HOME

Friday, July 08, 2022

Aku Pasti Bisa

"Yaa, aku harus berubah!"

itu tekadku.


Sesuai sarannya jika dalam kondisi begini agar aku keluar rumah untuk menghirup udara pagi yang segar. Aku langsung bangkit dari tempat duduk itu, tempat yang untuk kesekian kalinya membuaiku akan kesedihan syahdu tak berujung.


Kubuka lemari plastik untuk menyimpan khimarku, kupilih dan kenakan salah satu yang berwarna abu-abu,


"hmm…," aku bercermin, kemudian aku beranjak menuju pintu teras samping rumah. Terlintas kembali peristiwa malam itu, emosiku tak terkendali sehingga membentak dan memakinya. Sudah keterlaluan sikapku kepadanya.


"Aku mau berubah, ini bukan aku," luka batinku begitu dalam sehingga membuat sisi dalam diriku ini seperti bukan aku.


"Akankah ini berhasil?" ucapku dalam keraguan


Kulanjutkan langkah kakiku. Pelan.., ya perlahan, karena aku tak hendak membangunkannya dari tidur. Aku putar kunci pintu lambat-lambat agar tak berdenting sehingga dapat mengejutkannya. 


"Yeah, aku berhasil! pekik ku pelan.


"Oh tidak, pintu teralis lagi, hmm…, semoga tidak berderik,"


Ketika pintu terkuak, terasa udara sejuk menyentuh pipiku, air mata yang tadi mengering di pipi membuat pipiku terasa meregang, kusentuh pipiku dengan lembut. Semakin lebar daun pintu itu kubuka, mataku semakin liar menatap ke luar, satu persatu yang melintas dan terekam oleh lensa mata. Kurasakan udara pagi itu dingin menusuk tubuh.


Tanpa sadar, aku sudah melangkah di ubin teras samping, sejuknya ubin terkena sisa embun dan tempias air hujan menusuk telapak kaki yang tanpa alas kaki. Kusebar pandanganku kembali,


"Lihat langit," perintah otakku. Kemudian aku menatap langit, spontan lirih aku memanggil namaNya


"Ya Allah… tolong aku. Hanya Engkau yang dapat menolongku," tiba-tia aku terpukau dengan suara burung yang berkicau, kokokan ayam jantan, suara semilir angin berhembus mengibas khimarku ke sana ke mari, dan suara gemericik air hujan dari atap teras menuju tanah bebatuan taman mini milikku.


Sudah lama tak kujamah tanaman-tanamanku. Nanar kutatap satu per satu tanamanku, baik yang berada di dalam petak-petak beton yang berisi tanah dan aglonema maupun yang di dalam pot-pot tampak sirih gadingku gersang, layu, dan kering.


"Lembutkan hatiku, Wahai Pemilik hati…," kusapu lingkungan sekitar dengan mataku, tampak rumput dan gulma memenuhi tebing di samping rumah.


"Ahh.. sudah bersemak," pikirku. 


Terlihat pula saluran mampet akibat dipenuhi pasir yang dibawa air ke sana.


"Hmm.. Ya Allah mudahkan segala urusanku,"


Akibat gravitasi, semua makhluk di bumi tidak menyadari bahwa bumi telah berputar, termasuk aku karena tampak hari sudah semakin terang. Matahari mulai naik.


"Ah… aku harus segera mandi dan berdandan jangan seperti biasa, yang selalu tampak pucat, kusam, dan berantakan di hadapannya,"


Segar tentunya, sudah lama sekali kebiasaan mandi pagi kuabaikan. Aku tatap wajahku di cermin.


"Ve, please back!" setelah ku oles tipis lipstik nude pada permukaan bibir kemudian aku mengepang rambut ke belakang lalu aku menuju tempat kerja–dapurku.


Aku menyiapkan sarapan–menu spesial untuknya. Sesekali aku melihat ke arah kamarnya,


"Yaa.. dia belum bangun, juga" kemudian aku terdiam, 


"Bagaimana nanti sikapku ketika ia bangun? Apa alasanku kalau ia bertanya kenapa pagi ini aku tampil beda? Ah… sudahlah, mengalir sajalah…,"


Setelah semua siap dan tersaji, kulihat dari balik jendela hujan semakin lebat. Air hujan membawa semua kotoran turun ke bumi dan dihanyutkan olehnya melalui selokan-selokan serta celah-celah.


Kubawa secangkir teh dan melangkah menuju ruang tamu, aku ingin menyeruputnya sambil membersamai turunnya titik-titik air. Kutatap ruang sunyi ini, ruang yang selama ini terasa mati tidak berfungsi. Aku hampir lupa kalau di rumah ini aku juga memiliki ruang yang nyaman ini, bukan hanya memiliki kamar dan dapur saja, bahkan aku punya ruang keluarga, ruang tamu, bahkan teras.


Aku duduk dan menikmati minuman hangat ditemani oat cookies with chocolate chip kesukaanku. Tiba-tiba Ia keluar dari kamar dan mendapatiku tengah berada di ruangan yang terasa sunyi jika hanya diisi olehku sendiri ini, kulambaikan tanganku kepadanya.


Bahagianya, pagi ini ia tidak melihatku murung dan terpuruk dalam tangis tragis seperti yang sudah-sudah. Rencanaku berjalan sesuai mauku. Aku tidak boleh begitu terus, aku harus terlihat cantik, cerah, dan ceria.

No more pain di hadapannya. 


"Hmm… banjir nggak?" Ia bertanya dan segera menghampiriku setelah melihat senyuman termanisku ke arahnya.


"Dari semalam hujan, apa nggak banjir?" Ia menoleh ke jendela, kemudian beranjak menuju ke teras samping.


"Alhamdulillah nggak banjir," jawabku kemudian segera berdiri. Sebenarnya aku juga khawatir. Kemudian aku membuka kunci pintu depan. Sebelum keluar aku mengenakan khimarku kembali dan tak lupa memakai mantel hujan berpenutup kepala terlebih dahulu. Aku bermaksud ingin menghanyutkan pasir dan tanah yang memenuhi selokan di samping dan depan rumah. Dengan bantuan arus air hujan yang mengalir biasanya pasir-pasir yang tertimbun di sana lebih mudah hanyut.


Semua pasir-pasir itu kudorong menggunakan garpu tanah lalu habis tidak bersisa hanyut dibawa air yang banyak dan sangat deras di selokan. Pandanganku tertuju kepada tanaman puring-puring cabai di pagar rumah.


"Sudah semak," batinku. Aku bermaksud untuk merapikan dengan mematahkan cabang tanaman yang sudah tinggi dan sudah melewati tingginya pagar, agar terlihat lebih rendah dan tertata. Namun aku berubah pikiran, justru menurutku dihabiskan dan dibasmi saja tanaman itu, selanjutnya akan kusebar tanaman jenis bambu, bambu kuning, dan maka taman kecil di depan kamarku ini akan terlihat bersih.


Setelah selesai dipangkas dan disapu, taman kecilku tampak terang, tidak ada lagi kekhawatiranku seperti selama ini akan menemukan hewan berbisa melata bersembunyi di sana. Lalu aku mencoba untuk membersihkan dedaunan di pucuk bambu kuning di pojok pagar yang sudah menjuntai ke bawah. 


Akhirnya, dengan berbasah-basahan diguyur hujan, aku membersihkan tanaman di dalam hingga di luar pagar. Aku tebas semak belukar yang berada di samping rumah dengan menggunakan golok yang tidak berkepala. Tiba-tiba karena batang-batang kayu yang kutebang itu besar, maka ayunan tanganku juga kuat menahan ayunan golok itu. Tidak jarang beberapa kali kuhentakkan golok dan ia memantul, sehingga membuat dua ruas jari tanganku lecet akibat menahannya.


Masih di bawah rintik hujan, aku selesaikan pekerjaan yang sudah terlanjur aku mulai ini. 


"Done!" aku puas melihat semua bersih, aku dan dibantu olehnya‐kami bekerja sama merapikan semua sampah daun yang berserakan.


Selanjutnya, kami pergi mandi dan mengganti pakaian yang basah kuyup tadi. Aku buatkan minuman hangat untuknta, juga untukku. Kami sarapan bersama.


Kutatap ia, tidak perlu dijelaskan bahwa aku niat akan berubah, seperti yang acap kali aku ucap sebelum-sebelumnya. Dia akan rasa dan tahu dengan sendirinya. Aku pasti bisa berubah demi dia, pasti! Tidak lagi menjadi seseorang yang temperamen kepada siapapun, lebih-lebih kepadanya.


18 comments:

  1. Semangat kak. Ini lah gambaran wanita tangguh sepanjang masa, xixi

    ReplyDelete
  2. Kak Leta ... ceritanya mengalir. Hanya saja ada yang missing (alasannya si aku ingin berubah karena apa).
    Peristiwa tragis apa yang membuat si Aku sampai sebegitu mempengaruhi kehidupannya.

    ReplyDelete
  3. ceritanya bagus, mengalir, tapi speertinya ada yang putus, berubah dari yang kondisi bagaimana kak

    ReplyDelete
  4. Ceritanya bagus dan sangat menginspirasi kak.

    ReplyDelete
  5. Bagus ceritanya bund. Cuma ada yang terlewat apa yaaa...

    ReplyDelete
  6. Cerita nya bagus ta, mengalir, sudah makin keren nih tulisan cerpen nya ta

    ReplyDelete
  7. gambaran tentangan kesedihan yang dirasakan benar-benar merasakan ikut larut dalam kesedihan yang di rasakan. untuk endingnya ada semanagt jadi ikut terbangkitkan . keren

    ReplyDelete
  8. Sebuah dialog diri yang sungguh menarik untuk dibaca ❤️❤️ sedikit koreksi kak, tadi membaca banyak tulisan *bathin* nah yang sesuai KBBI batin. Semangat terus menulis kak ☺️

    ReplyDelete
  9. tulisan kak lita makin hari makin bernas ya, terasa banget tulisannya itu kebawa perasaan kak.

    ReplyDelete
  10. wah keren nih, wanita yang tangguh patut jadi panutan

    ReplyDelete