HOME

Sunday, July 17, 2022

Kisah KKN Elly

Cerbung-Bagian 5–Tamat

canva.com

Elly dan Vita kembali ke posko seusai mandi di rumah celup batik milik pak sekdes. Setibanya di posko mereka belum melihat anak-anak yang bermain perahu kembali ke posko.


Elly dan Vita berinisiatif untuk menyiapkan menu makan malam. Hari ini memang bukan giliran mereka piket untuk menyiapkan itu, tetapi tak jarang mereka punya insting untuk saling membantu dan bekerja sama. Apalagi Vita, ia banyak belajar sejak bersama Elly, pada dasarnya ia anak yang rajin dan kreatif. Namun, karena kehidupannya serba cukup ia tumbuh menjadi pribadi yang mau enak dan gampangnya saja.


Selesai memasak dan menyajikan makan malam di ruang utama posko putri, mereka membersihkan perlengkapan memasak bersama-sama. Senja menjelang, sholawat tarhim di waktu magrib sudah terdengar dari pengeras suara masjid. Anak-anak belum tampak juga batang hidungnya, Elly, Vita, Jojo, dan Chris yang berada di posko mulai cemas. Jojo dan Chris pamit kepada Elly dan Vita hendak menyusul mereka ke sungai.


"Eh, itu sepertinya suara mereka," dari kejauhan Elly mendengar riuh suara anak-anak yang kembali dari sungai. 


Mereka disambut dengan suka cita oleh Jojo, Chris, Vita, dan Elly, anak-anak menyajikan cerita seru yang mereka bawa dari sungai.


"Rika, ayo buruan mandi mau magrib loh," Elly mengingatkan Erika yang diam saja melihat anak-anak lain pergi mandi. Erika tampak lesu dan tidak bersemangat.


"Kenapa? Kamu sakit?" Erika tak menjawab, ia hanya diam saja.


"Hmm… kecapekan ya lomba mendayung? Hahaha," Vita menggoda Erika dan menyenggol sisi tubuh Erika dengan bahunya. Kemudian, mereka masuk ke dalam posko untuk siap-siap sholat magrib.


***


"Vit, ini malam terakhir loh, kita belum dapat barang impor bekas," selesai sholat Elly menghampiri Vita di ruang makan sambil menunggu anak-anak lain datang. Tampak Erika yang duduk bersandar di punggung Vita, Vita duduk santai dengan mengangkat kedua lutut dan memeluk lututnya.


"Malam ini pasarnya buka, jadi nanti kita ikut anak-anak ke sana ya. Anak-anak sudah dapat semua loh," tambah Elly


"Iya gue tau, eh gila tu si Jamil ngeborong pekan lalu, ada jaket kulit, celana jeans, dan beberapa kemeja kotak-kotak. Bagus-bagus loh kayak punya bokap yang dibeli di Paris," jawab Vita heran.


"Aku juga liat pakaian yang dipamerin anak-anak. Mereka bilang harganya kisaran lima ribu sampai lima belas ribu rupiah loh. Selesai briefing kita ikut anak-anak ya," rayu Elly


"Hmm, iya liat ntar deh," Vita merespon malas-malasan dan tampak kesal dengan kesepakatan yang tidak ia sepakati itu. 


"Nah gitu dong. Eh, kalo uang ku kurang, aku pinjem uang yaaaa karena simpananku menipis," kata Elly.


Anak-anak satu persatu berkumpul di ruang makan–ruang tamu di posko putri. Setelah mereka menyantap hidangan makan malam, dilanjutkan dengan briefing yang dipimpin oleh Jojo dan dipandu oleh Chris selaku wakil ketua, ini merupakan briefing terakhir mereka di sini. Karena lusa mereka sudah harus meninggalkan posko dan kembali ke kampus.


Dalam briefing mereka membahas tentang beberapa hal, di antaranya mengenai program KKN yang sudah dan yang belum terealisasi, tentang persiapan acara penutupan dan perpisahan, kenang-kenangan, dan tidak lupa mereka juga membahas tentang kesepakatan one person one barang impor bekas. Ketika Jojo membahas soal itu riuh anak-anak bersorak dan mereka memamerkan barang-barang yang sudah mereka beli. Peraturannya setiap briefing barang yang dibeli harus dibawa atau dikenakan. Hanya Elly dan Vita yang belum memiliki pakaian import seken sehelaipun.


Anak-anak menggoda Elly dan Vita, Elly memperhatikan Vita hanya diam saja. Tumben ia tidak menggubris sedikitpun komentar anak-anak, ia masih duduk dengan posisinya seperti semula, duduk dengan memeluk lutut dan dagu diletakkan di puncak lututnya. Elly tampak kesal dengan sikap Vita yang demikian, setiap anak-anak pergi ke pasar Vita selalu malas-malasan ketika diajak pergi. Elly pun tidak enak meninggalkan Vita di posko sendirian, dengan terpaksa ia menemani Vita selama anak-anak pergi.


"Baiklah teman-teman, pembahasan kita sudah selesai dan tidak ada lagi yang dibahas, maka sesi tanya jawab kita tutup, dan dengan ini briefing juga kita tutup, mari kita ucapkan hamdallah," ujar Jojo.


Anak-anak bersiap-siap menuju ke pasar barang import bekas, walaupun tas dan koper mereka sudah penuh, katanya masih penasaran. Elly yang masih duduk di hadapan Vita–dipisahkan oleh sisa hidangan penutup di tengah ruangan hendak bangkit dari duduknya untuk menutup pintu rumah. Elly pikir anak-anak sudah pergi, untuk keamanan ia harus menutup dan mengunci pintu.


"Jadi, kita nggak ke pasar malam ini?" Tanya Elly kesal. Ia juga merasa sedih karena mentang-mentang ia tidak punya uang ia jadi mengemis-ngemis mengajak Vita. Ia sudah pasrah dengan sanksi yang akan ia terima. Karena tidak mendapatkan jawaban dari Vita, Elly segera bangkit dan menutup pintu, dari jendela ia masih melihat teman-temannya satu per satu berangkat ke pasar. Tinggal lah di ruangan itu mereka berdua saja. 


Setelah menutup pintu ia berniat untuk langsung masuk ke kamar. Namun, ia tidak tega meninggalkan Vita yang duduk membisu sendiri di ruang itu. Ia mendekati Vita yang duduk tepat di bawah jendela. Vita hanya menunduk saja. Elly tidak memiliki firasat apa-apa terhadap temannya itu, ia hanya merasakan sedikit kesal dan kecewa kepada Vita.


"Yuk ke kamar, Vit!" ajak Elly sambil memegang kedua tangan Vita yang memeluk lututnya itu.


Tiba-tiba Vita mengangkat kepalanya perlahan-lahan dan menoleh ke arah Elly dengan senyum dingin, jelas sekali itu bukan senyum Vita biasanya. Seketika Elly kaget melihat wajah Vita, bulu kuduknya tiba-tiba merinding, kedua telinganya berdenging, angin dingin berhembus terasa sejuk seakan-akan menyingkap khimarnya yang panjang, ia melihat wajah Vita pucat pasi seperti tidak dialiri darah sedikitpun. Senyum dingin itu membuatnya tersentak dan spontan berdiri lalu mencoba teriak, tetapi terasa tertahan–tercekat. Ia segera berlari ke arah pintu dan menarik pintu itu kuat-kuat hingga terkuak. Ia benar-benat ketakutan karena yang ia lihat barusan bukanlah wajah Vita, ia tidak berani menoleh ke belakang, ia takut makluk yang ada di dalam tubuh Vita akan menarik kakinya.


"Tolooooooooong!!!!" teriakan Elly yang dirasa tercekat itu sangat kuat hingga terdengar oleh teman-temannya yang sudah berjarak jauh hingga ke deret rumah warga paling ujung. Sekelebat ia melihat ada yang berlari menghambur ke arahnya dari posko sebelah.


"Ada apa, El?" Jojo tiba-tiba sudah ada dihadapannya. Jojo memang belum berangkat ke pasar, ia masih berada di posko putra, ia memang sengaja menunggu Vita mengajaknya pergi.


Spontan Elly memeluk Jojo dengan rasa takut yang luar biasa.


"Ituu.. Vi..Vita… Vi..ta.. dia bukan Vita..Jo," Elly gemetaran dan ia tidak menyadari sudah memeluk laki-laki yang bukan mahramnya.


Anak-anak berdatangan ke posko, mereka khawatir jangan-jangan ada pasukan kalajengking lagi menyerang posko putri. Sesampainya di posko, mereka melihat Elly gemetaran ketakutan. Sebagian hendak masuk tiba-tiba mereka melihat Vita berjalan di lorong rumah dari arah kamar dan ada seekor kucing putih mengikutinya. Baru kali ini melihat kucing ada di posko itu.


"Ada ap sih?" Vita heran bertanya seolah-oleh tidak pernah terjadi apa-apa.


"El, lu kenapa teriak? Gue tungguin lu di kamar dari tadi," ucap Vita.


Elly kaget, kali ini ia dipeluk oleh Sasan. Ia tidak mau melihat wajah Vita. 


"Dia tadi duduk di situ, San," Elly menunjuk ke tempat duduk Vita sebelumnya kepada Sasan dan Irma.


Melihat dan memahami kondisi malam itu, Jojo mengajak anak-anak semuanya berkumpul di ruang tamu posko putri. Jojo menenangkan teman-temannya. Jojo dan anak-anak menyadari apa yang tengah terjadi. Vita kerasukan makluk gaib, Vita di bawa ke posko putra oleh beberapa teman yang lain, mereka mulai mengusut kejadian itu. Mulai dari Erika yang terlihat aneh sepulang dari sungai.


"Apa yang terjadi di sungai tadi teman-teman?" Selidik Jojo.


"Oh, itu tadi waktu di perahu teman-teman menertawakan letak makam tua di pinggir sungai. Makam itu miring dan menggantung akibat tanah longsong di pinggir sungai," Sasan mulai bercerita.


"Iya, anak-anak mengejek dan bahkan mengolok-olok batu nisan yang seperti melayang di air, Erika tertawa-tawa geli ikut mengolok-olok," Jamil menceritakan keanehan Erika sepulang dari sungai, ia melihat aerika mulai diam tidak bicara sepatah kata pun.


"Hmm, iya benar dari Erika semua bermula. Ketika briefing Erika duduk senderan di punggung Vita, Vita kan sedang haid ia tidak sholat. Mungkin makluk yang 'dibawa' Erika dari sungai tertransfer ke tubuh Vita karena saat itu Vita dalam kondisi lemah dan emosinya tidak stabil karena kesal harus ke pasar," tambah Elly yang mulai memahami alur kejadian.


"Sejak itu Vita mulai aneh, kesal saja tiap diajak bicara dia tidak merespon sedikitpun, dan aku pun emosi melihatnya," Elly menangis.


"Aku juga merasakan keanehan Vita, ketika ia berjalan di lorong rumah keluar dari kamar tadi, aku merasakan ujung jarinya semua dingin," Erika menambahkan.


"Dari kamar? Kok bisa? Vita tadi duduk di sini dan aku tinngal sebentar membuka pintu minta pertolongan. Suaraku tercekik tidak bisa keluar, bulu merinding semua melihat wajah Vita yang pucat pasi dengan senyum dingin mengembang mengerikan," dan menangis Elly menceitakan kronologisnya sambil mengelus-elus lengannya.


"Pintu itu keras, biasanya harus diangkat untuk membukanya, tapi tadi tenaga ku terasa sangat kuat karena sangat ketakutan, huhuhu… aku takut dicekik," tangis Elly pecah.


"Jelas sudah kejadiannya, jadi malam ini kita tidak jadi ke pasar. Kita baca yasin bersama," Jojo memberi instruksi.


"Teman-teman ini ada pak sekdes dan Ibu, silakan masuk Pak, Bu," Chris mempersilakannya masuk.


"Ya sudah semua malam ini tidur di rumah bapak ya. Elly dan Vita dipisah saja dulu supaya tidak tersugesti,"


Seusai membaca yasin mereka bersama-sama menuju ke rumah pak sekdes. Elly tidak mau melihat ke arah Vita. Vita kesal kepada Elly. Ia merasa Elly sudah menjelek-jelekkan dirinya dan merusak citra dirinya, sehingga anak-anak takut kepadanya.


Malam itu mereka tidur bersama, semua tidur dengan nyenyak walau tetap ada yang berlaga-jaga supaya keadaan kondusif.


Kesokkan harinya, semua sudah berjalan normal hanya saja Elly dan Vita masih belum dibiarkan untuk berdekatan untuk melakukan aktivitas bersama-sama apalagi mandi bareng seperti yang mereka lakukan selama ini. Elly masih takut kepada Vita, Elly dengan Erika dan Sasan, sementata Vita bersama Irma.


Jadwal kepulangan sudah tiba, semua sudah kembali normal seperti semula, Elly dan Vita sudah saling berbaikan.


" Elu harus kembaliin nama baik gue, kalo nggak gue cekik lu," candaan Vita kepada Elly, disambut dengan pelukan hangat ke sahabatnya itu.


Mereka semua pamit untuk kembali ke kampus. KKN ini sangat berkesan bagi Elly, walau ia tidak bisa mengisi hatinya untuk Mamad, ternyata malam kejadian Vita kesurupan. Chris memberikan perhatian yang lebih kepada Elly, ternyata diam-diam Chris menaruh hati kepada Elly begitu juga sebaliknya. Elly menyadari itu, tetap ia berusaha menepisnya, dan akhirnya Elly menerima Chris untuk berta'aruf dengannya. Erika senang sudah dapat menyampaikan amanah Chris kepada Elly. Selama ini anak-anak salah menafsirkan kedekatan Chris dan Erika. Chris seorang muslim yang sholeh, sementara Erika seorang katolik yang rajin ibadah Minggu selama di lokasi KKN.


****


Yanti, Purna, Awie, dan Wati mendengarkan kisah seru Elly selama KKN. Mereka saling bercerita tentang kisah mereka masing-masing di warung bakso Mas Yoyo langganannya.


-TAMAT-

No comments:

Post a Comment