Kesibukan Nella bertambah-tambah, selain menulis—pekerjaan tetapnya, Nella juga aktif dalam beberapa komunitas dan selalu mengikuti pelatihan-pelatihan online. Komunitas yang diikutinya juga sangat gencar dengan program-programnya, seperti seminar, baksos, dan banyak lagi yang lainnya.
Pekan ini ia harus menulis beberapa artikel untuk sebuah perusahaan kosmetik dan blog parenting. Bersamaan dengan itu, ada kegiatan pelatihan organisasi yang juga ia panitiai. Oleh karena kepadatan aktivitasnya, Nella lebih gampang emosi. Sasaran emosi Nella biasanya ke orang yang ada di rumah, sebut saja Raka, Suti, bahkan si kecil Ranaya.
Kesalahan Raka yang sering memancing emosi Nella biasanya urusan remeh, contohnya pulang kerja tidak segera mengambil alih menjaga Ranaya sementara Nella sedang sibuk dengan pekerjaannya. Emosi Nella lebih sering naik sampai ke ubun-ubun ketika Raka hanya menghabiskan waktunya di rumah dengan menonton TV.
"Jam segini Dedek mandi nggak? Harus ya diingetin terus kamu itu, Suti?" Nella masuk ke kamar Suti dan mendapati Suti sedang melipat pakaian.
"Eh, iya Bu, tadi sudah Suti ingetin, tapi Dedek bilang ntar dulu. Jadi Suti ke kamar melipat pakaian ini," jawab Suti sambil memperlihatkan pekerjaanya yang tidak ada penting-pentingnya itu bagi Nella.
Suti segera mengajak Ranaya ke kamar mandi sebelum Nella mengoceh panjang kali lebar. Setelah Suti hilang dari pandangannya, Nella menuju ke ruang keluarga, Ia melihat TV masih menyala sementara Raka tertidur pulas masih mengenakan kaos dan celana chinos standar favoritnya. Nella baru sadar sewaktu Raka pulang kantor tadi Ia sedang presentasi sesi terakhir pelatihan organisasi. Spontan Ia mengusir Raka keluar ruangan sambil mengisyaratkan supaya Raka tidak berisik.
"Ya ampun, Mas! Kamu tuh ditonton sama TV, Mas,"
"Mas, Bangun! Liat deh, pakaian belum diganti, mandi juga belum, bangun, Mas!"
Raka kaget membuka mata dan melihat Nella, Ia acuh kemudian menggeliat meregangkan otot-ototnya. Ia meraih remot TV dan mematikannya kemudian kembali mengatur posisi tidur yang nyaman seperti tadi. Ia tidak mempedulikan Nella yang melotot dan hendak mengeluarkan semburan api dari mulutnya.
"Umami, Naya udah mandi, coba cium deh hmmm wangiii lohh," Ranaya datang menghampiri Nella sambil memiringkan tubuh dan menundukkan kepalanya agar dapat dicium oleh Nella.
"Wangikan, Mi?" tanyanya.
"Iya dong wangi, kan udah mandi, coba tadi belum mandi bau tauuuu, aseeeem," Nella menggoda Ranaya dengan menggelitik ketiaknya.
Ranaya langsung mengelak dan berlari menuju ke kamarnya. Suti menyusul Ranaya ke kamar. Ia mengambil pakaian dan mengenakannya ke Ranaya. Nella kembali membangunkan Raka, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 18.00 wib.
"Mas! Ih paling malas tau nggak bangunin orang bangun," sindir Nella yang tahu kalau Raka tidak sedang tidur.
"Coba deh, Mas, kalo pulang kerja itu ganti pakaian. Ini nggak, malah nonton depan TV, mana Naya sudah sore belum mandi, Aku fikir tadi udah mandi. Akhirnya apa? akhirnya Suti kumarahin, kerja nggak becus," Nella merepet.
"Pada nggak ngerti ya, aku tuh capek. Coba semua di rumah ini tuh ngerti. Ini nunggu dulu aku ngoceh baru deh bergerak. Ngoceh tuh capek juga kali, Mas" rajuk Nella.
"Kamu tuh, Dek, mbok ya lemah lembut dan kurangi marah-marah hal sepele," Raka bangkit.
"Kamu yang memilih untuk bekerja eh, sekarang gara-gara itu kamu mengabaikan tanggung jawabmu. Ujung-ujungnya orang di rumah yang kena sasaran kemarahan nggak jelas itu," Raka mengusap kepala Nella, Nella terdiam, apa iya Nella mulai menyadari perbuatannya.
"Sutiiii melulu yang diocehin, mikir ga dia juga capek. Kerjaannya juga banyak,"
"Tapi, Mas,"
"Tapi apa? Suti memang pekerja? hmm, katanya kamu milih kerja di rumah supaya bisa dekat Naya, katanya nggak usah pake baby sitter, aku bisa sendiri. Mana buktinya? Seharian Naya bersama Suti, tadi aku tertidur di depan TV juga habis main sama Naya kok,"
Lagi-lagi Nella terdiam.
"Kamu nggak tau kan, dari siang tadi aku pulang belum makan? Kamu sibuk saja di depan laptopmu itu. Berkali-kali aku masuk eeh, diusir. Kamu nggak ngertikan? Aku pengen ditemenin makan, mbok ya ngerti. Kamu mau aku ditemenin Suti?"
"Maaaas!"
"Canda sayang. Trus, hari ini berapa lama main sama Naya? Paling juga, ntar deket-deket Naya pas udah di kamar, peluk Naya, cium Naya juga pas Naya udah mulai ngantuk,"
"Ya, nggak berasa lah, makanya Naya lebih deket sama Suti dan lebih takut kalau Suti pergi. Lah, terus kalo Naya bersikap seperti itu, yang kamu salahin Suti. Suti terlalu memanjakan lah, kalau Naya kamu marahin, Suti nggak boleh melindungi karena kamu khawatir kalau Naya lebih nyaman sama Suti,"
"Pake nangis-nangis ngadu ke aku, bilang kalau kamu cemburu sama Suti karena kamu merasa Naya lebih deket sama Suti. Dek... Dek, berubah dong," Raka beranjak meninggalkan Nella.
Nella memang belum kapok-kapok dengan sikap egois yang sebetulnya melemahkannya itu.
No comments:
Post a Comment