Indah sampai di rumah sakit, dengan tergesa-gesa ia menuju bagian informasi. Dari sana ia tidak mendapatkan info keberadaan Umma. Ia segera menelpon suaminya—Yono.
"Mas, Umma di mana?" Sambil terisak Indah terus berjalan ke sana ke mari.
Setelah mendapatkan informasi dari Yono, Indah segera menuju ke ruang IGD. Perasaan dan pikiran indah sudah tidak menentu. Ia memasuki ruangan yang berdinding kaca tebal yang blur dipandang dari sisi luar tersebut. Ia mulai mendorong pintu kaca yang bertuliskan push di pegangannya. Indah berhenti sejenak di depan pintu setelah melihat tulisan kawasan wajib masker, ia segera mencari maskernya di dalam tas, aneh sekali masker itu seakan-akan raib dari saku tasnya. Jelas-jelas tadi Indah memasukkannya ke saku tersebut. Indah tambah panik, kembali ia mencoba menghubungi Yono. Namun, telepon genggamnya tidak lagi menyala karena habis baterai.
Indah tidak kehilangan akal, ia menarik sisi ujung khimarnya ke depan. Ia melintangkan ujung khimar tersebut ke wajahnya hingga mulut dan hidungnya tertutup seperti sedang memakai cadar. Ia jepitkan bagian tersebut ke lipatan khimar di pipinya agar terlihat ia sedang memakai masker. Pelan-pelan, indah kembali mendorong pintu kaca yang terasa amat berat itu. Indah melangkahkan kakinya masuk ke ruang yang terang benderang dengan cahaya lampunya.
Setelah berhasil masuk Indah menyebar pandangannya, ia melihat ada dua tempat yang tertutup tirai berwarna hijau, Indah merasakan ruangan itu amat dingin. Semua alat di ruangan itu mengeluarkan suara yang membuat jantungnya berdebar-debar. Beberapa bed dengan monitor menyala dengan gerakan garis kurvanya yang bergelombang dan ventilator terpasang ke pasien di ruangan itu. Indah menghentikan langkah kakinya ketika melewati sebuah bed yang tirainya sedikit terbuka.
"Yaasiin wal quranilhakiim..," Indah mendengar koor beberapa orang di sana sedang membaca surah Yasiin, ia mulai panik, suasana mencekam ketika alat itu mengeluarkan nada tuuut panjang. Pekikan histeris dan tangisan pilu terdengar sangat mencekam.
"Mamaaaaa… Mama jangan pergi! Mama kan udah janji lawan penyakitnya…"
"Mama… jangan tinggalin Dedek, Maaa," tangisan semakin kencang dan tak terbendung.
"Umma…," Indah menangis memanggil Umma, tiba-tiba ada yang menarik tangannya, Indah kaget bukan main. Setelah yang ia lihat itu adalah Yono, ia segera memeluknya. Indah menangis di dalam pelukan suaminya. Yono berusaha menenangkan Indah. Yono membawa Indah ke bed Umma. Ia menyibak tirai yang tertutup di sampingnya. Indah berhenti, Ia tidak kuasa melihat Umma. Rasa bersalahnya karena tidak ada ketika Umma kesakitan membuatnya terus-terusan marah pada dirinya.
"Umma di sini sayang, Umma sedang tidur setelah diberi tindakan oleh dokter," Yono menerangkan kondisi Umma saat itu kepada Indah.
"Tadi Umma sedang makan, tiba-tiba Umma tersedak, lalu umma sulit bernapas, dan pingsan. Mas coba telepon bidan Imas di perumahan, beliau sedang dinas dan disarankan bawa Umma ke rumah sakit saja," jelas Yono lagi.
"Dek, mana Umma?" Indah dan Yono dikejutkan oleh suara Kak Rivi yang tiba-tiba datang.
"Hmm..," gumam Indah. "Umma Kak..," Indah mencoba menunjuk ke arah Umma.
Kak Rivi menghambur ke dekat Umma, Ia meraih tangan Umma, menciumnya, dan mengajak Umma bicara. Hal yang tidak dilakukan oleh Indah. Rasa bersalah dan ketakutan membuatnya tidak berani untuk mendekati Umma. Ditambah lagi ketika masuk IGD ia disambut dengan rasa dan suasana mencekam. Indah hanya bisa diam mematung menyaksikan Kak Rivi bersama Umma, Umma terbangun dan berusaha menceritakan yang Umma tahu kepada Kak Rivi.
"In, sini. Umma menanyakan kamu," panggilan Kak Rivi menghentikan lamunan Indah. Dengan cepat Ia menggeleng dan menepis bayangan yang mengganggu pikirannya. Indah segera mengangguk kemudian berjalan gontai menuju Umma dan Kak Rivi. Ia masih merasa bersalah karena sejak Umma di rumahnya, Ia belum ketemu Umma, sekarang ia harus bertemu Umma di tempat ini—rumah sakit.
"Umma…," sepatah kata yang mampu terucap.
Umma tersenyum lembut ke arah Indah. Umma berusaha menggapai Indah, namun karena terhalang Kak Rivi Umma tidak dapat meraihnya, Indah yang melihat itu langsung mendekati Umma dan memegang tangan Umma.
"Ma..afin Indah Um..ma, Indah nggak a..da di sa..at Umma butu…hiin," sesal Indah terucap dengan tergagap dan terisak.
Indah membungkuk dan mencium punggung tangan Umma, Umma menarik tangannya dan meraih pipi indah.
"Kamu nggak apa-apa? Dari tadi Umma kepikiran kamu, Ndok," Indah menatap Umma dalam, apa Umma dapat firasat kalau dia hampir saja tertabrak. Indah menggelengkan kepalanya pelan mengisyaratkan ia baik baik saja
"Indah nggak pa–pa kok, Um," jawaban Indah meyakinkan Umma sambil tersenyum
"Umma tiba-tiba keselek lalu Umma sesak nggak bisa bernapas, Umma kuatir kamu kenapa-kenapa,"
Kakak nulis ini pake bawang ya, aku nangis
ReplyDeleteKangen mak
DeleteFirasat ibu memang tidak bisa dibohongi! fix!
ReplyDeleteIya benar sekali, doa ibu sepanjang jalan
ReplyDeleteTeknik showingnya bener-bener manteup beh. Bikin aku sebagai pembaca ikutan sedih loh
ReplyDeleteMakasih amel, yuk sedih bareng hiks
ReplyDeleteAhh... Jadi ikut sedih bacanya ta...
ReplyDeleteSedih ran kl berkisah ttg ibu apalgi kl udh tiada
ReplyDeleteAku baru kehilangan ibuku 7 bulan lalu. Baca kisah ini bikin makin rindu.. huhuhu... ðŸ˜
ReplyDeleteTurut berduka cita va, subhanallah baru banget ya va
ReplyDeleteYa Allah... Sedih bacanya..
ReplyDeleteYa la🥲
ReplyDeleteduh meleleh air mata bacanya
ReplyDeletePasti karena seorang ibu ya Hen?
ReplyDeleteikut kebawa arus jadi sedih
ReplyDeleteIya sa
DeleteYa Allah kak, brebes mili q. Jadi teringat ibuku kak. Ini hp q basah sambil ngetik komentar, nrhlah
ReplyDeleteYa Allah may
Deletehiks jadi ikutan sedih bacanya
ReplyDeleteApalagi sosok ibu sudah tidak dapat dipeluk secara nyata
ReplyDelete