"Dia mau melamar aku," Kamu sangat bahagia tampak dari raut mukamu yang sumringah. Gaga—laki-laki pilihanmu sudah menyatakan keseriusannya kepadamu. Baru seumur jagung hubungan kalian, namun sebenarnya kalian sudah saling mengenal sejak masih ABG. Katamu Gaga berani menemui dan melamarmu karena Ia sudah memiliki pekerjaan—lulus ASN tahun ini.
"Syukurlah, Han. Aku seneng dengera," jawabku ikut bahagia
"Ma-aaciiih, semoga kamu nyusul ya," kamu meraih tanganku di atas meja dan meremasnya lembut. Batinku, mau nyusul sama siapa? Aku tersenyum kecut.
Hari ini, Gaga, bapak, dan Ibunya akan datang ke rumah untuk melamar kamu. Kamu tampak sangat gugup menunggu momen tersebut. Beberapa kali kamu minta didoakan olehku untuk kelancaran acara lamaran itu. Aku berusaha menenangkanmu, dan mengatakan bahwa everything will go smoothly.
"Mereka sudah datang. Bismillah," kamu sesekali memperbaiki khimarmu. Kemudian kamu menuju pintu menyambut kehadiran para calonmu itu—calon suami, bapak , dan ibu mertua.
"Bu, apa kabar?" Bapak Gaga menyapa Bundamu dengan hangat. Bunda adalah single parent. Sejak kecil kamu tinggal dengan Bunda, sementara ayah dan Bunda sudah lama berpisah—sejak Hani kecil. Sejak dulu, ketika kakak-kakakmu melangsungkan acara lamaran, hanya bunda yang menghadapi calon besannya sendirian.
"Alhamdulillah, baik sehat wal 'afiat, Pak Wawi," balas bunda ramah seraya berjabat tangan dengan Ibu Gaga. Bunda dan Pak Wawi—Ayah Gaga sudah saling kenal, karena sewaktu beliau masih pendidikan pernah tinggal di rumah kerabatnya yang letaknya bersebelahan dengan rumah bunda. Setelah berkeluarga, Pak Wawi acap kali mengajak keluarganya berkunjung ke sana.
Setelah Gaga SMP, Ia sering berkunjung ke rumah kerabatnya itu bahkan setiap akhir pekan tidak jarang Ia menginap di sana. Kamu dan Gaga akhirnya sering bertemu dan berinteraksi. Usia kalian tidak terpaut jauh, hanya beda tipis. Pertemanan di antara kalian pun terjalin. Gaga menyadari kalau Ia mulai merasakan tumbuh benih cinta kepadamu.
"Apa kabar, Mbak yu?" Bunda gantian menyapa Ibu Gaga.
"Apik, Alhamdulillah, Jeung,"
Acara lamaran atau perundingan itu hanya dihadiri oleh keluarga inti saja. Kalian bercengkrama sambil bersenda gurau, sesekali kalian membahas hal serius—mengenai tanggal baik untuk pernikahan kedua anak mereka. Kamu dan Gaga lebih banyak diam dan hanya tersenyum malu ketika beberapa kali dimintai pendapat atau diberikan pertanyaan.
"Bagaimana, Nak Hani?" Calon ibu mertuamu tiba-tiba bertanya dan membuat kamu kelabakkan bagaimana bersikap. Spontan kamu menoleh ke arah Gaga, tetapi setelah menunggu beberapa detik kamu tidak mendapat isyarat apapun dari Gaga. Justru Gaga menunduk dan tampak menunggu respon darimu. Kemudian kamu melirik ke arah Bunda, Bunda tersenyum dan perlahan memberi tanda agar kamu segera memeberi jawaban.
"Hmm, terserah bagaimana baiknya saja," seketika raut wajahmu berubah. Kamj tampak kecewa dengan keputusan sore ini. Namun, kamu telah memberi respon dengan kata 'terserah', kata yang tidak sesuai dengan kata hatimu sendiri.
Setelah mengantarkan orang tua Gaga pamit ke depan pintu. Bunda, kamu, dan Gaga menuju ke dalam rumah dan duduk kembali. Kamu dan Gaga hanya duduk terdiam tanpa berbicara sepatah kata pun. Sembari beberes meja dan peralatan jamuan yang sudah disantap bersama tadi, Bunda memperhatikan keduanya—kamu dan Gaga.
"Tuh, kalian sudah dengar kan tadi? Ibu dan Bapak Gaga minta penundaan waktu, jadi pernikahan kalian akan dilangsungkan pada awal bulan tahun depan,"
"Hmm… sementara kamu pengennya tahun ini," Bunda mengambil kursi dan duduk di depanmu.
"Yaa sih, tapi udah hani bilang ke bunda dan Gaga juga. Kalo Hani inginnya tahun ini, Bund. Kalau tahun depan, Hani nggak bisa mastiin bisa tepati janji menunggu sampai tahun depan atau nggak,"
"Seandainya pada rentang waktu itu ada yang datang dan bersedia menikahi Hani, yaa, tidak menutup kemungkinan dong untuk Hani terima. Kita kan ga tau jodoh kita siapa kan?"
Jawabanmu itu membuat Gaga tersentak. Ia menatapmu lekat, setelah itu Ia menunduk tampak diam seperti sedang menimbang sesuatu. pernyataan yang kamu sampaikan itu berhasil mengganggu fokusnya. Kamu tentu saja menyadari kegelisahan Gaga.
"Bukan begitu, Ga. Dari awal aku udah bilang ke kamu, kita ta'arufan. Aku maunya serius dan nggak lama-lama seperti ini, nggak baik untuk kita, orang tua, dan, juga menurut agama. Kalau mau dan siap ya tahun ini. Yaa mudah-mudahan jodoh siiih,"
"Rasulullah ﷺ mengajarkan kita agar senantiasa mengerjakan kebajikan, dan harus sesegera mungkin, sebelum niat berbuat baik tersebut berubah dan tidak terlaksana,"
Gaga mengangguk dan pamit pada Bunda dan kamu. Gaga berniat untuk bermusyawarah dengan orang tuanya kembali, Ia akan meminta kepada orang tuanya supaya berkenan dan memberi restu untuk melangsungkan pernikahan bersamamu di tahun ini saja.
Singkat cerita, Gaga datang kembali ke rumahmu bersama kedua orang tuanya untuk melakukan perundingan tentang hari dan tanggal baik pernikahan kalian yang akan dilangsungkan tahun ini juga.
No comments:
Post a Comment