami ia bisa menjadi anak yang salih dan ia dapat tumbuh kembang dengan baik, itu yang selalu terucap dalam do'a kami. Oleh karena itu kami berupaya untuk mewujudkan harapan kami dengan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya, mulai dari pola asuh dan pola makannya. Jika kuda pacuan saja diberikan makanan yang bergizi oleh pemiliknya agar ia bisa menjadi kuda yang hebat, kenapa untuk anak sendiri tidak bisa? Kenapa kita memberinya makanan yang sembarangan? Kenapa harus memberinya mie instan? Kenapa dia dicekokin dengan makanan-makanan berbahan pengawet, penyedap, pewarna?  Mengapaaa??? Ooh mengapaaa? 😂.

"Yeee kakak pulang, asyik asyik, Vroh, kakak pulang, Vroh", ujarnya kepada Abbieynya yang sudah kewalahan dengan Alvaro yang kalau sedang becanda memanggilnya vroh, tidak salah Alvaro juga sih, sebab Abbieynya seperti itu ke dia. "Ummiey, siiiiini", panggil Alvaro manja sambil merangkulku dan ingin membisikkan sesuatu. "Apa?", tanyaku masih duduk manis. "Aku mau makan, miey, Aku lapaaar", rengeknya dengan wajah diasem asemin🤭 "Kan Al puasa, cieee puasa puasa kok bilang lapar?", sambutku sambil menggodanya."Iya, tapi sahur tadi aku makannya cuma sedikit, Miey, aku lapaar. Ayolah, Miey", rayunya yang kutahu itu bukan lapar sungguhan. Oh iya, ceritaku tadi sampai di sana dulu ya. InsyaAllah, lain waktu jika ada kesempatan aku akan berbagi dengan kalian semua (gayanya udah kayak sang motivator yang sudah berpengalaman dan berhasil saja), memang benar, kami belumlah melihat keseluruhan hasil asuhan kami untuk Alvaro, tapi sejauh ini Alhamduliah kami bersyukur bahkan dahsyat luar biasa campur tangannya Allah terhadap tumbuh kembangnya, faa biayyi ala irabbikuma tukazziban, Allahu Akbar. Kami berupaya mendidiknya secara Islam dekat dengan Allah subhanahu wa Ta'la sepanjang hidupnya. Alhamdulillah sekarang ia sudah mengaji sampai juz 16 dan hapalan juz 30 nya sudah lumayan. Tentang akan jadi apa dia nanti, maksudnya ke depannya, kami serahkan sepenuhnya kepada Sang Maha Berkendak. Namun, sejak kecil kami ikhtiarkan semua yang terbaik untuk dia sesuai kemampuan kami.

Aku sudah tidak mendengar lagi rengekkan Cibubu, ternyata ia sudah tertidur, sepertinya dia mengantuk karena ikut sahur tadi. Tidak beberapa lama kakak sampai di rumah diantar oleh bapaknya di saat Alvaro sedang tidur, sepeninggalan bapaknya pulang, dengan bersemangat kakak cerita sewaktu di rumahnya kemarin dia membuat takjil minuman berenergi dari resep temuannya sendiri 😁 Kakak mulai menjelaskan bahan bahan apa saja yang dbutuhkan dan langkah langkah membuatnya, hmm... walau aku mengantuk, demi kakak dan resepnya aku rela menahan kantukku. "Bu", begitu dia memanggilku. "Bahan bahannya ada semua di kulkas, Bu. Jadi kita langsung buat saja ya bu, mumpung adek masih tidur, hehe", katanya bersemangat sambil melihat isi kulkas. "Bahannya kurma, susu bubuk, dan air putih", jelasnya sambil mengeluarkan bahan bahan itu dari kulkas. Aku mengamati gayanya yang sudah kayak chef gitu. "Cara membuatnya, blender kurma secukupnya dengan air kemudian disaring", lanjutnya sambil mengeluarkan alat alat yang disebutkannya dari lemari. "Lalu, siapkan wadah yang cukup besar untuk membuat air susunya, kita buat air susu dengan cara menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah berisi bubuk susu, jangan terlalu banyak airnya karena susu kurma ini enaknya diminum dingin dingin, loh buu, dan bagusnya lagi susu kambing", jelasnya dengan percaya diri. "Kemudian tuangkan air kurma tadi ke dalam gelas yang bersisi susu ini, dan simpan di dalam kulkas, siap deh!", katanya puas.

"This is it! takjil berenergi susu kurma ala chef Astuti", teriaknya bangga sambil mengangkat segelas minuman berwarna kecoklatan yang benar benar menggoda untuk diminum.

Sebelum waktu berbuka tiba, kakak dan Alvaro mengantarkan takjil 'sukur'nya ke tetangga. MasyaAllah anak anak salih dan salihah aamiin

-Ini takjil kamii... mana takjiil kamu, gaes!-

#chefrumahan
#susukurma
#minumanbernergi