💣💣💣💣💣💣💣💣💣💣💣
Setelah semua clear, Umma merasa lega. Umma dan Abah saling meminta maaf atas kesalahan dan kekhilafannya masing-masing. Umma meminta maaf karena kepergian Abah tanpa kabar menimbulkan syak wasangka Umma. Sementara, Abah juga merasa bersalah karena tidak mengabarkan Umma langsung, melainkan melalui orang lain.
"Ini buat Umma dan Alif." Abah meraih tangan Umma dan memberikan kepada Umma beberapa lembaran uang seratus ribu rupiah. "Dan jangan lupa periksa kandungannya ya, Dek. Mendengar cerita itu Mas benar-benar merasa bersalah." Ucap Abah lirih.
"Alhamdulillah kita semua masih dalam lindungan Allah, Mas." Sambut Umma.
"Iya, Dek. Tapi, kalau waktu itu terjadi apa-apa tentu semua karena kesalahan Mas." Balas Abah lagi.
"Astagfirullah, Mas. Istigfar. Ga boleh ngomong begitu." Umma mengingatkan Abah.
"Umma, Abah. Lihat ini petasan Alif!" Panggil Alif sambil memperlihatkan benda yang Ia pegang. Alif memegang sebuah botol plastik air mineral ukuran 1.500 ml. Botol itu bekas botol minuman yang dibawa Abah pulang subuh tadi.
"Umma dan Abah lihat ya!" Pintanya sambil melakukan sesuatu pada botol plastik itu. Alif menutup botol itu dengan tutupnya dengan cara memutar tutup botol plastik tersebut tidak terlalu kuat. Sehingga tersimpan udara di dalam botol tersebut. Kemudian Alif berjongkok dengan satu kaki yang bertumpu di lantai, sementara kaki lainnya digunakan untuk mengepit badan botol di antara betis dan pahanya secara perlahan. Tiba-tiba Alif menekan kepitan terhadap botol plastik tersebut dengan kuat sambil memutar tutup botol ke posisi membuka perlahan, dan...
"Duar!!!!" Terdengar ledakan di ruangan tersebut.
"Astagfirullah, Alif!!! Bikin kaget Umma saja!" Umma terperanjat sambil memegang dada, sementara Alif dan Abah tertawa geli.
"Hehe.. Maaf Umma. Tapi hebatkan Umma suara petasan Alif?" Ucap Alif bangga.
"Wah hebat! Alif benar-benar kreatif sekali. Ajarkan Abah dong." Ujar Abah sambil mendekati Alif..
"Nanti Abah belikan petasan benaran, Ya." Kata Abah kepada Alif yang sedang mengajari Abah cara memainkan benda itu.
"Jangan Abah. Kalau petasan benaran itu berbahaya. Kata Umma, bermain petasan itu bisa mengganggu orang lain. Alif main ini aja, Abah. Ini aja juga bikin Umma kaget tapi dijamin aman tidak membahayakan, Abah." Jawab Alif sambil menyelipkan badan botol itu ke kepitan betis dan paha abah. Umma yang melihatnya segera berlari kecil keluar rumah sambil menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya.
"Duar!!!" Tutup botol itu mengenai kaki Umma.
"Abaaaahhhh!" Rajuk Umma.

No comments:
Post a Comment