Pagi yang cerah membuat Nella ingin melanjutkan berkebunnya yang sudah ia mulai sejak kemarin. Ini hari kedua lebaran kurban. Ia masih bisa libur dari menulis, untungnya pekerjaan menulis sudah ia rampungkan untuk pekan ini, tetapi bukan Nella namanya kalau tidak di awali dengan mager-an. Ia berniat untuk baring kembali dan memeluk Ranaya, memang semalam Ranaya minta tidur bersama Umami dan Upapinya. Ranaya terbangun ketika dipeluk oleh Nella.
"Mi, jadikan hari ini kita berkebun lagi?" pertanyaan Ranaya membuat Nella kaget. Ternyata Ranaya sudah bangun.
"Eh, bangun tidur itu baca doa dulu dong, kok udah bahas soal berkebun," Nella menegur Ranaya lembut. Ranaya membaca doa bangun tidur dengan menggemaskan. Kemudian Nella segera menciumi putrinya itu. Ranaya tertawa dan teriak kegelian, berkali-kali Ia minta ampun dan memohon untuk tidak diciumi di bagian yang membuat ia kegelian.
Nella segera menghentikan ciumannya dan melepaskan Naya, ketika melihat putrinya kelelahan dan berusaha melepaskan diri darinya. Ranaya berusaha duduk dan menjauh dari Nella, ia mengulangi pertanyaannya tadi.
"Mi, jadikan berkebunnya?"
"Iya sayang, hari ini kita berkebun lagi, cantik dan pinternya Umami. Come on get up!"
Hmm… pinternya Upapi juga dong," tiba-tiba Raka ikut nimbrung.
"Hmm.. allright!"
"Berhubung semua sudah pada bangun. Sekarang semua bangkit dari tempat tidur. Seprainya mau diganti," ucap Nella sambil mendorong tubuh Raka ke pinggir tempat tidur, diikuti dengusan Raka lalu disambut tawa Nella dan Ranaya.
Nella segera bangkit dan turun dari tempat tidur. Ia membuka semua jendela termasuk jendela kamar. Dari kamar, ia dapat melihat sisa pekerjaan berkebunnya kemarin bersama Ranaya masih berantakan. Tanah humus masih tersisa dalam baskom, beberapa pot bunga kosong belum terpakai, dan tanaman-tanaman yang bertunas dan memiliki anakkan masih tergeletak. Ia menghela nafas panjang.
Pagi itu setelah sarapan, Nella dan Ranaya mulai berkebun. Nella mengeluarkan tanah dari pot, sementara Ranaya mengisi tanah baru ke dalam pot kosong tersebut. Ketika membantu Nella berkebun, tiba-tiba Ranaya meminta izin untuk bermain sepeda bersama teman-temannya yang lalu lalang bersepeda sejak tadi. Nella yang selalu memperhatikan Ranaya setiap teman-temannya lewat pun mengizinkannya bermain sepeda. Nella meminta Suti untuk mengeluarkan sepeda Ranaya dari garasi.
Nella melanjutkan pekerjaannya berkebun sendirian. Sekali-kali Ranaya lewat dengan sepedanya di depan rumah dan memanggil-manggilnya. Nella pun melambaikan tangan dan berpesan kepada Naya untuk selalu berhati-hati. Akhirnya pekerjaan Nella selesai. Beberapa tanaman sudah ditanam di pot-pot. Tersisa beberapa tanaman yang belum menemukan jodohnya–pot, dikarenakan pot kosong sudah tidak ada lagi, Nella terpaksa menanam tanaman itu di pekarangan samping rumahnya.
Nella berniat untuk membersihkan tanah yang menempel di ubin teras, tempat di mana ia membongkar tanah kering pada pot-pot dan menggantinya dengan tanah hitam–humus. Ia menyemprot lantai itu dengan turbo water 8 in 1 spray gun yang biasa digunakan Raka untuk mencuci kendaraan. Sekejap semua tanah yang menempel itu hilang dan ubin menjadi bersih. Ketika Nella hendak mematikan air keran, tiba-tiba ia tergelincir akibat sandal yang ia gunakan licin dan ia terjatuh, bokongnya terhentak hebat dan ia tertelentang.
Nella shock dan beberapa detik ia tidak berusaha bangkit. Ia mencoba mengingat-ingat bagaiman jatuhnya? Apakah kepalanya terbentur? Tidak ada yang melihatnya, kejadian itu begitu cepat. Nella tidak dapat menahan tubuhnya dan ia ambruk. Beberapa pot terkena tubuh Nella yang ambruk ke lantai, pot itu rebah dan tanah serta tanaman tumpah dan kembali mengotori lantai.
"Umamii!!!!," teriak Ranaya yang lewat dan melihat Nella masih tertelentang di lantai itu. Ia segera turun dari sepeda dan berlari menuju ke tempat Nella berada.
"Awas, Naya! Lantainya licin, Nak!" Nella berusaha memperingati Naya.
No comments:
Post a Comment