HOME

Saturday, July 23, 2022

Menariknya Working Mom

ngodop.com


  • Judul Cerpen: Working Mom
  • Oleh: Erlina Anriani Siahaan


"Aku benar-benar menghirup oksigen kehidupanku. Walaupun aku harus bekerja bagai Unicorn yang persis kuda jantan, tetapi aku benar-benar menemukan esensi dan makna hidup yang benar-benar bergairah dan penuh kata syukur."


Penggalan paragraf di atas saya kutip dari cerpen yang berjudul Working Mom. Dari penggalan itu, membuat saya berpikir dan tersadar bahwa kebahagiaan itu kita yang rasakan dan kita yang ciptakan, sementara imbas dari rasa itu adalah orang-orang yang ada di sekitar kita. Setuju kan dengan saya? Setuju dong.


Baiklah, kali ini saya akan mencoba untuk mendeskripsikan sebuah cerpen yang saya ambil dari ngodop.com, cerpen ini ditulis oleh seorang wanita yang bekerja sebagai ASN yang berdomisili di Pematangsiantar. Dia adalah penulis A Mural for Rain. Dia adalah seorang ibu tunggal atas tiga orang anak yang menjadi permata jiwanya.


Pada tulisan ini, saya tidak hanya akan mendeskripsikan tentang isi cerpen ini, tetapi saya juga akan membahas tentang mengapa saya tertarik dan memilih untuk mengulas cerpen ini sebagai salah satu cerpen yang memiliki konflik yang paling menarik? dan saya juga akan mencoba untuk mengulik unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik cerpen. 


Menarik buat saya ulas tentunya cerpen ini juga akan menarik untuk dibaca oleh kalian. Hal yang menarik bagi saya adalah cerpen Working Mom ini berkisah tentang seorang ibu tunggal yang bekerja. Ia memiliki kesibukan yang sangat padat. Semangat dan ketangguhannya perlu diacungi jempol. Ketiga anaknya dibesarkan, dididik, dan dicukupkan semua kebutuhannya sebagaimana anak-anak di luar sana yang kedua orangtuanya masih lengkap. 


Dikisahkan, "aku"–tokoh utama dalam cerpen menceritakan tentang kebahagiaan paripurna yang ia rasakan setelah ia berhasil bercerai, lepas dari kungkungan–belenggu hidup. Setelah perceraiannya, Si "Aku" kini lebih fokus merawat anak-anak, berusaha mengendalikan psikologi anak-anak dengan menghabiskan waktu bersama mereka, mengajak mereka liburan, berenang, mengikuti sanggar melukis, dan bermain serta mengikuti les tambahan. 


Walaupun Si "Aku" ini mengalami kesulitan finansial, kerepotan, selalu buru-buru, tergesa-gesa, ngos-ngosan—nyaris lupa bernapas, dan lega saat tiga makhluk kecilnya benar-benar bisa tidur pulas, tetapi jiwanya benar-benar merdeka dan anak-anak lebih bahagia, bahkan mereka bahkan tidak harus rutin ke dokter lagi.


Si "Aku" yang telah dapat mengukir gemintang malam. "Aku" yang mau dunia benar-benar gemerlap. Tawa ria di mana-mana. Wajah lepas. Tanpa kemelut. Tanpa dualisme sandiwara yang mengharuskannya tersenyum walaupun di dalam hancur lebur. "Aku" mau semesta merdeka; tanpa duka dan lara. Sebab hidup terlalu sempurna untuk dikungkung penderitaan. Bahagia adalah kemerdekaan setiap insan, terlebih perempuan.


Saya bersyukur sekali telah membaca cerpen yang ditulis dengan diksi yang berbeda dari cerpen kebanyakan ini, diksinya sangat mewakili emosi penulis. Kebanyakan penulis menggunakan majas alegori menjurus hiperbolik dalam mengungkapkan sesuatu. 


Cerpen ini sangat menarik untuk diselami, setelah dibaca betapa dalam penghayatan si penulis dalam menulis cerpen ini. Pada awalnya saya hanya membaca judul cerpen, saya berpikir cerpen ini hanya berisi seputar ibu yang repot mengurus anak sambil bekerja. Namun, setelah diselami ternyata kisahnya sangat menggugah hati nurani saya sebagai seorang istri dan ibu yang bekerja dengan satu orang anak.


Di satu sisi saya malu kepada diri sendiri sebagai seorang istri yang memiliki seorang suami yang sangat perhatian dan peduli, serta baru memiliki satu anak yang tentu repotnya tidak sebanding dengan tokoh Aku dalam cerpen tersebut. Saya sangat kagum akan sosok Aku dalam cerpen ini. Konflik dalam diri dan orang-orang sekitar juga norma yang berlaku dimasyarakat aib perceraian berhasil ia tepis. Dia adalah sosok perempuan–ibu dari 3 anak yang luar biasa tangguh. Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk mengulasnya pada tantangan menulis pekan ini.


Hal menarik lainnya adalah, saya dan kalian semua yang membaca cerpen ini akan banyak mendapat pembelajaran yang luar biasa menjadi sebagai seorang ibu, khususnya ibu tunggal. Jadi, bagi istri yang memiliki suami yang baik kalian harus bersyukur masih bisa menjalani tugas kalian dengan seimbang, tetapi bagi kalian ibu tunggal, kalian jangan putus asa cerpen ini banyak sekali mengisahkan betapa ibu tunggal harus tangguh demi anak-anaknya. Dengan melihat anak-anak bahagia maka kalian pun akan lebih bahagia. 


Pada cerpen yang berjudul Working Mom ini terdapat unsur Intrinsik dan Ekstrinsik. Berikut saya urai mengenai kedua unsur dalam cerpen tersebut.



  1. Unsur Intrinsik


Tema cerpen ini bertema sosial tradisional tentang hubungan antar anggota keluarga : suami, istri dan anak-anaknya.


Menurut saya alur Cerita pada cerpen ini gabungan/campuran, bagian awal alur mundur, kemudian  bagian selanjutnya menggunakan alur/plot maju. 


Sementara untuk tokoh dan Penokohannya, tokoh utamanya adalah Aku, Sang Mama, dengan ketiga anaknya : Si sulung Duma, Stephan, dan Si bungsu  Helen. Aku merupakan tokoh perempuan bekerja yang telah bercerai dari suaminya, sekaligus mama bagi 3 orang anaknya. Tokoh aku awalnya terpukul atas kejadian perceraian tersebut, tetapi selanjutnya memilih untuk mengubah dirinya dengan memutuskan menjadi single parent yang menikmati tugas sebagai Mama bagi ketiga anaknya, mendidik dengan penuh kasih sayang, dengan tetap semangat bekerja sebagai ‘pengajar’. Ketiga anaknya juga digambarkan sebagai anak-anak yang baik, tidak rewel dan mengerti kondisi Mamanya. 


Pada cerpen ini dapat kita ketahui latar tempat di rumah–kediaman tokoh aku dan waktunya pagi hari sebelum berangkat kerja dan sekolah


Mengenai sudut pandang cerpen, penulis menempatkan dirinya sebagai aku–tokoh utama dengan sudut pandang orang pertama yang membuat kisahnya terasa sekali emosinya bagi pembaca. Gaya Bahasa pada cerpen ini penulis acap kali menggunakan majas alegori menjurus hiperbolik, seperti ungkapannya: “Setiap Wanita adalah tiang pundi-pundi tawa dan bilangan semesta yang akan terus bertambah di pangkuannya”. Juga kalimatnya : “Itu menurut galaksi dan semesta, bahkan menurut alam bawah sadarku”. 


Amanat–pesan utama dari cerita ini adalah pentingnya sikap optimis dalam menghadapi kehidupan, hidup ada pasang surutnya, jalani dan nikmati dengan penuh semangat.

 

  1. Unsur Ekstrinsik


  • Latar belakang penulis : Penulis, yakni Erlina Siahaan adalah seorang ASN, berusia 34 tahun, seorang ibu tunggal atas tiga orang anak dan bertempat tinggal di Pematangsiantar, Sumatera Utara. 

  • Latar belakang masyarakat cerpen ini berkisah tentang dinamika seorang ibu tunggal pasca bercerai dengan kesibukan bekerja dan mengurus sendiri ketiga anaknya

  • Nilai agama yang terkandung
    dalam cerpen ini tokoh aku sangat memegang nilai-nilai religi, dengan semua kesulitan yang ia alami semua ia serahkan kepada tuhannya. Memiliki keluarga yang sangat mensupport semua keputusannya tampak nilai sosial yang ditonjolkan, selanjutnya nilai moral pada cerpen ini adalah bercerai bukan aib. Sebab hidup terlalu sempurna untuk dikungkung penderitaan. Bahagia adalah kemerdekaan setiap insan, terlebih perempuan. Penulis juga menceritakan tentang tokoh aku yang mengutamakan kondisi psikis anak-anaknya dari kutipannya "jiwaku benar-benar merdeka dan anak-anak lebih bahagia"



Kalian pasti penasaran dengan cerpen ini, kunjungi saja ngodop.com lalu pilih menu lakon kemudian kalian akan menemukan sebuah cerpen yang berjudul Working Mom. Oh iya dalam cerpen ini juga dikisahkan penyebab dan bagaimana tokoh utama mengakhiri penderitaannya dari kelaliman suaminya. Lalim seperti apa? Cari tahu di Working Mom!


Sekian dulu ulasan dari saya tentang cerpen yang menurut saya sangat menarik ini dan menyematkan konsisten pada keputusan yang sudah diambil.

   




No comments:

Post a Comment