HOME

Friday, April 08, 2022

Blewah untuk Adik


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄

⁣⁣Alif memandangi wajah Umma sambil berdiri di pinggir dipan. Sesekali Alif mencium dan mengelus perut Umma dengan lembut, seolah-olah seperti sedang membelai kepala Adiknya. Terlihat tangan mungil Alif sangat lihai memijit-mijit Umma. Sebuah botol yang berisi minyak kayu putih yang digenggamnya sesekali Ia tuangkan ke ujung-ujung jarinya untuk dicium-ciumkan di depan hidung Umma.⁣


Tiba-tiba, botol itu jatuh.⁣ Alif refleks melepaskan genggaman tangannya dari Umma. Alif membungkukkan badan lalu mengulurkan tangannya untuk meraih botol itu.⁣

"Alif..." panggil Umma lirih⁣

"Iya Umma. Alhamdulillah ya Allah, Umma sudah bangun."⁣ segera Alif memeluk Umma yang tengah terbaring lemah disambut dengan senyum khas Umma yang kali ini tampak dipaksakan

"Di mana kita Alif?" Tanya Umma sambil mengamati sekelilingnya. Sesekali Umma menoleh ke kiri dan ke kanan mencari tahu di mana keberadaannya saat ini. Umma berusaha bangkit, namun Alif mencegahnya.⁣

"Ini kamar Umma, Umma di sini dulu. Alif akan panggilkan Bude Ariani di dapur." Ucap Alif lalu berlari keluar kamar.⁣

Umma yang kaget mendengar nama seseorang yang disebutkan Alif belum sempat bertanya namun sudah ditinggal oleh Alif.⁣

"Ya Allah, Anakku kamu baik-baik saja, Nak?" Ucap Umma sepeninggalan Alif sambil memegangi perutnya. ⁣

Alif kembali ke kamar itu bersama seorang perempuan yang hampir seumuran dengan Umma. Ia adalah bidan tetangga Alif yang merupakan kerabat Umma juga. 

========⁣


⁣"Umma...Umma kenapa?" Tanya Alif sambil membantu Umma menuju dipan.⁣ Umma memegangi perutnya.⁣

"Ya Allah, sakiiit..." kalimat terakhir yang diucapkan Umma sebelum pingsan dan kemudian Umma diam tak lagi bergeming. Alif bingung harus berbuat apa. Alif terus memaggil-manggil Umma. Sejenak dia mencari-cari sesuatu.⁣

"Halo! Halo! Dek, Dek Ana!" Suara dari ponsel Umma terdengar kemudian Alif segera meraih ponsel yang tadi sempat terlepas dari tangan Umma namun telepon masih tersambung.⁣

"Halo, Wo. Umma, Wo.. Umma.."⁣

Tangis Alif pecah ketika berbicara dengan Makwo. Makwo menyuruh Alif untuk memanggil Bude Ariani tetangga Alif. ⁣


⁣========⁣


"Puasanya dibatalkan dulu ya, Na. Bayimu lapar." Ucap bidan Ariani sambil membawa semangkuk kolak blewah yang masih hangat.⁣

"Kamu ini nekad, kondisi seperti ini masih puasa." Tambahnya lagi sambil meraih kursi dan duduk di samping kiri dipan Umma.⁣

Alif berdiri di sisi kanan Umma, dan memeluk lengan Umma. ⁣

"Ga apa apa Umma, nanti bayar hutang puasanya Alif temani. Sekarang Umma makan dulu. Kata Bude Ariani kolak blewah ini baik untuk Adik Alif."⁣⁣ Bidan Ariani tersenyum mendengar celoteh Alif. ⁣

"Dia benar-benar kuatir loh, An."⁣

"Yuk, dimakan." Bidan Ariani menyuapi Umma.⁣

"Blewah ini memiliki kandungan sehat seperti vitamin C, vitamin A, folat, serat dan beberapa mineral lain yang baik untuk kamu yang tengah hamil. Jadi, jangan ragu makan blewah selama buahnya matang, rasanya manis dan segar bisa di kolak dan di buat es blewah juga." Jelas Bidan Ariani.⁣⁣

"Kekurangan asam folat saat hamil bisa berbahaya bagi kesehatan ibu dan janin loh, An. Jangan sampai asupan gizi kurang dan malah membahayakan diri dan kandunganmu" tegas Bidan Ariani terus menyuapin Umma.

Alif melihat kolak di mangkuk yang dipegang Bidan Ariani.⁣

"Alif mau?" Tanya Bidan Ariani, sambil menyodorkan sesendok kolak ke mulut Alif.⁣⁣

"Tidak Bude, Alif puasa. Blewah yang ini untuk adik aja. Alif maunya es blewah untuk Alif berbuka nanti."⁣ Umma dan Bude tertawa melihat Alif yang polos itu.

No comments:

Post a Comment