Cerbung-Bagian 2
![]() |
| babab.net |
Setelah menghabiskan jatah masing-masing semangkuk bakso sembari ditemani oleh pertunjukkan stand up komedi dari Yanti yang super kocak dan santai, suasana mulai mencair. Mereka sudah mulai saling bicara tentang harapan dan pencapaian di program KKN ini. Lokasi KKN mereka berpencar tidak ada yang mendapatkan satu lokasi, tapi mereka sepakat untuk saling memberi kabar dan berbagi pengalaman selama di tempat KKN. Kemudian mereka saling pamit dan berjanji akan kembali dengan membawa kisahnya masing-masing
***
Sesampainya di rumah, Elly menyiapkan segala sesuatu untuk dibawa ke lokasi KKN. Ummi sudah menyiapkan semua yang ia perlukan nanti di sana. Ini adalah kali pertama ia harus pergi meninggalkan rumah dalam waktu yang lama-tiga bulan.
Keyakinan yang tertanam di benaknya tentang cerita KKN yang bakal seru dan menyenangkan seperti kata teman-temannya terbayang sudah. Bukan ia yang sedih karena akan meninggalkan rumah, tetapi ummi lah yang terus-terusan merasa khawatir dan sedih bakal ditinggal anak gadis bungsunya ini. Banyak sekali wejangan; pesan, peringatan, dan aturan yang Ummi sampaikan, Elly hanya merespon dengan iya, iya, dan iya saja. Tiba waktunya Elly pamit kepada Ummi dan Abi, Ummi terbawa suasana dan menangis melepas putrinya itu. Abi menghibur Ummi dan mengingatkan agar ummi lebih baik melepas Elly dengan do'a dan pikiran-pikiran yang baik.
***
Elly dan teman-teman se-poskonya yang berasal dari berbeda fakultas sudah berkumpul bersama di balairung universitas. Mereka akan berangkat hari ini menggunakan 4 minibus. Sebelum berangkat, mereka terlebih dahulu melakukan briefing bersama dosen pendampingnya dalam beberapa menit. Mereka diberikan penjelasan tentang lokasi KKN, mulai dari keadaan sosial, budaya, agama, dan geografisnya.
Dosen pendamping posko menjelaskan mengenai teknik penilaian dan aturan selama berada di lokasi. Ada larangan pulang jika tidak mengantongi izin dan akan ada kunjungan dadakan dari dosen pendamping, serta peserta harus dapat menjalankan program-program mereka di lokasi KKN dan selama program ini berlangsung. Mereka juga diingatkan untuk bersikap sopan, santun, rajin, dan menjaga sikap, perkataan, serta norma-norma yang ada.
***
Mereka telah sampai di lokasi KKN sore hari setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih tiga jam bebas hambatan. Mereka disambut oleh pak kades beserta ibu dan beberapa warga desa. Elly dan teman-temannya mengamati lingkungan sekitar dan tersenyum ramah kepada warga yang menyambut mereka. Mereka diajak ke balai desa, di sana mereka dijamu makan bersama dan saling berkenalan. Pak Kades dan Ibu sangat ramah, mereka langsung terlihat akrab. Setelah jamuan usai, Elly dengan beberapa mahasiswi lainnya mengikuti bu kades yang menunjukkan letak posyandu dan tanaman toga di sekitar balai desa. Tidak terasa mereka terus menyusuri jalan setapak desa. Mereka melewati rumah-rumah warga, setiap bertemu warga mereka saling menyapa dan berkenalan. Menjelang magrib, mereka segera diantar ke tempat yang sudah disiapkan untuk mereka tinggali selama berada di desa itu.
***
Pak Kades pamit untuk menghadiri undangan di desa sebelah. Lalu, pak sekdes dan beberapa warga menemani mereka–peserta KKN ke rumah–posko KKN. Sesampainya di lokasi, Elly melihat kondisi posko itu. Terdapat dua rumah kosong yang baru saja disulap menjadi tempat tinggal. Kedua rumah itu hanya dipisahkan oleh sebuah pohon jambu air yang sangat besar, rumah sebelah kanan diperuntukkan khusus untuk mahasiswa dan yang kiri untuk mahasiswi. Di bawah pohon itu ada tempat duduk yang terbuat dari papan, kelihatan sudah mulai lapuk. Rumah itu juga terbuat dari papan dan beratap seng.
Elly menyapu pandangannya ke halaman depan rumah, keadaan halaman di depan rumah tampak gersang, tidak ada tanaman hijau, pohon peneduh lainnya atau bunga-bunga yang dapat membuat penampakkan rumah tersebut terlihat asri. Elly menarik nafas panjang, tidak sengaja ia melihat kepada seorang pemuda yang berdiri tepat di belakang pak sekdes, pemuda itu tersenyum kepadanya, dengan ragu ia membalas senyuman itu.
"El, kita masuk yuk," ajak Vita anak fakultas ekonomi teman sebangku Elly ketika di minibus.
"Tadi aku udah ke dalam, pas aku mau taruh tas, kayaknya di dalam lantainya kotor karena ada bubukan rayap berjatuhan dari dinding," bisik Vita.
"Kamu bawa sapu kan?" tanya Vita.
"Oh, iya aku bawa tadi aku titip ke Erika. Erika mana?"
"Erika udah di dalam," Vita menunjuk ke rumah, mereka lalu masuk ke dalam posko putri itu.
Tampak para mahasiswa lainnya sudah menyebar, ada yang langsung masuk ke rumah ketika sudah dipersilahkan, lalu ada mengecek kamar mandi, dapur, dan melihat kondisi air di rumah itu. Ada yang duduk-duduk dan ngobrol di bawah pohon jambu air yang besar–diameter batangnya tidak bisa dipeluk oleh dua lengan orang dewasa, serta ada yang berbaring di ruang tamu berlantaikan semen acian.
Sesampai di dalam rumah, Elly langsung menyapu lantai ruang tengah untuk tempat meletakkan barang-barang. Vita menyusun barang ke tempat yang sudah disapu. Tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam kamar di posko putri.
"Aaaaa….. tolong!" semua kaget dan berhamburan menuju sumber teriakan. Elly yang posisinya tepat di depan kamar segera masuk dan melihat apa yang terjadi dengan Erika.
"Ada apa, Rika?" Elly dan Vita melihat Erika–mahasiswi pertanian itu ketakutan.
"Ituuu! Apa itu?" Erika tampak ketakutan menunjuk sesuatu menggantung di kelambu. Kelambu itu berukuran sangat besar yang menutupi hampir seluruh ruang kamar tersebut, ukurannya yang jumbo memang dipasang untuk memuat semua mahasiswi di posko tersebut.
Karena hari sudah gelap, cahaya di kamar itu remang-remang dengan bohlam watt kecil. Chris yang sudah ada di sana, segera menyalakan senter yang ia pegang dan mengarahkannya ke tempat yang ditunjuk oleh Erika.
"Awas, Rika! Kamu diam di sana. El, pinjam aku sapu itu!" Jojo ketua posko segera meminta sapu yang sedang dipegang oleh Elly.
TbC...
.jpeg)
No comments:
Post a Comment