![]() |
| dokumen pribadi |
Mungkin sering, atau setidaknya saya dan Anda pernah menyaksikan fragmen tayangan di media, apakah di televisi atau media sosial, tentang seseorang, bahkan beberapa orang yang “terjebak” sebuah tulisan yang ditempelkan pada dinding suatu kotak atau ruangan dan di dalam ruangan itu ada lubang yang muat untuk masuknya kepala supaya bisa melongok ke dalam untuk melihat apa yang ada dalam ruangan. Tulisannya berbunyi kira-kira “jangan lihat ke dalam lubang ini”. Apa yang terjadi? Saya yakin Anda tahu, ya, Sebagian besar dari orang yang melihat tulisan atau bacaan itu akan tetap saja melongok ke dalam lubang, lalu? Kena timpuk kue tart bahkan ada yang sampai kena tonjok. Sakitnya mungkin tidak seberapa, karena itu hanya sebuah games, atau jebakan, tapi malu atau kesal boleh jadi pasti iya.
Banyak hal bisa diperdebatkan terkait hal tersebut, tetapi saya akan mencoba mencermati dari sisi membaca. Ya, membaca. Ternyata cukup banyak dari kita, bisa membaca tetapi tidak bisa memaknai apa yang dibaca. Contoh di atas tadi baru satu saja. Tentu kita juga mengamati di sekitar kita, atau jangan-jangan kita sendiri–bisa asyik membaca nyaris semua isi chat whatsapp, tapi kalau dibagikan link dari sumber berita, kita mulai enggan membuka apalagi membacanya. Itulah yang kemudian memunculkan anekdot, bahwa kita–orang Indonesia ini, “minat bacanya tinggi” tetapi “daya bacanya” rendah. Maksudnya minat membaca chat whatsapp-nya tinggi dan semangat, tetapi giliran membaca teks yang relatif resmi dan formal dari sumber berita dengan narasi yang lebih lengkap, maka minat membaca tadi menurun atau bahkan hilang sama sekali. Singkatnya, literasi membaca kita masih rendah.
Fenomena, bahkan kecenderungan rendahnya literasi membaca masyarakat kita sudah banyak diungkap, bahkan oleh studi yang bersifat internasional dan diakui oleh negara. Hasil tes PISA misalnya, dari waktu ke waktu, FYI, tes PISA (Programme for International Students Assessment) adalah studi yang diselenggarakan oleh Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD)) dilaksanakan setiap 3 tahun ya, menunjukkan bahwa skor literasi pelajar Indonesia dalam kemampuan membaca masih rendah, pada angka 371, bandingkan dengan Thailand (393) dan Malaysia (415) dan berada di bawah capaian rata-rata siswa di negara-negara ASEAN (413). Capaian PISA 2018 menunjukkan, Indonesia menduduki posisi 10 terbawah dari 79 negara yang berpartisipasi. Kemampuan rata-rata membaca siswa Indonesia adalah 80 poin di bawah rata-rata OECD. Waduh!
Sementara itu UNESCO menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya dari 1.000 orang Indonesia hanya 1 orang yang gemar membaca. “Hasil riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca,” jelas Wakil Ketua DPR Bidang Korkesra Abdul Muhaimin Iskandar dalam siaran persnya pada peringatan Hari Buku Nasional Senin 17 Mei 2021, dikutip dari Portal Bandung Timur.
Sudah jelas, kondisi ini tidak boleh dibiarkan, Harus ada upaya sungguh-sungguh dari semua pihak agar kita tidak lagi menjadi bangsa yang direndahkan gegara persoalan minat baca ini. Mengapa? Karena minat baca seseorang, suatu masyarakat, dan suatu bangsa menjadi tolok ukur kualitas seseorang, sekelompok masyarakat atau suatu bangsa. Bangsa yang maju ditentukan oleh tingginya minat baca masyarakatnya. Bagi yang beragama Islam, sudah terbukti dalam sejarah bahwa masa kejayaan Islam sedari masa kekhalifahan Muawiyah dan Abbasiyah karena umat Islam sangat gemar membaca dan kemudian banyak diantaranya menjadi penulis-penulis handal dengan karya-karya luar biasa yang bahkan masih tetap diakui hingga saat ini, seperti Ibnu Sina, al-Khwarizmi, dan lain-lain. Sekali lagi, jika harga diri bangsa ini ingin tinggi, mulia dan dihargai, maka harus pertinggikan minat baca.
Untuk dapat melakukan hal tersebut, perlu kita selami terlebih dahulu apa akar masalahnya, apa penyebab sehingga minat baca kita rendah? Beberapa hal berikut ini kami sampaikan, untuk kemudian kita temukan solusinya. Nyaris semua mengakui bahwa menumbuhkan minat baca harus dimulai sejak usia dini. Anak-anak kita usia enam atau tujuh tahun, bahkan di beberapa negara lebih dini dari itu, sudah dibiasakan membaca, bukan dipaksa bisa melafalkan huruf lalu membaca tanpa mereka mengerti makna yang dibaca ya.
Masalahnya di kita adalah, seberapa banyak dan seberapa berkualitas buku bacaan yang dapat memantik keinginan anak untuk senang hati membacanya? Dikutip dari Kompas ternyata jumlah buku yang diterbitkan di Indonesia masih tergolong rendah, tidak sampai 18.000 judul buku per tahun. Bandingkan dengan Jepang yang mencapai 40.000 judul buku per tahun, atau India dengan 60.000 judul buku, bahkan China sekitar 140.000 judul buku per tahun.
Bagaimana akan menumbuhkan minat baca jika buku yang akan dibaca tidak ada? Ini jelas satu persoalan, apalagi jika dibedah lagi, dari 18 ribu judul tadi berapa judul buku yang dikategorikan sebagai buku bacaan anak?
Masalah berikutnya adalah, jika pun bukunya ada (walau dalam jumlah terbatas tadi) bagaimana metode, teknik atau kiat agar anak bersedia membaca. Mungkin sepintas ini terlihat sepele, tapi yakinlah, pendekatan yang salah kepada anak pada awal-awal mereka akan memulai membaca, akan berakibat jangka panjang dan hampir dapat dipastikan, kelak mereka akan gagal menjadi generasi pembaca yang ulung. Lalu muaranya, ya tadi, kita tetap menjadi bangsa yang “dibelakang” atau amelioratifnya, kurang diperhitungkanlah.
Dua persoalan di atas menjadi kunci agar upaya meningkatkan minat baca bangsa
ini berhasil. Oleh karena itu, mau tidak mau diperlukan peran Pemerintah untuk mendorong, memfasilitasi dan menyiapkan anggaran untuk penerbitan buku dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang mumpuni. Jika hal itu dapat dilakukan, baik secara sekuens maupun simultan, upaya berikutnya yakni memberikan bekal teknis meningkatkan kemampuan para pendidik, para orang tua agar mengerti trik dan tips menumbuhkan minat baca pada anak-anak diimplementasikan.
Untuk upaya ini, faktor terpenting adalah kemauan dari kita masing-masing, menjadi teladan membaca terlebih dahulu, baru dapat mengajak anak, adik, sepupu, keponakan dan lingkungan terdekat kita menjadi pecinta membaca. Jika ini berhasil kita lakukan, bolehlah kita berharap bangsa Indonesia tercinta ini akan menjadi bangsa yang dengan percaya diri menyatakan sebagai bangsa yang maju. Ingat selalu syair lagu Kebangsaan kita “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya”.
Mari bangun jiwa bangsa ini dengan membaca. Sudah saatnya, slogan yang sejak lama banyak digantung atau ditempel di ruang perpustakaan, “Membaca Itu Jendela Dunia” harus kita wujudkan dalam aksi, bukan hanya basa-basi. Sekian.
Sumber:
- https://pskp.kemdikbud.go.id/assets_front/images/produk/1-gtk/kebijakan/Risalah_Kebijakan_Puslitjak_No__3,_April_2021_Analisis_Hasil_PISA_2018.pdf
- https://portalbandungtimur.pikiran-rakyat.com/pendidikan/pr-941922838/miris-minat-baca-di-indonesia-menurut-unesco-hanya-0001-persen
- https://edukasi.kompas.com/read/2012/06/25/08121853/~Edukasi~News

Mantap bun tulisannya. Alhamdulillah kelar juga ya tantangannya hehe
ReplyDeleteMaksih mel, Alhamdulillah
ReplyDelete