HOME

Thursday, July 21, 2022

Hati yang Tersakiti

 Nella sangat bersyukur mendengar penjelasan dokter tentang cedera yang dialami Ranaya. Hanya cedera ringan, Nella berpikir ia tidak akan lakukan tindakan medis apapun terhadap Ranaya. Ia segera menghubungi Raka, ia meminta untuk menanyakan tentang tukang urut buat Ranaya. Di kampung, Sebenarnya mbah utinya mahir urut mengurut. Nella berpikir saat ini ia tidak bisa ke mana-mana dulu karena jadwalnya yang padat merayap.


"Mas, kata dokter Naya nggak kenapa-kenapa. Tidak ada yang patah atau yang serius. Ini hanya trauma otot saja," Nella menjelaskan semua informasi dari dokter kepada Raka–suaminya. 


"Alhamdulillah, Dek. Mas khawatir sekali kalian kenapa-kenapa," sambut Raka.


"Oh ya, Mas. Mas kasih tau ibu ya, sekalian nanya ke ibu wak urut yang di dekat rumah ibu malam bisa urut Naya nggak?" Nella gengsi untuk menelpon mertuanya


"Kalau bisa aku langsung bawa Naya ke sana," Nella berharap semua bisa berjalan sesuai rencananya.


Setelah mendapat kabar dari Raka, akhirnya Nella membawa Ranaya ke rumah ibu mertuanya demi Ranaya. Sejujurnya, Nella sudah malah ke sana. Sejak kejadian keributan waktu itu, Nella sudah jarang berkunjung. Ia tidak mau hati dan perasaannya rusak oleh ulah mertuanya ke Ranaya. Tapi kali ini demi Ranaya, ia harus bisa meredam rasa yang ia tak sukai itu. Dalam perjalanan kesana Nella teringat kisah yang membuatnya marah dan berjanji tidak akan membawa anaknya ke sana lagi, tetapi bagaimana mungkin, di sana kan nenek dan kakek Ranaya.


"Dek, kamu terlalu terbawa perasaan. Nggak ada yang beda. Ibu memperlakukan Naya sama kok, hanya saja Nunik kan kesehariannya sama Ibu, jadi terkesan Ibu lebih dekat kepada Nunik–cucu ibu," Raka berusaha menenangkan istrinya, emosi Nella meledak-ledak. Nella sore itu melihat ibu mertuanya membela Nunik ketimbang Ranaya. Sudah jelas di mata Nella kalau Ranaya tidak salah, dan ia hanya memegang mainan Nunik sebentar, tiba-tiba Nunik menangis dan merengek minta mainan yang dipegang oleh Ranaya. Ibu meminta mainan itu kepada Naya, dan Naya tidak berani untuk menolak.


"Ibu hanya memikirkan perasaan Nunik, Mas! Beliau tidak memikirkan perasaan anakku. Ribuan mainan seperti bisa aku beli untuk Naya. Tapi ibu nggak bisa membalikkan rasa simpatiku kepadanya setelah memperlakukan Naya seperti itu," Nella terus saja mengulang-ulang kata-kata itu, emosinya masih menggelegak-gelegak.


"Dan Mas Nggak tau kan? Ibu itu nggak pernah mau tau dan nggak pernah mau dengar kelebihan apapun tentang Naya. Ibu selalu mengunggulkan Nunik," Nella menangis iba kepada Naya.


Raka hanya mendengarkan, ia paling tahu tabiat istrinya. Percuma dibantah pada saat Nella sedang emosi seperti itu, bakal terjadi peperangan dunia kedua. Ia berusaha menjadi pendengar yang baik, Raka tidak merasakan Ibu memperlakukan Nunik–anak dari adik perempuannya itu berbeda dengan Ibu memperlakukan Naya.


Suti hanya terdiam di bangku belakang, ia menyaksikan Nella marah dan menangis karena tidak terima dengan apa yang ia lihat di rumah mertuanya.

Untungnya Ranaya tidur pulas saat itu, ia tidak akan mendengar kejadian tersebut, Nella pun paham itu, ia tidak mungkin bertindak sebodoh itu apabila Naya masih terjaga.


"Huuh.. Nella menarik nafas panjang," ia berhenti perlahan ketika dari kejauhan lampu lalu lintas menyala warna kuning setelah hijau. Batinnya bergejolak, kalau tidak karena Naya, dia akan berpikir dua kali untuk datang ke sana. Tiba-tiba teleponnya berdering. Ia terkejut ketika melihat nama kontak pada panggilan masuk ke ponselnya. 


"Ibu.." dia ragu, pikirannya bergejolak harus dijawab atau tidak. Tiba-tiba ia kesal dan marah kepada Raka. Kenapa harus ibu yang menelponnya kenapa bukan Raka. Telepon masuk tadi terputus karena tidak dijawab. Nella segera menghubungi Raka, tetapi belum sempat ia menekan tombol call, Raka menelponnya.

No comments:

Post a Comment