💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
"Mainnya disambung lagi" bathin Umma melihat ke arah Alif yang mulai bermain kembali setelah subuh tadi.
Alif masih membenahi tata letak di 'cafenya'. Ada beberapa bagian dekorasi dan tataan yang masih kurang menurutnya dan masih perlu diubahnya. Ia mengangkat sebuah kursi plastik kemudian ditaruhnya di depan pintu masuk cafe, lalu Ia menempelkan beberapa lembar kertas yang telah ditulisnya dengan spidol di beberapa bagian yang dianggap perlu menggunakan lakban.
Sambil lewat, Umma sempat membaca tulisan-tulisan itu. Tulisan disenderan kursi, "Cafe Alif Buka Pukul 6 Sore".
Lalu Umma membaca lagi tulisan pada secarik kertas yang diletakkan di atas meja.
"Sudah Dipesan"
Umma berlalu dan tersenyum. Alif suka meniru apa yang Ia lihat.
Ide cafe itu karena Ia pernah diajak Mbak Rara makan es krim di cafe. Alif rutin juga diajak Abah ke tempat pangkas rambut, sesampai di rumah Alif mulai membuka tempat pangkas rambutnya sendiri di rumah. Kadang Abah yang jadi pelanggannya, namun pelanggan setianya adalah boneka Mickey Mouse Umma.
Umma, senang sekali Alif sudah mandiri dan bisa main sendiri tanpa mengganggu Umma untuk minta ditemani bermain.
Umma hari ini berbelanja untuk menyiapkan menu berbuka puasa untuk Abah dan Alif saja. Hari ini, Umma ada jadwal berbuka puasa bersama adik-adik kajiannya.
"Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamualaikum. Sekedar mengingatkan, berdasarkan kesepakatan kita pada pertemuan terakhir kajian sebelum Ramadan, hari ini adalah jadwal kita berbuka bersama di luar atau rihlah dan ini termasuk jadwal kajian rutin kita. Jadi semua Kakak minta hadir. Kakak akan mengevaluasi target puasa kita. Wassalamualaikum." Ucap Umma dalam voice note di grup wa Marathus Shalihah, grup kajian Umma dengan adik-adik binaannya.
=======
"Duha time! Duha time!" Terdengar rekaman suara Umma dalam alarm pengingat kegiatan sehari-hari Alif.
"Wah, udah duha time aja!" Ucap Alif yang sedang merangkai pesawat tempur dari lego di cafe miliknya.
"Alhamdulillah, waktu berjalan tidak terasa. Ayo, kita salat duha lalu lanjut murojoah hapalannya ya, Sayang." Ajak Umma.
"Baik, Umma!" Sambut Alif dengan semangat. Umma terharu melihat semangat Alif dalam beribadah. Selama puasa ini, Alif tidak pernah mengeluh. Ia jalankan ibadahnya dengan senang hati. Umma teringat masa kecilnya waktu belajar puasa. Kira-kira usia Umma waktu itu jauh lebih tua dari Alif sekarang. Umma mengenang nostalgia Ramadan di masa Ia kecil.
======
"Ummi, masih lama ya berbukanya?" Rengek seorang anak perempuan kepada Ibunya yang Ia panggil dengan sebutan Ummi itu.
"Sebentar lagi, Sayang, itu liat sudah pukul 3. Semangat ya sayang." Bujuk Ibu dari anak perempuan itu menunjuk ke arah jam dinding sambil mengelus-elus kepala anaknya.
"Tapi lapar, Mi. Ana batal ya, Ummi" rengeknya lagi.
"Sabar, sayang sekali, sudah dilewatkan sekian jam, sudah mau dekat kok dibatalkan. Dikiiit lagi, coba dihitung berapa jam lagi tersisa menjelang waktu berbuka? Wah tinggal 3 jam lagi." Bujuk Ibu itu sambil menghitung angka pada jam di dinding.
Sementara, anak perempuan itu selalu merengek. Namun, sang Ibu tidak kehilangan kesabaran dan akal untuk terus menyemangati anaknya itu. "Allah sayang kepada anak-anak yang salihah".
"Ummi, Ana rindu.." ucap Umma lirih. Tak terasa air mata membasahi pipinya. Umma tengah mengenang masa lalunya bersama Jidda
__________
"Umma, ayo berwudu. Loh, kenapa Umma menangis?" Tanya Alif heran dan mengagetkan lamunan Umma yang sedang mengingat nostalgia Ramadan saat Ia belajar puasa bersama Jidda.
"Astagfirullah, Umma teringat masa-masa kecil belajar puasa bersama Jidda, Nak." Jawab Umma sambil menyeka air matanya.
"Jauh sekali dibandingkan dengan Alif sekarang. Kalau Umma dulu selalu merengek minta batal ke Jidda. Namun, Jidda selalu menyemangati Umma. Walau kadang-kadang Umma tetap nekat membatalkan puasa Umma, tak jarang Umma batal diam-diam tanpa tahu Jidda. Sementara Alif, tidak pernah mengeluh apalagi merengek-rengek. Malah, kadang Umma saja yang menyarankan agar Alif puasanya setengah hari saja karena Alif belum wajib puasa. Umma kasihan karena Alif masih kecil."
"Wah, Umma jadi sedih ya teringat Jidda? Sabar ya Umma, yuk, kita salat lalu kita kirim doa dan Al Fatihah untuk Jidda, Umma" Ajak Alif supaya Umma tidak larut sedihnya.

No comments:
Post a Comment