HOME

Saturday, April 30, 2022

Doa yang Diselipkan



🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲

Acara berbuka bersama Umma, Mbak, dan keluarga berjalan lancar dan sukses. Mbak, suami, dan anak-anak terkesan dengan nuansa alam yang disajikan oleh resto dan cafe tersebut. Dekor resto dan cafe identik dengan khas Bali dengan tiang-tiang saung dibebat kain kotak-kotak hitam putih yang disebut poleng. Suasana sejuk dengan gemericik air terjun buatan di sebelah saungnya menjadikan acara berbuka bersama terasa lebih nyaman.⁣

Menu yang dipesan Umma meninggalkan kesan puas pada Mbak sekeluarga. Menu yang disajikan apik sesuai pesanan dan dengan cita rasa yang lezat. Sistem pemesanan tempat dan menu dilakukan Umma melalui aplikasi whatsapp dan transfer uang muka melalui M-Banking terasa lebih praktis. Begitupun dengan pemesanan menu berbuka puasanya.⁣

Usai acara berbuka puasa, Umma dan rombongan meninggalkan resto dan cafe tersebut menuju ke masjid terdekat. Mengapa mereka tidak salat di resto saja? Nah, hal ini mungkin dapat menjadi perhatian oleh pihak resto. Di resto terdapat sebuah musala dari salah satu saung. Namun, karena ukurannya kecil yaitu kurang lebih 2m x 1,5m menyebabkan tidak dapat memuat banyak jamaah. Jika harus antrean maka akan memakan waktu lama untuk menunaikan salat magrib yang waktunya sangat singkat itu. Maka, diputuskanlah untuk mencari masjid terdekat, kebetulan memang ada sebuah masjid besar yang berada di sebelah resto.⁣

Sampai di masjid, Alif disambut oleh sebuah kotak persegi ukuran besar berbahan kayu. Tiba-tiba Ia berlarian kecil mengejar Abah untuk meminta uang yang akan dimasukkan ke dalam kotak tersebut. Nama kotak itu adalah kotak amal masjid. Setelah diberikan selembar uang kertas, Alif lalu malipat-lipat lembaran uang kertas itu menjadi lipatan kecil dan panjang. Dengan mudah Ia memasukkan uang tersebut ke bagian yang berlubang pada kotak amal tersebut dan terselip sebuah doa yang dalam makna.⁣

"Bismillah titip untuk Adik Aisah Ya, Allah." Gumam Alif.

Suasana di Bali



🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊⁣

⁣Semalaman Umma ga bisa tidur karena Mbaknya dalam perjalanan menuju ke kotanya Umma. Begitulah Umma, apabila ada yang akan datang dan menempuh perjalanan jauh, Umma akan selalu kefikiran. Umma tipe orang yang pencemas dan mudah khawatir. Umma selalu menghubungi dan menanyakan keberadaan Mbaknya itu. Karena terkantuk dan juga sudah mendapat kabar, akhirnya Umma terlelap juga.⁣

"Assalamualaikum Umma!" Teriak keponakan-keponakan Umma yang sudah sampai di depan pagar. Umma tersentak dan segera bangkit untuk membukakan pintu, ternyata Abah yang baru selesai tahajut sudah membukakan pintu terlebih dahulu. Umma melihat jam di dinding, jarum pendek menunjuk ke angka 4 dan jarum panjang ke angka 2. Umma menyambut kedatangan Mbaknya dengan rasa suka cita. Umma menangis menceritakan Aisah sudah tiada walau melalui telepon hal itu sudah disampaikannya juga ke Mbak. Mbak menyabarkan Umma, dan mengatakan kehadiran mereka adalah juga untuk meramaikan.⁣

Umma menyiapkan menu sahur, menu ini sudah disiapkannya dari sore kemarin. Ayam goreng bumbu kegemaran keponakan-keponakannya itu dan sop kerang dengan sambal asam jeruk nipis kesukaan Mbak. Sementara untuk berbuka, Umma sudah booking tempat di resto dan cafe terbaru di kotanya itu. Umma sudah memesan tempat dan menunya sekaligus. Mereka ingin berbuka bersama di luar.⁣

Rencana dan keinginannya itu sudah disampaikan Umma ke Abah sebelum kedatangan Mbaknya itu. Abah menyetujuinya walau semua biaya Umma yang tanggung. Mengingat sebentar lagi Abah juga bekerja dan Insya Allah akan mendapatkan penghasilan sendiri hehe... kita aaminkan yuk (aamiin)

"Wah, kita bukber di Haza Resto & Cafe ya, Umma?" Sambut Alif riang ketika mendengar hal itu.⁣

"Iya sayang, Insya Allah." Jawab Umma.⁣

"Hore... kata Mbak Rara suasannya kayak di Bali loh, Umma." Balas Alif senang seolah-olah sudah pernah ke Bali saja🤭

Wednesday, April 27, 2022

Parsel Istimewa Abah



🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁

"Ya, Na. Insya Allah kami berangkatnya H-5. Mbak nunggu Lita sempro dulu. Doain ya semua lancar." Balas suara dalam telepon.⁣
⁣"oh ya, Mbak. Wah Lita udah sempro ya, Mbak? Syukurlah, senang mendengarnya. Semoga diberi kemudahan dan semua urusan Lita dilancarkan, Aamiin." Jawab Umma.⁣

"Aamiin. Iya, Na. Ada beberapa temannya juga sempro di hari yang sama. Ini mereka sedang packing-packing parsel di rumah untuk diberikan kepada dosennya." Tambah suara dalam telepon lagi.⁣
⁣"Wah, Ana jadi ingat waktu ujian skripsi dulu, Mbak. Ana juga siapin parsel buah untuk dosen Ana. Dulu Umi yang ikut bantuin Ana....⁣,"
"Jadi ingat Umi deh.." Ucap Umma suaranya sedikit ditahan karena sedih.⁣

"Ya wis, kamu jangan sedih-sedih lagi. Kamu jaga kesehatan dan makan makanan yang bergizi ya. Tunggu Mbak lebaran di Jambi. Assalamualaikum." Tutupnya.⁣
"Alaikumussalam." Balas Umma.⁣⁣⁣
Umma lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Kemudian Umma mengambil charger untuk mengisi daya pada ponselnya tersebut.

Setelah menutup telepon, campur aduk perasaan Umma saat itu, Umma merasa sedih sekaligus senang. Sedih karena dua tahun lebaran ini tidak ada Umi yang dicintainya lagi. Namun, Umma juga senang dan bahagia Mbaknya yang berada di luar kota selalu hadir di tempatnya untuk merayakan lebaran bersama-sama di kota kelahiran mereka.⁣ Bukan saja Umma yang senang, tapi Alif juga. Alif sudah tidak sabar menanti kehadiran Makwo dan sepupu-sepupunya itu. Ia selalu bertanya kepada Umma kapan Makwo, Pakwo, Kak Lita dan Bang Hadid datang.

Sejak Uminya Umma meninggal, rumah tua Umi terpaksa dikontrakan kepada orang lain. Hal ini dikarenakan Umma dan Mbaknya sudah memiliki tempat tinggal masing-masing. Apalagi Mbaknya tinggal dan menetap di luar kota. Apabila Mbaknya datang, otomatis Mbaknya akan menginap di rumah Umma. Semua bergembira karena suasana menjadi ramai.⁣

"Umma, ini ada yang kirim untuk Abah!" Teriak alif sambil menenteng parsel yang berisi beberapa stoples kue lebaran.

"Alhamdulillah, ini dari kantor tempat Abah bekerja kemarin." Sambut Umma sambil membaca tulisan yang tertera pada parsel tersebut.⁣

"Umma, ada amplopnya! Pasti isinya THR" Seru Alif lagi.⁣

"Hmm... amplopnya bukan seperti amplop angpau lebaran. Ini amplop surat resmi ada kop suratnya." Umma membathin.⁣
⁣⁣
"SURAT PANGGILAN KERJA" tulisan pada amplop itu bercetak tebal.⁣

"Alif, ini parsel istimewa Abah. Ayo, Nak kita sujud syukur!" Kata Umma yang langsung sujud syukur dan diikuti oleh Alif.🤗

Tuesday, April 26, 2022

Bahagia Kita yang Ciptain



❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
⁣"Alif sudah mengingatkan Adik, Mas. Selama ini kita memang kurang bersedekah. Selain dari pahala besar yang telah Allah janjikan, keutamaan sedekah juga berfungsi untuk menolak bala dan bencana untuk kehidupan manusia. Itu makanya Allah ambil Aisah dari kita." Ucap Umma kepada Abah yang sedang membereskan barang-barang yang di bawa pulang dari rumah sakit.⁣

"Dek, jangan dihubung-hubungkan kepergian Aisah adalah sebuah musibah dari Allah. Ini adalah takdir. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang pasti pernah mengalami berbagai peristiwa yang datang silih berganti. Adakalanya kebahagiaan, kesenangan, dan tidak jarang pula kondisi kemalangan, dan juga musibah." Nasihat Abah lembut kepada Umma yang masih dalam kondisi lemah dan di titik terbawah atas kehilangan putrinya itu.⁣

Selain kesedihan yang menimpanya, Umma juga tidak tega melihat sikap Alif yang benar-benar merindukan adiknya. Sejak dari dalam kandungan sampai dikurburkan Alif tidak melihat adik yang selalu Ia nanti kehadirannya itu. Alif hanya melihat foto dan video adiknya dari ponsel Bidan Ariani saja. Alif berkata kepada Bidan Ariani bahwa adiknya itu mirip sekali dengan Umma, putih dan berseri.⁣

"Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah." Umma beristigfar atas kalimat yang Ia ucapkan tadi.⁣ "Alhamdulillah, Umma sehat dan bisa berkumpul kembali di rumah bersama Abah dan Alif. Aisah anak surga akan menanti kita kelak." Rasa syukur Umma mengalir terus bersamaan dengan linangan air mata di pipi Umma yang berseri.
"Nah, begitu dong!" Seru Abah ketika melihat istri yang Ia cintai itu menyadari bahwa yang diucapkannya bentuk kekufuran.⁣

"Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika Ia mendapat kesenangan, Ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya”. Umma ingat bunyi hadits ini?" Tanya Abah kepada Umma yang melihat kehadiran Alif di tengah-tengah mereka.⁣⁣
Merek berdua kalau di depan Alif selalu menyapa dengan kata 𝐴𝑏𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑛 𝑈𝑚𝑚𝑎 tidak dengan kata sapaan 𝐷𝑒𝑘 𝑑𝑎𝑛 𝑀𝑎𝑠 untuk mengajarkan Alif kepada sapaan kepada orang tua.

"Iya Umma ingat ini Hadits Riwayat Muslim tentang bersyukur dan bersabar adalah sifat orang beriman kan, Bah?" Jawab Umma.
"Betul betul betul!" Seru Alif dan disambut tawa Abah dan Umma.⁣⁣
⁣"Nah, sekarang Umma sudah bisa tertawa!" Teriak Alif riang.⁣
⁣⁣
"Iya dong apalagi kalau Umma ingat hari ini adalah tanggal 24 Ramadan. Hari di mana waktu itu Abah dan Umma mengucap janji untuk ijab kabul." Goda Abah kepada Umma.⁣
"Ya Allah, Umma kok bisa lupa hari penting itu, ini karena Umma terlalu larut dalam kehilangan.⁣ Umma selalu bahagia mengingat momen itu Abah. Bagaimana tidak, bukankah ijab kabul itu kita lakukan di masjid dini hari. Mana Umma didandaninya dari bada isya. Menikah dini hari dengan rasa kantuk yang melanda sudah biasa dan jadi tradisi di daerah Umma. Ingat ga, Bah waktu kita ga bisa tahan kantuk, kameramen mengejutkan kita dengan 𝐵𝑙𝑖𝑡𝑧 kameranya. Haha.. haha" balas Umma sambil tertawa.

"Wah, selamat hari ijab kabul Abah... Umma...!" ucap Alif spontan sambil memeluk keduanya.⁣

"Terima kasih sayang. Yuk kita bahagia. Bukankah bahagia itu kita yang ciptakan?" Ayah menyambut memeluk Alif dan Umma, orang-orang yang Ia sayangi itu.

 

Jajan untuk Aisah



🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍⁣

Umma senang sekali setelah dinyatakan boleh pulang oleh dokter. Umma kangen sekali kepada Alif. Selama Umma dirawat, Alif tidak dibolehkan berkunjung ke rumah sakit melihat kasus covid-19 masih marak, kekhawatiran untuk membawa anak-anak ke rumah sakit adalah hal yang wajar. Selama Umma di rumah sakit, Alif tinggal dengan Bidan Ariani dan Mbak Rara. Bukan saja Umma, Alif juga sudah rindu berat kepada Umma. Alif selalu bertanya kapan Umma pulang dan kapan Ia bisa bejumpa Umma lagi.⁣

Alif sangat sedih saat mengetahui adiknya meninggal setelah dilahirkan. Ia selalu berdoa agar adiknya itu di tempatkan di tempat terindahnya Allah. Suatu hari Alif cerita kepada Mbak Rara tentang isi doa-doa yang Ia panjatkan kepada pemilik langit dan bumi. Ia ⁣meminta adiknya diberikan mainan yang banyak, makanan yang enak, susu, dan jajanan supaya adiknya tidak sedih karena harus jauh darinya, Umma, dan Abah.⁣

Sesampainya Umma di rumah, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Alif kepada Umma.⁣ Alif juga bilang ke Umma kalau selama ikut Mbak Rara salat tarawih, Alif selalu bersedekah. Alif menambahkan bahwa dengan sedekah itu Alif niatkan memberikan jajan kepada Adik Aisah. Umma tersenyum mendengar celotehan anak sulungnya itu. Sesekali Umma menjelaskan dan meluruskan perkataan dan pernyataan yang disampaikan oleh Alif kepadanya. Hal ini dilakukan Umma karena khawatir Alif salah memahami makna sedekah, doa, dan ibadah. Alif diberitahukan bahwa sedekah dilakukan semata-mata dengan memberikan harta di jalan Allah dengan ikhlas semata-mata mengharap ridha-Nya.

Monday, April 25, 2022

Aisah Anak Surga



⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘

Umma dilarikan ke rumah sakit. Untung saja sore itu Abah baru saja sampai di rumah. Alif hendak menuju ke rumah Bidan Ariani. Namun, Abah mencegahnya. Abah menyuruh Alif tetap berada di rumah untuk menemani Umma. Setelah memastikan Umma bisa ditinggal, 

Abah segera menuju rumah Ustaz masjid. Abah berniat untuk meminjam angkotnya untuk membawa Umma ke rumah sakit.⁣

Usia kandungan Umma baru 20 minggu, dokter mengatakan bahwa Umma harus segera menjalani persalinan karena air ketubannya telah pecah. Jika tidak segera dilahirkan, maka akan beresiko bagi bayi dan dirinya. Umma akhirnya melahirkan normal dengan perjuangan keras, karena  kondisinya lemah. Hanya saja, Umma harus dikuret karena ari-arinya menempel.

Kondisi Umma pasca melahirkan masih lemah dan harus dirawat 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖𝑓 setelah melahirkan. Umma sempat berharap putrinya selamat, walaupun dokter mengatakan bayi yang dilahirkannya sangat lemah. Namun, kabar baiknya adalah detak Jantung bayinya tetap normal.⁣

⁣"Masih ada detak jantungnya. Tapi dia hanya mampu bertahan hidup 1 persen. Kelahirannya juga belum sempurna." Ujar dokter. 

"Ana masih mendengar detak jantung Aisah, dan itu sangat menghibur, Mbak" kata Umma lirih. "Dan Allah berkehendak lain." Ucap Umma meneteskan air mata ketika mengetahui putrinya yang sempat diinkubator harus meninggalkannya selamanya.⁣⁣

"Sabar Ana. Allah sudah berkehendak." Ucap Bidan Ariani menenangkan Umma. Meskipun Bidan Ariani paham bahwa keguguran yang dialami Umma  ini dapat menyakitkan Umma secara fisik maupun emosional.⁣

"Kamu harus kuat dan tetap semangat, ada Alif dan Mas Mamad yang mengharapkan kamu segera pulih" tambah Bidan Ariani lagi sambil menyeka air mata Umma.

Walau diketahui dari keguguran yang dialami Umma karena janin tidak berkembang secara normal. Terkadang keguguran tidak diketahui apa penyebab pastinya.⁣ Namun, Bidan Ariani tahu betul kalau ibu yang baru saja keguguran sebaiknya memperbanyak asupan magnesium. Nutrisi ini selain untuk membantu memperbaiki sel tubuh juga dapat mengatasi depresi setelah keguguran seperti Umma.⁣

"Oh ya Ana, kamu sebaiknya memperbanyak asupan yang bergizi. Nih, Mbak bawakan kolak labu. Nutrisi pada buah labu ini dibutuhkan untuk membantu memperbaiki sel tubuh pasca keguguran." Sela Bidan Ariani sambil mengeluarkan wadah 𝑡𝑢𝑝𝑝𝑒𝑟𝑤𝑎𝑟𝑒nya yang berisi kolak labu yang dibawanya dari rumah.

Aisah, putri Umma dan Abah sudah tenang di sana.⁣

Firman Allah pada Surat Muhammad ayat 31.

"𝐷𝑎𝑛 𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ, 𝐾𝑎𝑚𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟-𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑢𝑗𝑖 𝑘𝑎𝑚𝑢 ℎ𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎 𝐾𝑎𝑚𝑖 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑖 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔-𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑗𝑖ℎ𝑎𝑏 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑏𝑎𝑟 𝑑𝑖 𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝑘𝑎𝑚𝑢."⁣

𝐼𝑛𝑠𝑦𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ Alif akan bertemu dengan, Aisah, Adiknya di surga-Nya kelak.⁣⁣

Insya Allah Aisah menjadi tabungan pahala di akhirat nanti. Aisah bayi pulang ke hadapan Allah dalam keadaan terbaik tanpa dosa. Semoga Umma dan Abah menyikapi kematian bayinya dengan ikhlas, memperbanyak amal sholeh, dan berdoa agar dipertemukan kelak di surga.

Friday, April 22, 2022

Gorengan Favorit


🥨🥨🥨🥨🥨🥨🥨🥨🥨🥨🥨🥨

Sore itu Umma mencoba untuk ke dapur. Ia sudah tidak tega melihat Abah dan Alif menggantikan semua pekerjaannya. Abah yang mengurus Alif dan rumah sambil blusukkan mencari pekerjaan yang belum tentu juga didapat di hari itu. Umma iba melihat Alif yang sekecil itu harus mengurusinya setiap hari. Siang hari bahkan malam Alif siaga menjaga dan membantunya selama 𝑏𝑒𝑑𝑟𝑒𝑠𝑡. ⁣

Ini sudah hari ketiga Umma 𝑏𝑒𝑑𝑟𝑒𝑠𝑡. Umma merasakan kondisi badannya sedikit jauh lebih enak. Kram dan kencang di perut sudah mulai tak terasa. Namun, Umma merasa ada sedikit berbeda pada pergerakkan janin yang Ia kandung. Gerakkan terasa lambat bahkan jarang. Hal ini tidak begitu Umma fikirkan, karena Ia merasa mungkin ini dikarenakan memang kondisinya yang baru membaik.⁣

Umma melihat Alif tidur siangnya sangat nyenyak. Siang itu, Umma mengajak Alif untuk 𝑞𝑎𝑖𝑙𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ bersama-sama. Umma melihat Alif sepertinya kelelahan bermain dan sebelum tidur tadi Ia merapikan mainannya sendiri. Ia khawatir bila umma ke kamar mandi akan terpeleset diakibatkan mainannya yang berserakan di seluruh lantai rumah.⁣

Azan asar sudah berkumandang melalui pengeras suara Masjid. Namun, Alif tidak sedikitpun bergeming dari tidurnya. Tidak seperti biasanya, Ia selalu terbangun dari 𝑞𝑎𝑖𝑙𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ𝑛𝑦𝑎 apabila terdengar suara azan asar. Umma beranjak turun dari dipan dengan perlahan, pelan-pelan Umma mencoba untuk menjulurkan kedua kakinya ke bawah secara bergantian. Umma tidak ingin Alif terbangun karenanya.⁣

Setelah melaksanakan salat asar, Umma menuju dapur. Umma ingin membuat gorengan favorit alif. Yaitu bakwan jagung pedas. Alif suka sekali dengan gorengan satu ini. Cita rasa manis dari jagung berpadu dengan pedasnya cabe merah yang digiling halus dan diaduk dalam adonan bulir-bulir jagung yang sudah diblender kasar, agar tekstur jagungnya terlihat gurih setelah digoreng kekuning-kuningan, dicampur dengan tepung terigu dan 1 butir telur agar terasa gurih dan 𝒌𝒓𝒆𝒏𝒚𝒆𝒛𝒛 di mulut.⁣

⁣Umma senang sekali gorengan bakwan jagung yang Ia buat sudah selesai. Untung saja jagung manis yang Abah bawa dari kebun Pak Yono tempo hari tidak jadi direbus sebagai menu berbuka kemarin, karena Rara datang mengantarkan takjil berbuka puasa sebelum jagung itu direbus oleh Abah. Dan bersyukur sekali, selama proses membuat gorengan jagung Alif belum bangun dari tidurnya. Jika saja Ia bangun, jangankan untuk membuat gorengan itu, untuk Umma menuju ke dapur saja tidak akan diizinkannya.⁣

Setelah meletakkan gorengannya di dalam tudung saji, Umma merasakan mulas luar biasa.⁣

"Umma!"⁣

Tiba-tiba Alif sudah berada di dapur melihat Umma memegangi perutnya dan kesakitan. 

Thursday, April 21, 2022

Ketemu Pasangan



🩴🩴🩴🩴🩴🩴🩴🩴🩴🩴🩴🩴

⁣Selama Umma 𝑏𝑒𝑑𝑟𝑒𝑠𝑡, Alif dengan setia menemani Umma di rumah. Alif tidak pernah meninggalkan Umma. Ketika Umma bangun, Alif duduk di samping Umma dan sesekali berbaring bersama Umma. Hampir semua mainannya dari brankas lemari es Ia angkut ke kamar Umma. Umma tidak protes, Umma malah senang ada teman ngobrolnya. Sementara Abah setiap hari pergi, Abah pergi untuk mencari pekerjaan. Pekerjaan apa saja yang penting halal. Abah menerima pekerjaan harian karena Abah tidak menerima pekerjaan yang harus meninggalkan rumah dalam waktu yang lama.⁣

Sebelum pergi, Abah menggantikan Umma untuk menyelesaikan pekerjaan harian di rumah yang biasanya dikerjakan oleh Umma. Mulai dari mencuci piring bekas sahur dan berbuka Abah dan Alif, mencuci pakaian, menjemur, melipat, menyeterika, dan memasak makanan untuk Umma dan Alif. Memang Alif sesekali diminta Umma untuk puasa setengah hari saja. Sementara pekerjaan menyapu rumah, menyiram tanaman Umma, dan mengambilkan Umma makan dan minum serta kebutuhan lainnya itu dikerjakan dengan senang hati oleh Alif.⁣

Sore itu Abah pulang lebih cepat dari biasanya. Alif berlari dan membukakan pintu untuk Abah. Alif melihat Abah membawa sesuatu di dalam kantong plastik kecil. Abah memberikan kantong plastik itu kepada Alif.⁣⁣

"Ini, Lif. Ketemu pasangannya" Kata Abah memberikan kantong itu ke Alif.

"Apa ini, Bah?" Tanya Alif sambil membuka kantong tersebut sebelum sempat dijawab oleh Abah.⁣

"Ini kan sandal jepit Alif yang hilang sebelahnya waktu di rumah Pakde Sutra. Abah ketemu di mana?" Tanya Alif heran.⁣

"Tadi Abah lewat di depan rumah Bude Parni, Bude Parni minta tolong untuk memarkirkan truk Pakde Sutra ke tempat biasanya. Setelah Abah pindahkan, Abah melihat ada sebelah sandal jepit Alif di bawah tempat truk diparkir sebelumnya.⁣" jelas Abah.

⁣"Wah, udah ketemu pasangannya!" Ucap Alif sambil berlari ke belakang mengambil sebelah sandal jepitnya.⁣ Lalu sandal jepit itu Ia pakai dan berlari ke kamar Umma.

"Kok bisa ke kolong truk? Alif main sambil sandal ya?" Tanya Umma yang sedari tadi mendengar dari kamar.

"Ga kok, Umma." Sanggah Alif.

Jaga Umma, Ya!



⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘

"Ana, gimana? Kamu baik-baik saja?" Tanya Bidan Ariani pelan ketika Umma baru siuman.⁣

"𝑨𝒍𝒉𝒂𝒎𝒅𝒖𝒍𝒊𝒍𝒍𝒂𝒉, pusing dan kram di perut sudah berkurang, Mbak." Jawab Umma lirih.⁣

"Na, kamu tu n𝒈𝒆𝒚𝒆𝒍. Kamu ga kasian sama calon bayimu?" Tambah Bidan Ariani sambil menggeleng-gelengkan kepala.⁣

⁣"Bagaimana dengannya, Mbak?" Tanya Umma khawatir.⁣⁣

"Ga apa-apa. Tapi, 𝑠𝑜𝑟𝑟𝑦 𝑡𝑜 𝑠𝑎𝑦 kamu harus 𝑏𝑒𝑑𝑟𝑒𝑠𝑡.⁣

Umma terdiam sambil mengelus perutnya yang dirasanya kram dan sedikit kencang itu.

"Kamu jangan aktivitas apa-apa dulu, Na. Sepertinya harus diperiksa 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖𝑓. Besok pagi, kalau kamu sudah kuat kita ke rumah sakit. Kamu harus nurut, 𝐼𝑛𝑠𝑦𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ semua akan baik-baik saja." Nasihat Bidan Ariani.⁣

⁣⁣"Iya, Mbak. Tapi Ana hanya kelelahan saja kok, Mbak. Janin Ana ga kenapa-kenapa kan?" Tanya Umma lagi.⁣

Bidan Ariani hanya tersenyum. "Udah, Aku pulang dulu. Udah malam, dan kamu harus istirahat." Pesannya.⁣⁣

"Jaga Umma ya, Jagoannya Umma!" Kecupan lembut Bidan Ariani mendarat di ubun-ubun Alif yang tengah duduk di dipan Umma.


Abah mengantarkan Bidan Ariani keluar.⁣

"Mas, Mamad. Ingat ya, Ana harus istirahat total. Kelelahan pada ibu hamil bukanlah sesuatu yang sepele. Beberapa resiko serius bisa terjadi jika ibu hamil kelelahan. Misalnya seperti Ana ini, Ana sudah beberapa kali pingsan. Pingsan terjadi ketika otak tidak mendapat pasokan oksigen, artinya janin di dalam rahim juga kekurangan hal penting ini. Ini menandakan bahwa ibu hamil mungkin saja mengalami dehidrasi." Jelas Bidan Ariani.⁣

"Oh ya, ada yang mau saya sampaikan, tapi jangan sampai Ana tahu. Saya khawatir dia jadi kefikiran. Begini, Mas Mamad, pertumbuhan janin Ana sedikit kurang baik. Ana butuh asupan banyak protein. Protein memiliki peran penting selama kehamilan karena membantu bayi tumbuh secara normal sekaligus bisa menjaga tubuh Ana tetap sehat dan bugar selama mengandung." Bidan Ariani menjelaskan dengan hati-hati tentang kondisi Umma kepada Abah.⁣

⁣⁣

"Matur nuwun, Dek Ariani."⁣

"Oh ya, kira-kira apa ya yang bisa dikonsumsi Ana untuk mencukupi kebutuhannya akan protein?" Tanya Abah.

"Coba kasih Ana tengkleng, Mas Mamad. Sebab, tengkleng yang berisi tulang atau jeroan daging kambing memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Manfaat daging kambing sebagai sumber protein yang sangat baik dan dapat meningkatkan kebutuhan protein selama kehamilan. Hal ini dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan janin sampai lahir, Mas." Jelas Bidan Ariani lalu pamit pulang. "Baik, Dek. Saya akan usahakan carikan tengkleng untuk Dek Ana. Matur nuwun sanget." Ujar Abah.

"Iya, Mas. Oh di warung desa sebelah ada yang jual tengkleng, Mas. Kami suka beli tengkleng di sana untuk berbuka puasa, Cita rasanya juga enak."

"Ingat, jangan dikonsumsi Ana terlalu banyak dan satu lagi dukung istirahat total Ana ya, Mas Mamad, Jangan sampai diabaikan." Tegas Bidan Ariani lagi.

Wednesday, April 20, 2022

Umma Harus Kuat


👶👶👶👶👶👶👶👶👶👶👶👶⁣

⁣⁣

Malam nuzululquran, malam pertama Pade Sutra pergi untuk selama-lamanya meninggalkan semua keluarga dan kerabat. Bude Parni hanya terpaku dengan pandangan kosong seperti kehilangan pegangan. Saat prosesi pemakaman tadi, Bude Parni berkali-kali tidak sadarkan diri. Ia merasa sendirian, tak ada sesiapa lagi yang dia miliki. Qadarullah, Bude Parni dan Pakde Sutra tidak memiliki keturunan. Mereka hanya tinggal berdua saja. Walau demikian mereka sangat sayang kepada anak-anak di sekitar tempat tinggalnya yang notabene masih kerabat dan keluarganya.⁣

⁣Usai Tarawih, ritual tahlilan malam pertama Pakde Sutra digelar di rumahnya. Semua keluarga, kerabat, dan tetangga datang untuk mendoakan beliau. Setelah semua pulang, Bude Parni mulai merasa kesepian dan sendiri. Walau masih ada keluarga yang tetap di rumahnya termasuk Umma yang senantiasa menemani dan membantu di rumah Pakde Sutra it. 

"Maas... kamu kok yo tega ninggalin Parni sendirian..." tangis Bude Parni pecah lagi.

"Sabar, Mbak. Istigfar. Allah tidak menguji hambaNya kecuali sesuai dengan kemampuannya." Ujar Umma terus menghibur dan menasihati Bude Parni yang sesekali kehilangan kesadarannya itu. Umma dengan penuh perhatian selalu menemani Bude Parni. Dari Subuh Umma tidak pulang-pulang. Umma benar-benar berempati melihat musibah yang menimpa saudara suaminya itu.⁣⁣

Malam itu terpaksa Umma pulang karena dijemput oleh Abah dan Alif. Sebenarnya Umma tidak mau pulang kalau tidak memikirkan Alif dan Abah di bulan Ramadan ini. Setelah memastikan ada yang menemani Bude Parni. Umma pamit pulang tanpa sepengetahuan Bude Parni, karena khawatir beliau akan sedih. Hubungan mereka sangat dekat, Pakde Sutra menyebut mereka teman curhat.⁣

"Dek, kok pucat sekali?" Tanya Abah sambil membimbing tangan Umma berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke rumah. "Tadi sempat makan tidak, Dek?, dari siang Mas lihat tidak ada istirahtnya." Tambah Abah kuatir.⁣

"Mas, kepala Ana pusing." Tiba-tiba Umma lemas dan dengan sigap Abah meraih tubuh Umma dan memeluknya.⁣

"Umma! Umma kenapa?" Teriak Alif melihat Umma lunglai dalam pelukan Abah.⁣

"Astagfirullah, Dek. Umma pingsan Alif."⁣

"Umma harus kuat yaa, Umma. Ayo, Abah gendong Umma!" Pinta Alif yang segera membuka pintu pagar kecil rumahnya.

Tuesday, April 19, 2022

Alarm Duka Subuh



⏰⏰⏰⏰⏰⏰⏰⏰⏰⏰⏰

"Allahumma shalli 'ala muhammad wa 'ala ali muhammad."

"Alif sayang, bangun sahur yuk, Nak." Dengan lembut alarm syahdu suara Umma membisikkan kalimat-kalimat itu di telinga Alif untuk membangunkan Alif sahur. Selama Ramadan Alif selalu dibangunkan Umma dengan lemah lembut. Wajar saja Alif tidak pernah rewel-rewel saat bangun sahur. Alif membuka matanya dengan perlahan disambut senyuman lembut Umma.

Alif meregang-regangkan serta menarik-narik tangan dan badannya.

Ini telah menjadi kebiasaan, sebelum bangkit dari tidur ia menggeliat dulu. Kemudian Ia melirik ke arah jam di dinding.

"Hmm. Sahur ya, Umma?" Tanyanya tak kalah lembut kepada Umma sambil menjulurkan kedua lengannya sebagai pertanda minta ditarik bangkit dari tidurnya.

"Iya, Sayang. Alif sudah siap untuk sahur?" Tanya Umma lagi sambil menarik Alif bangkit dan memeluknya. Umma lalu melafalkan dengan lirih doa bangun tidur di telinga Alif. Kemudian Umma dan Alif beranjak menuju ruang makan.

"Abah mana, Umma?" Tanya Alif.

"Abah tadi di musala salat tahajut. Mungkin sekarang Abah sudah menunggu kita di ruang makan, Sayang. Nah, Alif cuci muka dan tangan dulu ya." Pinta Umma.

Abah, Umma, dan Alif kemudian melakukan aktivitas sahur. Kebiasaan keluarga ini memang selalu mengakhirkan sahur sehingga Alif bisa langsung ikut salat subuh berjamaah. Tak lama mereka menyelesaikan sahurnya, waktu imsak telah datang. Abah dan Alif bersiap-siap untuk melaksanakan salat subuh berjamaah di masjid.

"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, telah berpulang ke rahmatullah saudara kita Ahmad Sutra pagi ini pukul 03.45 wib. Saat ini telah disemayamkan di rumah duka.." suara pengeras suara masjid terdengar memberitahukan berita duka subuh ini.

"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, Mas Sutra, Dek. Baru usai tarawih Mas masih berbincang-bincang dengannya. Mendadak sekali." ucap Abah lirih. Kemudian Abah segera mengajak Alif untuk salat berjamaah di rumah saja. Setelah salat, Abah langsung menuju ke rumah Pakde Sutra yang merupakan sepupunya itu dan tak lama kemudian Umma dan Alif menyusul Abah.

Sampai di rumah duka, Umma menghampiri Bude Parni dan mengucapkan belasungkawa. Bude Parni menceritakan kronologinya kepada Umma. Bude Parni sangat syok dengan kejadian yang mendadak ini. Umma berusaha menyabarkan Bude Parni. 

Kemudian Umma dan ibu-ibu lainnya membantu menyiapkan prosesi pemandian Pakde Sutra. Semua merasa kehilangan sosok yang ramah dan terkenal pekerja keras itu. Suasana hanyut dalam duka.

Abah tampak sibuk mengurus semua keperluan untuk pemakaman.

Sementara Alif bermain-bermain dengan anak-anak lainnya di halaman rumah Pakde Sutra yang luas itu.

Pasti kuat, dong!



🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎

Tidak terasa hari ini sudah puasa yang ke lima belas. Hari demi hari di Ramadan ini, dilalui Umma dengan sehari puasa sehari tidak demi calon bayi yang dikandungnya. Terakhir Umma memeriksakan kandungannya ke Bidan Ariani. Kata Bidan Ariani bayi dalam kandungan Umma terindikasi kurang gizi. Bidan Ariani mengatakan kurang gizi pada ibu hamil akan menimbulkan berbagai resiko pada janin yang sedang berkembang, seperti risiko lahir prematur. Umma sangat menjaganya dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang di masa kehamilan ini.

"Wah, olah raga sore ya, Na?" Sapa Bidan Ariani yang lewat di depan rumah Umma sore itu.

"Apa toh, cuma nyapu-nyapu ini aja" sambut Umma.

"Nyapu kan bergerak juga toh? Sama lah itu dengan olah raga" ledek Bidan Ariani yang sedang menenteng kantong plastik berisi menu berbuka yang dibelinya di warung kaki Bude Parni.

"Eh dari mana kok sendirian? Rara mana, Mbak?" Tanya Umma.

"Dia ga ikut katanya lemes. Hmm.. kami tadi sahur kesiangan. Jadi Rara ga sempat makan apa-apa. Hanya sempat meminum seteguk air saja." Cerita Bidan Ariani.

"Wah, kasihan." Sambut Umma.

"Makanya ga ikut, biar di rumah saja. Yuk mari, Na." Pamit Bidan Ariani.

"Umma, sahur kesiangan itu apa?" Tanya Alif tiba-tiba datang menghampiri Umma yang tidak sengaja mendengar percakapan Umma dan Bidan Ariani.

"Sahur kesiangan itu adalah bangun dan makan sahurnya sudah dekat waktu imsak. Jadi sudah tidak keburu untuk makan sahur lagi." Jelas Umma.

"Oh begitu, kita pernah ga ya Umma sahur kesiangan?" Tanya Alif lagi.

"Hmm.. rasanya belum pernah ya. Sebab Alhamdulillah, Umma selalu terbangun tiap-tiap waktu sahur." Jawab Umma sambil mengingiat-ingat.

"Memangnya boleh ya Umma, puasa tapi tidak sahur?" Tanya Alif kepada Umma lagi.

"Sahur itu hukumnnya sunnah, tapi Rasulullah menganjurkan umatnya untuk makan sahur meski dengan seteguk air saja. Karena di dalam sahur terdapat berkah."

"Oh begitu. Kasihan Mbak Rara puasanya tidak makan sahur. Tapi Mbak Rara kuat dong, ya kan Umma?" Sahut Alif.

"Insya Allah" jawab Umma.

Sunday, April 17, 2022

Umma Rindu Jidda

💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕⁣

"Mainnya disambung lagi" bathin Umma melihat ke arah Alif yang mulai bermain kembali setelah subuh tadi.⁣⁣

Alif masih membenahi tata letak di 'cafenya'. Ada beberapa bagian dekorasi dan tataan yang masih kurang menurutnya dan masih perlu diubahnya. Ia mengangkat sebuah kursi plastik kemudian ditaruhnya di depan pintu masuk cafe, lalu Ia menempelkan beberapa lembar kertas yang telah ditulisnya dengan spidol di beberapa bagian yang dianggap perlu menggunakan lakban. 

Sambil lewat, Umma sempat membaca tulisan-tulisan itu⁣. Tulisan disenderan kursi, "Cafe Alif Buka Pukul 6 Sore"⁣⁣.

Lalu Umma membaca lagi tulisan pada secarik kertas yang diletakkan di atas meja.

"Sudah Dipesan"⁣

Umma berlalu dan tersenyum. Alif suka meniru apa yang Ia lihat. 

Ide cafe itu karena Ia pernah diajak Mbak Rara makan es krim di cafe. Alif rutin juga diajak Abah ke tempat pangkas rambut, sesampai di rumah Alif mulai membuka tempat pangkas rambutnya sendiri di rumah. Kadang Abah yang jadi pelanggannya, namun pelanggan setianya adalah boneka Mickey Mouse Umma.⁣⁣⁣

Umma, senang sekali Alif sudah mandiri dan bisa main sendiri tanpa mengganggu Umma untuk minta ditemani bermain.

Umma hari ini berbelanja untuk menyiapkan menu berbuka puasa untuk Abah dan Alif saja. Hari ini, Umma ada jadwal berbuka puasa bersama adik-adik kajiannya.⁣

⁣"Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamualaikum. Sekedar mengingatkan, berdasarkan kesepakatan kita pada pertemuan terakhir kajian sebelum Ramadan, hari ini adalah jadwal kita berbuka bersama di luar atau rihlah dan ini termasuk jadwal kajian rutin kita. Jadi semua Kakak minta hadir. Kakak akan mengevaluasi target puasa kita. Wassalamualaikum." Ucap Umma dalam voice note di grup wa Marathus Shalihah, grup kajian Umma dengan adik-adik binaannya.⁣

⁣=======⁣

⁣"Duha time! Duha time!" Terdengar rekaman suara Umma dalam alarm pengingat kegiatan sehari-hari Alif.⁣

"Wah, udah duha time aja!" Ucap Alif yang sedang merangkai pesawat tempur dari lego di cafe miliknya.

"Alhamdulillah, waktu berjalan tidak terasa. Ayo, kita salat duha lalu lanjut murojoah hapalannya ya, Sayang." Ajak Umma.⁣

"Baik, Umma!" Sambut Alif dengan semangat.⁣ Umma terharu melihat semangat Alif dalam beribadah. Selama puasa ini, Alif tidak pernah mengeluh. Ia jalankan ibadahnya dengan senang hati.⁣ Umma teringat masa kecilnya waktu belajar puasa. Kira-kira usia Umma waktu itu jauh lebih tua dari Alif sekarang. Umma mengenang nostalgia Ramadan di masa Ia kecil.⁣⁣

======

"Ummi, masih lama ya berbukanya?" Rengek seorang anak perempuan kepada Ibunya yang Ia panggil dengan sebutan Ummi itu.⁣

"Sebentar lagi, Sayang, itu liat sudah pukul 3. Semangat ya sayang." Bujuk Ibu dari anak perempuan itu menunjuk ke arah jam dinding sambil mengelus-elus kepala anaknya.⁣

"Tapi lapar, Mi. Ana batal ya, Ummi" rengeknya lagi.⁣

"Sabar, sayang sekali, sudah dilewatkan sekian jam, sudah mau dekat kok dibatalkan. Dikiiit lagi, coba dihitung berapa jam lagi tersisa menjelang waktu berbuka? Wah tinggal 3 jam lagi." Bujuk Ibu itu sambil menghitung angka pada jam di dinding.⁣

Sementara, anak perempuan itu selalu merengek.⁣ Namun, sang Ibu tidak kehilangan kesabaran dan akal untuk terus menyemangati anaknya itu.⁣⁣ "Allah sayang kepada anak-anak yang salihah". 

"Ummi, Ana rindu.." ucap Umma lirih. Tak terasa air mata membasahi pipinya. Umma tengah mengenang masa lalunya bersama Jidda

⁣__________

"Umma, ayo berwudu. Loh, kenapa Umma menangis?" Tanya Alif heran dan mengagetkan lamunan Umma yang sedang mengingat nostalgia Ramadan saat Ia belajar puasa bersama Jidda.⁣

"Astagfirullah, Umma teringat masa-masa kecil belajar puasa bersama Jidda, Nak." Jawab Umma sambil menyeka air matanya.⁣

"Jauh sekali dibandingkan dengan Alif sekarang. Kalau Umma dulu selalu merengek minta batal ke Jidda. Namun, Jidda selalu menyemangati Umma. Walau kadang-kadang Umma tetap nekat membatalkan puasa Umma, tak jarang Umma batal diam-diam tanpa tahu Jidda. Sementara Alif, tidak pernah mengeluh apalagi merengek-rengek. Malah, kadang Umma saja yang menyarankan agar Alif puasanya setengah hari saja karena Alif belum wajib puasa. Umma kasihan karena Alif masih kecil."⁣

⁣"Wah, Umma jadi sedih ya teringat Jidda? Sabar ya Umma, yuk, kita salat lalu kita kirim doa dan Al Fatihah untuk Jidda, Umma" Ajak Alif supaya Umma tidak larut sedihnya.

Saturday, April 16, 2022

Fully Charger






🔮🔮🔮🔮🔮🔮🔮🔮🔮🔮🔮⁣

Setelah sahur dan dilanjutkan tilawah satu lembar Al-Qur'an, menjelang azan subuh, Alif mulai bermain di ruang tengah. Satu-persatu mainan di lemari mainannya Ia keluarkan. Lemari pendingin (kulkas) rusak di rumah menjadi tempat penyimpanan mainannya. Alif dan orang di rumah menyebutnya brankas mainan Alif.⁣⁣

Permainan di bulan Ramadan yang biasa dimainkan Alif di rumah adalah beraneka macam seperti lego besar, lego kecil, kompangan, pistol-pistolan, dan petasan botol mineral bekas. Tak jarang Ia menyusun kursi-kursi di rumah menjadi memanjang seperti deretan tempat duduk penumpang di dalam bis."Jakarta! Bandung! Ayo, naik naik!" Teriak Alif seolah-olah sedang memanggil-manggil penumpang. Salah satu penumpang setianya adalah sebuah boneka Mickey Mouse milik Umma yang merupakan pemberian dari murid Umma beberapa tahun lalu.⁣⁣

Sebenarnya apapun yang ada di rumah bisa menjadi mainan Alif. Alif adalah anak yang kreatif. Hal itu dikarenakan Ia suka bermain dengan barang bekas seperti kardus atau kotak sepatu. Alif pernah membuat bermacam-macam permaian dari kardus bekas yang ada di rumah. Baik dari kardus mie instan, kotak susu, bahkan kardus barang elektronik.⁣

Pernah tahun lalu Alif membuat beberapa permainan di bulan Ramadan yang berkesan yaitu, pesawat-pesawatan dari kardus, kandang Godid, kucing berbulu hitam putihnya lengkap dengan inovasi wadah makan dan tempat air minum yang dapat terisi secara otomatis menggunakan stoples plastik dan sedotan bekas gelas minumannya waktu kecil, membuat tas punggung disinfektan dengan semprotannya dari selang air yang rusak, tali tas Umma yang putus, dll.⁣ Bahan dan alat tambahan yang gunakan untuk menyulap itu semua menjadi sesuatu adalah gunting dan lakban. Tentunya sesekali Ia meminta bantuan Umma atau Abah untuk memotong, menggunting maupun menempelkannya pada bagian-bagian yang tak bisa Ia lakukan sendiri.

Oleh karena itu, Umma dan Abah menggelari Alif Si Anak Kardus. Tak ada kardus bekas yang tak berguna bagi Alif. Makanya, apabila Umma dan Abah mendapat kardus tidak pernah dibuang. Selalu disimpan untuk mainan Alif. Apalagi di bulan Ramadhan ini, Alif lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Karena durasi belajar di sekolah dikurangi.⁣ 

"Umma, Alif sudah buat cafe untuk kita nanti berbuka puasa hari ini. Umma tutup matanya!" Pinta Alif sambil membawa Umma ke ruang tengah untuk menunjukkan kepada Umma Cafe buatannya. ⁣⁣ 

"Wah, keren sekali cafenya Alif!" Puji Umma ketika melihat disain ruangan tengah yang terdapat beberapa bantalan kursi disusun Alif melingkari meja kecil, meja tulisnya yang ditutupi oleh jilbab motif bunga-bunganya Umma. Tampak di atas meja tertata vas bunga yang diambil Alif dari atas meja tamu. Kemudian meja dan bantalan kursi di susun rapi di atas karpet yang berasal dari selimut tebal dan lebar Umma.⁣ 

Ya begitulah Alif dengan kreativitasnya. Sepertinya energinya tidak ada habisnya, fully charger. ⁣

Hanya saja masalahnya, setelah Ia bermain, rumah berantakkan seperti kapal pecah. Tapi bukan Umma namanya kalau tidak memiliki trik supaya Alif bisa menjadi anak yang bertanggungjawab dengan pekerjaannya. Alif dilatih untuk merapikan semua mainannya yang berserakan. Walau masih harus selalu diingatkan, namanya juga anak kecil.

Friday, April 15, 2022

Berkah Ubin Masjid


🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱🧱⁣
⁣⁣Selesai salat tarawih,

"Assalamualaikum, Mas Mamad."⁣
"Alaikumussalam Ustaz." Abah menjawab salam dari Ustaz masjid.⁣
"Wah apa kabar, Mas Mamad? Baru kelihatan?" Tanya Ustaz.⁣⁣
"Alhamdulillah baik, Ustaz. Hehe iya nih, Ustaz. Kemarin saya baru sampai." Jawab Abah sambil memegang dada sedikit sungkan.
"Oh ya, Mas. Syukurlah bisa tarawih sama-sama lagi." Sambung Ustaz.⁣
"Wah, jamaah semua memuji ubin masjid kita, Mas. Mereka suka sekali dengan pekerjaan Mas Mamad yang rapi dengan padanan warna yang sesuai. Ini semua berkat Mas Mamad. Dalam waktu singkat menjelang Ramadhan Mas Mamad dapat menyelesaikannya dengan baik, Masya Allah." Ujar Ustaz sambil mengulurkan sebuah amplop ke tangan Abah. "Matur nuwun ya, Mas Mamad." Ucap ustaz dan menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Alhamdulillah, sami-sami, Ustaz. Wah, he.. he.. saya jadi tersanjung ini Ustaz. Ini semua juga berkat saran dan masukkan dari Ustaz dan warga sini. Saya hanya mengerjakannya saja. Ustaz." Balas Abah dengan malu-malu.⁣

⁣=======⁣

Sesampai di rumah, Abah cerita kepada Umma tentang obrolannya dengan Ustaz tadi. Abah memberikan amplop tersebut kepada Umma. 
Umma menerima amplop itu dan menciuminya seraya bersyukur. Itu hasil kerja Abah sepekan yang lalu sebelum Ramadhan. Upah itu baru Abah terima dari ustaz. Abah menyebutnya berkah ubin masjid.😘

Memang sejak di PHK, pekerjaan Abah sekarang serabutan. Untungnya Abah memiliki banyak kebisaan dan tidak memiliki sifat gengsi. Abah juga mau bertanya kepada yang lebih tahu dan mau terus belajar. Menurut Abah pekerjaan apa saja yang penting halal. Allah sudah menjamin rezeki hambaNya. Walau demikian, bukan berarti kita harus malas-malasan dan santai-santai. Itu erat kaitannya antara rezeki dan bekerja. Oleh karena itu, perlu bagi kita untuk bekerja agar bisa menjemput rezeki itu.

Thursday, April 14, 2022

Warung Kaki Bude Parni

🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭⁣

Sore itu Abah berjanji akan mengajak Alif ngabuburit keluar. Alif senang sekali saat tahu akan diajak jalan-jalan sore oleh Abah. Siang harinya Umma menyuruh Alif untuk qailullah dulu supaya bangun nanti lebih segar dan salat tarawih di malam harinya tidak mengantuk. Alif mengikuti nasihat Umma untuk tidur siang.⁣

Alif Bangun sebelum asar, seperti biasa Alif mandi sore. Alif selalu ingat pesan Umma mandi sore anjuran Rasulullah ﷺ  yang juga baik secara medis karena memberi manfaat bagi kesehatan hindari mandi 30 menit setelah waktu asar. Ba'da asar Alif tilawah satu lembar Al-Qur'an.⁣ Kemudian Alif dibantu Umma bersiap-siap untuk berangkat.

"Ayo, kita berangkat!" Ajak Abah.⁣

"Siap, Bosque!" Jawab Alif setelah menyalami Umma dan naik ke atas motor tua Abah. Alif dibonceng duduk di belakang.⁣

Sampai di depan lorong, mereka melewati warung kaki Bude Parni. Setiap bulan Ramadhan Bude Parni memang membuka warung kaki. Tapi Bude Parni tidak melayani orang-orang yang makan di tempat. Warung kaki Bude hanya melayani pembeli take away saja. Namun, bagi ibu-ibu yang menyusui dan yang berhalangan untuk berpuasa masih dilayani oleh Bude Parni makan di tempat. Warung kaki Bude Parni tampak dihijab kain putih alasannya karena untuk menghormati orang yang berpuasa.⁣

⁣========⁣

Sepulang dari ngabuburit Abah dan Alif membeli takjil untuk berbuka puasa. Alif tampak senang sekali. Sesampai di rumah, tak henti-henti Ia bercerita ke Umma tentang apa yang dilihatnya di jalan saat ngabuburt itu. Umma dan Abah tersenyum mendengar celoteh Alif. 

Wednesday, April 13, 2022

Ini Petasan Alif




💣💣💣💣💣💣💣💣💣💣💣⁣

Setelah semua clear, Umma merasa lega. Umma dan Abah saling meminta maaf atas kesalahan dan kekhilafannya masing-masing. Umma meminta maaf karena kepergian Abah tanpa kabar menimbulkan syak wasangka Umma. Sementara, Abah juga merasa bersalah karena tidak mengabarkan Umma langsung, melainkan melalui orang lain.⁣

"Ini buat Umma dan Alif." Abah meraih tangan Umma dan memberikan kepada Umma beberapa lembaran uang seratus ribu rupiah. "Dan jangan lupa periksa kandungannya ya, Dek. Mendengar cerita itu Mas benar-benar merasa bersalah." Ucap Abah lirih.⁣

"Alhamdulillah kita semua masih dalam lindungan Allah, Mas." Sambut Umma.⁣

"Iya, Dek. Tapi, kalau waktu itu terjadi apa-apa tentu semua karena kesalahan Mas." Balas Abah lagi.⁣

"Astagfirullah, Mas. Istigfar. Ga boleh ngomong begitu." Umma mengingatkan Abah. ⁣

"Umma, Abah. Lihat ini petasan Alif!" Panggil Alif sambil memperlihatkan benda yang Ia pegang. Alif memegang sebuah botol plastik air mineral ukuran 1.500 ml. Botol itu bekas botol minuman yang dibawa Abah pulang subuh tadi.⁣ 

"Umma dan Abah lihat ya!" Pintanya sambil melakukan sesuatu pada botol plastik itu. Alif menutup botol itu dengan tutupnya dengan cara memutar tutup botol plastik tersebut tidak terlalu kuat. Sehingga tersimpan udara di dalam botol tersebut. Kemudian Alif berjongkok dengan satu kaki yang bertumpu di lantai, sementara kaki lainnya digunakan untuk mengepit badan botol di antara betis dan pahanya secara perlahan. Tiba-tiba Alif menekan kepitan terhadap botol plastik tersebut dengan kuat sambil memutar tutup botol ke posisi membuka perlahan, dan...⁣

"Duar!!!!" Terdengar ledakan di ruangan tersebut.⁣

"Astagfirullah, Alif!!! Bikin kaget Umma saja!" Umma terperanjat sambil memegang dada, sementara Alif dan Abah tertawa geli.

"Hehe.. Maaf Umma. Tapi hebatkan Umma suara petasan Alif?" Ucap Alif bangga.⁣

"Wah hebat! Alif benar-benar kreatif sekali. Ajarkan Abah dong." Ujar Abah sambil mendekati Alif.⁣.⁣

⁣"Nanti Abah belikan petasan benaran, Ya." Kata Abah kepada Alif yang sedang mengajari Abah cara memainkan benda itu.⁣

"Jangan Abah. Kalau petasan benaran itu berbahaya. Kata Umma, bermain petasan itu bisa mengganggu orang lain. Alif main ini aja, Abah. Ini aja juga bikin Umma kaget tapi dijamin aman tidak membahayakan, Abah." Jawab Alif sambil menyelipkan badan botol itu ke kepitan betis dan paha abah.⁣ Umma yang melihatnya segera berlari kecil keluar rumah sambil menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya.⁣

"Duar!!!" Tutup botol itu mengenai kaki Umma.

"Abaaaahhhh!" Rajuk Umma.

Tuesday, April 12, 2022

Miss Communication



🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿⁣

"Sore Kamis itu, Mas ga sengaja lewat di depan warung Parni. Saat Mas lewat Mas Sutra sedang menyeruput kopinya dan bersiap naik ke truknya akan berangkat antar muatan. Mas izin ikut bantu-bantu Mas Sutra, karena Mas ingin puasa pertama nanti ada uang untuk membeli persiapan sahur dan berbuka kita. Kamu kan tahu Mas ga pegang uang sepeserpun" Jelas Abah kepada Umma.⁣

Memang, sejak Abah di PHK semua kebutuhan dan tagihan dibayarkan memakai uang di tabungan Umma. Umma menyimak cerita Abah dengan seksama, sesekali Umma mengusap-usap lengan Abah menenangkannya.⁣

⁣⁣"Mas Sutra bilang, ga keburu waktunya kalau Mas harus pamit ke rumah dulu. Karena dia akan antre solar di SPBU. ⁣Mas jadi sungkan dan serba salah.⁣" tambah Abah sambil mengingat kejadian saat itu

========

⁣Sore itu di warung Parni.

"Wes, sono pergi keburu telat antre solar. Mas Mamad, sik, nanti aku bilang Bojomu sampean ikut Mas-ku muat." Teriak Parni yang merupakan sepupunya Abah. Parni seakan paham kebingungan Abah saat itu. Hubungan kekerabatan mereka sangat baik. Jadi sudah biasa saja hal tersebut-saling sampai menyampai pesan itu terjadi menurut Abah. Sehingga membuat Abah tidak ragu untuk berangkat.⁣⁣

"Yo wes, sampaikan yo. Aku pergi dulu." 

=======⁣

"Wah, Mad! Keburu beduk ini panjang sekali." Kata Mas Sutra melihat panjangnya antrean solar di SPBU. "Untung sampean ga pulang dulu tadi. Kalau pulang bakal bermalam di SPBU ini kita, Mad." Tambah Mas Sutra lagi sambil turun dari truknya. 

"Dukkk!! Dukkk!!!"

"Ayo, Mad. Kita magrib dulu. Sudah beduk magrib tuh, sebentar lagi azan berkumandang. Syukur-syukur sudah salat nanti giliran kita." Ajak Mas Sutra kepada Abah.⁣

⁣⁣⁣======

"Dua hari Mas pergi ga kasih kabar. Kenapa ga mengabari kembali ke Ana setelah sampai ditujuan dan kenapa Mas perginya sampai dua hari?" Biasanya kan Mas Sutra kalau antar muatan ga sampai selama itu, Mas?" Tanya Umma penasaran dan masih belum mengerti.⁣

"Mas ga kasih kabar karena Mas berfikir kamu sudah mengetahui tentang kepergian Mas itu dari Parni. Makanya tadi Mas kaget kok Kamu tanya Mas ke mana, manaaaa pakai nangis bombay pula." Jelas Abah sambil menggoda Umma.⁣

"Harusnya Jum'at malam sudah balik, Sayang.  Qadarullah truknya rusak, jadi kami harus bermalam di jalan.⁣

"Kangen yaaa?" Ledek Abah sambil mencolek pinggang Umma.⁣

"Maaas, Jangaaan! kan lagi puasa" ⁣

"Umma jadi puasa, bukannya Umma ga puasa?" Tiba-tiba Alif sudah ada di depan pintu kamarnya yang menghadap ke ruang tengah.⁣

⁣"Loh, Dek, ga puasa?" Tanya Abah heran menatap Umma.

Sunday, April 10, 2022

Sahur Off Road



💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕⁣

⁣Usai salat tarawih, Alif dan Umma langsung tidur. Kata Umma agar nanti sahur ga kesiangan. Seperti tarawih-tarawih terdahulu. Alif sudah belajar mengimami Umma apabila Abah sedang tidak di rumah dikarenakan ke luar kota. Umma dan Abah mengizinkan Alif untuk menjadi imam salat sunat tarawih.⁣⁣ Menurut Abah, Alif sudah mengerti rukun shalat, bacaan, hapalan Al-Qur'annya sudah banyak dan juga baik, serta salat wajibnya juga dikerjakan istikomah. 


Kata Abah, jumhur berdalil tidak bolehnya anak kecil mengimami orang dewasa dalam salat wajib karena salat anak kecil dihitung sebagai salat sunah. Sedangkan selain salat wajib, seperti salat tarawih, maka jumhur beberapa ulama berpendapat bolehnya seorang anak kecil yang mumayiz atau belum balig untuk mengimami orang dewasa.⁣ Mendengar penjelasan Abah waktu itu  Alif lalu meminta kepada Abah untuk jadi Imam salat Tarawih. Abah mengiyakan permintaan Alif tersebut. Kata Abah ke Umma ini adalah sebagai pembelajaran juga kepada Alif.

⁣⁣=======⁣

⁣⁣⁣"Tring.. tring..."

Umma terbangun karena alarm sahurnya berbunyi. Belum sempat Umma menekan tombol dismis pada ponselnya untuk mematikan suara alarm itu. Tiba-tiba...

Tok!! Tok!!!

"Umma... Umma..." terdengar ada suara dari luar. Umma segera menuju ke pintu dan mengintip keluar.⁣

"Abah! Subhanallah." Umma bergegas membukakan pintu dan mempersilakan Abah masuk.⁣⁣

"Assalamualakum" Abah mengucapkan salam untuk Umma.

"Alaikumussalam, Ya Allah, Abah kehujanan? Basah semua. Silakan masuk, Abah. Sebentar Umma ambilkan handuk." Umma segera menuju ke kamar.⁣

⁣Umma kembali dan memberikan Abah handuk serta pakaian kering. "Abah ganti pakaiannya dulu kalau.."

"Maaf, Umma. Abah mandi saja." Potong Abah dan meraih handuk yang diberikan Umma lalu menuju kamar mandi. "Oh ya Umma ga sahur? Alif mana kok tidak sahur juga?" Tanya Abah menghentikan langkahnya.⁣

"Umma baru terbangun untuk menyiapkan sahur dan tiba-tiba Umma mendengar panggilan Abah tadi" jawab Umma.⁣

"Oh ya, Umma." Sambut Abah sambil melihat jarum jam di dinding menunjukkan pukul 3 lewat 40 menit. "Abah mandi dulu. Umma silakan menyiapkan makan sahurnya. Nanti Abah yang bangunkan Alif."⁣

"Abah tidak sahur ya, Umma?" Tanya Alif heran karena setelah membangunkan dan mengantarkan Alif ke ruang makan Abah pamit balik lagi ke kamar. Ternyata sebelumnya Abah sudah bilang ke Umma untuk coba rebahan dan memejamkan mata barang sebentar menjelang waktu subuh. Katanya lelah sekali dalam perjalanan tadi.

"Abah sudah sahur tadi di jalan. Kata Abah, Abah dan Pakde Sutra sahur on the road" jawab Umma sambil menyendok nasi kepiring

"Apa, Umma? Sahur off road?" Tanya Alif heran.

"Bukan, Sayang. Tapi sahur om the road. Sahur on the road itu sahur di jalam atau sahur dalam perjalanan." Jelaa Umma sambil tersenyum mengedipkan sebelah matanya ke Alif dan disambut tawa kecil Alif.⁣

"Haha Alif kira tadi sahur off road" tawa Alif geli.

⁣⁣"Loh... loh.. Umma kenapa ikutan sahur? Kan Bude bilang Umma belum boleh puasa dulu" kaget melihat Umma ikutan makan sahur.⁣

"Ga apa-apa, Umma coba puasa. Kalo ga kuat. Umma batalkan saja." Jawab Umma.⁣

"Ga! Ga boleh. Kasihan Adik, Ummaaa..." rengek Alif⁣ sambil menarik piring Umma ke dekatnya. ⁣Umma pasrah ditambah Umma merasa memang belum kuat untuk puasa hari ini.

======⁣

"Abah, dari mana kok pergi ga bilang-bilang ke Umma?" Tanya Umma kepada Abah pagi itu.⁣

"Umma benar-benar bingung dan khawatir. Tidak tahu mau dihubungi ke mana. Ditelepon-telepon tidak aktif." Tambah Umma lagi⁣

⁣"Loh, Si Parni tidak bilang ke Umma?" Abah kaget dan balik bertanya disertai gelengan kepala Umma dan tetasan air mata Umma di pipi.

"Astagfirullah, maafkan Abah Umma. Abah fikir Umma sudah mengetahui ke mana Abah. Telepon Abah tinggal di laci lemari, kan rusak, Umma." Jelas Abah sambil mengusap air mata yang menetes di pipi Umma.

Saturday, April 09, 2022

Nge-vlog Buat Takjil



🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇⁣
Umma terbangun dari tidurnya. Alif yang sedang bermain lego di lantai di sebelah tempat tidur Umma mengkhawatirkan Umma akan bangkit dari tempatnya.⁣ Alif segera meletakkan robot yang dirangkainya dari lego-lego itu.
"Umma.... sudah bangun? Gimana rasanya badan, Umma?" Umma tersenyum dan berusaha bangkit. 

"Eits... Umma mau apa?" Tanya Alif seraya memegangi tangan Umma untuk mencegah Umma bangkit.⁣ Namun, Umma sudah berhasil duduk di pinggir dipannya.⁣

"Alhamdulillah Umma sudah baikkan, Sayang." Jawab Umma sambil tersenyum memperhatikan lego Alif yang berserakkan di lantai.⁣
"Wah, Alif main sendiri? Maafin Umma ya tidak bisa menemani Alif bermain. Eh.. udah mandi juga ya sayang?" Umma menatap Alif dengan sumringah dan menciumi ubun-ubun Alif yang wangi bau sampo itu.⁣

"Alhamdulillah. Eh tapi Umma ga pusing kalau duduk begini?" Tanya Alif cemas dan tidak mengindahkan pertanyaan Umma kepadanya.⁣

"Ga apa apa sayang. Umma sudah baik kok. Ni liat Umma bisa berdiri bahkan bisa gendong Alif ke dapur." Umma lalu menggendong Alif dan berjalan keluar kamar. Alif tersenyum dan merangkul Umma yang tengah menggendongnya.⁣

"Nah, sekarang Umma mau siapkan menu berbuka plus takjil untuk jagoan Umma ini." Kata Umma sambil menunjuk dada Alif dengan jari telunjuknya lalu tersenyum menggoda anak laki-lakinya itu.⁣⁣

"Tapi Umma, Bude Ariani tadi bilang akan membuatkan Alif menu untuk berbuka. Sebentar lagi Bude akan mengantarkannya ke sini. Bude bilang sekalian takjil es blewah yang Alif bilang siang tadi tu loh." Potong Alif.⁣⁣
"Alif... Alif... Assalamualaikum!" terdengar suara dari pintu depan. 

"Alaikumussalam, Rara." Jawab Umma sambil menurunkan Alif dari gendongannya. Alif segera berlari ke depan sambil menyapa tamu yang sangat dia kenali suaranya itu.⁣
"Mbak Rara! Silakan masuk Mbak. Loh Bude mana?" Tanya Alif sambil celingak-celinguk mencari seseorang. "Loh kok Mbak Rara sendiri. Eh, itu apa?" Alif terus bertanya kepada anak perempuan yang dipanggilnya Mbak Rara itu. Rara merupakan putrinya Bidan Ariani.⁣
"Bunda ada pasien di rumah, Dek. Ini menu berbuka Alif." Rara memberikannya kepada Alif.

"Dan ini buah-buahan, Bude minta maaf ke Alif karena buah blewahnya sebagian busuk jadi tidak bisa dibuatkan es blewah untuk Alif. Mbak Rara mau ajak Alif buat sup buah. Mau ga kita buat sekarang yuk!" Ajak Rara sambil menunjukkan buah-buahan yang dibawanya dari rumah.⁣

"Alhamdulillah ada lauk berbuka untuk Alif dari Bude. Eh Ayo, Mbak Rara kita buat sup buah. Bagaimana cara buatnya, Mbak!" Sambut Alif senang dan tidak kecewa karena tidak ada es blewah yang Alif minta itu. 

"Nanti Mbak Rara ajarin ya, sekalian Mbak izin rekam Alif saat mempraktikkan membuatnya untuk diperlihatkan ke Bunda. Boleh ga? Mau ga?" Tanya Rara sambil mengeluarkan ponselnya dari saku gamisnya.⁣

"Oh.. kita buat vlog ya, Mbak?" Alif langsung berdiri di depan Rara untuk siap direkam.⁣

"Haha.. jangan di sini. Kita ke dapur yuk!"⁣ Umma yang sedari tadi melihat Alif tersenyum melihat tingkah anaknya itu.⁣⁣

========⁣

Diakhir Vlog Alif mencicipi sup buah buatannya. Alif lupa kalau sedang berpuasa.⁣⁣ Sontak saja Umma dan Rara tertawa melihat Alif dan itu membuat Alif teringat kalau sedang berpuasa dan refleks beristigfar.
========
_penyemangat hidup Umma_

Friday, April 08, 2022

Tetap Bisa Terdengar




📢📢📢📢📢📢📢📢📢📢📢📢⁣

Setelah mengantarkan Bidan Ariani ke pintu, Alif kembali ke kamar Umma. Alif menyelimuti tubuh Umma dengan selimut tebal. Selimut itu terlalu lebar dan berat, sehingga Alif mengalami kesulitan untuk menyelimuti Umma. Namun, bukan Alif namanya kalau menyerah untuk melakukan sesuatu. Alif terus menarik selimut dari sisi yang satu ke sisi yang lainnya sambil berpindah-pindah tempat secara perlahan-lahan sesuai posisi ujung selimut yang ingin Ia tarik supaya Umma tidak terbangun dari tidurnya. Sesekali Ia turun-naik tempat tidur agar tidak mengenai tubuh Umma.

Setelah menghabiskan semangkuk kolak blewah hangat tadi, Bidan Ariani memaksa Umma untuk beristirahat supaya tenaga Umma bisa pulih kembali. Bidan Ariani melarang Umma untuk turun dari tempat tidur. Bidan Umma berpesan kepada Alif untuk menjaga Umma.⁣ Bidan Ariani lalu pamit pulang dan akan datang kembali sewaktu-waktu Alif membutuhkan dan memanggilnya.

Sementara Alif masih sibuk dengan usahanya, diam-diam Umma tertawa kecil melihat ulah Alif yang terus berusaha menutupi selimut ke seluruh bagian tubuhnya. Sebetulnya Umma tidak tidur seperti yang Alif kira, Umma hanya memejamkan matanya agar penat akan fikirannya hilang barang sedikit saja. Umma berniat untuk menarik lengan mungil Alif dan membawa Alif ke pelukkannya. Tapi Umma mengurungkan niatnya, karena tidak mau mengecewakan usaha Alif yang sudah berupaya menghangatkan tubuhnya yang dikira Alif sudah tertidur itu.⁣

Hari itu sudah sore, akhirnya Umma tertidur juga. Dari pengeras suara masjid terdengar lantunan merdu murotal Al-Qur'an metode Ummi. Suara dari pengeras suara itu terdengar sangat jelas karena mereka tinggal di sebelah masjid. Itu pertanda akan segera azan sebagai penanda masuknya waktu asar. Tampak Alif sedang menarik handuk sepertinya hendak pergi mandi karena suara alarm sudah mengingatkannya untuk mandi sore. Umma bersama Alif memang menyetel alarm untuk beberapa jenis aktivitas Alif. Alarm waktu duha, alarm waktu murojoah, serta alarm mandi pagi dan sore. Walau sebenarnya Alif lebih suka dicerewetin Umma daripada alarm.⁣

"Tut... tut..."

"Tut... tut..."

"Tut... tut..."

Lelapnya tidur Umma membuatnya tidak menyadari ponselnya berdering. Alif yang sudah selesai mandi tetap dapat mendengar nada dering ponsel Umma walau suara toa masjid lebih kencang. Alif lalu segera mengambil ponsel tersebut dan melihat kontak si penelepon.⁣

"Makwo!" Bathinnya lalu segera menjawab telepon itu.

"Assalamualaikum, Makwo!" Sapa Alif pelan. ⁣

"Alaikumussalam. Ke mana aja, Nak. Kenapa telepon Makwo ga diangkat-angkat?" Tanya Makwo.⁣

"Maaf, Wo. Umma tidur dan Alif baru saja selesai mandi, Wo." Balas Alif masih dengan nada pelan karena takut suaranya dapat membangunkan Umma.⁣

"Oh ya, Nak. Syukurlah. Semoga Umma sehat lagi setelah bangun nanti. Sudah azan tu kedengarannya, Alif salat ya. Nanti Makwo telepon lagi." Sambut Makwo.⁣

"Iya aamiin, Wo. Oh kedengaran ya, Wo? Hehe.." 


#alifanakpilihan⁣

#ramadhannyaalif⁣



Blewah untuk Adik


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄

⁣⁣Alif memandangi wajah Umma sambil berdiri di pinggir dipan. Sesekali Alif mencium dan mengelus perut Umma dengan lembut, seolah-olah seperti sedang membelai kepala Adiknya. Terlihat tangan mungil Alif sangat lihai memijit-mijit Umma. Sebuah botol yang berisi minyak kayu putih yang digenggamnya sesekali Ia tuangkan ke ujung-ujung jarinya untuk dicium-ciumkan di depan hidung Umma.⁣


Tiba-tiba, botol itu jatuh.⁣ Alif refleks melepaskan genggaman tangannya dari Umma. Alif membungkukkan badan lalu mengulurkan tangannya untuk meraih botol itu.⁣

"Alif..." panggil Umma lirih⁣

"Iya Umma. Alhamdulillah ya Allah, Umma sudah bangun."⁣ segera Alif memeluk Umma yang tengah terbaring lemah disambut dengan senyum khas Umma yang kali ini tampak dipaksakan

"Di mana kita Alif?" Tanya Umma sambil mengamati sekelilingnya. Sesekali Umma menoleh ke kiri dan ke kanan mencari tahu di mana keberadaannya saat ini. Umma berusaha bangkit, namun Alif mencegahnya.⁣

"Ini kamar Umma, Umma di sini dulu. Alif akan panggilkan Bude Ariani di dapur." Ucap Alif lalu berlari keluar kamar.⁣

Umma yang kaget mendengar nama seseorang yang disebutkan Alif belum sempat bertanya namun sudah ditinggal oleh Alif.⁣

"Ya Allah, Anakku kamu baik-baik saja, Nak?" Ucap Umma sepeninggalan Alif sambil memegangi perutnya. ⁣

Alif kembali ke kamar itu bersama seorang perempuan yang hampir seumuran dengan Umma. Ia adalah bidan tetangga Alif yang merupakan kerabat Umma juga. 

========⁣


⁣"Umma...Umma kenapa?" Tanya Alif sambil membantu Umma menuju dipan.⁣ Umma memegangi perutnya.⁣

"Ya Allah, sakiiit..." kalimat terakhir yang diucapkan Umma sebelum pingsan dan kemudian Umma diam tak lagi bergeming. Alif bingung harus berbuat apa. Alif terus memaggil-manggil Umma. Sejenak dia mencari-cari sesuatu.⁣

"Halo! Halo! Dek, Dek Ana!" Suara dari ponsel Umma terdengar kemudian Alif segera meraih ponsel yang tadi sempat terlepas dari tangan Umma namun telepon masih tersambung.⁣

"Halo, Wo. Umma, Wo.. Umma.."⁣

Tangis Alif pecah ketika berbicara dengan Makwo. Makwo menyuruh Alif untuk memanggil Bude Ariani tetangga Alif. ⁣


⁣========⁣


"Puasanya dibatalkan dulu ya, Na. Bayimu lapar." Ucap bidan Ariani sambil membawa semangkuk kolak blewah yang masih hangat.⁣

"Kamu ini nekad, kondisi seperti ini masih puasa." Tambahnya lagi sambil meraih kursi dan duduk di samping kiri dipan Umma.⁣

Alif berdiri di sisi kanan Umma, dan memeluk lengan Umma. ⁣

"Ga apa apa Umma, nanti bayar hutang puasanya Alif temani. Sekarang Umma makan dulu. Kata Bude Ariani kolak blewah ini baik untuk Adik Alif."⁣⁣ Bidan Ariani tersenyum mendengar celoteh Alif. ⁣

"Dia benar-benar kuatir loh, An."⁣

"Yuk, dimakan." Bidan Ariani menyuapi Umma.⁣

"Blewah ini memiliki kandungan sehat seperti vitamin C, vitamin A, folat, serat dan beberapa mineral lain yang baik untuk kamu yang tengah hamil. Jadi, jangan ragu makan blewah selama buahnya matang, rasanya manis dan segar bisa di kolak dan di buat es blewah juga." Jelas Bidan Ariani.⁣⁣

"Kekurangan asam folat saat hamil bisa berbahaya bagi kesehatan ibu dan janin loh, An. Jangan sampai asupan gizi kurang dan malah membahayakan diri dan kandunganmu" tegas Bidan Ariani terus menyuapin Umma.

Alif melihat kolak di mangkuk yang dipegang Bidan Ariani.⁣

"Alif mau?" Tanya Bidan Ariani, sambil menyodorkan sesendok kolak ke mulut Alif.⁣⁣

"Tidak Bude, Alif puasa. Blewah yang ini untuk adik aja. Alif maunya es blewah untuk Alif berbuka nanti."⁣ Umma dan Bude tertawa melihat Alif yang polos itu.