Cerbung-Bagian 1
![]() |
| manadotopnews.com |
Semua mahasiswa yang dinyatakan layak untuk mengambil mata kuliah KKN (Kuliah Kerja Nyata) berkumpul di aula untuk mendengarkan arahan dari pendamping program KKN hari ini. Setelah mereka menerima segala informasi yang dianggap perlu, mereka dipersilakan untuk melihat daftar nama dan tempat atau lokasi KKN masing-masing pada kertas yang ditempel di beberapa papan pengumuman, papan-papan itu diletakkan di beberapa tempat–penjuru mata angin di sekitar gedung. Berdasarkan pengarahan dari kepala program KKN, mereka–mahasiswa peserta KKN akan disebar ke beberapa kabupaten/kota dalam provinsi tersebut.
Elly dan Awie bersama-sama melihat daftar nama, mereka saling mencari nama masing-masing. Awie menemukan namanya duluan, ia tampak senang sekali dan mengucapkan syukur karena mendapat lokasi lebih dekat dari kota di mana mereka tinggal saat ini. Melihat itu, Elly ikut senang dan mengucapkan selamat kepada sahabatnya. Kemudian ia kembali fokus pada papan pengumuman yang ada di depannya. Awie melihat Elly masih mencari-cari nama, ia melihat sahabatnya itu sudah hampir putus asa untuk menemukan namanya. Kemudian, ia menepuk lembut pundak Elly dan memberikan senyuman tulus untuk menyemangati, selanjutnya Awie ikut membantu Elly untuk mencarinya.
"Halo gaes! Eh aku dapat di desa Danau Kecil, Muaro Jambi loh. Deket banget dan pastinya aku bisa sering-sering pulang ke rumah," tiba-tiba Awie dan Elly dikagetkan oleh Yanti. Mereka saling menatap.
"So, aku ga akan homesick dong," tambah Yanti lagi.
"Alhamdulillah, syukurlah, Ti. Eh maaf ya, Awie ke sana dulu," Awie merespon seadanya dan berlari kecil membersamai Elly yang meninggalkan mereka tanpa merespon apa-apa. Awie menyusul langkah kaki Elly yang terlebih dahulu pergi menuju ke papan pengumuman lainnya.
"Ini papan terakhir, Wie. Aku udah daftar kok, mengapa namaku tidak a…" tiba-tiba Elly mendengar teriakan Purna dan menghentikan kalimatnya.
"Hai, El! ke sini! di sini ada nama lu. Wah, lu dapat di Desa Pematang Lumut, Tanjung Jabung Barat, loh," tiba-tiba teriakan Purna datang dari tempat yang akan mereka berdua tuju–the last whiteboard. Purna memberitahu informasi tentang lokasi tempat KKN Elly. Elly kaget mendengar informasi yang Purna sampaikan. Lokasi yang disebutkan itu adalah sebuah kabupaten yang lokasinya lumayan jauh, tetapi bukan yang paling jauh dari ibu kota.
"Ya Allah, kenapa begini?" Elly terduduk lemas. Ia menangis dan meluapkan emosinya yang sedari tadi ia tahan. Di awal, ia sudah dibikin stres dan putus asa karena harus bolak-balik ke sana ke mari karena tidak kunjung menemukan namanya. Ibarat sedang mencari nama pada daftar kelulusan CPNS atau sejenisnya yang tidak tertera karena tidak lulus. Selanjutnya, ketika harapan itu hampir putus, ia kembali semangat karena masih ada satu papan pengumuman yang tersisa dan tentunya ada sahabat–Awie yang senantiasa menyemangati. Namun, tiba-tiba ia harus mendengar kabar yang kurang menggembirakan–di luar ekspektasi.
"El, semangat ya. Nggak apa-apa kok, Awie yakin kamu pasti akan punya cerita seru selama KKN di sana," hibur Awie yang selalu dengan kekhasannya meninggalkan kesan ramah dan lembut kepada Elly.
Setelah semua bubar dari kegiatan pengumuman dan pengarahan KKN, mereka semua meninggalkan gedung KKN. Mereka meninggalkan gedung tersebut dengan suasana hati yang berbeda-beda. Ada yang sedih, senang, bahagia, haru, kecewa, dan banyak lagi lainnya. Mereka pulang dengan segala pikiran dan rencana masing-masing untuk menyukseskan program di akhir-akhir semester ini.
Awie, Elly, Yanti, Wati, dan Purna–mereka berlima bersahabat sejak masuk di universitas ini. Mereka pertama kali kenal saat kegiatan ospek mahasiswa baru–tiga tahun silam. Kelima sahabat ini berasal dari satu fakultas dan jurusan yang sama. Mereka berlima selalu kompak kapan dan di mana pun berada. Mereka saling support dengan motto, "give me your five–one for all and all for one".
Setelah masing-masing dari mereka menemukan nama dan mengetahui lokasi KKN, mereka berlima berkumpul di satu titik kumpul–warung bakso Mas Yoyo langganan mereka di kampus. Tampak wajah Elly murung, sementara empat teman lainnya asyik mengobrol tentang lokasi KKN mereka masing-masing. Elly tercenung dan hanya menatap kosong ke arah sahabat-sahabatnya itu tanpa ikut terlibat dalam obrolan mereka. Melihat Elly hanya diam saja, keempat sahabatnya menyadari hal itu dan mereka saling berpandangan dan saling memberi isyarat untuk menghentikan kehebohan mereka.
"El, udah dong sedihnya. Kamu kan nggak sendiri, Bestie," purna mendekati sahabatnya itu.
"Kalau kamu fikir itu jauh, akuu lebih jauh. Aku dapat di Kabupaten Kerinci, aku sendirian tanpa kalian. Aku justru nggak bisa balik hari kayak Yanti, Purna, dan Awie, juga kamu ke kota ini," Wati menambahkan.
"Alaaah, gitu aja pakek mewek, El.. El, santuy laaaah," ucap Yanti sekenaknya dan itu membuat Elly bertambah sedih.
Awie, Purna, dan Wati serentak menoleh ke arah Yanti, mereka melotot dan melarang Yanti bersikap demikian.
"Eh, salah ya? eh, hmm… maaf yaa kalo aku salah," Yanti melirik ke arah ketiga temannya
"Maksud aku, kalo aku sih mikir yang happy-happy aja. Gini.. gini, pikirin aja kamu bakal cinlok sama salah seorang teman sekelompok kamu, wuiih... hahaha," Yanti tertawa sendiri membayangkan apa yang diucapkannya.
"Seru kaaan?? ya kaan? Is is is…. Elly cinlook, cie cie," Yanti menoleh ke teman-temannya meminta dukungan seolah-olah yang ia katakan itu benar dan sukses membuat Elly terhibur.
Sebaliknya, ketiga temannya geleng-geleng kepala melihat Yanti tertawa-tawa. Lagi-lagi dengan santai Yanti memakan bakso urat dari mangkoknya bulat-bulat tanpa berperi-kebaksoan.
"Koy, do mokon boksonya!" kata Yanti sambil mengunyah bakso dalam mulutnya.
Mereka semua tertawa melihat tingkah laku Yanti yang terkenal paling kocak dan cuek sekali. Elly yang dari tadi diam pun tampak tidak kuat menahan tawanannya.
"Hehehe... salah lagi yak? Kan mubazir kalo nggak dimakan, gaes," Yanti mendorong semangkuk bakso ke depan Elly yang duduk di sebelahnya dan yang lain meraih mangkuk bakso mereka masing-masing
TbC...

is....is...Elly lucu ya...keren mbak ceritanya..
ReplyDeleteMakasih sayangku, mangat kuy
ReplyDeleteDari awal aja ceritanya udah manteup. Apalagi nanti. Semoga aku bisa hebat seperti bunda jg deh
ReplyDeleteWah, ini jalurnya ke genre misteri atau apa nih. Kayanya ekpektasi saya kalau dengar KKN tuh langsung kaya film KKN di Desa Penari. hehehe
ReplyDeleteHahaha udh ditebak aja, di tunggu ya ampe ke lima episodenya launching
ReplyDelete