"Alif sudah mengingatkan Adik, Mas. Selama ini kita memang kurang bersedekah. Selain dari pahala besar yang telah Allah janjikan, keutamaan sedekah juga berfungsi untuk menolak bala dan bencana untuk kehidupan manusia. Itu makanya Allah ambil Aisah dari kita." Ucap Umma kepada Abah yang sedang membereskan barang-barang yang di bawa pulang dari rumah sakit.
"Dek, jangan dihubung-hubungkan kepergian Aisah adalah sebuah musibah dari Allah. Ini adalah takdir. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang pasti pernah mengalami berbagai peristiwa yang datang silih berganti. Adakalanya kebahagiaan, kesenangan, dan tidak jarang pula kondisi kemalangan, dan juga musibah." Nasihat Abah lembut kepada Umma yang masih dalam kondisi lemah dan di titik terbawah atas kehilangan putrinya itu.
Selain kesedihan yang menimpanya, Umma juga tidak tega melihat sikap Alif yang benar-benar merindukan adiknya. Sejak dari dalam kandungan sampai dikurburkan Alif tidak melihat adik yang selalu Ia nanti kehadirannya itu. Alif hanya melihat foto dan video adiknya dari ponsel Bidan Ariani saja. Alif berkata kepada Bidan Ariani bahwa adiknya itu mirip sekali dengan Umma, putih dan berseri.
"Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah." Umma beristigfar atas kalimat yang Ia ucapkan tadi. "Alhamdulillah, Umma sehat dan bisa berkumpul kembali di rumah bersama Abah dan Alif. Aisah anak surga akan menanti kita kelak." Rasa syukur Umma mengalir terus bersamaan dengan linangan air mata di pipi Umma yang berseri.
"Nah, begitu dong!" Seru Abah ketika melihat istri yang Ia cintai itu menyadari bahwa yang diucapkannya bentuk kekufuran.
"Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika Ia mendapat kesenangan, Ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya”. Umma ingat bunyi hadits ini?" Tanya Abah kepada Umma yang melihat kehadiran Alif di tengah-tengah mereka.
Merek berdua kalau di depan Alif selalu menyapa dengan kata 𝐴𝑏𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑛 𝑈𝑚𝑚𝑎 tidak dengan kata sapaan 𝐷𝑒𝑘 𝑑𝑎𝑛 𝑀𝑎𝑠 untuk mengajarkan Alif kepada sapaan kepada orang tua.
"Iya Umma ingat ini Hadits Riwayat Muslim tentang bersyukur dan bersabar adalah sifat orang beriman kan, Bah?" Jawab Umma.
"Betul betul betul!" Seru Alif dan disambut tawa Abah dan Umma.
"Nah, sekarang Umma sudah bisa tertawa!" Teriak Alif riang.
"Iya dong apalagi kalau Umma ingat hari ini adalah tanggal 24 Ramadan. Hari di mana waktu itu Abah dan Umma mengucap janji untuk ijab kabul." Goda Abah kepada Umma.
"Ya Allah, Umma kok bisa lupa hari penting itu, ini karena Umma terlalu larut dalam kehilangan. Umma selalu bahagia mengingat momen itu Abah. Bagaimana tidak, bukankah ijab kabul itu kita lakukan di masjid dini hari. Mana Umma didandaninya dari bada isya. Menikah dini hari dengan rasa kantuk yang melanda sudah biasa dan jadi tradisi di daerah Umma. Ingat ga, Bah waktu kita ga bisa tahan kantuk, kameramen mengejutkan kita dengan 𝐵𝑙𝑖𝑡𝑧 kameranya. Haha.. haha" balas Umma sambil tertawa.
"Wah, selamat hari ijab kabul Abah... Umma...!" ucap Alif spontan sambil memeluk keduanya.
"Terima kasih sayang. Yuk kita bahagia. Bukankah bahagia itu kita yang ciptakan?" Ayah menyambut memeluk Alif dan Umma, orang-orang yang Ia sayangi itu.

No comments:
Post a Comment