Dua hari ini kesibukkan Nella berlipat ganda, hal ini dikarenakan semua agenda dan jadwalnya berbarengan. Dia sendirian yang mengurus rumah, kebutuhan Ranaya, sekolah, pekerjaannya, mengantar Ranaya ke club badminton, di tambah pelatihan-pelatihan yang sudah terlanjur ia ikuti, serta deadline tulisan yang mepet waktu semua.
Nella hampir menyerah dan kewalahan. Sementara, Raka tidak bisa menemaninya karena berangkat keluar kota menyelesaikan pekerjaannya. Suti, yang biasa menemaninya sedang minta cuti karena ada urusan keluarga.
"Kenapa harus cutinya sekarang sih, Ti?" rutuk Nella sambil menyelesaikan pekerjaan rumah pagi-pagi sekali.
Biasanya Nella mulai menulis pagi-pagi, tetapi kali ini tidak dapat ia lakukan kebiasaannya itu karena harus membereskan rumah, menyelesaikan pekerjaan yang tertunda semalam karena ia abaikan untuk menulis. Pagi hari Nella mulai menjelma menjadi dewi seribu tangan, beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum pukul 05.30.
Di antara pekerjaannya adalah mencuci piring yang sudah menumpuk, rendaman pakaian yang belum terjamah sudah 2 hari ia biarkan direndam dengan detergen, terbayang baunya seperti apa, menyiapkan menu Ranaya ke sekolah, menyetrika pakaian untuk dipakai oleh Ranaya hari itu. Memang pakaian Ranaya tidak ada yang ia percayakan kepada jasa laundry, karena ia selalu kecewa, menyiram tanaman, menyapu rumah, dan mengantar Ranaya ke sekolah. Itu semua belum termasuk pekerjaan rutinnya sendiri. Dengan kesibukkan itu, pekerjaannya tidak jarang terabaikan beberapa hari ini sehingga menjadi menumpuk.
Pada saat Ranaya di sekolah, harapan Nella ia dapat menuntaskan pekerjaannya yang tertunda tapi semua terpatahkan ketika Ranaya merajuk minta ditunggui sampai pulang sekolah. Emosi Nella mulai memuncak, tetapi Ia berusaha untuk mengerti akan permintaan Ranaya yang memang tidak biasa itu. Dalam hati Nella juga khawatir bila tidak memenuhi permintaan Ranaya, ketakutan Nella terhadap sesuatu yang buruk akan menimpa putrinya itu.
Sepulang sekolah, Ranaya harus diantar menuju hall badminton–tempat Ranaya latihan keatlitan usia pra dininya. Nella berharap sambil menunggu selama 3 jam Ranaya latihan, ia bisa menuntaskan tulisannya untuk dua hari ke depan. Namun, yang terjadi adalah para bestie–mama teman-teman club Ranaya malah mengajaknya ngobrol dan memaksa agar ia mendengarkan dan merespon cerita seru yang mereka ciptakan. Kepala Nella pusing tujuh keliling, karena sudah merasa ini tidak dapat dibicarakan lagi, ia terpaksa undur diri dari topik menarik mama rempong itu
"Maaf ya say, aku mau ke mobil dulu, aku ada jadwal zoom," Nella beralasan untuk pergi dari kehebohan yang dapat mengganggu pekerjaannya. Bahaya apabila terus ikut nimbrung, walhasil tulisannya akan ambyar–tidak rampung.
"Umamiii!" teriak Ranaya ketika melihat Nella keluar menuju pintu exit hall. Ranaya menghambur berlari menuju ke arah Nella. Nella yang diteriaki oleh Ranaya berhenti dan mempersiapkan mental sabar untuk menghadapi Ranaya.
"Ada apa sayang? Itu giliran Naya game point kan?" tunjuk Nella ke arena badminton.
"Umami mau ke mana?" rajuk Ranaya tidak mempedulikan ucapan Nella.
"Oh, Umami mau ke parkiran. Mau ngetik di mobil saja karena di sini cukup berisik untuk Mami menulis. Mami nunggu Naya sambil nulis d mobil ya, Sayang," bujuk Nella.
"Oh iya, Mi. Kirain ke mana?" sambut Ranaya.
"Ya udah, Naya ke sana gih! Mami tunggu di mobil ya. Nanti ashar Mami ke mushola hall, kita sholat bareng-bareng," ujar Nella.
"Iya, Mi. Daahh, Mami," Ranaya lalu berlari menuju ke arena badminton.
Nella melihat putrinya bertingkah aneh–tidak seperti biasa. Akhirnya, kurang lebih 2 jam dalam mobil, Nella dapat merampungkan tulisannya. Namun, pekerjaannya harus terhenti karena laptopnya lowbat. Adzan ashar berkumandang melalui pengeras masjid di lingkungan sekitar. Nella bersiap-siap turun untuk sholat ashar. Tiba-tiba belum sempat turun mobil, salah seorang orang tua peserta di club menghampiri Nella ke mobil dengan wajah cemas.
"Mami Naya!" panggilnya sambil mengetuk-ngetuk kaca jendela.
Nella membuka kaca jendela dan mendapat kabar bahwa Ranaya terpeleset dan terjatuh. Belum selesai info itu dia terima, dia melihat coach keluar dari hall sambil menggendong gadis kecil yang dia hafal betul warna kaosnya, Nella melongok melihat Ranaya dibawa ke mobilnya coach.
"Naya..," tercekat suara Nella. Pertanda dari Ranaya hari ini memang tidak ia abaikan, ia tidak sempat meninggalkam Ranaya jauh-jauh. Tapi memang qadarullah, Allah punya kehendak.
No comments:
Post a Comment