Indah mendekati Umma, Umma melihat kehadiran Indah langsung menangis. Umma menahan rindu yang cukup dalam. Indah tidak sanggup melihat ekspresi Umma ketika merentangkan tangannya ingin memeluk Indah. Segera Indah memeluk Umma dan menciumi Umma. Yono tidak kuasa menyaksikan kesedihan di depan matanya. Ibu dan anak itu sama-sama rindu berat dan saling melepas rindu. Yono beranjak keluar untuk memberi ruanh kepada Istri dan mertuanya melepas rasa yang pernah ada, dan akan selalu ada.
"Maaf Mbak, kita keluar dulu yuk," dengan sopan Yono mengajak Mbak yang tadi bersama Umma dan sedang menyuapkan Umma bubur nasi dengan kuah sop itu.
Mbak itupun mengikuti ajakan Yono untuk keluar, Ia lalu menuju ke dapur. Sementara Yono duduk di ruang tengah menyaksikan siaran televisi yang dari tadi tidak ditonton. Yono mengganti saluran televisi beberapa kali sampai ia menemukan siaran yang cocok untuk ia tonton.
"Eh, Dek. Mau minum apa?" Kak Rivi bertanya kepada Yono.
"Hmm, apa aja, Kak. Oh ya, abang mana, Kak?" Jawab yo disambung dengan bertanya balik.
"Oh, abang hari ini melatih anak di gedung. Sebentar lagi pulang kok. Kaliam dari mana?" Tanya Kak Rivi sambil menuju ke dapu untuk membuatkan Yono dan Indah minuman–teh panas.
"Dari rumah, Kak. Semalam Indah bilang mau ketemu Umma,"
Setelah membuatkan minuman hangat untuk Yono dan Indah, Kak Rivi menyajikannya di meja di mana Yono duduk dan mempersilakan kepada Yono–adik iparnya itu untuk minum dan memakan snack sore yang dia hidangkan.
Kemudian Kak Rivi pamit dan berjalan menuju ke bilik Umma, Kak Rivi akan mengetuk pintu tiba-tiba ia menghentikan niatnya untuk mengajak Umma mandi. Kak Rivi berbalik tidak jadi masuk ke kamar ketika melihat Indah dan Umma tengah asyik bercengkerama.
"Eh Kak, mau ke mana? Itu air hangat dan handuk untuk membersihkan badan Umma ya, Kak?"
"Eh iya, In. Sekarang jadwalnya Umma untuk mandi. Kalau sore lagi takut Umma kedinginan," jawab Kak Rivi sambil memutar badan kembali menghadap ke dalam kamar.
"Cuma tadi Kakak liat kamu dan Umma lagi serius ngobrolnya,"
"Oh, nggak kok Kak haha," Indah tertawa kecil. "Ini Umma cerita aja dan kita sedang ngobrol biasa saja kok," jawab Indah.
"Biar Indah yang melakukannya ya, Kak," Indah meminta baskom yang dipegang oleh Kak Rivi sekaligus handuk yang ditaruh Kak Rivi di pundaknya.
Kak Rivi hanya tersenyum menyerahkannya kepada Indah. Indah memberitahu kepada Umma bahwa sudah waktunya Umma mandi. Umma menurut saja ketika Indah membuka pakaian–daster Umma. Indah menutup beberapa bagian tubuh Umma dengan kain, kuatir Umma dingin terpapar kipas angin. Indah mulai mengusap bagian-bagian tubuh Umma yang sudah lemah itu menggunakan sapu tangan handuk yang permukaannya lembut. Indah meneteskan air mata melihat kondisi tubuh Umma yang lebih kurus dari sebelumnya. Kak Revi meninggalkan Umma dan Indah berdua saja di kamar.
"Ya, Allah, dulu Umma yang mandikan Indah Ya, Umma. Dulu Indah lasak lari ke sana ke mari, Umma selalu bilang hati-hati cah ayu, lantainya licin," tidak terasa Indah menangis tersedu.
"Kalau Indah demam Umma yang lap badan Indah dengan kain seperti ini," tambah indah.
Indah tambah sedih ketika ia teringat salah satu ceramah yang pernah ia dengar dari seorang ustaz di channel youtube yang isi ceramahnya tentang perbedaan cara merawat ibu ke anaknya yang kecil dengan anak merawat orangtua yang sudah renta.
Penggalan ceramah itu berbunyi seperti ini "Orang Tua kepada anaknya dari kecil dimandikan dengan harapan dan doa agar kelak anaknya bisa tumbuh besar dan kelak menjadi orang yang sukses. Sementara anak yang mengurus orang tuanya yang sakit atau usia senja dengan harapan orang tuanya segera mati agar tidak menyusahkan," Indah tersentak mendengar ceramah itu. Indah tidak mau menjadi anak yang durhaka. Ia sangat menyayangi Umma. Ia istighfar mendengar isi ceramah tersebut.
"Um, Indah jadi ingat ketika Indah memandikan Dyas di rumah, lasaknya kayak indah dulu,"
"Umma pasti kerepotan. Tapi Umma sangat sabar, indah nggak sesabar Umma," ujar Indah sesenggukkan sambil mengusap kain handuk ke setiap inci tubuh Umma.
Umma meraih tangan indah dan tersenyum. Senyum Umma masih semanis dan seteduh dulu. Indah segera menyudahi mengusap tubuh Umma, Ia segera mengeringkan tubuh Umma demgan sebuah handuk. Umma kembali meraih tangan Indah, sepertinya Umma ingin menyampaikan sesuatu.
No comments:
Post a Comment