HOME

Saturday, July 02, 2022

I'm Happy

kompasiana.com


"Bosan aku dengan penat
Enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri. Ho ho ho... hoo," tanpa sadar Raflesia bersenandung syahdu sembari sebelah tangannya memutar setir mobil melewati bundaran Tugu Tari pertigaan arah bandara di jalan Soekarno-Hatta—pusat kota.


Ia merasa sangat lelah dengan pikirannya sendiri. Sudah menjadi kebiasaan Raflesia, apabila dalam kondisi seperti ini. Berkeliling-keliling kota adalah healing tipis-tipis yang wajib dilakoninya. Sore ini, Ia berkendara sendiri di bawah rinai hujan yang turun bagai butir-butir salju. Butir salju itu jatuh pada kaca depan lalu mencair oleh wiper yang menyibak di kaca itu.


"Hmm… hujan panas," bathinnya.


Raflesia menepi, Ia meraih dan mengecek ponselnya. Padat sekali pergerakan chat wa yang ada dalam ponsel itu. Ia melihat deretan angka dalam lingkaran berwarna hijau, sebagai notifikasi chat yang masuk sudah dalam jumlah yang banyak. Itu pertanda minta untuk Ia buka dan baca. Namun, Ia abaikan.


Ia hanya memandangi dan membaca potongan kalimat yang tampak pada setiap pesan yang masuk. Enggan sekali Ia mengklik tiap pesan-pesan itu, walau sekedar untuk menghilangkan bulatan berwarna yang berisi angka-angka mulai dari angka satuan, puluhan, bahkan ratusan itu. Apalagi, untuk memberi tanda ceklis dua biru.


"Ah!" ponsel itu Ia banting ke bangku kosong sampai melanting mental mengenai dashboard hingga retak. Tidak sengaja Ia kembali melihat undangan pernikahan teman yang baru Ia terima tergeletak di atas dashboard tersebut. Ia menghela napas panjang.


"Lelah, ya, Allah," Ia sandarkan punggung sambil menyetel jok rebah ke belakang tepat pada posisi 130 derajat, Ia menengadahkan kepalanya mengikuti lekuk jok mobil yang berwarna coklat susu kombinasi krem itu. Raflesia melihat ke luar jendela, tatapan matanya nanar tampak berat dan lelah seakan dipaksa untuk menerobos kaca jendela yang mulai lembab dan berkabut karena banyaknya partikel air terkena hawa dingin dari AC mobil yang dingin.


Ia menggerak-gerakkan punggung tangannya menyapu naik—turun pada permukaan kaca jendela. Sapuan itu meninggalkan jejak garis melengkung, tampak Ia menyukainya. Ia coba bangkit dari sandaran, jarinya mulai menari pada permukaan kaca, Ia menulis sesuatu di sana. Sejenak Ia berhenti dan mematut tulisan dan gambar yang terbentuk.


"Ica…" Ia mengucap lirih. Tulisan namanya yang diukir dalam sebuah simbol hati tampak pada kaca yang buram tersebut. 


"I love myself! Hmm... am I?" Raflesia membathin.


Pikirnya berkecamuk, silih berganti pertanyaan yang selalu menghantuinya muncul satu per satu. Apa yang Ia cari dalam hidup ini? Untuk apa melakukan semua itu? Bahkan Ia melupakan kesenangannya karena hanya memikirkan apa kata orang.


Ia berfikir bahwa Ia pantas untuk mendapatkan self love. Tiba-tiba Ia sadar selama ini Ia hanya lelah memenuhi keinginan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain.


"Dua puluh tujuh tahun. Hei! Lu ke mana aja? Apa tujuan hidup lu! Mama pasti ingin lu nikah lalu punya anak, liat tuuu sahabat lu—Virda dan Godid. Mereka bahagia dengan pernikahannya, anaknya, dan keluarga kecilnya,"


"No! Don't! Hanya untuk dinilai dan nyenengin orang, lu nggak bahagia! lu jadi ngoyo dan maksain, Caaa,"


"Gue juga pengen kaliii… gue juga mauuu… kalian cuma bisa komentar," Raflesia menangis tersedu.


"Realistis ajalah, gue belum dipertemukan ama jodoh gue. Fine! Tapi gue harus tetap optimis dong,"


Raflesia berperang dengan pikirannya.


"Ca, lu jalani hidup dengan optimis dan selalu berperasangka baik kepada Allah, itu adalah cara lu berdamai dengan diri lu," rona diwajahnya putih berseri. 


"I'm happy!"

"Say it again, loudly!"

Yes, you are happy, Caa!"


"Ngapain galau! Buang! Ga ada itu di kamus lu. Ada mama yang sayang ama lu, mama yang selalu ada untuk lu. Ada mama yang selalu doain dan terima lu apa adanya,"


Raflesia sedikit mulai dalam kendali, emosinya perlahan stabil dan lebih tenang, perlahan Ia tersenyum, manis sekali senyuman yang tersungging di bibir mungilnya.


"Yaa, dengan begini, gue masih bisa dekat mama, sayang mama, nemenin mama, ada untuk mama,"


"Takdir Allah itu pasti baik,"


"Ma, Ica pulang," dengan menarik senyumnya semakin lebar, Raflesia menyeka pipinya memandang lurus ke depan kemudian kaki kirinya bergerak reflek menginjak  kopling, tangannya memasukkan gigi satu, lalu kaki kanannya menginjak gas sambil mengangkat kopling by feeling dan melepas rem tangan perlahan.


Selanjutnya, mobil melaju kencang di tengah hujan panas dengan lalu lalang kendaran yang sangat ramai di jalan Sukarno-Hatta sore itu.



2 comments:

  1. Cerpen sudah bagus banget ta, sepertinya dikau passionnya memang di cerpen ya... Good job bestie

    ReplyDelete
  2. Tengs bestieku—Ran. Tulisnmu luar biasa juga Ran, sll mnginspirasi. Kyknya aku kl nulis bgnian bs suka suka Ran, jd enjoy hihi

    ReplyDelete