Setelah selesai memandikan Umma dengan mengelap badan Umma menggunakan handuk. Indah segera memasangkan baju–daster Umma. Indah bertanya kepada Umma siapa wanita yang tadi menyuapi Umma makan. Umma bercerita bahwa Kak Rivi mencarikan orang untuk menjaga Umma di saat ia bekerja. Wanita tersebut tinggalnya tidak jauh dari rumah Kak Rivi. Sudah sepekan ini Irma–wanita itu mengurusi Umma.
Langit sudah berwarna jingga, sebentar lagi akan kelam. Indah akan pamit kepada Umma, tetapi Indah ingin Umma mau ikut dengannya untuk menginap di rumahnya. Indah memberi isyarat untuk mengajak Umma ikut, Umma tersenyum dengan mengangguk.
"Besok saja. Hari ini Umma di sini dulu, besok Umma ke sana minta diantar oleh Rivi," sepertinya Umma tidak mau langsung ikut mungkin masih ingin di rumah Kak Rivi atau tidak enakkan sama Kak Rivi.
"Oh ya, janji ya besok. Indah tunggu," jawab Indah.
Kemudian Indah pamit kepada Umma, Kak Rivi, dan Abang buyung–suami Kak Rivi. Indah memeluk dan menciumi Umma, seperti enggan untuk meninggalkan Umma. Ia sangat ingin membawa Umma tapi Umma menolaknya dengan halus. Indah yakin betul bahwa Umma sangat menjaga perasaan Kak Rivi. Akhirnya dengan berat hati Indah pamit, mereka pulang tanpa Umma ikut serta. Indah juga sudah janji kepada Dyas kalau akan membawa Umma ke rumah mereka. Indah harus mencari alasan yang dapat dimengerti oleh Dyas.
"Indah, Umma mau ke rumah kamu, Nak. Umma diantar oleh Rivi dan Buyung," suara Umma dari load speaker telepon genggamnya Indah terdengar memang agak lemah tapi bersemangat menyampaikan kabar yang akan membuat anaknya itu senang bukan main.
"Oh iya Umma, hmm.. umma nggak kenapa-kenapa kan? Suara Umma kenapa parau?" Jawab Indah khawatir.
"Nggak pa-pa. Kamu ada di rumah kan, Ndok,?" Tanya Umma lagi. Waktu Indah ke rumah Kak Rivi kemarin, Indah mengatakan kepada Umma bahwa ia besok akan ada pelatihan full time.
"Umma, Indah nanti pulang pukul 6 sore. Di rumah ada Dyas dan Mas Yono. Nanti Indah kabari orang di rumah ya, Umma," balas Indah.
"Fii amanillah Ummiiiii," tutup Indah setelah mendengar Umma mengiyakan.
Di tempat pelatihan, fikiran Indah sudah tidak menentu. Ia ingin ketika Umma sampai di rumah, ia harus sudah ada menyambut Umma. Tapi apa daya, Indah tidak kuasa untuk itu. Jadwal pelatihan sore ini adalah tugas ia presentasi tugasnya. Ia pasrah, ia menghubungi Mas Yono, suaminya. Ia meminta suaminya menyiapkan kamar Umma dengan sprei baru dan ruang disemprot dengan penyemprit serangga dan mengganti parfum ruang kamar Umma.
Setelah mendapat kabar dari suaminya bahwa Umma sudah sampai di rumah, Indah semakin pecah fokus, ia sudah tidak sabar untuk pulang. Setelah kegiatan sore itu berakhir, ia segera menghambur ke luar gedung hotel tempat pelatihan berlangsung. Ia menuju ke area parkir motor, ia kenakan helm dan sarung tangan. Setelah menyalakan mesin ia melaju keluar pelataran parkir hotel.
Di jalan ia membayangkan baka menghabiskan malam bersama Umma, bercerita seperti dulu tentang masa kecil, remaja, kuliah, dan bahkan tidak jarang Umma yang bercerita tentang banyak hal. Mengobrol bersama Umma biasa dilakukan Indah sambil berbaring di pangkuan Umma, umma mengusap rambutnya sambil menggaruk-garuknya.
"Umma, bentar lagi Indah sampai," lirih Indah berucap dan hanya dia yang dapat mendengar suaranya dalam helm SNI tertutup kaca transparan itu. Tiba-tiba ada kendaraan yang melaju kencang tepat di depan Indah, dengan sigap Indah membanting stang motornya ke pinggir jalan, tetapi tanpa Indah sadari ada motor yang melaju kencang dari arah belakangnya. Hampir saja motor itu menabrak Indah, tapi bersyukur Indah berhasil sampai ke pinggir terlebih dahulu sebelum motor itu menuju ke arahnya.
"Astagfirullah, Alhamdulillah Ya Allah, Umma Indah nggak apa-apa Umma, Indah pengen segera ketemu Umma," ujar Indah sambil berhenti menenangkan dirinya yang shock, Indah baru mengamati sekitarnya yang tengah riuh, kendaraan di sana membunyikan klakson kendaraannya bersahut-sahutan. Ternyata 300 meter dari tempat indah menepi, motor yang melaju kencang tadi tertabrak oleh sebuah truk pengangkut sayur.
"Ya Allah," Indah menangis melihat kejadian di depan matanya. "Semoga mereka baik-baik saja," doa Indah untuk pengemudi dan penumpang kedua kendaraan tersebut.
Indah tidak berani menghampiri lokasi kejadian, ia sangat terkejut dengan yang baru saja ia alami. Ia hendak menghubungi Mas Yono, ia rogoh bagian dalam tasnya untuk meraih ponsel, tetapi tiba-tiba ada panggilan masuk ke ponselnya.
"Mas Yono," batin Indah melihat nama kontak yang memanggil.
"Hmm.. kuat juga feeling suamiku," ia tersenyum kecil.
"Assalamualaikum, Dek. Hmm… kamu di mana? Belum sampai di rumah kan? Kamu lang…sung ke rumah sakit Hara…pan ya," tidak begitu jelas suara Mas Yono terdengar oleh Indah.
"Halo Mas, halo.. ke mana? Rumah sakit? Siapa Mas yang sakit?"
"Iya, ke rumah sakit Harapan. Ibu, Dek," jawaban Yono membuat Indah terdiam dan tidak bisa berkata-kata lagi, ia segera memasukkan ponsel ke dalam tas kemudian Indah melaju motornya menuju ke rumah sakit yang disebutkan oleh suaminya tadi.
"Umma, tunggu Indah," tangis Indah pecah.
No comments:
Post a Comment