![]() |
| google-canva |
Setelah berpisah dengan suaminya, Bu Lis lebih memilih hidup menjanda bersama keempat anaknya yang masih kecil-kecil. Suaminya pergi meninggalkannya setelah acap kali minggat atas kesalahannya sendiri. Setiap kali minggat ke rumah orang tuanya, Bu Lis selalu menjemput dan membujuknya untuk pulang. Berkali-kali itu terjadi, sampai anak keempat mereka lahir. Pada akhirnya Bu Lis tak hendak untuk menjemputnya lagi. Suaminya minggat karena malu setiap kali diberikan modal usaha selalu habis. Usahanya selalu saja bangkrut karena ikut campur pihak keluarganya. Bu Lis juga tidak ingin Ummi selalu memberi modal kepada suami yang tidak bertanggung jawab tersebut. Jangankan untuk menafkahinya, yang ada suaminya hanya menyusahkan Ia dan Ummi.
Tidak ada terbersit sedikitpun niat untuk menikah lagi. Perempuan yang kira-kira berusia sudah kepala tiga itu kini tinggal bersama Ummi yang sudah tua renta. Namun, Bu Lis dan Ummi merupakan sosok perempuan yang kuat dan tangguh. Mereka tidak pernah mengeluh apalagi putus asa walau hidup tanpa laki-laki yang mendampingi.
Ummi adalah seorang penjahit ternama di kota tempat mereka tinggal. Ummi mengelola beberapa tempat menjahit dan memiliki banyak karyawan untuk menjalankan usaha. Sementara itu, sejak menjanda, Bu Lis membantu usaha Ummi untuk menghidupi dan membiayai pendidikan anak-anaknya. Putra pertama dan kedua Bu Lis bersekolah di SMP, dan anak ketiga dan keempatnya adalah perempuan. Mereka bersekolah di sekolah dasar.
"Lis, kamu siap-siap ya, kita pulang kampung lusa," Ummi menyampaikan maksudnya kepada Bu Lis.
"Pulang?" Bu Lis terkejut.
"Rumah kita di kampung sudah siap dibangun. Jadi kita akan pulang bersama untuk berdoa di rumah baru tersebut. Nanti kamu yang menunggu rumah itu," Bu Lis kaget mendengar pernyataan ummi itu.
"Tapi, Um. Bagaimana dengan anak-anak Lis? Mereka masih sekolah, Um. Lagipula tidak ada pembicaraan sebelumnya apabila rumah itu siap dibangun, Lis lah yang akan menunggunya," protes Bu Lis dengan mengiba.
"Anak-anakmu biar tinggal bersama Ummi di sini, mereka kan sekolah. Sayang kalau harus dipindahkan,"
"Lis, kamu tidak saja menunggu rumah di kampung. Namun, kamu juga mengurus sawah dan kebun kita. Ummi sudah tua sudah tidak mampu bolak-balik kampung untuk mengurusnya," tegas Ummi.
Diam-diam Ummi merencanakan sesuatu untuk Bu Lis. Ia sudah menyusun rencana perjodohan anaknya itu dengan anak tetua adat di kampung. Ia tidak tega melihat anaknya itu menjanda dan menghidupi keempat anak. Ummi merasa anaknya masih muda, masih layak menikah dan memiliki suami. Rundingan perjodohan ini sudah direncanakan jauh-jauh hari, sebelum pembangunan rumah. Justru membangun rumah itu dilakukan setelah perjodohan terjadi.
Bu Lis akan dijodohkan dengan seorang perjaka di kampung itu. Laki-laki yang akan menjadi calon suami Bu Lis memang tidak memiliki pekerjaan. Menurut Ummi tidak mengapa karena sawah dan kebun nya dapat menjadi lahan pekerjaan untuk calon menantunya itu. Ia berharap calon menantu dan anaknya dapat bekerja sama dalam mengelola aset warisan turun-temurun di kampung.
Sehari sebelum berangkat, Bu Lis melihat hal yang janggal. Ummi sengaja mencarter truk ke kampung untuk mengangkut beberapa perabot rumah, peralatan listrik rumah tangga, serta lengkap dengan isi kamar segala. Bukan hanya itu, Ummi juga menjahit beberapa pakaian untuk Bu Lis, beberapa lembar sprei, dan juga gorden.
"Um, untuk apa bawa-bawa semua ini?" Bu Lis bertanya heran.
"Ndak pa–pa, di kampung kita sudah tidak punya apa-apa lagi. Sejak Ummi merantau meninggalkan kampung semua harta benda kita diberikan dan diminta oleh keluarga dan kerabat," jelas Ummi
Ummi, Bu Lis, dan dua anak perempuannya berangkat ke kampung. Sementara, dua anak laki-lakinya tinggal bersama kerabat Ummi di rumah. Ummi bilang hanya sepekan beliau di kampung. Mereka berangkat dengan mobil carteran. Semua keperluan pernikahan Bu Lis sudah disiapkan oleh Ummi, termasuk bumbu masaknya.
"Mengapa harus beli dari sini semua, Um? Kan bisa beli di kampung,"
"Ndak apa-apa. Sampai di kampung kita sudah repot, dan lagi, baru sampai kan capek, Lis. Jadi selagi bisa dan sempat kita beli dari sini saja,"
Singkat cerita, dua malam berada di kampung, Bu Lis memperhatikan gerak-gerik Ummi yang menurutnya mencurigakan. Beberapa kali Ummi menerima beberapa tamu dan datuk adat datang ke rumah. Ummi ngobrol serius dengan tetua adat dan beberapa induk di kampung.
Sampai suatu malam Bu Lis dipanggil Ummi untuk bergabung bersama dalam obrolan serius itu. Lis menyapa dan menyalami semua yang ada di ruangan itu. Lis duduk mendengarkan pembicaraan yang mulai dibuka oleh Ummi.
"Jadi begini Lis, kamu Ummi jodohkan dengan Wandi–anak bungsu datuk adat di kampung kita, semua perundingan sudah matang,"
"Semua sudah diurus oleh datuk tetua. Besok Jumat, ba'da ashar, kamu ijab qabul. Setelah itu kita doa bersama selamatan rumah,"
Bu Lis terdiam dan tak berkata apa-apa, ia menunduk sedih. Terbayang wajah keempat anaknya yang sangat disayanginya. Ia tidak bisa menerima perjodohan ini. Ia tidak habis pikir, mana mungkin perjaka mau dinikahkan dengan janda beranak empat–seperti dirinya. Namun, di sisi lain Bu Lis tidak ingin membuat Ummi malu dan kecewa atas penolakkannya.
"Tapi, Um.."
"Lis, Wandi pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Selama ini yang mengurusi sawah kita di kampung kan Wandi. Ummi percaya kamu dan Wandi akan berjodoh dan bahagia,"
"Maksud Lis, Um…"
"Kamu jangan banyak pikiran, Ummi yang urus semua. Kamu berdoa supaya besok acara berjalan lancar,"
Setelah semua tamu pulang, Ummi mendapati Bu Lis menemani kedua putrinya yang sudah lelap tidur. Bu Lis sedang menangis di kamar. Ummi memberi pengertian kepada Bu Lis. Beberapa kali Bu Lis mengatakan bahwa Ia tidak ingin menikah lagi. Ia mengatakan akan membesarkan anak-anak sendiri.
Namun, setelah mendengar nasihat dan penjelasan dari Ummi, Bu Lis agaknya tidak dapat menolak lagi. Ia menurut saja, walau hatinya tidak terima. Ia hanya kasihan kepada Ummi yang sudah merencanakan semua ini. Ia tidak tega Ummi menanggung malu dengan perundingan rahasia yang sudah ketok palu itu.

No comments:
Post a Comment