Termenung Ve dipojokan sendiri merenung. Sesal selalu hadir terlambat, tidak dapat mengubah yang telah terjadi. Tapi paling tidak ada kesempatan untuk menyesali dan mencari maaf.
Tiba-tiba Ve ingin menulis sebuah puisi. Ia ambil secarik kertas dan sebuah pulpen dari laci meja kerjanya. Ia membawa peralatan itu ke pojokkan kamarnya, tetapi ia letakkan peralatan itu di atas sebuah meja bulat kecil dekat jendela–bucu kamarnya.
Ve melihat ke jendela, ia menyibak gorden dan melihat kelinci-kelinci peliharaannya berlarian kian kemari di taman mini tepat di depan kamarnya. Taman mini itu sekarang sudah rapi dan bersih. Kelinci-kelinci itu sekali-sekali kembali ke kandangnya untuk menggigit sayur-mayur dan minum sedikit air.
Ve menutup kembali kain gorden kamar, ia membuka salah satu jendela yang ada di sebelah jendela bucu. Angin semilir berhembus masuk ke ruang kamar yang sedikit sumuk–gerah akibat AC yang dimatikan ditambah ventilasi kaca yang tertutup rapat.
"Adem…" ucap Ve.
Ia duduk di sebuah kursi di depan meja bulat. Ia mulai menancapkan ujung pulpen yang runcing itu ke permukaan kertas HVS berukuran A4. Pulpen itu bergerak mengikuti irama pikiran Ve yang ia tuangkan dalam huruf demi huruf, menjadi kata demi kata, dan selanjutnya kalimat-kalimat puisi bait per bait
_________
Kejadian semalam tak perlu kau ingat jika itu hanya akan membuatmu bersedih dan terus terpuruk dalam kegelapan dan kelemahan.
Oh… kau menangis?
Menyesali?
Menyadari?
Tidak apa-apa, semoga dengan menangis, semua rasa yang kau rasa bisa tercuci dan tersapu bersih dibawa pergi beserta aliran air matamu.
Rasa sedih,
Rasa marah,
Rasa benci,
Rasa kecewa,
Rasa malu,
Rasa takut,
Kecemasan, kesepian, kegundahan, kebodohan, dan rasa-rasa negatif lainnya.
Menangislah…
Sesalilah…
Sadarilah…
Kau lega?
Kau tenang?
Kau nyaman?
Kau rasakan rasa yang lebih baik?
Lihat dirimu!
Kau berhak bahagia
Kau berhak senang
Kau berhak tersenyum
Kau berhak tertawa
Kau bisa lepas
Kau bisa pergi
Lepas dari belenggu
Pergi dari kegalauan
Lihatlah ke luar..
Rasakan hembusan angin dingin karena turunnya hujan semalam
Hiruplah udara pagi ini
Rasakan Ia melewati relung-relung itu
Rasakan kesegarannya
Biarkan ia mengisi relung yang telah lama gersang
Wahai diri jangan lagi mau terbuai bujuk syetan,
Berwudhu lah…
Sholat lah…
Berdzikir lah…
Tilawah dan tadabbur Al Quran
Wahai diri, lepaskan penat. Sambutlah pikiran sehat.
Allah senantiasa bersamamu.
Ve menyudahi tulisannya, tak disadari tetes air mata membasahi kertas putih itu dan mengenai huruf yang tercipta oleh tinta pulpen. Sebagian kata menjadi blur. Ve menyeka air di pipi dan berusaha mengeringkan kertas yang basah oleh air mata pengobat luka.
Ia membaca puisi buatannya, kemudian kertas itu ia letakkan di atas meja. Ia menghela nafas panjang. Ia menuju keluar meninggalkan kertas itu di sana.
Semua kesedihan telah tertuang dalam puisi itu. Sekarang Ve merasa lega. Ia sudah dapat tersenyum kembali dengan janji yang sudah terpatri.
Ve,
Jambi, 2022
Penutup puisi.
No comments:
Post a Comment