HOME

Saturday, July 09, 2022

Air Pembasuh Luka

Termenung Ve dipojokan sendiri merenung. Sesal selalu hadir terlambat, tidak dapat mengubah yang telah terjadi. Tapi paling tidak ada kesempatan untuk menyesali dan mencari maaf.


Tiba-tiba Ve ingin menulis sebuah puisi. Ia ambil secarik kertas dan sebuah pulpen dari laci meja kerjanya. Ia membawa peralatan itu ke pojokkan kamarnya, tetapi ia letakkan peralatan itu di atas sebuah meja bulat kecil dekat jendela–bucu kamarnya.


Ve melihat ke jendela, ia menyibak gorden dan melihat kelinci-kelinci peliharaannya berlarian kian kemari di taman mini tepat di depan kamarnya. Taman mini itu sekarang sudah rapi dan bersih. Kelinci-kelinci itu sekali-sekali kembali ke kandangnya untuk menggigit sayur-mayur dan minum sedikit air.


Ve menutup kembali kain gorden kamar, ia membuka salah satu jendela yang ada di sebelah jendela bucu. Angin semilir berhembus masuk ke ruang kamar yang sedikit sumuk–gerah akibat AC yang dimatikan ditambah ventilasi kaca yang tertutup rapat.


"Adem…" ucap Ve.


Ia duduk di sebuah kursi di depan meja bulat. Ia mulai menancapkan ujung pulpen yang runcing itu ke permukaan kertas HVS berukuran A4. Pulpen itu bergerak mengikuti irama pikiran Ve yang ia tuangkan dalam huruf demi huruf, menjadi kata demi kata, dan selanjutnya kalimat-kalimat puisi bait per bait

_________

Kejadian semalam tak perlu kau ingat jika itu hanya akan membuatmu bersedih dan terus terpuruk dalam kegelapan dan kelemahan.


Oh… kau menangis?

Menyesali?

Menyadari?


Tidak apa-apa, semoga dengan menangis, semua rasa yang kau rasa bisa tercuci dan tersapu bersih dibawa pergi beserta aliran air matamu.


Rasa sedih,

Rasa marah,

Rasa benci,

Rasa kecewa,

Rasa malu,

Rasa takut,

Kecemasan, kesepian, kegundahan, kebodohan, dan rasa-rasa negatif lainnya.


Menangislah…

Sesalilah…

Sadarilah…


Kau lega?

Kau tenang?

Kau nyaman?

Kau rasakan rasa yang lebih baik?


Lihat dirimu!


Kau berhak bahagia

Kau berhak senang

Kau berhak tersenyum

Kau berhak tertawa

Kau bisa lepas

Kau bisa pergi

Lepas dari belenggu

Pergi dari kegalauan


Lihatlah ke luar..

Rasakan hembusan angin dingin karena turunnya hujan semalam


Hiruplah udara pagi ini

Rasakan Ia melewati relung-relung itu

Rasakan kesegarannya


Biarkan ia mengisi relung yang telah lama gersang


Wahai diri jangan lagi mau terbuai bujuk syetan,

Berwudhu lah…

Sholat lah…

Berdzikir lah…

Tilawah dan tadabbur Al Quran


Wahai diri, lepaskan penat. Sambutlah pikiran sehat.

Allah senantiasa bersamamu.


Ve menyudahi tulisannya, tak disadari tetes air mata membasahi kertas putih itu dan mengenai huruf yang tercipta oleh tinta pulpen. Sebagian kata menjadi blur. Ve menyeka air di pipi dan berusaha mengeringkan kertas yang basah oleh air mata pengobat luka.


Ia membaca puisi buatannya, kemudian kertas itu ia letakkan di atas meja. Ia menghela nafas panjang. Ia menuju keluar meninggalkan kertas itu di sana.


Semua kesedihan telah tertuang dalam puisi itu. Sekarang Ve merasa lega. Ia sudah dapat tersenyum kembali dengan janji yang sudah terpatri.


Ve,

Jambi, 2022


Penutup puisi.


No comments:

Post a Comment