👶👶👶👶👶👶👶👶👶👶👶👶
Malam nuzululquran, malam pertama Pade Sutra pergi untuk selama-lamanya meninggalkan semua keluarga dan kerabat. Bude Parni hanya terpaku dengan pandangan kosong seperti kehilangan pegangan. Saat prosesi pemakaman tadi, Bude Parni berkali-kali tidak sadarkan diri. Ia merasa sendirian, tak ada sesiapa lagi yang dia miliki. Qadarullah, Bude Parni dan Pakde Sutra tidak memiliki keturunan. Mereka hanya tinggal berdua saja. Walau demikian mereka sangat sayang kepada anak-anak di sekitar tempat tinggalnya yang notabene masih kerabat dan keluarganya.
Usai Tarawih, ritual tahlilan malam pertama Pakde Sutra digelar di rumahnya. Semua keluarga, kerabat, dan tetangga datang untuk mendoakan beliau. Setelah semua pulang, Bude Parni mulai merasa kesepian dan sendiri. Walau masih ada keluarga yang tetap di rumahnya termasuk Umma yang senantiasa menemani dan membantu di rumah Pakde Sutra it.
"Maas... kamu kok yo tega ninggalin Parni sendirian..." tangis Bude Parni pecah lagi.
"Sabar, Mbak. Istigfar. Allah tidak menguji hambaNya kecuali sesuai dengan kemampuannya." Ujar Umma terus menghibur dan menasihati Bude Parni yang sesekali kehilangan kesadarannya itu. Umma dengan penuh perhatian selalu menemani Bude Parni. Dari Subuh Umma tidak pulang-pulang. Umma benar-benar berempati melihat musibah yang menimpa saudara suaminya itu.
Malam itu terpaksa Umma pulang karena dijemput oleh Abah dan Alif. Sebenarnya Umma tidak mau pulang kalau tidak memikirkan Alif dan Abah di bulan Ramadan ini. Setelah memastikan ada yang menemani Bude Parni. Umma pamit pulang tanpa sepengetahuan Bude Parni, karena khawatir beliau akan sedih. Hubungan mereka sangat dekat, Pakde Sutra menyebut mereka teman curhat.
"Dek, kok pucat sekali?" Tanya Abah sambil membimbing tangan Umma berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke rumah. "Tadi sempat makan tidak, Dek?, dari siang Mas lihat tidak ada istirahtnya." Tambah Abah kuatir.
"Mas, kepala Ana pusing." Tiba-tiba Umma lemas dan dengan sigap Abah meraih tubuh Umma dan memeluknya.
"Umma! Umma kenapa?" Teriak Alif melihat Umma lunglai dalam pelukan Abah.
"Astagfirullah, Dek. Umma pingsan Alif."
"Umma harus kuat yaa, Umma. Ayo, Abah gendong Umma!" Pinta Alif yang segera membuka pintu pagar kecil rumahnya.

No comments:
Post a Comment