HOME

Friday, July 29, 2022

Firasat Umma

Indah sampai di rumah sakit, dengan tergesa-gesa ia menuju bagian informasi. Dari sana ia tidak mendapatkan info keberadaan Umma.  Ia segera menelpon suaminya—Yono.


"Mas, Umma di mana?" Sambil terisak Indah terus berjalan ke sana ke mari.


Setelah mendapatkan informasi dari Yono, Indah segera menuju ke ruang IGD. Perasaan dan pikiran indah sudah tidak menentu. Ia memasuki ruangan yang berdinding kaca tebal yang blur dipandang dari sisi luar tersebut. Ia mulai mendorong pintu kaca yang bertuliskan push di pegangannya. Indah berhenti sejenak di depan pintu setelah melihat tulisan kawasan wajib masker, ia segera mencari maskernya di dalam tas, aneh sekali masker itu seakan-akan raib dari saku tasnya. Jelas-jelas tadi Indah memasukkannya ke saku tersebut. Indah tambah panik, kembali ia mencoba menghubungi Yono. Namun, telepon genggamnya tidak lagi menyala karena habis baterai.


Indah tidak kehilangan akal, ia menarik sisi ujung khimarnya ke depan. Ia melintangkan ujung khimar tersebut ke wajahnya hingga mulut dan hidungnya tertutup seperti sedang memakai cadar. Ia jepitkan bagian tersebut ke lipatan khimar di pipinya agar terlihat ia sedang memakai masker. Pelan-pelan, indah kembali mendorong pintu kaca yang terasa amat berat itu. Indah melangkahkan kakinya masuk ke ruang yang terang benderang dengan cahaya lampunya.


Setelah berhasil masuk Indah menyebar pandangannya, ia melihat ada dua tempat yang tertutup tirai berwarna hijau, Indah merasakan ruangan itu amat dingin. Semua alat di ruangan itu mengeluarkan suara yang membuat jantungnya berdebar-debar. Beberapa bed dengan monitor menyala dengan gerakan garis kurvanya yang bergelombang dan ventilator terpasang ke pasien di ruangan itu. Indah menghentikan langkah kakinya ketika melewati sebuah bed yang tirainya sedikit terbuka.


"Yaasiin wal quranilhakiim..," Indah mendengar koor beberapa orang di sana sedang membaca surah Yasiin, ia mulai panik, suasana mencekam ketika alat itu mengeluarkan nada tuuut panjang. Pekikan histeris dan tangisan pilu terdengar sangat mencekam.


"Mamaaaaa… Mama jangan pergi! Mama kan udah janji lawan penyakitnya…"


"Mama… jangan tinggalin Dedek, Maaa," tangisan semakin kencang dan tak terbendung.


"Umma…," Indah menangis memanggil Umma, tiba-tiba ada yang menarik tangannya, Indah kaget bukan main. Setelah yang ia lihat itu adalah Yono, ia segera memeluknya. Indah menangis di dalam pelukan suaminya. Yono berusaha menenangkan Indah. Yono membawa Indah ke bed Umma. Ia menyibak tirai yang tertutup di sampingnya. Indah berhenti, Ia tidak kuasa melihat Umma. Rasa bersalahnya karena tidak ada ketika Umma kesakitan membuatnya terus-terusan marah pada dirinya.  


"Umma di sini sayang, Umma sedang tidur setelah diberi tindakan oleh dokter," Yono menerangkan kondisi Umma saat itu kepada Indah.


"Tadi Umma sedang makan, tiba-tiba Umma tersedak, lalu umma sulit bernapas, dan pingsan. Mas coba telepon bidan Imas di perumahan, beliau sedang dinas dan disarankan bawa Umma ke rumah sakit saja," jelas Yono lagi.


"Dek, mana Umma?" Indah dan Yono dikejutkan oleh suara Kak Rivi yang tiba-tiba datang.


"Hmm..," gumam Indah. "Umma Kak..," Indah mencoba menunjuk ke arah Umma.


Kak Rivi menghambur ke dekat Umma, Ia meraih tangan Umma, menciumnya, dan mengajak Umma bicara. Hal yang tidak dilakukan oleh Indah. Rasa bersalah dan ketakutan membuatnya tidak berani untuk mendekati Umma. Ditambah lagi ketika masuk IGD ia disambut dengan rasa dan suasana mencekam. Indah hanya bisa diam mematung menyaksikan Kak Rivi bersama Umma, Umma terbangun dan berusaha menceritakan yang Umma tahu kepada Kak Rivi.


"In, sini. Umma menanyakan kamu," panggilan Kak Rivi menghentikan lamunan Indah. Dengan cepat Ia menggeleng dan menepis bayangan yang mengganggu pikirannya. Indah segera mengangguk kemudian berjalan gontai menuju Umma dan Kak Rivi. Ia masih merasa bersalah karena sejak Umma di rumahnya, Ia belum ketemu Umma, sekarang ia harus bertemu Umma di tempat ini—rumah sakit.


"Umma…," sepatah kata yang mampu terucap.


Umma tersenyum lembut ke arah Indah. Umma berusaha menggapai Indah, namun karena terhalang Kak Rivi Umma tidak dapat meraihnya, Indah yang melihat itu langsung mendekati Umma dan memegang tangan Umma.


"Ma..afin Indah Um..ma, Indah nggak a..da di sa..at Umma butu…hiin," sesal Indah terucap dengan tergagap dan terisak.


Indah membungkuk dan mencium punggung tangan Umma, Umma menarik tangannya dan meraih pipi indah.


"Kamu nggak apa-apa? Dari tadi Umma kepikiran kamu, Ndok," Indah menatap Umma dalam, apa Umma dapat firasat kalau dia hampir saja tertabrak. Indah menggelengkan kepalanya pelan mengisyaratkan ia baik baik saja 


"Indah nggak pa–pa kok, Um," jawaban Indah meyakinkan Umma sambil tersenyum


 "Umma tiba-tiba keselek lalu Umma sesak nggak bisa bernapas, Umma kuatir kamu kenapa-kenapa,"


Thursday, July 28, 2022

Esai Oprec Telah Mengubahku

komunitasodop.com



Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada media berbentuk kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil, Wikipedia. Namun saat ini media untuk menulis bukan hanya di kertas dengan menggunakan alat tersebut di atas. Dengan kemajuan teknologi di bidang alat komunikasi dan informasi, menulis dapat dilakukan dengan menggunakan media menulis digital. Di Era digital, media menulis saat ini sudah menjamur, sebut saja, Writer Plus, JotterPad, Blog, dan banyak lagi yang lain. 


Saat ini saya sedang mengikuti program menulis yang diselenggarakan oleh sebuah Komunitas menulis—Komunitas ODOP. Program menulis ini memanfaatkan media digital bagi para peserta untuk menerbitkan tulisannya yaitu blog. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai program ini, saya akan berbagi kepada Anda semua tentang beberapa hal; Apa itu Komunitas ODOP? Apa saja program komunitas menulis ini? Kapan mulai mengenal Komunitas ODOP? Apa OPREC ODOP itu? Apa kesan selama mengikuti komunitas menulis di Komunitas ODOP? Semua ini akan saya bahas dalam tulisan saya ini.


Apa Itu Komunitas ODOP?


Di awal mengikuti salah satu program yang ada di Komunitas ODOP adalah Kami—Peserta disuguhkan materi tentang Sejarah dan Profil ODOP oleh pemateri yang luar biasa, beliau adalah seorang penulis Emerging Writer Ubud Writers & Readers Festival 2019—Heru Sang Amurwabumi. Kak Heru—biasa beliau disapa menceritakan kepada peserta tentang sejarah, profil, founder Komunitas ODOP. Menurut kak Heru, Komunitas ODOP adalah Komunitas One Day One Post—sebuah wadah menulis yang ada di Indonesia dengan foundernya adalah Syaiful Hadi atau lebih akrab dipanggil Bang Syaiha. Bang Syaiha berprofesi sebagai seorang guru blogger. Komunitas One Day One Post (ODOP) berdiri pada tahun 2015. Kak Heru menceritakan awal mendirikan Komunitas ODOP ini Bang Syaiha dengan niat untuk menjaga konsistensi dalam menulis dengan saling blogwalking dan saling memberi komentar positif untuk menyemangati dalam menulis. Mula-mula diadakan kegiatan Open Recuitmen (Oprec) pertama kali  dengan menjaring peserta hingga 150 anggota, hingga hal itu terus berlangsung sampai saat ini. Kak Heru juga menjelaskan tentang sejarah kepemimpinan Komunitas ODOP dari  masa ke masa. Saat ini Komunitas ODOP diketuai oleh JIhan Mawaddah. Kak Heru juga menyampaikan tentang visi misi ODOP yaitu menjadi komunitas penulis terbesar (dalam prestasi) di Indonesia”.


Apa Saja Program Komunitas ODOP?


Komunitas ODOP adalah komunitas menulis yang mengumpulkan orang-orang yang memiliki hobi yang sama dalam menulis dengan menggunakan media blog kemudian setiap anggota memberikan semangat kepada sesama penulis tersebut dengan berkunjung ke blog-blog dan memberikan komentar yang membangun dan menyemangati. Dengan berjalannya waktu, program-program Komunitas ODOP semakin banyak dan program itu sangat menunjang hobi menulis pada anggotanya. Berikut program-program Komunitas ODOP terkini.


1. ODOP Tembus Media (OTM) Program bimbingan menulis di media cetak maupun online.


2. ODOP Blogger Squad (OBS) Program mengoptimasi blog dengan karya tulisan-tulisan.


3. ODOP Nulis Buku (ONB) Program bimbingan menulis hingga menerbitkan buku solo.


4. Ramadan Writing Challenge (RWC) Program tantangan konsisten menulis One Day One Post melalui media Instagram dan diadakan setiap tahun di bulan Ramadan.


5. Open Recruitemen ODOP (OPREC ODOP) Program Komunitas ODOP untuk membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi tenaga-tenaga baru dalam Komunitas ODOP. 


Kapan Mulai Mengenal Komunitas Odop?


Awal saya mengenal Komunitas ODOP dari postingan seorang teman di story Instagram. Postingan tersebut tentang sebuah karya buku antologi yang berhasil dibuat oleh teman saya tersebut. Saya iri dengan pencapaiannya—sebuah buku antologi. Menurut saya itu adalah karya yang luar biasa. Akhirnya saya coba bertanya—kepoin teman tersebut. Hasil investifgasi saya membawa saya ke akun instagram Komunitas ODOP. Saya diberitahu oleh teman tersebut tentang program Ramadan Writing Challenge (RWC) yang akan selalu diselenggarakan oleh komunitas menulis tersebut, dan pada akhirnya sampai pada ujung penantian di bulan Safar, saya diberitahu bahwa Komunitas ODOP membuka pendaftaran RWC 2020. Saya langsung mencari informasi tersebut ke akun Komunitas ODOP. Salah satu syarat untuk mendaftar adalah calon peserta harus membuat sebuah tulisan dengan tema tertentu lalu memposting tulisan tersebut di instagram dengan menandai akun Komunitas ODOP. Alhamdulillah setelah menunggu beberapa hari, saya dinyatakan lulus pendaftaran RWC 2020 tersebut. RWC 2020 juga telah menjadikan saya seorang penulis sebuah buku antologi.


Program RWC ini mengharuskan peserta konsisten menulis setiap hari selama bulan Ramadan. Setiap hari kami—peserta diberi tantangan-tantangan unik dan menarik yang disajikan oleh para penanggungjawab (PJ) program RWC. Bagi saya penulis pemula tantangan-tantangan itu membuat saya sangat tertantang untuk melewatinya. Bersyukur saya dapat melewati semua proses dalam program tersebut, bahagianya saya menjadi peserta terbaik di RWC 2020. Ini merupakan kebanggaan yang tidak terhingga. Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Komunitas ODOP yang telah mewadahi hobi saya dalam menulis walau masih amatiran. Dari sini saya mulai mengenal tentang Komunitas ODOP walau hanya baru mengetahui segelintir dari banyaknya program ODOP itu sendiri. Selama program RWC, kami diberi informasi tentang program OPREC ODOP. Saya pribadi sangat antusias untuk untuk mengikuti OPREC ODOP tersebut. Saat pembukaan pendaftaran calon peserta OPREC ODOP, saya memberanikan diri dan membangun tekad bulat untuk dapat lolos dalam proses pendaftaran tersebut. Alhamdulillah dengan memenuhi semua syarat yang diberikan, saya dinyatakan lolos pendaftaran OPREC ODOP Batch 10.



Apa OPREC ODOP Itu?


Saat dinyatakan lolos, kami semua digabungkan dalam sebuah grup wahtsapp. Semua informasi tentang program Oprec Odop Batch X telah diberitahu melalui whatsapp grup. Awalnya grup hanya ada satu–grup besar. Semua peserta tergabung dalam grup tersebut termasuk semua panitia dan PJ program. Pada awal-awal kegiatan kami diedukasi mengenai Oprec itu sendiri oleh Kak ketua–kala itu Kak Syaif kemudian karena Kak Syaif ada kesibukkan lain, maka ketua OPREC ODOP Batch 10 digantikan oleh Kak Florensia. Di awal Kak Syaif menjelaskan tentang Oprec. Oprec itu adalah kegiatan Open Recruitment, kegiatan ini merupakan agenda tahunan Komunitas One Day One post, di mana para calon penulis yang mau dan mampu untuk diajak berkembang, akan diarahkan dalam kegiatan pelatihan menulis yang diiringi dengan pemberian materi dan sistem eliminasi. setelah menjalani oprec selama dua bulan (kurang lebih) dan dinyatakan lulus, maka akan dinyatakan sebagai anggota baru odop dan dapat menjalani tahapan selanjutnya. semua tanpa dipungut biaya—gratis. Kami dikenalkan dengan seluruh panitia teknis Oprec Odop Batch x yang siap menemani calon peserta dari awal hingga akhir, termasuk para PJ. Untuk memudahkan koordinasi dan pendampingan kami dibagi menjadi 2 grup kecil yaitu grup Nusantara dan Grup Binneka. Saya masuk ke dalam grup Nusantara, pada awalnya kami berjumlah 14 orang. Namun dengan berjalannya program beberapa peserta yang merupakan teman seperjuangan harus tereliminasi.


Beberapa kegiatan dalam program OPREC ODOP Batch X yang pertama adalah SJLD—Satu Jam Lebih Dekat. Pada program ini setuap peserta akan diminta secara bergilir oleh PJ untuk memperkenalkan diri, tujuan program ini agar masing-masing peserta saling mengenal satu dan lainnya. Saya mengenal dan merasa lebih dekat dengan teman-teman peserta lainnya melalui program SJLD ini. Melalui program ini, kita merasa menjadi satu keluarga yang membutuhkan support dan semangat untuk terus dapat bertahan hingga akhir.


Program kedua adalah KULWAP—Pemberian materi-materi yang luar biasa berisi dan bermanfaat tentang tulis menulis dari orang-orang hebat di bidangnya, branding diri, dan banyak lagi yang lainnya dalam bentuk diskusi melalui chat interaktif whatsapp grup, dalam program ini sebagai peserta kita benar-benar harus mengikuti pemaparan materi yang luar biasa banyak memberi manfaat kepada seluruh peserta, program KULWAP memberikan kesempatan sesi tanya jawab bagi peserta agar lebih dapat memahami lebih jauh tentang materi.


Ketiga program Bedah Tulisan—setiap peserta digilir untuk dibedah tulisannya agar peserta dapat masukkan dari teman-teman lainnya.


Keempat Blogwalking—mengunjungi dan meninggalkan komentar menyemangati teman dan yang kelima Posting Harian, ini yang benar-benar butuh perjuangan dan memberi banyak kesan dalam OPREC ODOP Batch X ini bagi saya. Demi posting tulisan harian yang awal hanya minimal 300 kata, naik menjadi 400, 500, kemudian 650 kata, saya benar-benar berjuang sampai titik darah penghabisan, benar-benar mengubahku. Begitu banyak pengorbanan yang harus saya korbankan demi posting tulisan harian. Mulai dari pekerjaan yang terabaikan, tugas memasak harian harus beralih ke pesan makanan online sampai pola tidur malam yang begadang demi deadline setor harian pukul 23.59 wib.


Tulisan saya yang di posting harian hampir semua bergenre fiksi dan kebanyakan bercerita tentang kegiatan sehari-hari saya. Tantangan menulis setiap pekan yang memicu adrenaline saya untuk dapat melewati tantangan demi tantangan hingga ke tantangan ke sembilan—tulisan ini. Salah satu tantangan yang juga membuat saya harus mau belajar adalah ketika ditantang untuk mengulas cerpen yang diambil dari ngodop.com, ini sangat menarik karena banyak sekali tulisan yang bagus-bagus di sana. Tidak ingin tereliminasi, jadi saya harus giat dan rajin belajar di sini dikarenakan Program OPREC ODOP Batch X dengan sistem eliminasi setiap pekan membuat kami harus rela kehilangan bagian dari keluarga kami, sedih memang, tetapi kami dapat memaklumi dinamika perjalanan OPREC ODOP Batch X yang sudah dijelaskan di awal kegiatan.


OPREC ODOP Batch X ini masih berlangsung, semoga saya dan teman-teman dapat melalui semua program dan lulus dalam kegiatan ini. Harapan saya apabila lulus dalam program ini, saya dapat mengoptimasi diri saya dalam bidang menulis. Sehingga tulisan-tulisan saya dapat memberi banyak manfaat bagi orang banyak, salah satu motivasi saya menulis setelah mengenal Komunitas ODOP adalah, self-healing.


Penutup


Terima kasih saya ucapkan kepada ketua, wakil ketua, sekretaris, seluruh tim teknis OPREC ODOP Batch X, dua PIJE grup kecil—Nusantara Utami dan Nella yang luar biasa kebaikan, perhatian, bimbingan, doa, semangat, semuaaaa yang baik-baik dari kalian berdua. Semoga Yang Maha Baik membalas kebaikan kalian. Mohon maaf dari saya pribadi jika selama ini ada sikap dan kata saya yang tidak berkenan. Semoga kita semua suskes dengan tulisan kita, kelak kita bangga dapat mempertanggung jawabkannya di hadapan Sang Khalik. 


Quote yang sampai saat ini mengena buat saya dan membuat saya selalu ingin menulis adalah “Setiap Tulisan Akan Menemukan Pembaca—Jodohnya Sendiri” —Menulislah apa saja yang mau kau tulis namun ingat tulisanmu kelak akan kau pertanggungjawabkan.


Lita_Jambi 28 Juli 2022


Wednesday, July 27, 2022

Curhat Dong 1

 Curhat Dong,

Sekarang sudah masuk pekan ke sembilan OPREC ODOP BATCH X. Luar biasa perjuanganku selama OPREC ini, aku berharap bisa melewatinya dengan manis sampai dinyatakan lulus OPREC ODOP BATCH X, aamiin, aamiinkan dong.


Mungkin kalian pengen tahu dari mana aku bisa kenal Komunitas Odop? Mungkin ada yang penasaran kok bisa daftar OPREC? Pasti ada juga yang pengen tanya apa motivasi aku ikut OPREC ODOP BATCH?


Hmm, kira-kira ada lagi nggak pertanyaan lain? Kayaknya cukup itu saja ya..


Baiklah, di tulisan kali ini yang sengaja aku kasih judul Curhat Dong ini aku akan cerita tentang semua yang bikin kalian pengen tau aja eh pengen tahu banget itu. Menurutku, semua pertanyaan di atas sudah mewakili semua rasa penasaran kalian kenapa aku bisa ada di sini sekarang dan sampai ke tantangan ke sembilan ini.


Waw! Satu kata aja deh buat diriku, walau nggak ada yang bilang waw biar aku sendiri saja deh yang bilang waw hahaha…


Setelah nyemplung di sini, hari demi hari aku lalui segala prosesnya, dari menulis wajib harian, kewajiban blogwalking yang juga lumayan menyita waktu dan pikiran untuk membaca tulisan besti dan wajib meninggalkan komen (yang positif tentang tulisan, jangan hanya bisa komen dengan kata-kata: wah tulisannya bagus, tulisannya memberi inspirasi, atau tulisannya bermanfaat), ikuti kelas materi, sampai tantangan-tantangan.


Jujur, aku merasa kewalahan dengan jadwal dan program-programnga, ditambah aktivitas offlineku yang juga nggak kalah padatnya. Sejak aku mengikuti kegiatan ini semua jadwalku keteteran bahkan jam tidurku pun terusik dengan begadang-begadangnya mengejar setor setoran tiap hari menjelang pukul 23.59. Ini hanya cerita yang nggak enaknya aja ya dulu hehehe, eits ntar, tunggu dulu! jangan balik badan dulu. Kalau kalian udah kalap dan panik duluan mikir OPREC ODOP itu berat dan melelahkan setelah baca di awal-awal paragraf di tulisan ini, wait–tunggu. Don't go! Nyesel loh kalau kalian nggak baca tulisan ini sampai selesai.. (hehe agak maksa)


Well, kita mulai dari topik tentang aku kenal Komunitas Odop dari mana aja dulu ya. Waktu itu berawal dari aku kepo status temanku, dia posting sebuah buku antologi yang di dalamnya ada tulisannya dia. Trus karena kekepoanku itu, aku tidak sungkan untuk bertanya kepadanya. Eh tapi aku tentu ucapin selamat dulu ke dia karena menurutku dia hebat sekali sudah punya buku antologi. Aku tahu betul kesibukannya sangat padat. Muncul rasa iri–iri yang diperbolehkan ya gaes ya. Karena iri pada kebaikan yang orang lain buat dan kita ingin membuat hal baik yang sama.


Hasil kekepoanku itu akhirnya membawa aku ke salah satu ajang/program dari Komunitas Odop yang khusus diadakan setiap bulan Ramadhan–Ramadhan Writing Challenge (RWC) 2020. Aku mendaftar untuk kegiatan tersebut, ada beberapa syarat untuk mendaftar–salah satunya adalah dengan memposting sebuah tulisan di instagram. Pengumuman yang aku tunggu-tunggu pun tiba, aku dinyatakan lulus dan memenuhi syarat untuk diterima sebagai peserta RWC 2020. Jujur, itu kali pertama aku menulis panjang kali lebar. Pada program RWC kita dituntut untuk menulis setiap hari selama 30 hari dengan kejutan-kejutan tantangan menulis pada waktu-waktu tertentu. Tertatih jatuh bangun aku konsisten dengan sesuatu yang sudah aku mulai tersebut–pantang mundur jika sudah dimulai begitulah pije baik hati yang selalu menyemangati. Hmm… kalau berkisah tentang RWC yang aku jalani selama 30 hari aku rasa kepanjangan nanti tulisanku, sementara aku harus membahas beberapa hal yang pastinya kalian tunggu-tunggu.


Nah, dari temanlah awalnya aku kenal Komunitas Odop, dan setelah berkecimpung di program RWC, aku dikenalkan dengan OPREC ODOP. Aku sangat antusias ingin ikut OPREC ODOP tersebut. Dengan Bismillah, akhirnya aku beranikan diri untuk mendaftar OPREC ODOP BATCH X dengan satu-satunya modal pernah konsisten menulis selama 30 hari. Alhamdulillah aku ditetapkan sebagai peserta terbaik di RWC ODOP 2020. Aku bangga dan senang sekali. Ini adalah prestasi pertama aku di dunia ini, walau karya tulisku belum lah apa-apa, prestasi itu karena konsistensi mengikuti program tersebut. Terima kasih para pije yang baik hati, suka membantu, dan tidak pelit ilmu, perhatian, ramah, dan tidak sombong.


Pada awal aku mendaftar di OPREC ODOP BATCH X 2022, aku ragu karena masih belum paham apa dan bagaimana alurnya, temanku yang dulu mengenalkanku ke Komunitas Odop dalam program RWC adalah tempatku bertanya dan meminta gambaran tentang OPREC ODOP tersebut, karena dia sudah terlebih dahulu ikut dan lulus OPREC ODOP. Dia berhasil membangkitkan birahiku untuk mendaftar OPREC ODOP tersebut. Pada awal mendaftar di OPREC ODOP BATCH X ini, aku masih memiliki banyak waktu luang karena aku sedang off kerja. Namun, ketika kegiatan ini dimulai, aku juga mulai disibukkan dengan pekerjaanku, tetapi karena aktivitasku masih jarang aku masih bisa mengikuti konsisten menulis di OPREC ODOP dengan santai, namun semakin ke sini kegiatan menulisnya semakin meningkat kesulitannya, mulai dari menulis 300 kata per-hari, menjadi 400, 500, dan sekarang 600 kata. Bahkan untuk tantangan pekan ke sembilan harus menulis minimal 650 kata per-hari, Oh Allah, aku mulai merasa ngos-ngosan. Sengos-ngosan nya menyelesaikan tulisan kali ini. Udah dulu ya besok aku sambung lagi curhatan ini, kayaknya minimal kata hari ini sudah terpenuhi, to be continue aja ya kita besok hehe

Tuesday, July 26, 2022

Umma Tunggu Indah

Setelah selesai memandikan Umma dengan mengelap badan Umma menggunakan handuk. Indah segera memasangkan baju–daster Umma. Indah bertanya kepada Umma siapa wanita yang tadi menyuapi Umma makan. Umma bercerita bahwa Kak Rivi mencarikan orang untuk menjaga Umma di saat ia bekerja. Wanita tersebut tinggalnya tidak jauh dari rumah Kak Rivi. Sudah sepekan ini Irma–wanita itu mengurusi Umma.


Langit sudah berwarna jingga, sebentar lagi akan kelam. Indah akan pamit kepada Umma, tetapi Indah ingin Umma mau ikut dengannya untuk menginap di rumahnya. Indah memberi isyarat untuk mengajak Umma ikut, Umma tersenyum dengan mengangguk.


"Besok saja. Hari ini Umma di sini dulu, besok Umma ke sana minta diantar oleh Rivi," sepertinya Umma tidak mau langsung ikut mungkin masih ingin di rumah Kak Rivi atau tidak enakkan sama Kak Rivi.


"Oh ya, janji ya besok. Indah tunggu," jawab Indah.


Kemudian Indah pamit kepada Umma, Kak Rivi, dan Abang buyung–suami Kak Rivi. Indah memeluk dan menciumi Umma, seperti enggan untuk meninggalkan Umma. Ia sangat ingin membawa Umma tapi Umma menolaknya dengan halus. Indah yakin betul bahwa Umma sangat menjaga perasaan Kak Rivi. Akhirnya dengan berat hati Indah pamit, mereka pulang tanpa Umma ikut serta. Indah juga sudah janji kepada Dyas kalau akan membawa Umma ke rumah mereka. Indah harus mencari alasan yang dapat dimengerti oleh Dyas.


"Indah, Umma mau ke rumah kamu, Nak. Umma diantar oleh Rivi dan Buyung," suara Umma dari load speaker telepon genggamnya Indah terdengar memang agak lemah tapi bersemangat menyampaikan kabar yang akan membuat anaknya itu senang bukan main.


"Oh iya Umma, hmm.. umma nggak kenapa-kenapa kan? Suara Umma kenapa parau?" Jawab Indah khawatir.


"Nggak pa-pa. Kamu ada di rumah kan, Ndok,?" Tanya Umma lagi. Waktu Indah ke rumah Kak Rivi kemarin, Indah mengatakan kepada Umma bahwa ia besok akan ada pelatihan full time.


"Umma, Indah nanti pulang pukul 6 sore. Di rumah ada Dyas dan Mas Yono. Nanti Indah kabari orang di rumah ya, Umma," balas Indah.


"Fii amanillah Ummiiiii," tutup Indah setelah mendengar Umma mengiyakan.


Di tempat pelatihan, fikiran Indah sudah tidak menentu. Ia ingin ketika Umma sampai di rumah, ia harus sudah ada menyambut Umma. Tapi apa daya, Indah tidak kuasa untuk itu. Jadwal pelatihan sore ini adalah tugas ia presentasi tugasnya. Ia pasrah, ia menghubungi Mas Yono, suaminya. Ia meminta suaminya menyiapkan kamar Umma dengan sprei baru dan ruang disemprot dengan penyemprit serangga dan mengganti parfum ruang kamar Umma.


Setelah mendapat kabar dari suaminya bahwa Umma sudah sampai di rumah, Indah semakin pecah fokus, ia sudah tidak sabar untuk pulang. Setelah kegiatan sore itu berakhir, ia segera menghambur ke luar gedung hotel tempat pelatihan berlangsung. Ia menuju ke area parkir motor, ia kenakan helm dan sarung tangan. Setelah menyalakan mesin ia melaju keluar pelataran parkir hotel.


Di jalan ia membayangkan baka menghabiskan malam bersama Umma, bercerita seperti dulu tentang masa kecil, remaja, kuliah, dan bahkan tidak jarang Umma yang bercerita tentang banyak hal. Mengobrol bersama Umma biasa dilakukan Indah sambil berbaring di pangkuan Umma, umma mengusap rambutnya sambil menggaruk-garuknya.


"Umma, bentar lagi Indah sampai," lirih Indah berucap dan hanya dia yang dapat mendengar suaranya dalam helm SNI tertutup kaca transparan itu. Tiba-tiba ada kendaraan yang melaju kencang tepat di depan Indah, dengan sigap Indah membanting stang motornya ke pinggir jalan, tetapi tanpa Indah sadari ada motor yang melaju kencang dari arah belakangnya. Hampir saja motor itu menabrak Indah, tapi bersyukur Indah berhasil sampai ke pinggir terlebih dahulu sebelum motor itu menuju ke arahnya.


"Astagfirullah, Alhamdulillah Ya Allah, Umma Indah nggak apa-apa Umma, Indah pengen segera ketemu Umma," ujar Indah sambil berhenti menenangkan dirinya yang shock, Indah baru mengamati sekitarnya yang tengah riuh, kendaraan di sana membunyikan klakson kendaraannya bersahut-sahutan. Ternyata 300 meter dari tempat indah menepi, motor yang melaju kencang tadi tertabrak oleh sebuah truk pengangkut sayur.


"Ya Allah," Indah menangis melihat kejadian di depan matanya. "Semoga mereka baik-baik saja," doa Indah untuk pengemudi dan penumpang kedua kendaraan tersebut.


Indah tidak berani menghampiri lokasi kejadian, ia sangat terkejut dengan yang baru saja ia alami. Ia hendak menghubungi Mas Yono, ia rogoh bagian dalam tasnya untuk meraih ponsel, tetapi tiba-tiba ada panggilan masuk ke ponselnya.


"Mas Yono," batin Indah melihat nama kontak yang memanggil.


"Hmm.. kuat juga feeling suamiku," ia tersenyum kecil.


"Assalamualaikum, Dek. Hmm… kamu di mana? Belum sampai di rumah kan? Kamu lang…sung ke rumah sakit Hara…pan ya," tidak begitu jelas suara Mas Yono terdengar oleh Indah.


"Halo Mas, halo.. ke mana? Rumah sakit? Siapa Mas yang sakit?"



"Iya, ke rumah sakit Harapan. Ibu, Dek," jawaban Yono membuat Indah terdiam dan tidak bisa berkata-kata lagi, ia segera memasukkan ponsel ke dalam tas kemudian Indah melaju motornya menuju ke rumah sakit yang disebutkan oleh suaminya tadi.


"Umma, tunggu Indah," tangis Indah pecah.

Monday, July 25, 2022

Ingin Sesabar Umma

 Indah mendekati Umma, Umma melihat kehadiran Indah langsung menangis. Umma menahan rindu yang cukup dalam. Indah tidak sanggup melihat ekspresi Umma ketika merentangkan tangannya ingin memeluk Indah. Segera Indah memeluk Umma dan menciumi Umma. Yono tidak kuasa menyaksikan kesedihan di depan matanya. Ibu dan anak itu sama-sama rindu berat dan saling melepas rindu. Yono beranjak keluar untuk memberi ruanh kepada Istri dan mertuanya melepas rasa yang pernah ada, dan akan selalu ada. 


"Maaf Mbak, kita keluar dulu yuk," dengan sopan Yono mengajak Mbak yang tadi bersama Umma dan sedang menyuapkan Umma bubur nasi dengan kuah sop itu.


Mbak itupun mengikuti ajakan Yono untuk keluar, Ia lalu menuju ke dapur. Sementara Yono duduk di ruang tengah menyaksikan siaran televisi yang dari tadi tidak ditonton. Yono mengganti saluran televisi beberapa kali sampai ia menemukan siaran yang cocok untuk ia tonton.


"Eh, Dek. Mau minum apa?" Kak Rivi bertanya kepada Yono.


"Hmm, apa aja, Kak. Oh ya, abang mana, Kak?" Jawab yo disambung dengan bertanya balik.


"Oh, abang hari ini melatih anak di gedung. Sebentar lagi pulang kok. Kaliam dari mana?" Tanya Kak Rivi sambil menuju ke dapu untuk membuatkan Yono dan Indah minuman–teh panas. 


"Dari rumah, Kak. Semalam Indah bilang mau ketemu Umma,"


Setelah membuatkan minuman hangat untuk Yono dan Indah, Kak Rivi menyajikannya di meja di mana Yono duduk dan mempersilakan kepada Yono–adik iparnya itu untuk minum dan memakan snack sore yang dia hidangkan. 


Kemudian Kak Rivi pamit dan berjalan menuju ke bilik Umma, Kak Rivi akan mengetuk pintu tiba-tiba ia menghentikan niatnya untuk mengajak Umma mandi. Kak Rivi berbalik tidak jadi masuk ke kamar ketika melihat Indah dan Umma tengah asyik bercengkerama.


"Eh Kak, mau ke mana? Itu air hangat dan handuk untuk membersihkan badan Umma ya, Kak?"


"Eh iya, In. Sekarang jadwalnya Umma untuk mandi. Kalau sore lagi takut Umma kedinginan," jawab Kak Rivi sambil memutar badan kembali menghadap ke dalam kamar.


"Cuma tadi Kakak liat kamu dan Umma lagi serius ngobrolnya,"


"Oh, nggak kok Kak haha," Indah tertawa kecil. "Ini Umma cerita aja dan kita sedang ngobrol biasa saja kok," jawab Indah.


"Biar Indah yang melakukannya ya, Kak," Indah meminta baskom yang dipegang oleh Kak Rivi sekaligus handuk yang ditaruh Kak Rivi di pundaknya.


Kak Rivi hanya tersenyum menyerahkannya kepada Indah. Indah memberitahu kepada Umma bahwa sudah waktunya Umma mandi. Umma menurut saja ketika Indah membuka pakaian–daster Umma. Indah menutup beberapa bagian tubuh Umma dengan kain, kuatir Umma dingin terpapar kipas angin. Indah mulai mengusap bagian-bagian tubuh Umma yang sudah lemah itu menggunakan sapu tangan handuk yang permukaannya lembut. Indah meneteskan air mata melihat kondisi tubuh Umma yang lebih kurus dari sebelumnya. Kak Revi meninggalkan Umma dan Indah berdua saja di kamar.


"Ya, Allah, dulu Umma yang mandikan Indah Ya, Umma. Dulu Indah lasak lari ke sana ke mari, Umma selalu bilang hati-hati cah ayu, lantainya licin," tidak terasa Indah menangis tersedu.


"Kalau Indah demam Umma yang lap badan Indah dengan kain seperti ini," tambah indah.


Indah tambah sedih ketika ia teringat salah satu ceramah yang pernah ia dengar dari seorang ustaz di channel youtube yang isi ceramahnya tentang perbedaan cara merawat ibu ke anaknya yang kecil dengan anak merawat orangtua yang sudah renta.


Penggalan ceramah itu berbunyi seperti ini "Orang Tua kepada anaknya dari kecil dimandikan dengan harapan dan doa agar kelak anaknya bisa tumbuh besar dan kelak menjadi orang yang sukses. Sementara anak yang mengurus orang tuanya yang sakit atau usia senja dengan harapan orang tuanya segera mati agar tidak menyusahkan," Indah tersentak mendengar ceramah itu. Indah tidak mau menjadi anak yang durhaka. Ia sangat menyayangi Umma. Ia istighfar mendengar isi ceramah tersebut.


"Um, Indah jadi ingat ketika Indah memandikan Dyas di rumah, lasaknya kayak indah dulu,"


"Umma pasti kerepotan. Tapi Umma sangat sabar, indah nggak sesabar Umma," ujar Indah sesenggukkan sambil mengusap kain handuk ke setiap inci tubuh Umma.


Umma meraih tangan indah dan tersenyum. Senyum Umma masih semanis dan seteduh dulu. Indah segera menyudahi mengusap tubuh Umma, Ia segera mengeringkan tubuh Umma demgan sebuah handuk. Umma kembali meraih tangan Indah, sepertinya Umma ingin menyampaikan sesuatu.



Sunday, July 24, 2022

Rindu yang Berbalas

 Umma adalah ibu tunggal untuk keempat putra-putrinya. Umma tinggal sendiri di rumahnya, karena keempat anak Umma sudah berumah tangga dan tidak ada satupun yang tinggal bersama Umma. Bahkan ada yang tinggal di luar kota. Dulu hal ini dapat dimaklumi karena Umma masih kuat dan mampu sendiri, walau sekali-sekali anak-anak Umma bergantian menginap di rumah Umma. 


Sejak Umma berusia senja, tinggal di rumah sendirian tidak lagi bisa dibiarkan. Anak-anak Umma bergantian menemani Umma di rumah Umma. Namun, itu tidak berlangsung lama, hal ini dikarenakan anak-anak Umma sudah memiliki rumah sendiri dan mereka juga memiliki kesibukan dengan pekerjaannya masing-masing. Sehingga untuk bolak balik antara rumah Umma dan ke rumahnya sendiri menjadi kegiatan yang menyita waktu mereka.


Keempat anak Umma berembuk untuk mencari jalan keluar dari masalah itu. Akhirnya diputuskan, anak bungsu laki-laki Umma yang masih mengontrak pindah ke rumah Umma bersama istrinya. Namun, itu tidak berlangsung lama, anak bungsu Umma dan istrinya memilih pindah ke rumah yang mereka bangun secara bertahap. Tinggalah Umma sendiri di rumah itu kembali.


Sejak saat itu, Umma mulai digilir ke rumah anak-anaknya, kadang Umma yang meminta untuk menginap di rumah anaknya itu, kadang anak Umma yang datang menjemput Umma untuk menginap di rumahnya. Sebetulnya Umma lebih senang bila tinggal di rumahnya sendiri, tetapi apalah daya, Umma tidak bisa hidup sendiri tanpa ada yang menemani dan mengawasi.


Indah–putri ketiga Umma merasa kangen kepada Umma karena sudah lama Umma menginap di rumah kakaknya. Ada sedih yang dirasakan Indah karena Umma tidak menghubunginya atau datang–minta diantarkan untuk menginap di rumahnya. Indah adalah seorang karyawan yang sangat sibuk dengan rutinitas pekerjaanya, Umma paham itu. Umma kadang kasihan melihat putrinya itu yang tidak punya waktu kosong, jangankan untuk mengurusi Umma, untuk dirinya sendiri saja Indah kerepotan mengatur jadwalnya.


Tidak jarang Indah menangis karena rindu kepada Umma, tapi ia masih menunggu Umma menghubunginya. Di satu sisi Indah merasa Umma sangat betah tinggal di rumah kakaknya itu. Batin Indah berkata, Umma enggan untuk menginap di rumahnya. Itulah alasan Indah yang beberapa kali mengurungkan niatnya untuk datang mengunjungi Umma ke rumah kakaknya. Ia takut kecewa ketika hendak membawa Umma ke rumahnya, Umma akan menolak. Tapi rasa rindu Indah kepada Umma sangat mengganggu pikirannya, suatu malam sebelum tidur ia sampaikan perasaannya itu kepada Yono–suaminya. 


"Mas, aku kangen Umma…" Indah tidak kuat menahan rindunya sampai ia menangis ketika mengucapkan kalimat itu di hadapan suami yang ia cinta itu.


"Loh, kok nangis, sayang? hmm iya iya kita liat Umma besok yuk!" Yono yang saat itu berbaring di samping Indah menyadari perasaan istrinya yang sedih.


Keesokan harinya, sepulang bekerja Indah dan Yono pergi menemui Umma ke rumah kakak Indah yang tempatnya tidak begitu jauh dari rumah mereka. Diperjalanan Indah hanya diam saja, ia hanya menatap jauh ke luar kaca jendela mobil Avanza yang dikendarai oleh Yono. Yono sekali-kali melihat Indah mengusap air mata yang menetes di pipinya.


"Sayang, udah dong. Jangan nangis terus, nanti Umma jadi kepikiran," Yono berusaha untuk membujuk dan menenangkan hati istrinya.


Lima belas menit perjalanan, mereka sampai di rumah Kak Rivi–kakak Indah. Yono memarkir kendaraannya di halaman rumah Kak Rivi. Tidak ada yang menyambut kedatangan mereka, di dalam Rivi sedang mencuci piring, sementara Rina–putri Kak Rivi sedang mengaji. Indah dan Yono mengetuk pintu lalu masuk dan langsung menuju ke ruang tengah. Rivi melongokkan kepalanya dan melihat adiknya datang.


"Hai, sorry Kakak lagi tanggung. Ke Umma gih, Umma selalu nanyain kamu, Dek," sumringah Kak Rivi menyambut Indah dan Yono sambil mengangkat sebuah piring untuk menunjukkan bahwa ia sedang membilas piring yang barusan digosoknya dengan spon penuh busa sabun cuci piring itu.


"Mas," Indah mulai melow ke arah Yono, dengan isyarat mengangguk Yono mengajak Indah menemui Umma.


Tanpa ba–bi–bu, Indah menghambur menuju kamar Umma yang khusus disiapkan Kak Rivi kalau Umma menginap di rumahnya. Tak kepalang senang hati Indah saat mendengar ternyata Umma juga merindukannya–rindu yang berbalas. Ketika masuk ke kamar, Indah kaget ada seseorang yang sedang menyuapi Umma makan, dalam hatinya Indah bertanya-tanya, siapa dia? Mengapa dia yang menyuapi Umma? 

Saturday, July 23, 2022

Menariknya Working Mom

ngodop.com


  • Judul Cerpen: Working Mom
  • Oleh: Erlina Anriani Siahaan


"Aku benar-benar menghirup oksigen kehidupanku. Walaupun aku harus bekerja bagai Unicorn yang persis kuda jantan, tetapi aku benar-benar menemukan esensi dan makna hidup yang benar-benar bergairah dan penuh kata syukur."


Penggalan paragraf di atas saya kutip dari cerpen yang berjudul Working Mom. Dari penggalan itu, membuat saya berpikir dan tersadar bahwa kebahagiaan itu kita yang rasakan dan kita yang ciptakan, sementara imbas dari rasa itu adalah orang-orang yang ada di sekitar kita. Setuju kan dengan saya? Setuju dong.


Baiklah, kali ini saya akan mencoba untuk mendeskripsikan sebuah cerpen yang saya ambil dari ngodop.com, cerpen ini ditulis oleh seorang wanita yang bekerja sebagai ASN yang berdomisili di Pematangsiantar. Dia adalah penulis A Mural for Rain. Dia adalah seorang ibu tunggal atas tiga orang anak yang menjadi permata jiwanya.


Pada tulisan ini, saya tidak hanya akan mendeskripsikan tentang isi cerpen ini, tetapi saya juga akan membahas tentang mengapa saya tertarik dan memilih untuk mengulas cerpen ini sebagai salah satu cerpen yang memiliki konflik yang paling menarik? dan saya juga akan mencoba untuk mengulik unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik cerpen. 


Menarik buat saya ulas tentunya cerpen ini juga akan menarik untuk dibaca oleh kalian. Hal yang menarik bagi saya adalah cerpen Working Mom ini berkisah tentang seorang ibu tunggal yang bekerja. Ia memiliki kesibukan yang sangat padat. Semangat dan ketangguhannya perlu diacungi jempol. Ketiga anaknya dibesarkan, dididik, dan dicukupkan semua kebutuhannya sebagaimana anak-anak di luar sana yang kedua orangtuanya masih lengkap. 


Dikisahkan, "aku"–tokoh utama dalam cerpen menceritakan tentang kebahagiaan paripurna yang ia rasakan setelah ia berhasil bercerai, lepas dari kungkungan–belenggu hidup. Setelah perceraiannya, Si "Aku" kini lebih fokus merawat anak-anak, berusaha mengendalikan psikologi anak-anak dengan menghabiskan waktu bersama mereka, mengajak mereka liburan, berenang, mengikuti sanggar melukis, dan bermain serta mengikuti les tambahan. 


Walaupun Si "Aku" ini mengalami kesulitan finansial, kerepotan, selalu buru-buru, tergesa-gesa, ngos-ngosan—nyaris lupa bernapas, dan lega saat tiga makhluk kecilnya benar-benar bisa tidur pulas, tetapi jiwanya benar-benar merdeka dan anak-anak lebih bahagia, bahkan mereka bahkan tidak harus rutin ke dokter lagi.


Si "Aku" yang telah dapat mengukir gemintang malam. "Aku" yang mau dunia benar-benar gemerlap. Tawa ria di mana-mana. Wajah lepas. Tanpa kemelut. Tanpa dualisme sandiwara yang mengharuskannya tersenyum walaupun di dalam hancur lebur. "Aku" mau semesta merdeka; tanpa duka dan lara. Sebab hidup terlalu sempurna untuk dikungkung penderitaan. Bahagia adalah kemerdekaan setiap insan, terlebih perempuan.


Saya bersyukur sekali telah membaca cerpen yang ditulis dengan diksi yang berbeda dari cerpen kebanyakan ini, diksinya sangat mewakili emosi penulis. Kebanyakan penulis menggunakan majas alegori menjurus hiperbolik dalam mengungkapkan sesuatu. 


Cerpen ini sangat menarik untuk diselami, setelah dibaca betapa dalam penghayatan si penulis dalam menulis cerpen ini. Pada awalnya saya hanya membaca judul cerpen, saya berpikir cerpen ini hanya berisi seputar ibu yang repot mengurus anak sambil bekerja. Namun, setelah diselami ternyata kisahnya sangat menggugah hati nurani saya sebagai seorang istri dan ibu yang bekerja dengan satu orang anak.


Di satu sisi saya malu kepada diri sendiri sebagai seorang istri yang memiliki seorang suami yang sangat perhatian dan peduli, serta baru memiliki satu anak yang tentu repotnya tidak sebanding dengan tokoh Aku dalam cerpen tersebut. Saya sangat kagum akan sosok Aku dalam cerpen ini. Konflik dalam diri dan orang-orang sekitar juga norma yang berlaku dimasyarakat aib perceraian berhasil ia tepis. Dia adalah sosok perempuan–ibu dari 3 anak yang luar biasa tangguh. Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk mengulasnya pada tantangan menulis pekan ini.


Hal menarik lainnya adalah, saya dan kalian semua yang membaca cerpen ini akan banyak mendapat pembelajaran yang luar biasa menjadi sebagai seorang ibu, khususnya ibu tunggal. Jadi, bagi istri yang memiliki suami yang baik kalian harus bersyukur masih bisa menjalani tugas kalian dengan seimbang, tetapi bagi kalian ibu tunggal, kalian jangan putus asa cerpen ini banyak sekali mengisahkan betapa ibu tunggal harus tangguh demi anak-anaknya. Dengan melihat anak-anak bahagia maka kalian pun akan lebih bahagia. 


Pada cerpen yang berjudul Working Mom ini terdapat unsur Intrinsik dan Ekstrinsik. Berikut saya urai mengenai kedua unsur dalam cerpen tersebut.



  1. Unsur Intrinsik


Tema cerpen ini bertema sosial tradisional tentang hubungan antar anggota keluarga : suami, istri dan anak-anaknya.


Menurut saya alur Cerita pada cerpen ini gabungan/campuran, bagian awal alur mundur, kemudian  bagian selanjutnya menggunakan alur/plot maju. 


Sementara untuk tokoh dan Penokohannya, tokoh utamanya adalah Aku, Sang Mama, dengan ketiga anaknya : Si sulung Duma, Stephan, dan Si bungsu  Helen. Aku merupakan tokoh perempuan bekerja yang telah bercerai dari suaminya, sekaligus mama bagi 3 orang anaknya. Tokoh aku awalnya terpukul atas kejadian perceraian tersebut, tetapi selanjutnya memilih untuk mengubah dirinya dengan memutuskan menjadi single parent yang menikmati tugas sebagai Mama bagi ketiga anaknya, mendidik dengan penuh kasih sayang, dengan tetap semangat bekerja sebagai ‘pengajar’. Ketiga anaknya juga digambarkan sebagai anak-anak yang baik, tidak rewel dan mengerti kondisi Mamanya. 


Pada cerpen ini dapat kita ketahui latar tempat di rumah–kediaman tokoh aku dan waktunya pagi hari sebelum berangkat kerja dan sekolah


Mengenai sudut pandang cerpen, penulis menempatkan dirinya sebagai aku–tokoh utama dengan sudut pandang orang pertama yang membuat kisahnya terasa sekali emosinya bagi pembaca. Gaya Bahasa pada cerpen ini penulis acap kali menggunakan majas alegori menjurus hiperbolik, seperti ungkapannya: “Setiap Wanita adalah tiang pundi-pundi tawa dan bilangan semesta yang akan terus bertambah di pangkuannya”. Juga kalimatnya : “Itu menurut galaksi dan semesta, bahkan menurut alam bawah sadarku”. 


Amanat–pesan utama dari cerita ini adalah pentingnya sikap optimis dalam menghadapi kehidupan, hidup ada pasang surutnya, jalani dan nikmati dengan penuh semangat.

 

  1. Unsur Ekstrinsik


  • Latar belakang penulis : Penulis, yakni Erlina Siahaan adalah seorang ASN, berusia 34 tahun, seorang ibu tunggal atas tiga orang anak dan bertempat tinggal di Pematangsiantar, Sumatera Utara. 

  • Latar belakang masyarakat cerpen ini berkisah tentang dinamika seorang ibu tunggal pasca bercerai dengan kesibukan bekerja dan mengurus sendiri ketiga anaknya

  • Nilai agama yang terkandung
    dalam cerpen ini tokoh aku sangat memegang nilai-nilai religi, dengan semua kesulitan yang ia alami semua ia serahkan kepada tuhannya. Memiliki keluarga yang sangat mensupport semua keputusannya tampak nilai sosial yang ditonjolkan, selanjutnya nilai moral pada cerpen ini adalah bercerai bukan aib. Sebab hidup terlalu sempurna untuk dikungkung penderitaan. Bahagia adalah kemerdekaan setiap insan, terlebih perempuan. Penulis juga menceritakan tentang tokoh aku yang mengutamakan kondisi psikis anak-anaknya dari kutipannya "jiwaku benar-benar merdeka dan anak-anak lebih bahagia"



Kalian pasti penasaran dengan cerpen ini, kunjungi saja ngodop.com lalu pilih menu lakon kemudian kalian akan menemukan sebuah cerpen yang berjudul Working Mom. Oh iya dalam cerpen ini juga dikisahkan penyebab dan bagaimana tokoh utama mengakhiri penderitaannya dari kelaliman suaminya. Lalim seperti apa? Cari tahu di Working Mom!


Sekian dulu ulasan dari saya tentang cerpen yang menurut saya sangat menarik ini dan menyematkan konsisten pada keputusan yang sudah diambil.

   




Friday, July 22, 2022

Bukannya Aku Plinplan

Sudah lama hal ini dibahas oleh Suti dan ditanyakan berulang-ulang oleh Suti juga kepada Nella. Sejak Ranaya sudah bersekolah Suti memang lebih sering di rumah sendiri–santai. Bukan maksud Nella untuk mengulur-ulurnya. Ada kala Nella menyerahkan semua keputusan ke Suti. Namun, beberapa kali juga niatnya batal. Memang setahun yang lalu sudah akan dipenuhi permintaannya, sebetulnya Nella juga sudah mempertimbangkan itu semua. Nella memang masih belum memutuskan apa-apa karena masih mencoba untuk mempertahankan, hal ini bukan hanya untuk kepentingan Nella semata tapi lebih kepada memikirkan Suti ke depannya. Nella ingin ketika saat itu tiba ia dan Suti sama-sama siap. Dia tidak lagi khawatir akan bagaimana dia dan bagaimana Suti.


"Bu, Dedek sudah TK. Suti udah nggak ada tugasnya lagi. Dedek sekolah selalu sama Ibu atau Bapak," kalimat pembuka dari Suti yang membuat Nella menghela nafas panjang. Walaupun ia tidak lagi banyak memegang dan menjaga Ranaya, tetapi Suti tahu diri. Ia tanpa diminta membantu pekerjaan Nella di rumah dengan ikhlas dan senang hati


"Suti mau berhenti bekerja, Bu," Suti memulai dengan kalimat pembuka yang sama seperti dengan yang sebelumnya–akhir-akhir ini. Sebetulnya permintaan berhenti bekerja ini, tidaklah gampang terucap dari mulut Suti yang sudah belasan tahun bekerja dengan keluarga kecil Nella ini. Suti termasuk anak milenial yang daya juangnya tinggi. Ia pantang menyerah dan tidak mudah putus asa.


Nella sudah membicarakan hal ini kepada Raka. Menurut Raka itu semua diserahkan kepada Nella. Maka Nella sekarang sudah punya jawaban untuk permintaan Suti tersebut.


"Yakin, Ti? Kamu sudah pertimbangkan baik-baik? Apa sudah kamu pikirkan matang-matang?" respon Nella sambil mengajak Suti duduk bersama. Nella tahu kesulitan hidup keluarga Suti, Suti tulang punggung keluarga. Ayahnya bekerja serabutan, sementara gaji Suti diperuntukkan biaya sekolah adik-adiknya. Bahkan, ia tidak sempat untuk memikirkan kebutuhan dan keinginan dirinya sendiri. Bekerja bersama Nella semua kebutuhan suda dipenuhi di rumah ini. Nella dan Raka sudah menganggap Suti seperti anaknya sendiri. Ditambah beberapa tahun lalu, mereka berdua kehilangan anak pertamanya. Hanya Suti yang ada dan mengerti saat itu, Suti selalu menemani Nella di saat Raka ke luar kota. Suti paham betul kondisi majikannya saat kehilangan. Suti yang mengasuh di rumah Nella sejak anak pertama Nella ada. Bukan cuma Nella dan Raka yang kehilangan, demikian juga yang dirasakan oleh Suti.


"Bukan apa-apa, Ibu sih mikirin kamu. Kalau kamu sudah siap dan memang berhenti ini adalah rencana dan keputusan kamu  supaya bisa lebih dekat dengan keluarga, yaa.. ibu nggak bisa mencegahmu," jawab Nella melihat suti yang terdiam menunduk.


"Suti tu bingung, Bu. Di sini Suti ngapain? Dedek sudah sekolah. Suti nggak ada kerjaan juga, Bu. Tapi Bapak dan Ibu tetap saja kasih Suti gaji tiap bulan," jelas Suti.


"Ti, sebenarnya. Setelah Dedek besar, Dedek juga sudah mandiri, apa-apa bisa dia lakukan sendiri. Tapi kalau berhenti bekerja di sini hanya karena alasan itu, kayak yang kurang tepat menurut ibu," Nella benar-benar masih belum dapat apa maunya Suti minta berhenti bekerja akhir-akhir ini.


"Kamu masih bisa kok bantu-bantu di rumah ini, misalnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan lain-lain," ujar Nella.


Beberapa kali rencana Suti itu dimentahkan kembali oleh Nella. Terakhir Suti minta berhenti kerja ketika Ranaya masuk TK, alasan Suti juga sama seperti yang sebelumnya. Rencananya itu gagal karena ternyata ia sendiri ada masalah dan membutuhkan uang dari bekerja. Akhirnya Nella menerimanya kembali.


"Tapi bu, kalau Suti berhenti sekarang, Suti masih harus membayar cicilan motor untuk yang terakhir kalinya. Kasih Suti kesempatan sebulan ini untuk bekerja di sini, Suti masih mau bantu-bantu ibu," jawab Suti disambut dengan anggukkan kepala Nella.


"Kamu tu yaa, makanya ibu pesan pikirin dulu, pahit-pahitan dulu Jangan-jangan hanya emosi sesaat," kemudian Nella meninggalkan Suti yang masih diam sendiri.


"Ya udah, nanti kita lanjutkan lagi. Sekarang saya mau pergi dulu jemput Ranaya. Kamu mau ikut? Di rumah terus bikin kamu nggak fresh. Ayo siap-siap,"


Nella dan suti bersiap-siap hendak pergi. Suti senang sekali bisa ikut menghirup udara segar di luar. Biasanya kalau diajak dia selalu menolak tanpa alasan atau dengan mengatakan Suti pengen di rumah saja.


Dalam perjalanan, Nella memberikan Suti nasihat, mengingatkan kepada Suti jangan plinplan mengambil keputusan. 

Thursday, July 21, 2022

Hati yang Tersakiti

 Nella sangat bersyukur mendengar penjelasan dokter tentang cedera yang dialami Ranaya. Hanya cedera ringan, Nella berpikir ia tidak akan lakukan tindakan medis apapun terhadap Ranaya. Ia segera menghubungi Raka, ia meminta untuk menanyakan tentang tukang urut buat Ranaya. Di kampung, Sebenarnya mbah utinya mahir urut mengurut. Nella berpikir saat ini ia tidak bisa ke mana-mana dulu karena jadwalnya yang padat merayap.


"Mas, kata dokter Naya nggak kenapa-kenapa. Tidak ada yang patah atau yang serius. Ini hanya trauma otot saja," Nella menjelaskan semua informasi dari dokter kepada Raka–suaminya. 


"Alhamdulillah, Dek. Mas khawatir sekali kalian kenapa-kenapa," sambut Raka.


"Oh ya, Mas. Mas kasih tau ibu ya, sekalian nanya ke ibu wak urut yang di dekat rumah ibu malam bisa urut Naya nggak?" Nella gengsi untuk menelpon mertuanya


"Kalau bisa aku langsung bawa Naya ke sana," Nella berharap semua bisa berjalan sesuai rencananya.


Setelah mendapat kabar dari Raka, akhirnya Nella membawa Ranaya ke rumah ibu mertuanya demi Ranaya. Sejujurnya, Nella sudah malah ke sana. Sejak kejadian keributan waktu itu, Nella sudah jarang berkunjung. Ia tidak mau hati dan perasaannya rusak oleh ulah mertuanya ke Ranaya. Tapi kali ini demi Ranaya, ia harus bisa meredam rasa yang ia tak sukai itu. Dalam perjalanan kesana Nella teringat kisah yang membuatnya marah dan berjanji tidak akan membawa anaknya ke sana lagi, tetapi bagaimana mungkin, di sana kan nenek dan kakek Ranaya.


"Dek, kamu terlalu terbawa perasaan. Nggak ada yang beda. Ibu memperlakukan Naya sama kok, hanya saja Nunik kan kesehariannya sama Ibu, jadi terkesan Ibu lebih dekat kepada Nunik–cucu ibu," Raka berusaha menenangkan istrinya, emosi Nella meledak-ledak. Nella sore itu melihat ibu mertuanya membela Nunik ketimbang Ranaya. Sudah jelas di mata Nella kalau Ranaya tidak salah, dan ia hanya memegang mainan Nunik sebentar, tiba-tiba Nunik menangis dan merengek minta mainan yang dipegang oleh Ranaya. Ibu meminta mainan itu kepada Naya, dan Naya tidak berani untuk menolak.


"Ibu hanya memikirkan perasaan Nunik, Mas! Beliau tidak memikirkan perasaan anakku. Ribuan mainan seperti bisa aku beli untuk Naya. Tapi ibu nggak bisa membalikkan rasa simpatiku kepadanya setelah memperlakukan Naya seperti itu," Nella terus saja mengulang-ulang kata-kata itu, emosinya masih menggelegak-gelegak.


"Dan Mas Nggak tau kan? Ibu itu nggak pernah mau tau dan nggak pernah mau dengar kelebihan apapun tentang Naya. Ibu selalu mengunggulkan Nunik," Nella menangis iba kepada Naya.


Raka hanya mendengarkan, ia paling tahu tabiat istrinya. Percuma dibantah pada saat Nella sedang emosi seperti itu, bakal terjadi peperangan dunia kedua. Ia berusaha menjadi pendengar yang baik, Raka tidak merasakan Ibu memperlakukan Nunik–anak dari adik perempuannya itu berbeda dengan Ibu memperlakukan Naya.


Suti hanya terdiam di bangku belakang, ia menyaksikan Nella marah dan menangis karena tidak terima dengan apa yang ia lihat di rumah mertuanya.

Untungnya Ranaya tidur pulas saat itu, ia tidak akan mendengar kejadian tersebut, Nella pun paham itu, ia tidak mungkin bertindak sebodoh itu apabila Naya masih terjaga.


"Huuh.. Nella menarik nafas panjang," ia berhenti perlahan ketika dari kejauhan lampu lalu lintas menyala warna kuning setelah hijau. Batinnya bergejolak, kalau tidak karena Naya, dia akan berpikir dua kali untuk datang ke sana. Tiba-tiba teleponnya berdering. Ia terkejut ketika melihat nama kontak pada panggilan masuk ke ponselnya. 


"Ibu.." dia ragu, pikirannya bergejolak harus dijawab atau tidak. Tiba-tiba ia kesal dan marah kepada Raka. Kenapa harus ibu yang menelponnya kenapa bukan Raka. Telepon masuk tadi terputus karena tidak dijawab. Nella segera menghubungi Raka, tetapi belum sempat ia menekan tombol call, Raka menelponnya.

Wednesday, July 20, 2022

Pertanda dari Ranaya

Dua hari ini kesibukkan Nella berlipat ganda, hal ini dikarenakan semua agenda dan jadwalnya berbarengan. Dia sendirian yang mengurus rumah, kebutuhan Ranaya, sekolah, pekerjaannya, mengantar Ranaya ke club badminton, di tambah pelatihan-pelatihan yang sudah terlanjur ia ikuti, serta deadline tulisan yang mepet waktu semua.


Nella hampir menyerah dan kewalahan. Sementara, Raka tidak bisa menemaninya karena berangkat keluar kota menyelesaikan pekerjaannya. Suti, yang biasa menemaninya sedang minta cuti karena ada urusan keluarga.


"Kenapa harus cutinya sekarang sih, Ti?" rutuk Nella sambil menyelesaikan pekerjaan rumah pagi-pagi sekali.


Biasanya Nella mulai menulis pagi-pagi, tetapi kali ini tidak dapat ia lakukan kebiasaannya itu karena harus membereskan rumah, menyelesaikan pekerjaan yang tertunda semalam karena ia abaikan untuk menulis. Pagi hari Nella mulai menjelma menjadi dewi seribu tangan, beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum pukul 05.30. 


Di antara pekerjaannya adalah mencuci piring yang sudah menumpuk, rendaman pakaian yang belum terjamah sudah 2 hari ia biarkan direndam dengan detergen, terbayang baunya seperti apa, menyiapkan menu Ranaya ke sekolah, menyetrika pakaian untuk dipakai oleh Ranaya hari itu. Memang pakaian Ranaya tidak ada yang ia percayakan kepada jasa laundry, karena ia selalu kecewa, menyiram tanaman, menyapu rumah, dan mengantar Ranaya ke sekolah. Itu semua belum termasuk pekerjaan rutinnya sendiri. Dengan kesibukkan itu, pekerjaannya tidak jarang terabaikan beberapa hari ini sehingga menjadi menumpuk.


Pada saat Ranaya di sekolah, harapan Nella ia dapat menuntaskan pekerjaannya yang tertunda tapi semua terpatahkan ketika Ranaya merajuk minta ditunggui sampai pulang sekolah. Emosi Nella mulai memuncak, tetapi Ia berusaha untuk mengerti akan permintaan Ranaya yang memang tidak biasa itu. Dalam hati Nella juga khawatir bila tidak memenuhi permintaan Ranaya, ketakutan Nella terhadap sesuatu yang buruk akan menimpa putrinya itu.


Sepulang sekolah, Ranaya harus diantar menuju hall badminton–tempat Ranaya latihan keatlitan usia pra dininya. Nella berharap sambil menunggu selama 3 jam Ranaya latihan, ia bisa menuntaskan tulisannya untuk dua hari ke depan. Namun, yang terjadi adalah para bestie–mama teman-teman club Ranaya malah mengajaknya ngobrol dan memaksa agar ia mendengarkan dan merespon cerita seru yang mereka ciptakan. Kepala Nella pusing tujuh keliling, karena sudah merasa ini tidak dapat dibicarakan lagi, ia terpaksa undur diri dari topik menarik mama rempong itu


"Maaf ya say, aku mau ke mobil dulu, aku ada jadwal zoom," Nella beralasan untuk pergi dari kehebohan yang dapat mengganggu pekerjaannya. Bahaya apabila terus ikut nimbrung, walhasil tulisannya akan ambyar–tidak rampung.


"Umamiii!" teriak Ranaya ketika melihat Nella keluar menuju pintu exit hall. Ranaya menghambur berlari menuju ke arah Nella. Nella yang diteriaki oleh Ranaya berhenti dan mempersiapkan mental sabar untuk menghadapi Ranaya.


"Ada apa sayang? Itu giliran Naya game point kan?" tunjuk Nella ke arena badminton. 


"Umami mau ke mana?" rajuk Ranaya tidak mempedulikan ucapan Nella.


"Oh, Umami mau ke parkiran. Mau ngetik di mobil saja karena di sini cukup berisik untuk Mami menulis. Mami nunggu Naya sambil nulis d mobil ya, Sayang," bujuk Nella.


"Oh iya, Mi. Kirain ke mana?" sambut Ranaya.


 "Ya udah, Naya ke sana gih! Mami tunggu di mobil ya. Nanti ashar Mami ke mushola hall, kita sholat bareng-bareng," ujar Nella.


"Iya, Mi. Daahh, Mami," Ranaya lalu berlari menuju ke arena badminton.


Nella melihat putrinya bertingkah aneh–tidak seperti biasa. Akhirnya, kurang lebih 2 jam dalam mobil, Nella dapat merampungkan tulisannya. Namun, pekerjaannya harus terhenti karena laptopnya lowbat. Adzan ashar berkumandang melalui pengeras masjid di lingkungan sekitar. Nella bersiap-siap turun untuk sholat ashar. Tiba-tiba belum sempat turun mobil, salah seorang orang tua peserta di club menghampiri Nella ke mobil dengan wajah cemas.


"Mami Naya!" panggilnya sambil mengetuk-ngetuk kaca jendela.


Nella membuka kaca jendela dan mendapat kabar bahwa Ranaya terpeleset dan terjatuh. Belum selesai info itu dia terima, dia melihat coach keluar dari hall sambil menggendong gadis kecil yang dia hafal betul warna kaosnya, Nella melongok melihat Ranaya dibawa ke mobilnya coach.


"Naya..," tercekat suara Nella. Pertanda dari Ranaya hari ini memang tidak ia abaikan, ia tidak sempat meninggalkam Ranaya jauh-jauh. Tapi memang qadarullah, Allah punya kehendak.